LOGINKadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikenakan. Kadrun mengintip jam weker yang ada di atas nakas.
Jam 4 subuh!
Istrinya baru pulang sepagi ini setelah sepanjang malam di luar bersama laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Kadrun langsung merubah posisinya dengan duduk di pinggir dipan.
“Sepagi ini kau baru pulang, Siti?”
Suara Kadrun mengagetkan Siti yang hanya memakai celana dalam dan bra. Dia membalik badan menghadap Kadrun. Kedua gunung kembar Siti tampak menantang di balik bra yang tampak tidak sanggup menampungnya. Warna bibir merah Siti yang kontras dengan kulit kuning langsatnya benar-benar memancarkan kecantikan alami Siti. Kadrun menelan ludah.
“Maaf ya pulang terlalu larut, Bang.” suara Siti sangat mendesah melangkah mendekati Kadrun. Siti tampak sangat menawan hanya berbalut bra dan celana dalam berenda berwarna hitam. Paha dan betisnya yang jenjang mengkilap tertimpa sinar lampu kamar.
“Bisnis apa yang dibicarakan sampai selarut ini?” Kadrun masih menaruh curiga dan amarah pada Siti.
Siti tersenyum, dia tampak berpikir ketika melangkah mendekati Kadrun.
“Yaaa, bisnis karaoke, Bang. Dia akan memodali aku membuka karaoke.” Siti sudah berdiri di depan Kadrun. Dia menunduk menghadapkan mukanya langsung pada Kadrun. Jarak antara hidung mereka berdua hanya sekitar lima inci. Hal itu membuat Kadrun makin jelas melihat buah dada Siti yang sedang dalam posisi menunduk. Jakun Kadrun naik turun.
“Abang belum tidur?” Siti mendesah.
Kadrun tidak bisa menjawab. Wajah mereka terlalu dekat hingga napas Siti yang bau alkohol langsung merasuk ke lubang hidung Kadrun.
Siti menaiki paha Kadrun dan duduk di atasnya. Kedua lengannya digantungkan di leher Kadrun. Mata Kadrun tidak bisa lepas melihat dua buah dada Siti yang ranum di depan matanya begitu dekat.
“Ini bukannya masih Jumat ya?” Kadrun bertanya.
“Kenapa?” Siti mulai memangut leher Kadrun.
“Apakah memang sudah jadwalnya? Bukannya Selasa, Kamis, Sabtu?” Kadrun mulai menggelinjang menahan geli dan nafsu karena kuping dan lehernya terus dipangut Siti penuh gairah.
Siti tidak menjawab. Perempuan itu dengan lembut mendorong tubuh Kadrun hingga rebah di atas Kasur. Siti kembali memangut tubuh Kadrun inci demi inci dari bagian atas hingga ke bagian bawah. Kadrun tidak mampu menolak dan menikmati setiap jengkal kecupan dan pangutan Siti di tubuhnya. Pergulatan subuh itu memang sungguh luar biasa. Siti selalu bertindak aktif dan memenangkan pergulatan. Geliat tubuh sintal milik Siti dan erangan manjanya saja membuat Kadrun serasa melihat adegan film porno di layar televisi. Kadrun benar-benar dibuat terbang ke langit ke tujuh hingga pertempuran selesai dan kedua tubuh mereka terlentang bersimbah peluh dan tertidur karena kelelahan.
