Home / Romansa / Kadrun / Chapter 3

Share

Chapter 3

last update publish date: 2022-01-31 16:58:54

Perempuan seperti Cinderella memang tidak pernah ada di dunia nyata, begitu pun Snow White, Rapunzel, Aurora Sleeping Beauty, dan Mulan. Perempuan yang ada di muka bumi ini kebanyakan adalah semacam Siti Majenun. Setelah pesta kondangan usai digelar, acara adat selesai dilaksanakan, tenda-tenda dan panggung dibongkar serta kado-kado dibuka satu per satu. Maka, sifat-sifat asli Siti yang belum tampak selama status mereka berpacaran mulai bermunculan satu per satu di dalam mahligai pernikahan.

“Aku memang tidak bisa memasak, mencuci, dan beres-beres rumah. Apalagi ini cuma rumah kontrakan, jadi jangan paksa aku buat melakukan semua pekerjaan itu. Aku tidak suka! Berkali-kali kan sudah aku ingatkan, bahwa aku butuh asisten rumah tangga. Aku butuh pembantu! Kenapa kau tidak bisa mendengarku?” seru Siti entah untuk pertengkaran yang kesekian setelah umur pernikahan mereka mencapai usia enam bulan.

“Maaf, kalau aku belum bisa menepati janji memberimu seorang pembantu.”

“Baru asisten rumah tangga saja yang aku minta saat ini, aku belum meminta rumah, mobil dan perhiasan berlian. Apa sih susahnya mencari pembantu. Di sekitar kontrakan ini kurasa banyak juga yang mau. Tinggal kau minta saja pada mereka. Bukannya orang-orang di sini sering meminta pertolonganmu, kenapa kau biarkan pertolongan itu jadi barang gratis? Harusnya ada timbal balik yang kau minta dari mereka. Minimal mereka bisa menjadi pembantu di rumahmu.”

“Tidak mungkin, Siti. Mereka semua keluargaku.” Kadrun tidak mampu memahami cara pikir Siti.

“Nah, kalau mereka keluargamu, pasti mereka akan bantu. Seharusnya begitu hidup bertetangga. Saling tolong menolong dan membantu. Jangan seenaknya sendiri. Mentang-mentang kau mau-mau saja mengulurkan tangan, mereka terus-terusan manfaatkanmu untuk kepentingan mereka!”

“Sudahlah, Sayang. Nanti mereka dengar, aku tidak enak.”

“Kenapa pula tidak enak. Mana mereka juga suka pinjam uang denganmu. Seharusnya kalau mereka tidak bisa bayar kembali dengan uang, mereka bisa membayarnya dengan tenaga yang mereka punya. Bukan malah pura-pura tidak tahu. Kalau kau tidak berani bicara, biar aku yang ngomong dengan mereka.”

“Siti, aku sungkan sebenarnya punya pembantu di sini karena di lingkungan ini tidak ada orang yang punya pembantu. Kami semua mandiri.”

“Bohong! Itu pasti cuma alasanmu saja. Kau ingin mengakaliku kan? Jangan-jangan kau memang benar-benar kere sehingga untuk menggaji seorang asisten rumah tangga saja tidak sanggup. Lagi pula apa urusannya dengan mereka kalau istrimu ini ingin punya asisten rumah tangga, toh mereka tidak bisa juga mengulurkan tangan untukku. Jadi, jangan peduli dengan mereka. Masa bodoh saja. Untuk apa kau takut jadi bahan gunjingan mereka?”

“Aku tidak takut digunjingkan mereka. Mungkin yang lebih tepat omonganmu di awal, aku ini memang terlalu miskin, sehingga tidak pantas rasanya menggaji asisten rumah tangga. Sebab kerjaku cuma PNS, abdi negara yang digaji oleh negara. Aku bukan pengusaha yang dengan mudah menyediakanmu seorang pembantu.”

“Bukan pekerjaan yang harus kau salahkan. Cukup salahkan dirimu yang tidak pandai mengumpulkan uang. Banyak juga kok PNS yang kaya raya!”

Kadrun menelan ludah. Dia pikir, sebuah pernikahan akan membuatnya jauh dari hardikan dan cemoohan orang. Ternyata, pernikahan malah membuat hardikan dan cemoohan itu menghampirinya lebih sering. Nyaris setiap hari, tanpa jeda.

