Home / Romansa / Kadrun / Chapter 4

Share

Chapter 4

last update publish date: 2022-01-31 16:59:02

Iya Sayang, harus sabar. Aku kan juga sedang berusaha menjual batik seperti arahanmu. Aku tidak lagi menyumbang untuk para pengrajin. Semua penghasilan batikku akan kuberikan padamu. Cuma sekarang, pembeli batik sedang sepi. Jadi, jangan lagi berpikiran aku akan menelantarkanmu.” Kadrun meyakinkan Siti ketika suatu kali kembali didesak dengan segala tuntutan.

“Katanya kau seniman batik Jambi yang paling dicari karya-karyanya, yang paling digandrungi. Aku tidak percaya kalau dagangan batikmu jadi sepi sekarang. Uang bulanan yang aku minta cuma 5 juta, paling hanya butuh 10 sampai 15 potong kain batik buatamu yang terjual setiap bulan. Apa susahnya menjual 10-15 potong batik dalam sebulan?” Siti kembali mengajukan komplain pada Kadrun.

“Maaf, Sayang.”

“Maaf, maaf, itu saja yang keluar dari mulutmu.”

“Sungguh, sekarang aku sedang berusaha. Studio batikku sekarang lebih produktif. Kami banyak membuat desain-desain baru. Cuma memang butuh waktu.”

“Kalau sudah terkenal, untuk jualan seperti itu tidak butuh waktu lama. Aku paham hal seperti itu.”

“Maaf ya, Sayang,”

“Jangan-jangan, kau bantu lagi ya para pengrajin itu? Kan sudah aku bilang jangan. Mereka cuma pura-pura susah untuk memperalatmu.”

“Kadang pengrajin batik yang baru memulai bisnis butuh modal. Ya, kasihan mereka tidak tahu tempat untuk mencari modal. Abang sebagai senior harus membantu mereka agar batik Jambi bisa benar-benar tumbuh. Tidak ada yang benar-benar peduli sayang, hanya segelintir orang, dan segelintir orang itu hanya macam abang yang tidak punya banyak uang.”

“Kadrun!”

Kadrun tidak menjawab.

“Jadi, uang kita kau pinjamkan lagi pada orang-orang itu?”

“Iya, sayang. Kali ini aku membuat perjanjian dengan mereka, nanti akan mereka kembalikan.”

“Kapan?”

“Perjanjian kami untuk satu tahun. Setiap minggu mereka akan menyetor semampu mereka.”

Siti langsung meraung.

“Sayang, jangan lah begitu. Kasihan mereka.” Kadrun memohon pengertian Siti.

“Tapi, kau tidak kasihan denganku." 

“Kan aku sudah memberimu bulanan dua juta, kadang-kadang tiga juta.”

“Tidak cukup. Aku butuh lima juta dan seorang asisten rumah tangga.”

“Iya, Sayang. Aku paham.”

“Udah lah, Drun. Kalau begini caranya, kita cerai saja.” sahut Siti tiba-tiba di luar perkiraan Kadrun.

Kadrun tercekat. Ucapan itu terasa terlalu gampang keluar dari mulut Siti.

“Janganlah, Sayang. Apa kata orang tuaku?”

“Pokoknya kita cerai! Titik!”

“Sayang, jangan lah. Kumohon. Kau juga belum memberi aku seorang anak pun.”

Siti langsung berkacak pinggang dengan mata melotot menatap Kadrun, “Hei, kau ini memang tidak pernah peduli denganku. Uangmu kau bagi-bagikan ke orang lain padahal aku istrimu kau telantarkan, dan alasanmu menikah denganku cuma buat bikin anak? Kenapa kau tidak nikahi saja sejenis sapi atau kerbau yang gampang punya anak?” wajah Siti benar-benar beringas dan sinis.

“Sabarlah, Sayang. Dua hari lagi asisten rumah tangga bakal datang ke rumah kita ini.”

