MasukRuangan rahasia itu tersembunyi di balik kemegahan istana yang berlapis emas dan permata. Dindingnya terbuat dari batu marmer yang halus, yang dingin bila disentuh. Beberapa gulungan kitab kuno bersandar usang di rak kayu, bersamaan dengan beberapa botol kecil berisi cairan obat yang tidak diberi label.
Di tengah ruangan, sebuah tempat tidur batu polos dan datar—yang biasanya menjadi tempat Shangkara bermeditasi hingga larut malam—kini tergeletak seorang gadis tak dikenal yang napasnya tersengal-sengal.
Cahaya biru dari kristal-kristal energi yang tertanam di dinding menerangi segala sudutnya, menciptakan bayangan-bayangan yang menari. Tidak ada satu pun simbol kebesaran kerajaan yang terpajang. Ini adalah tempat Sang Kaisar melepas semua topeng dan mahkotanya, menjadi dirinya yang paling sederhana dan paling tersembunyi—sebuah ruang yang selalu dia sembunyikan dari seluruh dunia.
Ren adalah satu-satunya orang yang ia izinkan masuk.
Tiba-tiba tubuh Cailin yang terbaring tak sadarkan diri bergetar hebat. Punggungnya naik turun, tangan dan kakinya bergerak tak terkendali. Napasnya tersengal, gigi gemeretak, walau tubuhnya masih tetap tak sadarkan diri.
Kulitnya yang pucat kini memerah tidak wajar, urat-urat di pelipis dan leher menyala merah sebagai tanda energi milik Shangkara membakar tubuhnya dari dalam.
“Dia tidak akan bertahan sampai fajar, yang mulia.” Suara Ren datar, tapi ada nada keputusasaan di sana. “Energi anda terlalu kuat, tubuhnya akan hancur.”
Shangkara menatap tajam ajudannya yang paling setia. “Jadi maksudmu, kita membawanya ke istana hanya untuk menontonnya mati?” suaranya rendah, namun nadanya berbahaya.
Suara ajudannya kian meninggi untuk pertama kalinya. “Kita tidak tahu siapa dia, atau dari mana asalnya. Dan kondisi yang mulia yang harus diperhatikan Mengorbankan sisa tenaga untuknya adalah—”
“—adalah kewajibanku!” sergah Shangkara, memotongnya. Ren sedikit menundukkan kepalanya. “Dia terluka karena menolongku. Seorang kaisar tidak meninggalkan hutang nyawa.”
Shangkara menarik napas dalam. Matanya menatap Cailin yang masih sesekali kejang dan semakin lemah. Sebuah ingatan melintas—sebuah kitab kuno yang dia baca, berbicara tentang sifat darah leluhurnya.
Shangkara melangkah ke rak yang berisi gulungan kuno. Ia memilah, membuka dan menyimpannya kembali, sampai ia menemukan satu gulungan yang ia cari.
Jarinya menunjuk tulisan kuno yang tertulis. “Hanya api yang bisa memadamkan api. Hanya darah yang bisa menawar racunnya.”
Itu adalah teori gila, berbahaya dan belum pernah diuji, namun, itulah satu-satunya harapan.
“Darahku,” ucap Shangkara, suaranya tiba-tiba tenang dan penuh keyakinan. “Hanya darah Vermilion-ku yang bisa menetralisir energiku sendiri yang membakar di dalam tubuhnya.”
Wajah Ren berubah pucat. “Yang mulia, tidak! Itu terlalu berisiko! Memberikan darah suci anda kepada orang luar… itu adalah pantangan! Tidak boleh! Bagaimana kalau ada efek samping pada anda, atau… atau menciptakan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan!” Protesnya dengan nada panik.
“Apa kau punya usulan lain, Ren?” tanya Shangkara dingin.
Ren membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Dia tidak punya jawaban.
Shangkara mengulurkan tangannya, “Pisau.”
Ren terdiam sejenak, konflik batin terpancar jelas di wajahnya. Akhirnya, dengan gerakan lambat dan penuh keengganan, dia mengeluarkan belati pendek dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada Shangkara.
Shangkara duduk di samping tempat tidur batu, matanya menatap intens ke wajah gadis itu. Tubuh Cailin sesekali masih bergetar.
Shangkara menorehkan mata pisau ke telapak tangannya. Darah merah keemasan segera mengalir, hangat.
Tanpa ragu, ia mendekatkan telapak tangannya perlahan, darah menetes tepat ke bibir pucat Cailin. Gadis itu merintih pelan, tubuhnya seolah bereaksi pada setiap tetes darah.
