Share

Bab 5 - Alasan Berhutang

Penulis: Rianoir
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 12:34:32

Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.

Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi beruntung dan dapat proyek. Selama Ryan hilang, mereka harus merawat Aira yang masih bayi, membeli susu, popok, semua kebutuhan anak kecil yang terus bertambah seiring waktu. Biaya hidup terus meningkat, sementara gaji ayahnya tetap stagnan.

Mereka masih bisa bertahan. Walaupun sulit, walaupun harus hemat setiap hari, mereka masih bisa bertahan.

Lalu setahun yang lalu, Aira mulai sakit-sakitan. Demam tinggi yang tidak turun-turun. Badannya semakin kurus. Lemas terus-menerus. Setelah dibawa ke rumah sakit dan menjalani serangkaian tes yang menghabiskan seluruh tabungan mereka, diagnosis keluar.

Leukemia. Kanker darah stadium awal.

Penyakit seperti itu butuh kemoterapi, butuh obat-obatan yang mahal, butuh perawatan intensif yang biayanya puluhan juta. Tabungan mereka habis hanya untuk tes awal. Mereka mencoba meminjam dari bank, tapi ditolak karena tidak punya jaminan yang cukup. Rumah ini masih cicilan. Tidak ada aset lain.

Seorang teman ayahnya menyarankan rentenir pribadi yang konon "baik hati" dan "bisa dipercaya". 

Awalnya hanya sepuluh juta GDP dengan janji bunga wajar, hanya tiga persen per bulan, katanya. 

Tapi ternyata kontraknya penuh jebakan. Bunga berbunga. Denda keterlambatan yang absurd, lima persen per hari kalau telat bayar. Biaya administrasi yang tidak masuk akal.

Dalam hitungan enam bulan, utang sepuluh juta membengkak menjadi tiga puluh juta. Tiga bulan kemudian menjadi lima puluh juta.

"Ayahmu bekerja siang malam, Ryan," Wulan menangis, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang keriput. "Dia ambil tiga pekerjaan sekaligus. Buruh bangunan pagi sampai sore, jadi satpam malam, akhir pekan jadi kuli angkut barang. Dia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah. Tapi utangnya terus bertambah seperti bola salju yang menggelinding. Kami... kami tidak tahu harus bagaimana lagi."

Ryan mengepalkan tinjunya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah memuncak di dadanya seperti gunung berapi yang siap meletus. Urat-urat di pelipisnya berdenyut keras.

Rentenir. Lintah darat. Orang-orang yang memangsa penderitaan orang lain. Orang-orang yang menghisap darah keluarga yang sudah jatuh dan tidak bisa bangkit.

'Tuan Budi,' pikir Ryan, tatapannya dingin seperti musim dingin di Dunia Zhentian. 'Kau telah membuat kesalahan besar dengan mengancam keluargaku. Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan.'

"Ibu, jangan khawatir lagi," kata Ryan, meraih tangan ibunya yang keriput dan dingin, menggenggamnya dengan hangat. Dia menatap mata ibunya dengan tegas, penuh keyakinan. "Aku akan menyelesaikan masalah ini. Utang ini akan kulunasi, dengan caraku sendiri. Dan Aira... aku akan menyembuhkan Aira."

Wulan menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ada sesuatu yang sangat berbeda dari Ryan. Sesuatu yang kuat. Sesuatu yang... menakutkan sekaligus menenangkan. Seperti melihat dewa pelindung yang turun dari langit.

"Tapi Ryan, lima puluh juta itu bukan uang kecil..."

"Akan aku urus, Bu. Percaya padaku."

Tepat saat itu, terdengar suara pintu rumah terbuka dengan tergesa. Seorang pria paruh baya dengan wajah keriput penuh bekas lelah, kulit gelap terbakar matahari, dan topi kerja kuning yang sudah lusuh masuk dengan napas terengah-engah. Keringat membasahi bajunya yang penuh debu semen.

"Wulan! Aku dapat teleponmu! Benarkah Ryan..."