Siti mulai menangis, “Apakah permohonanku terlalu sulit? Apakah aku terlalu menuntut? Apakah salah seorang istri meminta sesuatu pada suaminya? Semua perempuan itu sama, dia ingin suaminya mampu membahagiakan dia. Karena kami tahu, lelaki itu sosok yang kuat, bahunya kokoh untuk tempat bergantung. Apapun bisa dilakukan suami untuk memberi kebahagiaan bagi istrinya.”

“Tentulah tugas suami untuk memenuhi kebutuhan istrinya, Sayang.”

“Tapi, lihat! Tidak satupun permintaanku bisa kau penuhi. Apa alasanku untuk bertahan denganmu? Aku hanya menyulitkanmu saja. Aku tidak bisa menjadi sosok yang kau minta membantu kesulitanmu sebab aku juga perempuan lemah. Aku menikah karena kupikir kau adalah lelaki yang mampu memenuhi semua harapan-harapan dan mimpi-mimpiku. Kau kuanggap sosok yang cukup kuat memanggul bebanku dan beban kita. Kalau kau pikir cinta itu cukup untukku, maka kau salah besar! Cinta saja tidak akan cukup untuk perempuan. Tidak, Kadrun! Cinta bisa muncul kemudian apabila semua kebutuhan lahir dan batin seorang perempuan terpenuhi. Kau tidak boleh munafik sebagai laki-laki, Kadrun.”

Kadrun geram, akan tetapi di sisi lain Kadrun membenarkan omongan Siti. Kadrun mencintai Siti, sebagai laki-laki dia tidak mungkin membiarkan orang yang dia cintai merasa teraniaya di sisinya.

Dua hari kemudian, Kadrun benar-benar membawa seorang perempuan separuh baya yang dimintanya dari Mak di kampung untuk istrinya. Perempuan itu bersedia menjadi asisten rumah tangga untuk Kadrun demi membalas jasa-jasa Mak dan Bapak Kadrun di kampung yang sudah menyekolahkan kedua anaknya sampai sarjana di kota.

Kadrun merasa lega untuk beberapa saat. Akan tetapi, itu cuma bertahan tiga bulan, karena Siti sudah memecat asisten rumah tangga yang dibawakan Kadrun jauh-jauh dari kampung dengan alasan tidak cocok dengan pembantunya tersebut.

“Dia itu sudah tua. Kerjanya lamban. Apa-apa yang disuruh pasti tidak tuntas. Kalau ditanya, dia bilang lupa. Mana masakannya juga tidak enak. Malah masih enak masakan di warung depan. Tolong carikan aku asisten baru, Sayang.”

Kadrun tidak terima, “Kau tidak bisa seenak itu memecat Wak Nur. Dia itu sudah semacam keluarga bagi kami. Sejak masih gadis dia ikut Mak dan Bapak, walaupun anak-anaknya sudah jadi orang besar, dia tetap setia bekerja sama Mak dan Bapak.”

Kadrun bergegas ke kamar yang disediakan untuk Wak Nur, lalu keluar menuju ke dapur. “Jadi orang tua itu kau usir begitu saja?” Kadrun kembali bertanya ke Siti setelah tidak menemukan sosok Wak Nur di dalam rumah kecilnya tersebut.

Siti menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengusir dia!"

Perempuan itu menghempaskan badannya begitu saja di sofa sambilnya menyilangkan tangannya di dada.

Kadrun menghela napas, “Jangan sesuka hati begitu memecat orang, kasihan orang, dia kan tidak saja mencari nafkah. Dia di sini karena menghargai kita sebagai anak dari Mak dan Bapak! Sudah kau pecat, kau usir pula dia begitu saja! Mana tata kramamu pada orang yang lebih tua?”

“Dia tidak kuusir. Dia sendiri yang mau berhenti karena merasa tidak mampu memenuhi kemauanku. Dia menelpon anaknya, anaknya yang menjemput orang tua itu.”