Pagi harinya, Kadrun terbangun dan segera menuju ke dapur. Kadrun menyiapkan sarapan nasi goreng lengkap dengan telur ceplok sambil bersenandung riang. Setelah sepiring nasi goreng siap, Kadrun pun melakukan ritual mandi dengan tetap bersenandung. Ritual mandi selesai Kadrun mengenakan seragam kantor, menyisir rambut, dan memakai parfum. Kadrun ingin tampil necis dan rapi. Kadrun merasa sangat tampan pagi itu. Lelaki kurus itu tidak lelah bersiul. Dia kembali ke dapur untuk membuat plating nasi goreng. Kadrun telah menyiapkan telur ceplok, irisan timun, irisan tomat, dan potongan cabai rawit sebagai pelengkap. Selayaknya chef profesional Kadrun mulai beraksi menata hasil masakannya di atas sebuah piring putih. Setelah selesai, Kadrun meraih segelas susu yang disiapkannya sedari tadi dan meraih piring berisi nasi goreng untuk selanjutnya dibawa ke kamar tidur. Secarik kertas note berbentuk hati diambil Kadrun dari dalam nakas sebelah ranjang. Dia menulis dengan terus tersenyum.
“SAYANG, JANGAN LUPA SARAPAN YA. INI KUBUAT DENGAN CINTA. NANTI SEKITAR JAM 12, JANGAN LUPA DICEK REKENINGNYA, AKU AKAN MENTRANSFER 100 JUTA ITU SEBELUM JAM 12. LOVE KADRUN.”
Sebelum meletakkan di atas nakas di sebelah menu sarapan yang dia siapkan untuk istrinya, dia mencium tiga kali kertas note tersebut. Selanjutnya, mendapati tubuh istrinya telanjang bulat dengan posisi telentang di atas kasur dalam kondisi tertidur, segera dia tutupi dengan selimut. Lalu lelaki kurus itu kembali ke dapur meraih kotak bekal nasi goreng yang dibuatnya tadi untuk dirinya sendiri, menarik kunci motor yang digantung di dekat pintu lalu mulai menyalakan motor bebek andalannya sebelum kemudian melaju meninggalkan kontrakan dengan terus bersiul.
Kadrun bahagia. Penuh semangat dia mengabsen di kantor sebelum meluncur mengantri ke bank. Dia mencairkan depositonya sebesar 500 juta. Uang dari penjualan batik-batik yang dikumpulkan sedikit demi sedikit selama delapan tahun. Sempat sahabatnya menyarankan uang itu dipakai untuk berinvestasi saham saja dibandingkan cuma disimpan dalam deposito. Akan tetapi, Kadrun merasa terlalu kolot dan merasa tidak cukup paham tentang invetasi saham. Kadrun memandang lembar depositonya itu dan menghela napas. Kadrun mempunyai rencana membuat gerai bank batik yang sangat besar di Kota Seberang dengan mengumpulkan uang tersebut, dia berencana bahwa gerai itu adalah tempat peminjaman modal bagi pengrajin batik. Para pengrajin tersebut tidak perlu membayar pinjaman dengan uang, namun dengan batik yang mereka hasilkan. Namun mungkin Kadrun harus menunda mimpi tersebut. Walaupun saat ini dia tetap bisa menjadi pemodal untuk pengrajin batik di Kota Seberang dengan jumlah yang relatif tidak terlalu besar. Kadrun akan mencoba mencari cara lain untuk tetap mewujudkan mimpinya. Benar kata istrinya, bahwa dia adalah seorang suami sehingga tanggung jawab terbesarnya tentulah sang istri, bukan orang lain. Dia mengirimkan seratus juta ke rekening Siti, sisanya uang tersebut ditaruh di rekening tabungannya.
Dia kembali ke kantor dan bekerja hingga jam tujuh malam membuat desain batik. Kadrun penuh dengan semangat untuk menjadi lelaki yang kaya raya dan mampu memberikan kepuasan materi bagi istri tercinta. Dia bercita-cita ingin membuat rumah gedong seperti permintaan istrinya. Dia juga sudah menelpon Mak dan Bapak di kampung untuk meminta mobil hadiah perkawinannya kemarin.
“Awak minta maaf berkaitan dengan Wak Nur, Mak.” Kadrun membuka pembicaraan di telepon dengan Mak.