Pria itu berhenti di tengah kalimat. Kakinya seolah membeku. Matanya terbelalak lebar melihat sosok yang duduk di sofa, sosok yang sudah lima tahun tidak dilihatnya, sosok yang sudah dia pikir tidak akan pernah dilihatnya lagi.

"Ryan... Ryanku?"

"Ayah."

Hendrik Hartono berdiri membeku sesaat. Topi kerjanya terjatuh ke lantai dengan bunyi pelan. Lalu tiba-tiba air matanya jatuh, pertama hanya beberapa tetes, lalu seperti bendungan yang jebol. Pria yang terlihat sangat kuat dan tegar itu, pria yang tidak pernah mengeluh meski harus bekerja tiga pekerjaan sekaligus, menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya.

"Putraku... putraku kembali..."

Ryan bangkit dari sofa dan memeluk ayahnya erat-erat. Hendrik Hartono, pria yang bahunya selalu tegak meski menahan beban dunia, kini menangis di pelukan putranya. Tubuhnya gemetar, tangannya mencengkeram baju Ryan yang compang-camping seolah takut putranya akan menghilang lagi.

Keluarganya. Orang-orang yang paling berharga di dunia ini. Bukan harta. Bukan kekuatan. Bukan gelar Kaisar Iblis. Keluarganya.

'Aku bersumpah,' pikir Ryan, menatap pintu kamar Aira yang tertutup rapat. 'Aku akan melindungi kalian semua. Aku akan menyembuhkan Aira. Aku akan membuat keluarga ini bahagia lagi. Siapapun yang berani menyakiti keluargaku...'

Tatapannya berkilat berbahaya, cahaya merah samar seolah berkedip di dalam pupilnya.

'...akan merasakan apa itu murka seorang Kaisar Iblis. Dan mereka akan berharap mereka tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 11: Satu Tamparan

    "KURANG AJAR!" teriak Master Willem, suaranya bergema di seluruh ruangan. Dia melompat maju dengan kecepatan penuh, Qi-nya meledak dari seluruh tubuhnya. Tinjunya melesat cepat ke arah wajah Ryan dengan kekuatan yang bisa memecahkan tengkorak manusia biasa. Kecepatan dan kekuatan pukulan itu membuat udara berdengung keras, menciptakan tekanan angin yang membuat rambut para penonton berayun. Ini adalah serangan andalannya, Tinju Naga Menghancurkan Gunung! Para penonton menutup mata mereka, tidak sanggup melihat wajah Ryan hancur berantakan. "Mati kau!" PLAK! Suara tamparan keras terdengar, sangat keras hingga bergema seperti petir kecil. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mereka lihat membuat rahang mereka terjatuh, mata terbelalak lebar. Ryan masih berdiri di tempatnya seperti patung, bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Bahkan tidak berkedip. Tangannya menangkap tinju Master Willem dengan mudah, seolah menangkap bola yang dilempar anak TK. Jari-jarinya b

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 10 - Master Willem

    Ryan berdiri di tengah kehancuran dengan napas yang masih teratur, bahkan tidak berkeringat. Pakaiannya masih rapi, tidak berantakan. Dia bahkan tidak menggunakan sepuluh persen kekuatannya. Manajer keamanan itu terpaku di tangga, wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya gemetar hebat. "Tidak... tidak mungkin... ini tidak nyata..." Seluruh lobi terdiam dalam shock yang mencekam. Tidak ada yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang pria, seorang pria biasa dengan pakaian sederhana, baru saja mengalahkan belasan penjaga terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikitpun. Ryan perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga merah karpet. Matanya fokus pada sosok yang berdiri di balkon lantai dua, seorang pria gemuk berusia pertengahan empat puluhan dengan wajah berminyak dan ekspresi yang tadinya arogan kini mulai luntur. Tuan Budi, bos klub ini sekaligus kepala geng terbesar di Kota Sentralis. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua kurus berusi

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 9 - Klub Malam Puncak Emas

    Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh."Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?""Ya, kenapa?"Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja.""Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menat

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 8 - Masakan Kaisar Iblis

    Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam."Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahu

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 7 - Janji Ryan

    "Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira.""Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."Wulan

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 6 - Keluarga Yang Hancur

    Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu."Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. M

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status