Home / Fantasi / Kakak iparku yang terlalu sempurna / Bab -45 Sambal Arsya Go Online

Share

Bab -45 Sambal Arsya Go Online

Author: Diky
last update Huling Na-update: 2025-08-26 16:26:28

Pagi hari di kios Sambal Arsya lebih sibuk dari biasanya. Meja kayu bertambah satu, khusus untuk menata nasi bakar yang masih mengepul di atas kukusan besar. Daun pisang hijau menebarkan aroma harum yang memanggil orang-orang dari trotoar.

Putri berdiri di belakang meja, tangannya gesit membungkus nasi hangat bersama suwiran ayam bumbu kuning dan sambal terasi goreng buatan Rika. Sesekali Putri meniup tangannya yang panas, lalu tertawa sambil berseru,

“Mbak Rani, ini nasi bakarnya aromanya bikin laper banget! Pasti laris!”

Aku hanya mengangguk sambil meracik pesanan pelanggan yang mulai mengantri. Di sebelahku, Arga sibuk mengatur orderan bungkus untuk para abang ojek online yang sudah datang sejak warung belum benar-benar buka.

“Bang, sabar ya, nasi bakarnya masih diangetin lagi biar daun pisangnya wangi. Nanti kalau dingin rasanya kurang greget!” kata Arga dengan suara mantap.

Abang ojek tertawa,

“Nggak apa-apa Bang Arga, yang penting sambalnya tetep pedas! Penumpang gue
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 75 - Membongkar Topeng Clara

    Keesokan harinya, ruang sidang kembali dipenuhi. Kamera media, sorakan pendukung, serta bisikan antar-aktivis membuat suasana semakin panas. Sidang kali ini dijadwalkan untuk mendengarkan pemeriksaan saksi tambahan dari pihak terdakwa, tapi Bu Ratna sudah menyiapkan serangan balasan.Rani duduk di kursinya, jantungnya berdebar. Ia tahu Clara akan kembali hadir. Sejak kemarin, wajah dingin perempuan itu masih terbayang di benaknya. Bagaimana mungkin dia tega berbohong seperti itu? pikirnya.Ketika hakim masuk, semua berdiri. Sidang pun dimulai.Clara dipanggil kembali untuk memperjelas kesaksiannya. Ia tampil dengan wajah percaya diri, rambut tergerai rapi, dan busana formal yang menonjolkan kesan profesional. Beberapa wartawan langsung memotretnya, seakan Clara adalah bintang tamu sebuah acara besar.Jaksa mulai membuka pertanyaan, kali ini lebih tajam.“Saudari Clara, kemarin Anda mengatakan sering mengantar terdakwa pulang. Apakah itu termas

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 74 - Saksi-Saksi dan Permainan Anton

    Hari kedua sidang kasus Anton digelar dengan pengamanan yang lebih ketat dari sebelumnya. Media massa semakin ramai meliput, seolah-olah kasus ini sudah menjadi tontonan nasional. Di halaman pengadilan, para aktivis perempuan membentangkan spanduk bertuliskan: “Hukum jangan tajam ke bawah, tumpul ke atas!” “Keadilan untuk korban KDRT!” Rani yang datang bersama Bu Ratna merasa sedikit terharu melihat dukungan itu. Ia tahu perjuangannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk suara perempuan lain yang selama ini bungkam. Namun di sisi lain, Anton tetap tampil percaya diri. Ia masuk ke ruang sidang dengan langkah tenang, bahkan sempat melambaikan tangan kepada beberapa orang yang jelas-jelas merupakan pendukungnya. Seolah-olah ia masih seorang figur penting yang disanjung banyak orang. Sidang dibuka dengan agenda pemeriksaan saksi dari pihak jaksa. Saksi pertama yang dihadirka