“Iya, baiklah. Aku pasti akan mencarikanmu pembantu.”

“Aku kasih waktu satu minggu.”

“Siti?”

“Kau ingatkan apa kata emakmu di kampung. Kalau kau tidak menuruti mauku, maka aku akan melapor kalau kau menyia-nyiakan aku sebagai istrimu.”

Kadrun menghela napas. “Iya, baiklah. Aku carikan maumu.”

Siti merasa menang, dia tersenyum senang, “Makasih ya, Sayang. Kau lihatkan kuku-kuku cantikku ini kalau mereka rusak maka penampilanku jadi tidak sempurna. Mana mungkin kau akan menilaiku cantik lagi.”

“Bagaimanapun keadaanmu, kau tetap cantik, Sayang.”

“Kadrun, Aku butuh pembantu!” suara Siti kembali meninggi dengan tatapan tajam.

Kadrun memejamkan mata dan menghela napas lagi.

“Pokoknya carikan aku asisten rumah tangga. Kalau tidak aku akan menuntut bahwa kau telah menyia-nyiakan hidupku.”

“Kau mau menuntut siapa dan kemana, Sayang?”

“Orang tuamu. Kali ini bukan sekedar ancaman, aku akan sungguh-sungguh melakukannya kalau minggu depan aku belum punya pembantu.”

 Kadrun menelan ludah. Dia mulai menyadari, tidak ada kebahagiaan sejati dalam sebuah pernikahan. Semua itu cuma fatamorgana. Tidak ada isteri yang tidak punya tuntutan, perempuan memang diciptakan Tuhan untuk menuntut apapun dengan pasangan hidupnya.

“Aku juga heran. Masa gajimu bulan ini cuma segini, Drun? Kau pikir dengan gaji segini cukup untuk membeli lipstik dan bedakku? Kaupikir aku berhenti bekerja, maka aku juga harus berhenti memenuhi kebutuhanku? Aku harus tetap memenuhi kebutuhanku walaupun aku tidak bekerja, karena itulah aku menikah denganmu!”

Kadrun menatap Siti nanar.

“Kau janji kalau sudah menikah akan membuatku bahagia? Memang orang bisa bahagia tanpa uang? Omong kosong itu!” protes Siti.

“Jadi apalagi maumu setelah mendapat asisten rumah tangga?”

“Aku mau uang bulanan yang cukup untuk belanja dan perawatan. Minimal 5 juta.”

“Aku sudah ingatkan di awal, uang bulanan 3 juta saja berat untukku ditambah kau minta pembantu. Sekarang kau minta 5 juta sebulan dengan seorang pembantu?”

“Aku tahu penghasilanmu bukan cuma dari gaji PNS. Kau kan pembatik dan sudah cukup tersohor. Kau bisa menghasilkan uang banyak kalau kau mau.”

Kadrun tertawa, “Iya, benar katamu. Aku memang tidak mau menghasilkan uang banyak dari batik.”

“Memang kau bekerja untuk apa? Untuk capek? Untuk penghargaan? Seharusnya kau lebih realistis, Kadrun. Jangan jadi seniman yang menyedihkan dengan memegang prinsip yang fana.”

“Aku yakin dengan prinsipku. Aku yakin usaha membantu pengrajin akan membawa perubahan bagi perkembangan bisnis batik Jambi di Kota Seberang. Aku bertahan dengan mimpi itu yang mungkin tidak ada orang yang peduli. Tapi aku peduli, aku peduli dengan nasib para pengrajin batik.”

“Kadrun, batik itu apa? Bukankah dia komoditas bisnis. Barang yang diperdagangkan. Barang materialistis. Harusnya kau tidak terlalu picik, para pengrajin itu juga mengharapkan menjadi kaya raya dari batik. Mereka tidak penting soal kegiatan sosial. Mereka butuh hidup. Mereka butuh uang dari membatik. Barang yang mereka cintai dan juga kau sangat cintai itu. Cuma bedanya antara dirimu dengan orang-orang itu adalah mereka lebih realistis daripada kau, Kadrun. Para pengrajin itu membuat batik dan mereka jual untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Mereka tidak membatik untuk mengumpulkan uang amal.”