“Iya, dak apa-apa. Wak Nur juga maklum karena dia tidak paham cakap Siti. Sekarang dia sudah di rumah kita lagi. Dia tampak lebih senang di kampung, maklum lah Bahasa Indonesia Wak Nur kan juga tidak begitu lancar. Pasti masalah komunikasi yang buat hubungan Siti dan Wak Nur terganggu.” Mak Kadrun menimpali dengan santai.
“Iya, Mak.”
“Tidak kau carikan lagi istrimu pembantu?”
“Belum, Mak. Nanti biar dia saja yang kusuruh cari sendiri, sesuai seleranya.”
“Oh iya, bagus juga begitu.”
“Ngomong-ngomong, Mak,” Kadrun ragu bicara.
“Apa, Nak?”
“Eh, itu, Mak, kendaraan kemarin yang Mak hadiahkan,”
“Iya, kau perlu mobil. Istrimu yang cantik itu tidak pantas kau bawa dengan motor bebek bututmu keliling kemana-mana.” Mak memotong sambil tertawa. “Seharusnya kau tidak perlu sungkan untuk memintanya, Drun.”
“Iya, Mak.”
“Nanti Bapak kirimkan mobil itu ke Jambi.”
“Terima kasih ya, Mak. Sebenarnya awak dak enak sama Mamak dan Bapak.”
“Ah, kau macam bukan anak Mak dan Bapak saja. Kenapa kau jadi banyak sungkannya sekarang?”
Kadrun nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Kau tidak pindah kontrakan? Atau kau sudah beli rumah untuk istrimu?”
“Rencananya begitu, Mak. Aku akan beli rumah cicilan.”
“Ah, biar Mak kirimkan uang buat kau bangun rumah. Ada tanah Mak dan Bapak di Jambi, lokasi tanah itu rasanya dekat dengan tempat kerjamu.”
“Ah, dak usahlah, Mak.”
“Kenapa pula tidak usah. Bagaimana menantuku bisa nyaman dan segera punya anak kalau dia tidak hidup enak.”
“Aku belum punya uang untuk bangun rumah.”
“Lah, Mak kan tadi ngomong kalau akan mengirimi uang untuk bangun rumah.”
“Nanti saja lah, Mak.”
“Kalau begitu, pindah kontrakan saja dulu yang lebih besar dan halamannya luas. Bagaimana kau taruh mobilmu kalau tidak ada halaman parkir dan jalan yang memadai.”
“Untuk sementara awak titip di bengkel Bang Somad dulu, Mak.”
“Oh, begitu. Jangan lama-lama, nanti merepotkan Bang Somad.”
“Sebenarnya awak juga tidak ingin pindah dari kontrakan itu. Awak sudah nyaman bertetangga di sana.”
“Jadi?”
“Rencananya awak mau membeli saja kontrakan yang sekarang itu.”
“Oh, bagus juga. Tinggal kau rehab. Cuma sayang di gang itu kan tidak muat buat masuk mobil, Drun.”
“Bisa lah nanti awak pikir, Mak. Tapi dak usah Mak ikut berpikir. Kalau memang butuh bantuan Mak dan Bapak, pasti awak hubungi.”
“Iya lah, Drun. Jaga kesehatanmu dan titip salam sama Siti.”
“Iya, Mak.”
Telepon pun ditutup.
Kadrun kembali ke rumah dan mendapati kontrakan dalam kondisi kosong. Sebuah pesan ditempel di atas layar televisi. Pesan itu dari Siti.
“AKU PULANG AGAK MALAM, SAYANG. MAKASIH BANYAK ATAS UANG TRANSFERANNYA. AKU URUS BISNIS DULU. JANGAN LUPA BESOK MALAM PERTEMPURAN KITA YA, SAYANG. LOVE SITI.”
Kadrun mengambil handphone untuk menghubungi istrinya. Akan tetapi tidak ada jawaban. Hingga lebih dari sepuluh kali tidak ada tanggapan. Kadrun terduduk di satu-satunya sofa di ruang kontrakannya itu.
