Share

43. Benih Obsesi

Author: Y Airy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-22 14:07:11

Layar gawai di genggaman Dimas berpendar di dalam kabin mobil rental. Di seberang jalan, asap hitam tebal masih membumbung tinggi melahap butik mewah milik Sekar Ayu, diiringi raungan sirine armada pemadam kebakaran yang beradu dengan jeritan histeris.

Sebuah pesan balasan masuk ke gawainya dari Ratih.

“Aku lebih suka kalau Sekar Ayu ikut terbakar di dalamnya!”

Dimas menyunggingkan senyum miring yang amat tipis. Ibu jari tangannya menari di atas layar, membalas pesan tersebut.

“Itu namanya pemb
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   45. Kedatangan Panji

    ​Jemari Dimas menari cepat di atas layar gawai, membalas pesan dari Miss Winda. Ia menyanggupi akan membawa mahakarya relief jatinya ke galeri sesuai jadwal yang telah disepakati. Tidak ada alasan untuk menunda lagi. Panggung dunia seni internasional sudah terbuka lebar di hadapannya, dan ia akan melangkah ke sana dengan membawa nama besar peninggalan sang kakek.​Setelah mematikan layar gawai dan menyimpannya di saku kemeja, Dimas merapikan pakaiannya. Suara genta kayu dari arah rumah utama menandakan jam makan malam telah tiba.​Dimas melangkah keluar dari paviliun belakang, membelah lorong temaram menuju ruang makan utama joglo. Aroma wangi nasi hangat, gulai daging, dan rempah-rempah Jawa menguar di udara. Di tengah ruangan yang ditopang empat tiang Soko Guru yang megah, meja makan panjang dari kayu jati utuh peninggalan leluhur sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan porselen.​Ibu Rahayu sudah duduk di sisi kiri meja, sementara Baskoro berada di kepala meja dengan kemeja ker

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   44. Kamu Mengincar Istriku?

    Pulang dari kampus Dimas langsung berkutat di ruang pahat. Miss Winda memintanya membuat beberapa karya untuk pemarian di Gallerynya. Ini adalah kesempatan emas, jadi ia menerima tawaran itu. Suara ketukan pahat besi beradu pelan dengan kayu jati mengisi keheningan ruang pahat di paviliun belakang. Aroma khas serbuk kayu tua, tanah basah, dan minyak kelapa mengendap pekat di udara.Langkah kaki yang kaku dan asing mendadak terdengar melintasi ambang pintu. Dimas tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa yang datang.Baskoro melangkah masuk. Seumur hidupnya, pria berjas rapi itu hampir tidak pernah menjejakkan kaki di ruangan ini. Baskoro mengedarkan pandangannya ke sekeliling lorong kayu yang temaram. Ada perasaan asing dan berat yang menyergap dadanya. Sebuah getaran terselubung yang seolah ditinggalkan oleh almarhum kakek mereka di sudut-sudut ruangan ini."Ada apa Kangmas ke sini? Tumben. Bukannya Kangmas benci alat-alat ini?" sindir Dimas datar tanpa menghentikan gerakan ta

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   43. Benih Obsesi

    Layar gawai di genggaman Dimas berpendar di dalam kabin mobil rental. Di seberang jalan, asap hitam tebal masih membumbung tinggi melahap butik mewah milik Sekar Ayu, diiringi raungan sirine armada pemadam kebakaran yang beradu dengan jeritan histeris.Sebuah pesan balasan masuk ke gawainya dari Ratih.“Aku lebih suka kalau Sekar Ayu ikut terbakar di dalamnya!”Dimas menyunggingkan senyum miring yang amat tipis. Ibu jari tangannya menari di atas layar, membalas pesan tersebut.“Itu namanya pembunuhan, Mbak.”Tak butuh waktu lima detik, gawai Dimas kembali bergetar.“Jalang itu juga membunuh calon anak kita!” balas Ratih cepat, memancarkan racun dendam yang tak tertahankan di setiap kata-katanya.Dimas menghela napas halus, menatap kobaran api yang memantul di kaca depan mobilnya sebelum mengetik balasan berikutnya.“Tapi kejadian ini tetap akan menyulitkan Sekar Ayu.”“Maksudmu?” tanya Ratih.“Butik itu berada di kompleks ruko komersial. Kobaran api ini menjalar ke bangunan sebelah. P