Kadrun terdiam.

“Buatlah batik, dan jual barang itu untuk memenuhi kebutuhanku, istrimu! Jangan lagi kau sumbangkan pada para pengrajin itu. Mereka sudah cukup dewasa untuk menopang diri mereka sendiri.”

Kadrun jengah.

“Rumah dan mobil tidak sekalian kau minta?” Kadrun mulai menyindir.

Mata Siti langsung berbinar dan suara mendesahnya kembali terdengar, “Bisa segera kau penuhi? Lagi pula Mak dan Bapak kan punya banyak tanah di kampung, pasti mereka tidak keberatan menjualkan sebagian untuk membuatkanmu rumah gedong di Jambi yang punya kolam renang, sehingga aku tidak perlu lagi jauh-jauh ke kolam renang umum untuk olahraga. Oh iya, mobil yang kemarin mereka hadiahkan untuk kita bisa kau minta dikirimkan ke Jambi saja?”

Kadrun semakin memanas. Kepalanya terasa mau meledak.

“Aku harus ke kantor dulu, masih ada kerjaan yang belum selesai.”

“Bukannya hari ini hari Minggu?”

“Iya.”

Kadrun bergegas mengambil kunci motor dari gantungan. Dia segera menyalakan mesin dan melajukan kendaraan bututnya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kadrun   Chapter 83

    Setelah perkara Kadrun dilimpahkan ke pengadilan, tempat penahanannya dipindahkan dari ruang tahanan kejaksaan ke Rumah Tahanan Negara di Kota Jambi.Di sana, Kadrun akan tercatat sebagai tahanan titipan pengadilan.Pemindahan dilakukan pada pagi hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada keluarga.Kadrun baru mengetahuinya ketika seorang petugas meminta dirinya mengemasi pakaian, perlengkapan mandi, serta beberapa barang lain yang diizinkan berada di dalam kamar tahanan.“Bapak dipindahkan ke rutan,” kata petugas.“Sekarang?”“Sekarang.”“Pengacaraku sudah diberi tahu?”“Nanti pihak kejaksaan mengirimkan pemberitahuan.”Kadrun memasukkan seluruh barangnya ke dalam tas plastik. Tidak banyak yang harus dibawa. Hanya dua pasang pakaian, Al-Qur’an terjemahan berukuran kecil, handuk, sabun, sikat gigi, dan foto Siti yang sedang menggendong Raja.Fo

  • Kadrun   Chapter 82

    Jaksa melanjutkan dengan riwayat elektronik penggunaan akun verifikasi. Alamat perangkat, waktu akses, dan perubahan status permohonan dibacakan satu per satu.Tidak ada penjelasan mengenai siapa yang memegang komputer ketika akses dilakukan. Tidak ada rekaman kamera. Tidak ada sidik jari pada buku yang disebutkan dalam dakwaan.Namun, jika seluruh uraian itu didengar tanpa mengetahui apa yang terjadi di belakangnya, Kadrun memang terlihat seperti pusat dari semua penyimpangan.Bapak bergerak gelisah di bangku pengunjung.“Dio dak melakukan itu,” bisiknya.Brewok menyentuh lengannya.“Tahan dulu, Pak.”Jaksa Fadli akhirnya sampai pada bagian penutup.Menurut dakwaan primair, Kadrun dianggap bersama-sama memperkaya diri, pihak lain, dan sejumlah badan usaha hingga mengakibatkan kerugian negara.Dalam dakwaan subsidair, ia dituduh menyalahgunakan kewenangan yang melekat pada jabatannya untuk mengunt

  • Kadrun   Chapter 81

    Pagi itu, halaman Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jambi telah dipenuhi wartawan sejak pukul tujuh.Mobil-mobil liputan berjejer di sepanjang jalan. Kamera dipasang menghadap pintu masuk tahanan. Beberapa reporter berdiri di depan pagar sambil menyampaikan laporan langsung mengenai sidang perdana perkara korupsi dana hibah bantuan modal perajin batik.Nama Kadrun kembali muncul pada layar televisi.Namun, kali ini tulisan di bawah wajahnya telah berubah.KADRUN JALANI SIDANG PERDANA SEBAGAI TERDAKWASejak berkas perkaranya dilimpahkan ke pengadilan, status hukumnya bukan lagi tersangka. Jaksa telah menyusun surat dakwaan, pengadilan telah meregister perkara, dan majelis hakim telah ditetapkan.Pukul delapan lewat lima belas menit, mobil tahanan kejaksaan memasuki gerbang samping.Para wartawan langsung berlari.“Kadrun datang!”“Siapkan kamera!”&ldqu