Shangkara menahan napas, membungkuk sedikit, lalu dengan gerakan mantap, ia menempelkan ibu jarinya di bibir Cailin. Perlahan, ia mengoleskan darah itu, merasakan bibir Cailin yang lembut di bawah sentuhannya. Sentuhan lembut itu membuat dada Shangkara bergetar.
Ren berbalik, merasa tak seharusnya ia menyaksikan momen itu.
Bibir Cailin hangat di bawah kulitnya. Shangkara bisa merasakan darahnya ditarik, mengalir masuk ke tubuh gadis itu, setiap denyut seperti mengikat mereka.
Di atas tempat tidur, tubuh Cailin yang berguncang tiba-tiba melengkung keras, sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya. Cahaya merah menyusuri urat-uratnya. Shangkara ikut terhuyung, jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena kehilangan energi, tapi karena kesadaran bahwa bagian dari dirinya kini hidup di dalam gadis ini.
Perlahan, cahaya itu mereda. Kulit Cailin kembali ke warna normal, napasnya menjadi teratur dan dalam. Dia tertidur lelap, wajahnya damai.
Shangkara menarik napas lega. Tapi, saat itulah dia merasakannya.
Sebuah sensasi aneh. Bukan sakit. Bukan juga senang. Tapi sebuah… kehadiran. Sebuah keheningan yang nyaman di sudut jiwanya yang biasanya dipenuhi gejolak api yang tidak pernah padam. Seperti ada bagian dari kekacauan dalam dirinya yang tiba-tiba menjadi tenang.
Ren berbalik perlahan, melangkah mendekat, melihat perubahan ekspresi di wajah Tuannya. “Yang mulia? Apa yang terjadi? Apakah… apakah berhasil?”
Shangkara tidak menjawab. Dia menatap telapak tangannya yang sudah sembuh tanpa bekas, lalu menatap gadis yang sekarang tidur nyenyak di depannya.
Untuk sesaat, ia merasa dadanya lebih ringan… terlalu ringan. Api yang biasanya selalu bergolak di dalam dadanya mendadak mereda, meninggalkan keheningan yang asing namun menenangkan.
Dia memandangi Cailin sekali lagi, merasakan gema kelelahannya sendiri di sudut jiwanya.
Beberapa tahun kemudian. Kota Angin selalu lebih sejuk daripada ibu kota Vermilion. Di sini, angin tidak membawa bau logam panas atau suara rapat dewan. Ia membawa aroma rumput liar, kayu basah, sup hangat dari dapur-dapur kecil, dan tawa anak-anak yang berlarian di antara rumah. Di lereng bukit yang menghadap lembah hijau, sebuah rumah kayu berdiri kokoh, jauh dari kemegahan emas istana. Ren berdiri di halaman luas, mengenakan pakaian linen sederhana yang memudahkan geraknya. Di depannya, sekelompok remaja lokal berusaha mengikuti gerakan pedang kayunya. Ren berteriak memberi instruksi, namun ada senyum yang sering menghiasi wajahnya—sesuatu yang dulu hampir mustahil terlihat. “Pegang pedangmu dengan keyakinan,” katanya, suaranya tegas tapi hangat. “Bukan dengan ketakutan. Pedang hanya sebatas alat. Yang menentukan baik atau jahat adalah hati yang menggerakkannya.” Seorang anak laki-laki bertanya, “Guru Ren, Guru Ren, benarkah dulu Guru adalah pengawal Kaisar?” Ren terta
Di altar utama, Guru Fen berdiri dengan jubah putih upacara. Api suci dinyalakan.Di depan Guru Fen, Shangkara dan Cailin berdiri berhadapan. Guru Fen mengangkat kedua tangannya. ”Dengan restu langit dan bumi, dengan izin para leluhur Vermilion, hari ini kita menyaksikan penyatuan dua jiwa.”Guru Fen membuka gulungan besar. Suaranya bergema di aula hening.“Shangkara dari Klan Vermilion, Kaisar Api Abadi, pewaris takhta yang sah—”Ia membaca panjang. Silsilah. Gelar. Janji-janji formal yang sudah ditulis ratusan tahun lalu.“Apakah kau bersedia menerima Cailin dari Klan Bulan sebagai permaisurimu, mendampingimu dalam suka dan duka, dalam perang dan damai, hingga ajal memisahkan?”Shangkara menatap Cailin.“Aku tidak butuh sumpah panjang.”Guru Fen tertegun. Para bangsawan mulai berbisik.Shangkara melanjutkan, suaranya rendah tapi jelas di seluruh aula. “Aku sudah memilihmu. Sebelum perang. Saat perang. Setelah perang. Itu sumpahku.”Cailin tersenyum.Guru Fen juga tersenyum, kemudi