Di tangannya baru saja dia beli lingerie motif macam tutul dari mall yang dihampirinya sebelum sampai ke rumah. Dia ingin Siti mencoba hadiah itu. Kadrun berniat untuk memberikan sebanyak mungkin perhatian untuk Siti. Kadrun akan membanjiri Siti dengan hadiah. Kadrun akan menyajikan masakan kesukaan Siti. Kadrun akan mengurus semua pekerjaan rumah tanpa membiarkan Siti kerepotan. Kadrun bersedia menjadi babu atau apapun asalkan Siti tetap berada di sisinya.
Setelah perkara Kadrun dilimpahkan ke pengadilan, tempat penahanannya dipindahkan dari ruang tahanan kejaksaan ke Rumah Tahanan Negara di Kota Jambi.Di sana, Kadrun akan tercatat sebagai tahanan titipan pengadilan.Pemindahan dilakukan pada pagi hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada keluarga.Kadrun baru mengetahuinya ketika seorang petugas meminta dirinya mengemasi pakaian, perlengkapan mandi, serta beberapa barang lain yang diizinkan berada di dalam kamar tahanan.“Bapak dipindahkan ke rutan,” kata petugas.“Sekarang?”“Sekarang.”“Pengacaraku sudah diberi tahu?”“Nanti pihak kejaksaan mengirimkan pemberitahuan.”Kadrun memasukkan seluruh barangnya ke dalam tas plastik. Tidak banyak yang harus dibawa. Hanya dua pasang pakaian, Al-Qur’an terjemahan berukuran kecil, handuk, sabun, sikat gigi, dan foto Siti yang sedang menggendong Raja.Fo
Jaksa melanjutkan dengan riwayat elektronik penggunaan akun verifikasi. Alamat perangkat, waktu akses, dan perubahan status permohonan dibacakan satu per satu.Tidak ada penjelasan mengenai siapa yang memegang komputer ketika akses dilakukan. Tidak ada rekaman kamera. Tidak ada sidik jari pada buku yang disebutkan dalam dakwaan.Namun, jika seluruh uraian itu didengar tanpa mengetahui apa yang terjadi di belakangnya, Kadrun memang terlihat seperti pusat dari semua penyimpangan.Bapak bergerak gelisah di bangku pengunjung.“Dio dak melakukan itu,” bisiknya.Brewok menyentuh lengannya.“Tahan dulu, Pak.”Jaksa Fadli akhirnya sampai pada bagian penutup.Menurut dakwaan primair, Kadrun dianggap bersama-sama memperkaya diri, pihak lain, dan sejumlah badan usaha hingga mengakibatkan kerugian negara.Dalam dakwaan subsidair, ia dituduh menyalahgunakan kewenangan yang melekat pada jabatannya untuk mengunt
Pagi itu, halaman Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jambi telah dipenuhi wartawan sejak pukul tujuh.Mobil-mobil liputan berjejer di sepanjang jalan. Kamera dipasang menghadap pintu masuk tahanan. Beberapa reporter berdiri di depan pagar sambil menyampaikan laporan langsung mengenai sidang perdana perkara korupsi dana hibah bantuan modal perajin batik.Nama Kadrun kembali muncul pada layar televisi.Namun, kali ini tulisan di bawah wajahnya telah berubah.KADRUN JALANI SIDANG PERDANA SEBAGAI TERDAKWASejak berkas perkaranya dilimpahkan ke pengadilan, status hukumnya bukan lagi tersangka. Jaksa telah menyusun surat dakwaan, pengadilan telah meregister perkara, dan majelis hakim telah ditetapkan.Pukul delapan lewat lima belas menit, mobil tahanan kejaksaan memasuki gerbang samping.Para wartawan langsung berlari.“Kadrun datang!”“Siapkan kamera!”&ldqu