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   42. Baru Permulaan

    "Apa rencanamu, Dimas?" tanya Ratih lirih, matanya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata sang adik ipar setelah hanya tinggal mereka berdua. "Lebih sedikit yang tahu akan lebih baik, Mbak," sahut Dimas datar, memasang benteng pertahanan di wajah sawo matangnya.Ratih mendengus pelan mendengar jawaban serba tertutup itu. Namun, di balik keraguan itu, ada rasa percaya yang tumbuh begitu besar di dadanya. Ratih tahu betul, hanya dialah satu-satunya orang di rumah joglo ini yang menyadari bahwa Dimas jauh lebih kuat, jauh lebih berbahaya, dari yang dipikirkan semua orang."Baiklah, jangan kecewakan calon anak kita!" ujar Ratih lembut namun sarat penekanan.Saat melangkah melintasi tubuh Dimas untuk kembali ke bangunan utama, jemari lentik Ratih dengan sengaja mengusap lembut telapak tangan Dimas yang tergantung di samping tubuhnya. Sentuhan itu tidak berlangsung lama, namun penuh dengan gairah yang terselubung.DEG!Dimas seketika terperanjat. Sentuhan ringan dari jemari Ratih terasa b

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   41. Rencana Pembalasan

    "DIMAS! RATIH!"Suara bentakan Baskoro bergema nyaring, memotong uap gairah yang sedetik lalu hampir membakar habis akal sehat mereka.Spontan, Dimas dan Ratih menyentakkan tubuh mereka mundur dua langkah, menciptakan jarak di antara raga yang baru saja nyaris bertubrukan. Jantung Ratih berdegup kencang di balik kebayanya. Ia sempat mendadak gugup, namun sebagai wanita yang terbiasa hidup di dalam sangkar feodal penuh intrik, Ratih dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya.Baskoro melangkah lebar menghampiri mereka. Matanya menyipit penuh kecurigaan, menatap Ratih dan Dimas bergantian dengan rahang yang mengatup tegang."Apa yang sedang kalian lakukan berduaan di paviliun belakang malam-malam begini?!" tuntut Baskoro dengan suara menekan. "Kenapa posisi kalian begitu dekat?!"Ratih menarik napas halus, membenahi letak selendang di bahunya seraya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tenang—topeng keanggunan yang sempurna."Kami sedang berdiskusi, Kangmas," sahut Ratih dengan nada

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   40. Kamu Ingin Balas Dendam?

    Dimas menyadari fenomena aneh yang mendadak terjadi pada tubuhnya. Melihat raut wajah Baskoro dan Ibu Rahayu yang pucat pasi dalam kondisi shock berat, Dimas memejamkan mata rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, mematikan gejolak emosinya secara paksa hingga pendar cahaya putih keemasan yang menyelimuti tubuhnya perlahan memudar dan padam total.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dimas berbalik dan melangkah lebar, melarikan diri dari ruang keluarga menuju kamarnya di paviliun belakang.Di dalam kamar, Dimas menyandarkan dadanya yang memburu di balik pintu kayu. Jantungnya berdegup kencang. Ia hampir saja kelepasan mengontrol kekuatannya. Untuk saat ini, Baskoro dan Ibu Rahayu sama sekali tidak boleh tahu kalau dirinya telah menerima warisan murni Wahyu Candradimuko dari para leluhur.Tapi askoro tadi sudah melihatnya sendiri. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengakuinya jelas bukan pilihan cerdas. Pria angkuh itu pasti akan melakukan segala cara untuk menghancurkannya sebe

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status