Istana Vermilion tidak pernah sesibuk ini.Aroma dupa pembersih ruangan bercampur dengan harum bunga-bunga pegunungan yang didatangkan khusus dari berbagai wilayah di Vermilion.Para pelayan bergerak cepat di sepanjang koridor, membawa gulungan sutra merah setinggi dada mereka. Di sudut lain, para pelayan sibuk memoles pilar-pilar aula utama hingga permukaannya bisa memantulkan cahaya spiritual seperti cermin.Di tengah hiruk-pikuk itu, Cailin berdiri mematung di dalam kamarnya.Enam pelayan senior mengelilinginya, memasangkan lapis demi lapis sutra merah berat yang disulam benang emas murni. Berat mahkota perak di kepalanya mulai terasa menekan pangkal lehernya.“Punggung harus tetap tegak, Calon Permaisuri,” bisik salah satu pelayan dengan suara tanpa ekspresi. “Dagu tidak boleh terlalu rendah, mata tidak boleh terlalu liar. Anda adalah wajah Vermilion sekarang.”Cailin menarik napas panjang, namun kain korset yang ketat membuatnya merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis. Ia men
Halaman Istana Timur yang belakangan selalu sunyi, kini riuh oleh suara roda kereta yang beradu dengan batu jalanan. Puluhan kereta dengan lambang keluarga bangsawan berjajar di luar gerbang. Para gadis bangsawan berdiri dalam barisan rapi, masing-masing mengenakan jubah keluarga mereka.Dekret itu telah dibacakan pagi tadi. Istana Timur dibubarkan.Semua calon selir dipulangkan dengan kehormatan. Tidak akan ada selir di bawah pemerintahan Kaisar Vermilion yang baru.Beberapa keluarga menerima dengan wajah tegang. Beberapa terlihat lega. Beberapa tidak bisa menyembunyikan kekecewaan.Lian tidak ikut dalam rombongan yang berangkat hari itu.Ia berdiri di tangga batu, memandang halaman yang perlahan kosong. Tidak ada kereta yang menjemputnya.Langkah lembut mendekat. Cailin berhenti di sisinya.“Kau tidak pulang hari ini?” tanyanya.Lian menggeleng pelan. “Tidak. Aku akan menunggu kabar berikutnya sebelum berangkat. Atau mungkin aku akan pulang sendiri.”Nada suaranya tenang. Ini bukan
Aula utama Istana Vermilion telah disiapkan.Meja panjang dari kayu hitam membentuk setengah lingkaran menghadap singgasana. Para tetua duduk dengan jubah kebesaran mereka, cincin keluarga berkilau di jari-jari yang keriput namun masih berkuasa.Di tengah meja besar, gulungan-gulungan silsilah keluarga terhampar.Tetua Hong memimpin sidang.“Kerajaan tidak boleh kosong terlalu lama,” ucapnya tenang. “Perang di barat telah usai. Justru saat seperti inilah fondasi harus diperkuat.”Ia membuka gulungan pertama. “Keluarga Wei menawarkan putri sulung mereka. Bakat elemen apinya murni, sangat cocok untuk menjaga garis keturunan kekaisaran.”Beberapa tetua mengangguk pelan. Bisik-bisik setuju mulai terdengar.Seorang tetua lain mengangguk. “Aliansi keluarga Lin akan membuka jalur tambang utara. Putri mereka sudah ada di Istana Timur sejak lama. Garis darahnya murni.”“Dan keluarga Zhen menjanjikan tiga ribu pasukan tambahan untuk pertahanan perbatasan,” timpal yang lain.Nama-nama disebut.
Shangkara tidak menghadiri jamuan kemenangan.Saat rakyat Saharath mulai merayakan fajar baru mereka, ia sudah berjalan kembali menuju bunker bawah tanah.Bunker itu masih menyisakan aroma tajam obat-obatan dan sisa hawa dingin dari es Cailin saat Shangkara melangkah masuk. Langkahnya mantap, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari duel.Di dalam ruangan itu, Cailin duduk bersama Guan di samping ranjang sederhana tempat Yun terbaring.Es telah lama mencair. Hanya kain tipis yang menutup dada Yun, tempat bekas luka kecil menghitam namun bersih dari pasir.Yun membuka mata perlahan ketika pintu batu bergeser.Pandangan kaburnya menemukan siluet yang berdiri di ambang pintu.“Yang … Mulia …?”Suaranya nyaris tak terdengar.Shangkara melangkah mendekat.Ia hanya mengangguk.Yun mengembuskan napas tipis, seolah jawaban itu sudah cukup untuknya. Matanya kembali terpejam.Shangkara menoleh pada Guan.“Jaga dia.”Guan membungkuk. “Dengan nyawa saya, Yang Mulia.”Cailin bangkit perlahan. “