Pemeriksaan berlanjut ke ruangan di bagian belakang.Kamar tersebut hanya memiliki satu lubang angin berjeruji. Kusen pintunya baru diganti, tetapi paku-paku lama masih tertinggal pada dinding.Seorang petugas menemukan sesuatu yang tersangkut pada kepala paku berkarat.Beberapa serat tipis berwarna putih kebiruan.Ia mengambilnya menggunakan pinset, kemudian memasukkannya ke dalam plastik transparan.“Serat tali?” tanya Nabila.“Kemungkinan bahan sintetis. Harus dibandingkan dengan serat yang ditemukan pada luka korban.”Pada pemeriksaan jenazah Siti, petugas medis menemukan serpihan bahan menyerupai tali plastik pada kulit di sekitar pergelangan tangannya.Kalau kedua serat tersebut memiliki jenis dan karakteristik yang sama, rumah itu dapat dihubungkan dengan penyekapan Siti.Di dekat dinding terdapat empat lubang kecil dengan jarak yang teratur. Bekasnya menunjukkan sesuatu berukuran besar per
Dua hari sebelum Kadrun ditahan di ruang tahanan kejaksaan dan tepatnya tiga hari setelah jasad Siti dikubur, tiga kendaraan kepolisian bergerak memasuki kawasan perkebunan di Mestong.Zulaikah berada di mobil paling belakang bersama Nabila.Sudah dua kali mereka melewati jalan utama tersebut tanpa menemukan cabang yang dimaksud. Pohon-pohon sawit tumbuh rapat di kedua sisi jalan. Beberapa jalur tanah tampak serupa dan tidak satu pun memiliki papan penunjuk.Zulaikah terus memperhatikan pemandangan di balik jendela.“Pelankan mobilnya,” katanya.Pengemudi mengurangi kecepatan.Zulaikah melihat sebuah pohon rambutan tua yang tumbuh miring di antara barisan sawit. Batangnya hampir tertutup tanaman merambat, tetapi bentuk cabangnya masih sama seperti yang diingatnya.“Berhenti.”Mobil berhenti di tepi jalan.Zulaikah turun dan berjalan beberapa meter. Di balik semak terdapat jalan tanah yang sebagian t
Zulaikah tiba di kantor Bram Wijaya menjelang sore.Gedung berlapis kaca itu berdiri di salah satu ruas jalan utama Kota Jambi. Nama perusahaan Bram terpampang besar di bagian depan, seolah lelaki tersebut ingin memastikan setiap orang mengetahui siapa pemilik bangunan itu.Sebelum turun dari mobil, Zulaikah mengirimkan lokasinya kepada Nabila.Aku akan menemui Bram. Jika satu jam lagi aku belum menghubungimu, telepon polisi.Pesan itu dibaca, tetapi belum dibalas.Zulaikah memasukkan telepon ke dalam tas tangan. Perekam suara telah dinyalakan sejak ia masih berada di tempat parkir.Ia tidak tahu apakah Bram akan mengakui sesuatu.Namun, setelah melihat Kadrun digiring dengan tangan terborgol dan rompi tahanan, Zul
Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit
Perempuan seperti Cinderella memang tidak pernah ada di dunia nyata, begitu pun Snow White, Rapunzel, Aurora Sleeping Beauty, dan Mulan. Perempuan yang ada di muka bumi ini kebanyakan adalah semacam Siti Majenun. Setelah pesta kondangan usai digelar, acara adat selesai dilaksana
Pesta pernikahan Kadrun dan Siti Majenun pun digelar di kampung. Alasannya karena Siti tidak lagi punya keluarga dan atas permintaan Mak Kadrun. Meriah sekali pesta kondangan yang digelar keluarga Kadrun. Sebagai petani yang punya banyak kebun sawit dan anak buah, tentu pesta yang digelar tok
Kadrun terlalu bahagia. Budak melayu kampung itu menyapa siapapun sepanjang gang masuk kontrakan rumahnya. Dia tidak menurunkan satu inci pun senyum di bibir sejak dia menemukan rasa bahagia yang fantastis dahsyat itu. Dia mencium tangan setiap perempuan yang berpapasan dengannya. Tua, m