“Siti!” Kadrun hampir saja melayangkan tangannya, tapi segera tersadar. “Apa yang harus aku cakapkan pada Mak dan Bapak di kampung? Tidak mungkin aku bilang, istriku yang punya otak dangkal ini mengusir orang kepercayaannya begitu saja dari rumah karena dianggap tidak becus kerja.”

Siti jadi naik pitam, dia langsung berdiri dari duduknya.

“Jadi kau salahkan pula aku?”

“Iya. Seharusnya berdiskusilah denganku untuk memecatnya. Seperti ketika kau minta dicarikan asisten.”

Siti mengerutkan keningnya dengan mulut terkatup rapat.

“Aku tidak berusaha menyalahkanmu. Aku hanya berharap kau bisa lebih berhati-hati dan sedikit mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan.”

“Jadi sekarang kau menyalahkan aku?”

“Tidak, Sayang. Aku cuma berharap kau cukup dewasa.”

“Hah, sekarang aku kau bilang kekanak-kanakan pula? Tidak dewasa?”

“Kurasa begitu.”

Siti tajam menatap Kadrun, “Sudah. Kita memang sepantasnya segera bercerai. Kita tidak pernah sepemahaman.” Siti bergegas ke kamarnya, tapi Kadrun cepat mencekal tangan isterinya tersebut.

“Mau apa?”

“Aku mau cerai.” Siti menantang Kadrun, matanya mulai berkaca-kaca.

 “Kenapa harus cerai?” Kadrun berusaha lebih sabar dan lembut.

“Karena aku merasa tidak bahagia denganmu,”

Hati Kadrun langsung terasa dicabik-cabik dengan badik.

“Kenapa tidak bahagia? Apa kau tidak pernah mencintai suamimu ini?”

Siti memicingkan mata, “Cinta? Kau selalu bicara cinta. Memang cinta adalah alasan di atas segala-galanya untuk menikah dan menerima semua kesulitan yang kita buat-buat?”

“Aku minta kau jawab dengan jujur, pernah kau menyukai aku?”

Siti diam. Dia tidak menjawab dan menghindar dari tatapan Kadrun.

“Siti, apakah kau pernah punya rasa untukku? Atau selama ini hanya aku sendiri yang punya perasaan itu?”

“Aku mau cerai!” Siti tidak menjawab pertanyaan Kadrun.

“Ok, aku akan menceraikanmu asal kau penuhi satu permintaanku.”

“Apa?”

Kadrun menatap isterinya tak kalah tajam, “Kasih aku anak. Setelah itu, pergilah kemana pun kau mau pergi. Aku tidak akan menghalang-halangi.”

“Apa untungnya aku memenuhi permintaanmu itu. Hamil dan melahirkan bisa membuat bentuk tubuhku jadi rusak, butuh banyak biaya untuk membuatnya kembali kayak semula. Tentu aku tidak mau!”

“Aku kasih kau uang 50 juta!”

Siti memandang Kadrun dengan ekspresi datar.

“50 juta tidak akan cukup.” Siti menarik tangannya.

“Aku kasih kau dua kali lipat. Seratus juta!”

“200 juta!” Siti menantang.

“OK. 200 juta. Sepakat!” Kadrun mengulurkan tangannya.

Siti tersenyum menyambut tangan Kadrun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kadrun   Chapter 95

