로그인Ratih mencengkeram kusen pintu menatap tajam suaminya sebelum ia melangkah lebar menuju kamar. Sesampainya di dalam kamar, ia melangkah menuju cermin. Menatap perutnya yang masih rata. Membelai buah hatinya. "Maafkan Ibu, Nak. Ada yang menyakiti adik kamu sehingga dia pergi meninggalkan kita. Tapi Ibu pasti akan menjaga kamu, agar tak ada yang bisa menyakiti!"Ia sudah kehilangan satu anak, meski anak itu tidak tumbuh di rahimnya secara langsung. Tapi ia tidak akan membiarkan hal itu terulang. Hatinya dipenuhi rasa pahit yang membakar. Sejak insiden di rumah sakit kemarin, Baskoro tampak sama sekali tidak serius mencari siapa pelaku yang telah menghancurkan embrio bayi tabung mereka. Pria itu hanya mengumpak sebentar, lalu kembali sibuk dengan urusan bisnis dan pencitraannya. Apakah Baskoro sama sekali tidak peduli bahwa darah daging yang diperjuangkannya telah musnah?Ratih berjalan ke kasur. Ia meremas ujung kasur dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih."Kamu cuma peduli pa
Hadi membeku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu, seolah seluruh pasokan udara di paru-parunya tersedot habis. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi dan seragam hitamnya. Tamu kehormatan? Pria yang baru saja ia caci-maki dan hendak ia tendang seperti anjing adalah tamu kehormatan dari Miss Winda—pemilik galeri seni ternama yang karyanya diburu para kolektor mancanegara? "M-Miss Winda ... saya ... saya tidak tahu kalau dia—" gagap Hadi, suaranya bergetar hebat. "Hadi," potong Winda dengan suara dingin yang menusuk tulang. Kacamata hitam di tangannya terlipat dengan ketukan pelan. "Mulai detik ini, kamu dipecat. Bereskan barang-barangmu dan angkat kaki dari galeriku sekarang juga. Saya tidak butuh petugas keamanan yang bertindak picik dan mengukur martabat orang hanya dari pakaiannya." "M-Miss! Tolong berikan saya kesempatan, Miss!" jerit Hadi panik, hendak berlutut memohon. Namun, dua petugas keamanan galeri yang lain segera memegangi lengannya dan menyeretnya k
Di dalam ruang keluarga kediaman mewahnya yang megah, Kartika, ibu dari Sekar Ayu berjalan mondar-mandir dengan raut wajah cemas. Tangannya yang dipenuhi perhiasan emas bergetar pelan. "Sekar, kalau sampai Baskoro tahu kamu yang menyuruh orang melenyapkan embrio itu, dia tidak akan membiarkanmu lolos!" seru Kartika dengan suara tertahan, menatap putri tunggalnya itu dengan panik. "Baskoro itu pria yang kejam kalau sudah menyangkut harga diri dan takhtanya!" Sekar Ayu yang sedang menyesap teh dalam cangkir porselennya hanya menyunggingkan senyum licik. Matanya memancarkan keangkuhan yang amat pekat. "Ibu ... tenang saja," sahut Sekar Ayu santai, meletakkan cangkirnya dengan gerakan anggun. "Aku punya kartu AS yang pastinya akan membuat Baskoro justru berterima kasih padaku." Kartika mengerutkan keningnya, melangkah mendekat. "Kamu masih punya rahasia lain tentang Baskoro dan Ratih?" "Ini bukan cuma tentang Ratih dan suaminya, Bu ...," Sekar Ayu terkekeh pelan, tawa renya
"Karena ... menunggu rahimku dalam kondisi yang sangat baik. Itu akan membantu memperkuat janinnya, Kangmas.""Begitu?" Ratih tersenyum lembut. "Iya!"Baskoro menatapnya lebih dalam. "Terima kasih, Nyimas. Kamu mau bersabar bahkan sampai melakukan program ini untuk menyelamatkan harga diri Mas!"Baskoro menyentuh pipi Ratih, lembut dan halus. Tapi ketika ia hendak menciumnya, Ratih membuang muka. "Maaf, KangMas. Hari ini aku lelah sekali!"Sebenarnya Baskoro kecewa, tapi kabar tentang proses inseminasi yang berhasil membuatnya merasa bahagia. Jadi ia tidak akan mempermasalahkan hal itu. "Ya sudah, istirahatlah!"Pagi itu, suasana meja makan utama di rumah joglo terasa begitu kaku dan dingin seperti biasanya. Denting sendok porselen beradu pelan dengan piring saat Ibu Rahayu, Baskoro, Ratih, dan Dimas menikmati hidangan pagi dalam keheningan yang menekan.KRIINGG! KRIINGG!Dering telepon genggam Ratih yang tergeletak di samping piringnya mendadak memecah kesunyian.Ratih menghentika
"Tolong jujur sama saya, Nyimas. Siapa ayah dari bayi yang Anda kandung?" desak Dokter Sabrina saat itu, menatap Ratih dengan pandangan menyelidik yang begitu tajam di balik kacamata bingkai tipisnya.Ratih menggigit bibirnya erat-erat, dadanya bergemuruh oleh keraguan yang menyiksa. Haruskah ia berterus terang?"Apakah orang yang sama dengan pemilik donor sperma untuk bayi tabung Anda?" lanjut Dokter Sabrina tanpa memberikan jeda bagi Ratih untuk mengelak.Ratih memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas berat yang gemetar."Ini demi keselamatan janin di dalam rahim Anda, Nyimas," dokter wanita itu menegaskan dengan suara serius. "Jika mereka memiliki ayah biologis yang sama, hal itu bisa lebih menjamin keselamatan mereka di dalam rahim."Ratih tersentak kecil, matanya mendadak membelalak kaget. "M-maksud Anda ... kalau mereka bukan dari ayah yang sama, itu bisa berbahaya?""Ya," Dokter Sabrina mengangguk perlahan. "Kalau pun berhasil disatukan dan tumbuh dalam rahim Anda, ad
Dimas tak terlalu terkejut dengan kehadiran Ratih di ujung lorong. Wanita anggun itu menatapnya dengan pendar mata yang berbeda. Melihat sosok Dimas yang lain, bukan Dimas yang lemah, penurut, dan selalu menunduk pasrah seperti yang selama ini dianggap oleh seisi rumah joglo. Ada kekaguman yang terpancar jernih di kolam mata Ratih menyaksikan pemandangan itu. Sebuah senyum tipis yang amat halus terukir di bibirnya. Dimas yakin, ini bukan pertama kalinya Ratih melihat sisi dominan dan aura kanuragan di dalam dirinya bangkit. Pak Kirno yang ketakutan setengah mati setelah diancam Dimas akhirnya bergegas pergi dengan tubuh gemetar, setengah berlari melintasi lorong menuju halaman luar. Namun, alih-alih menghampiri Dimas seperti biasanya dengan godaan halus atau bisikan sensualnya, Ratih justru berbalik. Dengan langkah-langkah anggun dan tenang, wanita itu memilih berjalan pergi menuju kamarnya di bangunan utama. Dimas berdiri mematung di tempatnya, mendadak merasa terusik oleh sik