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 73 — Awal Persidangan

    Hari itu, udara pagi di kota dipenuhi rasa cemas. Gedung Pengadilan Negeri tampak lebih ramai dari biasanya. Mobil-mobil aparat keamanan berjejer di depan, dan puluhan polisi berjaga ketat di sekitar pintu masuk. Sidang perdana Anton, pengusaha besar yang selama ini dianggap tak tersentuh hukum, akhirnya digelar. Wartawan dari berbagai media, baik televisi, surat kabar, maupun portal daring, memadati halaman pengadilan. Mikrofon, kamera, dan lampu sorot bersiap menangkap setiap momen bersejarah ini. Nama Anton telah menjadi headline berbulan-bulan, terutama setelah skandal manipulasi, intimidasi, dan dugaan kekerasan dalam rumah tangganya terbongkar ke publik. Rani berdiri di balik pintu masuk ruang sidang, ditemani pengacaranya, Bu Ratna, seorang advokat senior yang dikenal tegas. Tangan Rani bergetar, bukan hanya karena gugup menghadapi Anton, tapi juga karena ia sadar betul bahwa kehadirannya di ruang itu akan menjadi sorotan semua orang.

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 72 — Bayangan Balas Dendam

    Malam itu, setelah putusan pengadilan diumumkan, seluruh negeri membicarakan kasusku. Media televisi menayangkan ulang detik-detik hakim mengetuk palu. Portal berita menuliskan judul besar: “Keadilan untuk UMKM! MegaRasa Kalah di Pengadilan.” Namaku disebut di mana-mana. Aku menjadi simbol perlawanan, bahkan beberapa tokoh nasional mengirimkan pesan dukungan. Namun di balik sorak sorai kemenangan itu, ada perasaan was-was yang sulit kuabaikan. Aku tahu Anton bukan orang yang bisa menerima kekalahan begitu saja. Tiga hari setelah putusan, aku menerima telepon dari salah satu pengacara. “Bu Rani, saya baru mendapat kabar, Anton mencoba mengajukan banding. Selain itu, kami juga mendengar dia sedang menggerakkan jaringan lamanya untuk menekan proses pidana. Anda harus lebih berhati-hati.” Hatiku langsung berdegup kencang. Rasanya seperti dikejar bayangan gelap yang tak kunjung hilang.

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 71 — Hari Penentuan

    Hari itu akhirnya tiba. Gedung pengadilan dipadati massa sejak pagi. Bendera kecil bertuliskan “Keadilan untuk UMKM” berkibar di tangan para pendukung. Kamera televisi berjejer, stasiun berita menyiarkan langsung dari luar. Aku duduk di mobil bersama Bagas dan Riska. Tanganku gemetar tak henti, bahkan lebih parah daripada sidang-sidang sebelumnya. “Ran, tarik napas dulu,” kata Riska sambil meremas tanganku. “Hari ini kamu harus kuat. Apa pun hasilnya, kamu sudah berjuang sejauh ini. Kamu sudah jadi simbol.” Aku mencoba menarik napas dalam. Tapi jantungku tetap berpacu liar. “Bagaimana kalau hakim berpihak ke Anton? Bagaimana kalau semua bukti kita diabaikan?” Bagas menatapku serius. “Kalau pun itu terjadi, perjuanganmu tetap tidak sia-sia. Kamu sudah membuka mata banyak orang. Tapi aku yakin… kali ini keadilan tidak bisa ditutup-tutupi.” Begitu masuk ke ruang sidang, suasana tegang menyergap. Hakim sudah dudu

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 70 — Persidangan Pertama

    Pagi itu udara Jakarta terasa berbeda. Jalanan menuju pengadilan dipenuhi awak media, kamera berjejer, mikrofon diarahkan ke setiap orang yang lewat. Spanduk bertuliskan “Dukung UMKM, Lawan Tirani MegaRasa!” terbentang di pagar luar. Aku duduk di dalam mobil bersama Bagas, Riska, dan Pak Jaya. Tanganku dingin, keringat mengalir meski AC mobil menyala kencang. Jantungku berdetak kencang. Ini adalah hari pertama sidang gugatan melawan MegaRasa. “Bu Rani,” suara Pak Jaya terdengar tenang, “hari ini bukan penentuan akhir. Ini baru awal. Tapi awalan ini sangat penting. Jangan gentar. Ingat, semua mata masyarakat ada di pihak kita.” Aku menatap keluar jendela, melihat massa yang membawa poster dengan wajahku terpampang di sana. Sebagian menulis ‘Rani simbol perlawanan UMKM’. Aku menghela napas. “Aku hanya ibu rumah tangga yang ingin melindungi anaknya, Pak. Kenapa jadi sebesar ini?” Pa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status