MasukBegitu tiba di depan gerbang Istana Dingin, Kaisar Kaizen tiba-tiba memperlambat langkahnya. Alisnya sedikit terangkat ketika hidungnya menangkap aroma khas yang begitu familier. Aroma tersebut mengingatkannya pada suasana kehidupan di dunia modern, tepatnya bau makanan yang sering tercium di pinggiran jalan ketika dirinya pulang bekerja.Kaizen menghirup udara sekali lagi. Aroma gurih kaldu yang bercampur dengan wangi bawang putih, rempah-rempah, serta sesuatu yang sulit dijelaskan membuat ingatannya seketika melayang ke masa lalu.Kaizen mengerutkan kening. Dia merasa tidak mungkin salah mengenali aroma tersebut."Tidak salah lagi, ini...." gumamnya pelan.Dia kemudian melirik salah satu pengawalnya yang berdiri di samping gerbang. Pengawal itu segera memahami isyarat sang Kaisar dan bergegas maju untuk membukakan kedua daun gerbang Istana Dingin.Kreeeek!Gerbang besar itu perlahan terbuka. Seorang kasim melangkah maju dan berseru dengan suara lantang."Yang Mulia tiba!"Seruan te
Kaizen benar-benar terkejut setelah membaca resep pembuatan garam yang diberikan oleh Ibu Suri. Matanya bahkan sempat menyipit, sementara jemarinya kembali menelusuri setiap baris tulisan yang tertera pada lembaran kertas tersebut. Dia membaca dengan sangat teliti, memastikan tidak ada satu pun bagian yang terlewat.Semakin lama memperhatikan resep itu, semakin besar pula keterkejutannya.Sebagai seseorang yang berasal dari dunia modern, Kaizen sangat memahami proses pembuatan garam yang tertulis di sana. Metode tersebut bukanlah sesuatu yang biasa diketahui oleh masyarakat zaman ini. Bahkan, jika dibandingkan dengan cara tradisional yang selama ini digunakan oleh penduduk kerajaan, resep tersebut jauh lebih efektif dan mampu menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih baik.Kaizen sempat berpikir bahwa mungkin ada seseorang dari dunia modern yang juga terlahir di zaman ini. Kemungkinan itu memang cukup kecil, tetapi keberadaan resep tersebut membuatnya sulit untuk mengabaikan pemi
Setelah Kasim Meng pergi untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh Kaisar Kaizen, suasana ruang baca kembali tenang. Beberapa pelayan yang berjaga di luar berdiri dengan sikap hormat, sementara Kaizen masih duduk di kursi kebesarannya. Di atas meja terdapat beberapa dokumen kerajaan yang belum sempat dia periksa."Yang Mulia Ibu Suri tiba!" Suara seorang pengawal terdengar lantang dari luar ruangan.Kaizen yang sedang membaca sebuah dokumen langsung mengerutkan kening. Dia mengangkat kepalanya perlahan, kemudian meletakkan dokumen tersebut di atas meja."Ibu Suri?" gumamnya pelan.Seingat Kaizen, dalam kehidupan sebelumnya, dia pernah membaca dan menonton banyak drama sejarah yang menggambarkan kehidupan di dalam istana kekaisaran. Sosok Ibu Suri biasanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan pengaruhnya terkadang mampu menyaingi kekuasaan seorang Kaisar.Terlebih lagi, berdasarkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya, Ibu Suri yang sekarang berada di istana merupakan wanit
Di kediaman Perdana Menteri Yu Leng, suasana yang biasanya dipenuhi ketenangan kini berubah menjadi tegang. Beberapa pejabat tinggi kerajaan yang selama ini berada di pihaknya tampak berkumpul di ruang pertemuan. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja panjang, tetapi tidak seorang pun terlihat tenang.Sejak insiden di aula istana, ketika Kaisar Kaizen dengan mudah membunuh Menteri Keuangan menggunakan sebuah benda kecil yang disebut pistol, kegelisahan mulai menyelimuti hati mereka.Para pejabat itu saling berbisik, membicarakan senjata mengerikan yang diperlihatkan sang Kaisar. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Kaizen, yang selama ini mereka anggap sebagai seorang Kaisar lemah dan mudah dikendalikan, ternyata menyimpan sesuatu yang begitu berbahaya."Tuan Yu, bagaimana ini? Kaisar sudah tidak mau dikendalikan lagi. Bahkan, dia juga memiliki senjata yang mengerikan seperti itu," ucap Menteri Dalam Negeri dengan wajah pucat.Tangannya terlihat mengepal di atas meja. Sebagai seora
Perdana Menteri Yu Leng menelan ludah dengan susah payah saat menyaksikan Menteri Keuangan tewas seketika akibat benda aneh yang ditembakkan oleh sang Kaisar. Tubuh pria itu terkulai di lantai, sementara darah mulai mengalir dari luka berlubang yang ditimbulkan oleh senjata tersebut dikepalanya.Pemandangan mengerikan itu membuat Yu Leng kehilangan keberaniannya. Selama bertahun-tahun menjabat sebagai Perdana Menteri, dia telah menghadapi berbagai situasi sulit, bahkan beberapa kali terlibat dalam perebutan kekuasaan di lingkungan istana. Namun, dia tidak pernah membayangkan akan menyaksikan orangnya tewas begitu saja di hadapannya, dengan senjata aneh.Tiga menteri lainnya juga mengalami hal serupa. Wajah mereka pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi dan punggung mereka. Tidak seorang pun berani mengeluarkan suara, apalagi mengangkat kepala untuk menatap Kaizen.Sementara itu, Kaizen justru terlihat santai. Dia memandangi senjata di tangannya dengan ekspresi puas, seperti baru s
Perdana Menteri bersama empat pejabat tinggi lainnya akhirnya memasuki ruang baca Kaisar. Begitu melangkahkan kaki ke dalam, pandangan mereka langsung tertuju pada sejumlah kotak besar berisi emas dan perak yang masih tersusun di tengah ruangan.Kelima orang itu saling bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya menghadap Kaizen.Mereka memberikan salam dengan sikap yang terkesan asal-asalan. Bahkan, dari ekspresi wajah masing-masing, terlihat jelas bahwa mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat yang semestinya diberikan kepada seorang Kaisar.Kaizen yang menyaksikan sikap tersebut hanya tersenyum tipis. Namun, di dalam hatinya, dia sudah menyimpan penilaian tersendiri terhadap kelima orang itu.'Para tua bangka ini benar-benar harus segera kusingkirkan. Mereka bahkan tidak lagi menganggapku sebagai Kaisar,' katanya dalam hati."Yang Mulia, tindakan Anda kali ini benar-benar terlalu terburu-buru. Separuh pejabat penting di lingkungan pemerintahan telah kehilangan nyawa. Jika kea