    Pernikahan Kadrun dan Zulaikah digelar dengan sangat sederhana di sebuah masjid di Seoul. Tidak ada pesta besar dengan pelaminan indah, tidak ada kerabat, kolega atau keluarga. Hanya seorang imam, dua saksi, dan seorang penerjemah yang memastikan seluruh proses dipahami dengan baik.Zulaikah mengenakan gaun putih sederhana dengan kerudung panjang. Tidak ada perhiasan berlebihan pada tubuhnya. Hanya sebentuk cincin kecil yang kemudian dipasangkan Kadrun pada jari manisnya. Kadrun mengenakan setelan gelap. Dalam dokumen pernikahan itu, ia tidak lagi tercatat menggunakan nama Kadrun. Penggantian nama itu juga sudah mereka lakukan sesuai syariat Islam sebelum melangsungkan pernikahan.Lelaki yang mengucapkan kabul di hadapan imam bernama Muhammad. Suara Kadrun sempat bergetar ketika mengucapkannya. Namun, sekali tarikan napas, akad itu selesai dalam satu ucapan. Zulaikah resmi menjadi istrinya. Setelah doa dibacakan, Kadrun memandang perempuan yang duduk beberapa langkah d

  • Kadrun   Chapter 94

    Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kondisi Kadrun semakin baik. Dokter mengizinkannya bepergian selama tetap menjalani pemeriksaan berkala dan tidak melakukan aktivitas fisik berlebihan. Bekas luka tusukan pada tubuhnya sudah mengering, sedangkan jejak operasi di wajah nyaris tidak terlihat.Perawatan selama hampir enam bulan membuat tubuh Kadrun lebih sehat daripada sebelum masuk penjara. Hanya beberapa bekas luka pada perut dan punggung yang menjadi pengingat bahwa dirinya pernah hampir mati.Pagi itu, Kadrun duduk di balkon apartemen mereka di Cheongdam-dong. Secangkir kopi menghangatkan kedua tangannya. Musim dingin mulai mendekat dan udara Seoul terasa menusuk hingga ke tulang. Zulaikah keluar membawa sebuah tablet serta beberapa lembar dokumen. Ia meletakkannya di atas meja.“Kita harus meninggalkan Korea Selatan.”Kadrun mengangkat wajah.“Dokter baru bilang aku boleh bepergian, kau langsung ingin mengusirku?”“Bukan mengusir.”

  • Kadrun   Chapter 93

    Setelah memastikan keberangkatannya ke Prancis diketahui oleh media, Zulaikah hanya tinggal beberapa hari di Paris. Ia menghadiri dua pertemuan dengan pihak sekolah mode tempatnya pernah belajar, bertemu seorang teman lama, lalu membiarkan beberapa foto dirinya tersebar di media sosial. Foto-foto tersebut cukup untuk meyakinkan orang-orang bahwa dirinya benar-benar sedang memulai kehidupan baru di Prancis.Setelah itu, Zulaikah kembali terbang ke Korea Selatan. Kedatangannya bertepatan dengan jadwal pembukaan perban Kadrun. Hampir tiga minggu telah berlalu sejak operasi. Luka-luka tusukan pada tubuh Kadrun mulai mengering, sementara racun yang sempat mengancam nyawanya tidak lagi ditemukan di dalam darah. Namun, wajahnya masih tertutup balutan perban tebal. Kadrun telah sadar beberapa hari sebelumnya.Dokter hanya mengatakan bahwa dirinya berada di Korea Selatan untuk menjalani perawatan lanjutan. Setiap kali ia bertanya mengenai wajahnya, para dokter selalu menjawab b

  • Kadrun   Chapter 92

    Lampu di atas meja operasi menyala begitu terang hingga menghapus hampir seluruh bayangan. Kadrun terbaring tanpa kesadaran. Di Indonesia, tubuhnya telah melewati masa kritis setelah racun berhasil dibersihkan dari aliran darah. Sedangkan di Korea Selatan, luka-luka tusukan mulai ditangani lebih lanjut, denyut jantungnya kembali stabil, dan fungsi organ-organ pentingnya perlahan semakin membaik.Namun, malam itu, tim dokter tidak hanya berusaha menyelamatkan nyawanya. Mereka akan menghapus wajah yang dikenal oleh seluruh Indonesia. Zulaikah berdiri di balik dinding kaca ruang operasi. Ia mengenakan pakaian pelindung berwarna biru, penutup kepala, dan masker. Tatapannya tidak pernah berpindah dari tubuh Kadrun. Seorang dokter berdiri di sampingnya.“Prosedurnya akan berlangsung beberapa jam,” katanya dalam bahasa Inggris. “Kami akan memperbaiki kerusakan akibat serangan sekaligus mengubah struktur wajahnya sesuai permintaan.”“Apakah dia akan mengenali dirinya se

