เข้าสู่ระบบ"Raga fanamu yang tidak seberapa itu ternyata menyimpan rahasia. Begitu kau kutangkap, aku akan membedahnya sampai tuntas."Yamadipati memicingkan mata ke arah Ryan Hartono. ..Kilat bengis bergolak di dalam sorotnya, seolah ia sudah melihat tubuh Ryan berubah menjadi bahan percobaan di hadapannya.Detik berikutnya, ia tiba-tiba mengangkat tangan."Jari Dewa Arwah!"Begitu pekikan itu keluar, hawa hitam yang meluap di sekeliling tubuh Yamadipati tersedot deras menuju ujung jarinya. Dalam sekejap, satu jarinya berubah hitam pekat sampai ke pangkal, seperti dipenuhi racun, dendam, dan arwah yang tak terhitung jumlahnya.Saat ujung jari itu bergetar tipis, udara di sekitarnya terkoyak.Ruang mengeluarkan dengung rendah yang membuat dada orang terasa sesak.Wusss!Seberkas cahaya hitam sebesar lengan orang dewasa menyembur dari ujung jari Yamadipati. Cahaya itu membelah langit malam, membawa daya penghancur yang membuat seluruh pelataran Balai Leluhur kembali berguncang."Golok Kesadara
Detik berikutnya, tubuh Sang Ketua Sekte mulai kejang hebat.Wajahnya berubah-ubah dengan cepat. Kadang penuh ketakutan, kadang bengis, kadang tampak seperti orang yang sedang berusaha mempertahankan sesuatu dari dalam dirinya sendiri."Yang Mulia Dewa Sihir, apa... apa yang Yang Mulia lakukan?" suaranya bergetar, tidak lagi seangkuh sebelumnya."Apa yang kulakukan?"Suara yang sangat dingin keluar dari tubuh Sang Ketua Sekte, tetapi jelas bukan suaranya sendiri. Nada itu tinggi, asing, dan membawa penghinaan yang membuat orang menggigil."Tentu saja mengambil alih ragamu. Kau sudah tidak berguna lagi.""Yang Mulia Dewa Sihir, jangan! Hamba selalu setia kepada Yang Mulia. Kenapa Yang Mulia memperlakukan hamba seperti ini?"Raungan Sang Ketua Sekte kembali terdengar. Kali ini, suaranya dipenuhi kepanikan yang tidak bisa ditutupi.Namun suara dingin itu hanya mencibir."Sampah tidak berguna. Mel
Lelaki tua berwajah tirus itu menggeleng pelan. “Kalian keluar saja. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”“Baik. Aku yang berjaga untukmu.”Bantara mengangguk, lalu memberi isyarat kepada Hendrik Hartono, Darren Vale, Tuan Budi, Wulan, dan orang-orang lain di ruang tamu. Mereka saling menatap dengan cemas, tetapi akhirnya tetap keluar satu per satu.Pintu ruang tamu ditutup dari dalam.Cahaya emas yang tadi menembus jendela dan atap perlahan mulai meredup. Meski belum benar-benar hilang, setidaknya pancarannya tidak lagi menyilaukan seluruh halaman.Hendrik menoleh ke arah pintu tertutup itu. Kecemasan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. “Kek Bantara, sebenarnya apa yang terjadi?”Ia benar-benar tidak mengerti.Bukan hanya Hendrik. Darren Vale, Wulan, dan Tuan Budi pun sama. Malam ini terlalu banyak hal yang melampaui akal sehat mereka. Bulan darah, cahaya emas dari tubuh Lulu, lalu kedatan
"Kepala Kuil!" Melihat api mulai melahap tubuh lelaki tua itu, Kirana dan tiga lelaki yang berlutut di hadapannya tidak sanggup lagi menahan tangis. Mereka tahu betul apa arti pemandangan tersebut. Api itu bukan api biasa. Itu adalah tanda bahwa Kepala Kuil sedang membakar sisa hidup, raga, dan jiwanya sendiri demi membuka satu jalan terakhir bagi mereka. Tepat ketika tubuh lelaki tua itu hampir habis menjadi abu, matanya yang ditempeli daun emas mendadak bergetar. Ia melihatnya. Di tengah kekacauan yang tak berbatas, ia melihat sesosok pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun. Pemuda itu berjalan dengan kedua tangan di belakang punggung di dalam dunia petir yang tak berujung. Setiap kali kakinya melangkah, lautan petir di bawahnya bergetar halus, seolah bahkan petir pun tidak sanggup menanggung wibawa sosok itu. Dari tubuh pemuda itu memancar cahaya merah darah dan niat membunuh yang meluap. Arwah-arwah gentayangan yang tak terhitung jumlahnya menggeliat, menangis, dan menjer
Kediaman Keluarga Hartono di Kota Sentralis berada di bawah langit malam yang semakin ganjil. Hendrik Hartono, Darren Vale, Tuan Budi, Wulan, dan beberapa orang lain berdiri di halaman dengan wajah ngeri. Mereka menyaksikan cahaya emas terus mengalir keluar dari tubuh Lulu yang masih tidak sadarkan diri di dalam rumah, lalu menembus atap dan melesat ke arah bulan darah di langit. Utas-utas cahaya emas itu tampak seperti pancaran dewa. Luas, dalam, kuno, dan agung. Tidak ada seorang pun memahami apa yang sedang terjadi. Mereka hanya bisa berdiri terpaku, seolah seluruh akal sehat sudah dirampas oleh pemandangan di depan mata. Detik berikutnya, kejadian yang lebih ganjil muncul. Seberkas cahaya emas menembus langit. Awan-awan bergolak hebat, lalu di tengah kehampaan, sebuah matahari merah perlahan muncul samar. Matahari itu seperti Burung Merah raksasa yang membentangkan sayap, hendak mengusir kegelapan tak berujung yang menyelimuti dunia. Pada saat itu, bukan hanya Hendrik da
"Begitu Yin membesar dan Yang menyusut, atau sebaliknya, segala sesuatu di dunia akan bergerak ke arah yang ekstrem." Grandmaster Jendra berhenti sejenak. Tatapannya masih terpaku pada bulan darah di langit, lalu ia menambahkan dengan suara berat, "Misalnya saat Yin membesar dan Yang menyusut, hal-hal ganjil akan muncul. " "Kucing bisa bersujud kepada bulan, tikus membakar dupa, jasad bangkit dari peti, bahkan sulur kering dan pohon tua pun mungkin berubah menjadi siluman." Begitu penjelasan itu selesai, wajah orang-orang di hadapannya berubah satu demi satu. Mereka semua merasakan hawa dingin merambat dari telapak kaki sampai ubun-ubun. Beberapa orang hendak bertanya lagi. Namun ketika mereka mengangkat kepala, lelaki tua berjubah pertapa bersulam benang emas itu sudah lenyap dari tempatnya berdiri. Hanya gumaman samar yang tertinggal di antara embusan angin malam. "Jalan Langit sudah mati. Datangnya Waktu Empat Yin berarti dunia ini akan segera jatuh ke dalam kekacauan." *
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y