  • Kadrun   Chapter 80

    Pemeriksaan berlanjut ke ruangan di bagian belakang.Kamar tersebut hanya memiliki satu lubang angin berjeruji. Kusen pintunya baru diganti, tetapi paku-paku lama masih tertinggal pada dinding.Seorang petugas menemukan sesuatu yang tersangkut pada kepala paku berkarat.Beberapa serat tipis berwarna putih kebiruan.Ia mengambilnya menggunakan pinset, kemudian memasukkannya ke dalam plastik transparan.“Serat tali?” tanya Nabila.“Kemungkinan bahan sintetis. Harus dibandingkan dengan serat yang ditemukan pada luka korban.”Pada pemeriksaan jenazah Siti, petugas medis menemukan serpihan bahan menyerupai tali plastik pada kulit di sekitar pergelangan tangannya.Kalau kedua serat tersebut memiliki jenis dan karakteristik yang sama, rumah itu dapat dihubungkan dengan penyekapan Siti.Di dekat dinding terdapat empat lubang kecil dengan jarak yang teratur. Bekasnya menunjukkan sesuatu berukuran besar per

  • Kadrun   Chapter 79

    Dua hari sebelum Kadrun ditahan di ruang tahanan kejaksaan dan tepatnya tiga hari setelah jasad Siti dikubur, tiga kendaraan kepolisian bergerak memasuki kawasan perkebunan di Mestong.Zulaikah berada di mobil paling belakang bersama Nabila.Sudah dua kali mereka melewati jalan utama tersebut tanpa menemukan cabang yang dimaksud. Pohon-pohon sawit tumbuh rapat di kedua sisi jalan. Beberapa jalur tanah tampak serupa dan tidak satu pun memiliki papan penunjuk.Zulaikah terus memperhatikan pemandangan di balik jendela.“Pelankan mobilnya,” katanya.Pengemudi mengurangi kecepatan.Zulaikah melihat sebuah pohon rambutan tua yang tumbuh miring di antara barisan sawit. Batangnya hampir tertutup tanaman merambat, tetapi bentuk cabangnya masih sama seperti yang diingatnya.“Berhenti.”Mobil berhenti di tepi jalan.Zulaikah turun dan berjalan beberapa meter. Di balik semak terdapat jalan tanah yang sebagian t

  • Kadrun   Chapter 78

    Zulaikah tiba di kantor Bram Wijaya menjelang sore.Gedung berlapis kaca itu berdiri di salah satu ruas jalan utama Kota Jambi. Nama perusahaan Bram terpampang besar di bagian depan, seolah lelaki tersebut ingin memastikan setiap orang mengetahui siapa pemilik bangunan itu.Sebelum turun dari mobil, Zulaikah mengirimkan lokasinya kepada Nabila.Aku akan menemui Bram. Jika satu jam lagi aku belum menghubungimu, telepon polisi.Pesan itu dibaca, tetapi belum dibalas.Zulaikah memasukkan telepon ke dalam tas tangan. Perekam suara telah dinyalakan sejak ia masih berada di tempat parkir.Ia tidak tahu apakah Bram akan mengakui sesuatu.Namun, setelah melihat Kadrun digiring dengan tangan terborgol dan rompi tahanan, Zul

  • Kadrun   Chapter 7

    Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikena

  • Kadrun   Chapter 6

    Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan

  • Kadrun   Chapter 5

    Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha

  • Kadrun   Chapter 4

    Iya Sayang, harus sabar. Aku kan juga sedang berusaha menjual batik seperti arahanmu. Aku tidak lagi menyumbang untuk para pengrajin. Semua penghasilan batikku akan kuberikan padamu. Cuma sekarang, pembeli batik sedang sepi. Jadi, jangan lagi berpikiran aku akan menelantarkanmu.” Kadrun mey

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status