  • Kadrun   Chapter 91

    Konferensi pers digelar di aula rumah sakit pada siang hari. Puluhan wartawan telah memenuhi ruangan sejak satu jam sebelumnya. Kamera menghadap meja panjang yang ditempati pihak rumah sakit, kepala lapas, dan seorang perwakilan kepolisian.Dokter Satrio Kusuma duduk di tengah. Sebagai dokter yang bertanggung jawab atas penanganan ketiga narapidana, dialah yang akan menyampaikan keterangan kepada masyarakat. Beberapa lembar catatan medis terletak di hadapannya.Kepala bagian hubungan masyarakat rumah sakit membuka konferensi pers dengan penjelasan singkat mengenai penyerangan di dalam lapas. Setelah itu, mikrofon diserahkan kepada Dokter Satrio. Suasana ruangan seketika menjadi sunyi.“Ketiga pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi berat akibat luka tusuk dan paparan senyawa beracun,” kata Dokter Satrio. “Tim medis telah melakukan tindakan penyelamatan sesuai prosedur.”Para wartawan mulai mengetik.“Namun, dengan menyesal kami menyampaikan bahwa

  • Kadrun   Chapter 90

    Ketiga ambulans meninggalkan lapas melalui pintu belakang. Macul dibawa menggunakan ambulans pertama. Pak Muis berada di kendaraan kedua, sedangkan Kadrun ditempatkan di ambulans terakhir dengan dua petugas lapas yang terus mengawalnya.Kondisi mereka memburuk selama perjalanan. Tekanan darah Kadrun turun dengan cepat. Tubuhnya menggigil meskipun luka tusuk di pinggang dan lengannya telah dibalut. Denyut jantungnya tidak teratur, sementara kesadarannya terus menurun. Gejala yang sama terjadi kepada Macul dan Pak Muis.Dokter lapas mulai curiga ketika melihat warna kehitaman pada bagian tepi luka mereka. Banyaknya darah yang hilang tidak cukup menjelaskan penurunan kondisi ketiganya secara bersamaan. Oleh karena itu, dokter muda itu segera memutuskan membawa ketiganya ke rumah sakit.“Benda yang dipakai menusuk mereka harus diamankan,” katanya kepada petugas. “Jangan disentuh tanpa pelindung.”Setibanya di rumah sakit, ketiga korban langsung dibawa menuju

  • Kadrun   Chapter 8

    Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit

  • Kadrun   Chapter 3

    Perempuan seperti Cinderella memang tidak pernah ada di dunia nyata, begitu pun Snow White, Rapunzel, Aurora Sleeping Beauty, dan Mulan. Perempuan yang ada di muka bumi ini kebanyakan adalah semacam Siti Majenun. Setelah pesta kondangan usai digelar, acara adat selesai dilaksana

  • Kadrun   Chapter 2

    Pesta pernikahan Kadrun dan Siti Majenun pun digelar di kampung. Alasannya karena Siti tidak lagi punya keluarga dan atas permintaan Mak Kadrun. Meriah sekali pesta kondangan yang digelar keluarga Kadrun. Sebagai petani yang punya banyak kebun sawit dan anak buah, tentu pesta yang digelar tok

  • Kadrun   Chapter 1

    Kadrun terlalu bahagia. Budak melayu kampung itu menyapa siapapun sepanjang gang masuk kontrakan rumahnya. Dia tidak menurunkan satu inci pun senyum di bibir sejak dia menemukan rasa bahagia yang fantastis dahsyat itu. Dia mencium tangan setiap perempuan yang berpapasan dengannya. Tua, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status