FAZER LOGIN---Setelah klimaks yang intens di dalam bathtub, Susan dan Wandra masih saling berpelukan dalam posisi lotus. Air hangat di sekeliling mereka mulai terasa sejuk. Susan mencium bibir Wandra dalam-dalam, lalu berbisik di telinganya dengan suara manja yang masih penuh gairah:“Aku masih ingin kamu… kali ini di ranjang. Misionaris. Aku ingin merasakan berat tubuhmu menindihku.”Wandra mengangguk. Ia mengangkat tubuh Susan keluar dari bathtub, membopongnya kembali ke kamar tidur tanpa mengeringkan tubuh mereka. Tetesan air masih jatuh di lantai saat ia membaringkan Susan di tengah ranjang yang sudah acak-acakan.Susan berbaring telentang dengan anggun, membuka kedua kakinya lebar, mengundang Wandra. Tubuhnya yang basah berkilau di bawah cahaya temaram kamar. Payudaranya naik turun cepat karena napas yang masih tersengal.Wandra naik ke atasnya perlahan, menopang tubuh dengan kedua lengan. Posisi misionaris klasik. Mereka saling menatap mata dalam diam yang intim sebelum Wandra menunduk da
---Setelah sesi berdiri berhadapan yang ganas di bawah shower, Susan mematikan air dan menarik tangan Wandra ke arah bathtub marmer yang luas di sudut kamar mandi. “Aku masih ingin kamu… tapi kali ini pelan-pelan,” bisik Susan dengan suara serak penuh nafsu. “Di bathtub. Lotus style. Aku ingin merasakanmu sangat dalam sambil kita saling peluk.”Wandra mengangguk. Tubuhnya masih penuh energi karena asap hitam liontin yang belum sepenuhnya hilang. Ia membuka keran air hangat, menuangkan bath foam beraroma lavender yang lembut. Uap hangat segera memenuhi kamar mandi yang mewah itu.Mereka berdua masuk ke bathtub yang sudah terisi air hangat. Wandra duduk lebih dulu, menyandarkan punggungnya di dinding bathtub. Kakinya agak terbuka. Susan naik ke pangkuannya dengan gerakan anggun, menghadap Wandra langsung. Ia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Wandra, bokongnya menyentuh paha pemuda itu. Posisi Lotus yang sempurna — dada ke dada, mata ke mata, sangat intim.Air hangat naik hingga p
---Susan masih terbaring lemas di dada Wandra, tubuhnya gemetar sisa orgasme yang kuat. Namun, asap hitam dari liontin masih menyelimuti ruangan, membuat gairahnya belum sepenuhnya padam. Ia mengangkat kepalanya, menatap Wandra dengan mata yang masih lapar.“Aku belum puas…” bisiknya serak. “Aku mau dari belakang. Doggy style… Aku ingin kamu menggenjotku sekuat mungkin.”Wandra merasakan gelombang gairah baru naik karena permintaan Susan. Ia mengangguk, suaranya parau, “Berbaliklah.”Susan tersenyum nakal. Ia turun dari tubuh Wandra dan berlutut di atas ranjang. Dengan gerakan sensual, ia menekuk tubuhnya, menurunkan dada hingga menyentuh kasur, bokongnya terangkat tinggi ke belakang. Posisi doggy style yang sempurna. Punggungnya melengkung indah, bokongnya yang montok dan bulat terpampang menggoda di depan Wandra, celahnya yang masih basah dan merah karena sesi sebelumnya terlihat jelas.Wandra berlutut di belakang Susan. Kedua tangannya meremas bokong wanita itu dengan penuh nafsu,
Wandra menghela napas kasar di lorong gedung yang remang-remang. Tubuhnya masih panas setelah memukuli habis 15 preman yang mencoba menipu Susan. Tinju-tinjunya tadi bertenaga luar biasa berkat liontin, tapi sekarang efek sampingnya datang dengan cepat.Kepalanya pusing berat. Pandangan mulai berkunang-kunang. Asap hitam tipis mulai merembes pelan dari liontin di dadanya, tak terlihat oleh orang biasa, tapi efeknya sudah menyebar di udara sekitar.Susan, wanita dengan tubuh ramping dan wajah cantik yang sedang panik, langsung mendekat. Ia baru saja lolos dari tipu daya para preman tadi. Tanpa Wandra, dia harus ganti rugi yang besar.“Mas… kamu tidak apa-apa?” tanya Susan cemas. Ia memegang lengan Wandra yang terhuyung-huyung. “Kamu pucat sekali. Ayo, ikut saya!”Wandra ingin menolak, tapi kakinya lemas. Susan cepat-cepat memapahnya menuju lift pribadi. Mereka naik ke lantai 3, tempat Susan memiliki kamar pribadi di gedung kantor sekaligus apartemen kecil milik keluarganya.Begitu pint
Suara pria yang tadi—tapi lebih keras, lebih ramai, dengan nada yang sudah tidak repot-repot menyembunyikan ancamannya.Wandra meletakkan cangkirnya. Berdiri."Kamu tidak harus keluar," kata Susan cepat, dan ada sesuatu di nada itu yang lebih dari kekhawatiran manajer yang tidak ingin tokonya jadi tempat keributan."Lebih baik di luar," kata Wandra. "Toko kamu tidak ikut rusak."Susan berdiri juga. "Saya ikut."---Di luar toko, di trotoar yang sudah mulai ramai dengan lalu lalang pejalan kaki yang melirik dengan ekspresi campuran antara ingin tahu dan ingin menjauh—pria tadi berdiri dengan lima belas orang di belakangnya.Lima belas.Susan berdiri satu langkah di belakang Wandra dan ia merasakan angka itu masuk ke dalam kepalanya dengan cara yang tidak nyaman. Ia mengambil ponselnya dengan jempol yang sudah bergerak ke nomor yang ia tahu harus dihubungi—nomor bosnya, nomor yang tersimpan dengan label yang menunjukkan bahwa ada prosedur untuk situasi seperti ini."Bos," kata Susan den
Ia melangkah masuk ke ruang antik dengan langkah yang tidak tergesa-gesa dan tidak juga ragu-ragu.Pria itu menatapnya dengan ekspresi yang tidak ramah—tatapan seseorang yang tidak menyukai kehadiran pihak ketiga yang tidak diundang dalam transaksinya. Manajer toko mengangkat kepalanya dengan ekspresi yang bertanya."Permisi," kata Wandra kepada manajer toko, dan ia tidak memandang pria itu sama sekali. "Guci itu palsu."Kalimat yang sangat sederhana. Tanpa pembukaan, tanpa basa-basi.Keheningan.Kemudian pria itu tertawa—tawa yang mengandung lebih banyak ketidaknyamanan daripada tawa yang sesungguhnya. "Siapa kamu? Ini transaksi pribadi. Pergi."Wandra akhirnya menoleh ke arahnya. "Saya tidak bicara kepada kamu."Manajer toko menatap Wandra dengan sepasang mata yang tajam—mata yang sudah terlatih mengevaluasi benda-benda berusia ratusan tahun dan manusia yang datang membawanya."Kamu bisa membuktikan itu?" tanyanya langsung."Bisa."Pria itu melangkah ke depan dengan rahang yang meng







