بيت / Urban / Kalung Ajaib Pemuda Desa / 137 Berakhir di Ranjang

مشاركة

137 Berakhir di Ranjang

مؤلف: Heartwriter
last update تاريخ النشر: 2026-05-08 22:39:50

---

Setelah klimaks yang intens di dalam bathtub, Susan dan Wandra masih saling berpelukan dalam posisi lotus. Air hangat di sekeliling mereka mulai terasa sejuk. Susan mencium bibir Wandra dalam-dalam, lalu berbisik di telinganya dengan suara manja yang masih penuh gairah:

“Aku masih ingin kamu… kali ini di ranjang. Misionaris. Aku ingin merasakan berat tubuhmu menindihku.”

Wandra mengangguk. Ia mengangkat tubuh Susan keluar dari bathtub, membopongnya kembali ke kamar tidur tanpa mengeringkan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   140 Dia Beruntung

    "Ada formasi yang tersimpan di dalam ini," bisik suara itu. "Bukan formasi jahat—bukan senjata, bukan jebakan. Ini formasi penyembuh. Dibuat oleh praktisi pengobatan kuno yang menyembunyikan kemampuannya di dalam benda yang tampak biasa agar tidak dicuri atau disalahgunakan. Tapi karena tersembunyi, tidak ada yang bisa menggunakannya. Kamu bisa membukanya—dengan menyentuh titik yang tepat dan mengalirkan sedikit energi liontin.""Untuk menyembuhkan apa?" bisik Wandra."Kerusakan sel yang tidak terkendali," kata suara itu. "Yang oleh dunia medis modern disebut kanker."Wandra menatap cermin di tangannya.Kemudian menatap Pak Hendra. "Pak Hendra—apakah ada anggota keluarga yang sakit?"Pak Hendra menatapnya. Ekspresinya berubah."Istri saya," katanya, dan suaranya turun satu oktaf. "Kanker pankreas. Stadium tiga." Jeda yang panjang. "Mengapa?"Wandra meletakkan jempol kirinya di tepian cermin perunggu itu—tepat di titik yang liontin tunjukkan, satu titik yang tidak berbeda secara visual

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   139 Jadi Penaksir Barang Antik

    Air dingin dari shower membantu.Tidak menyembuhkan segalanya—tidak ada air yang bisa melakukan itu—tapi menjernihkan kepala dengan cara yang paling sederhana dan paling langsung. Wandra berdiri di bawah aliran air itu lebih lama dari yang biasanya ia lakukan, membiarkan sisa-sisa pusing dan berat dari efek samping liontin itu larut bersama air yang mengalir ke drain.Liontin di dadanya—yang ia tidak lepas bahkan ketika mandi—berdenyut sangat pelan.Bukan denyutan yang memiliki pesan. Hanya denyutan yang mengatakan: *aku di sini. aku masih di sini.*Wandra meletakkan telapak tangannya di atas benda kecil itu di bawah aliran air."Kita akan bicara tentang kontrol," bisiknya. "Nanti."Denyutan yang sama. Tidak setuju, tidak menolak. Hanya ada.---Ketika Wandra keluar dari kamar mandi—baju yang sama, rambut masih sedikit basah—Susan sudah tidak ada di kamar.Ia menemukan perempuan itu di ruang tamu kecil di depan kamar, duduk di sofa dengan ponsel di tangan dan ekspresi yang sudah kemba

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   138 Rasa Bersalah pada Seseorang

    Kesadaran kembali seperti air yang mengisi gelas—perlahan dari bawah, naik dengan tenang, sampai tiba-tiba penuh dan jernih.Wandra membuka matanya.Langit-langit putih. Lampu yang mati. Cahaya sore yang masuk miring melalui tirai tipis yang tidak sepenuhnya menutup jendela.Ia berbaring di atas tempat tidur yang bukan miliknya—rapi, bersih, wangi yang asing tapi tidak tidak menyenangkan. Selimut tipis menutupinya sampai pinggang. Bajunya masih sama.Ia duduk perlahan.Kepalanya berat—bukan seperti sakit kepala, melainkan seperti seseorang yang baru bangun dari tidur yang terlalu dalam dan terlalu panjang, yang otaknya masih menyeret sisa-sisa kedalaman itu ke permukaan.Di sudut ruangan, seseorang duduk di kursi dengan ponsel di tangan.Susan.Ia mengangkat kepalanya begitu mendengar suara Wandra bergerak. Ekspresinya berubah dari khawatir menjadi lega—lega yang sangat jelas, tidak disembunyikan."Kamu sudah sadar," katanya.Wandra menatap sekeliling ruangan—ruangan yang kecil tapi r

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   137 Berakhir di Ranjang

    ---Setelah klimaks yang intens di dalam bathtub, Susan dan Wandra masih saling berpelukan dalam posisi lotus. Air hangat di sekeliling mereka mulai terasa sejuk. Susan mencium bibir Wandra dalam-dalam, lalu berbisik di telinganya dengan suara manja yang masih penuh gairah:“Aku masih ingin kamu… kali ini di ranjang. Misionaris. Aku ingin merasakan berat tubuhmu menindihku.”Wandra mengangguk. Ia mengangkat tubuh Susan keluar dari bathtub, membopongnya kembali ke kamar tidur tanpa mengeringkan tubuh mereka. Tetesan air masih jatuh di lantai saat ia membaringkan Susan di tengah ranjang yang sudah acak-acakan.Susan berbaring telentang dengan anggun, membuka kedua kakinya lebar, mengundang Wandra. Tubuhnya yang basah berkilau di bawah cahaya temaram kamar. Payudaranya naik turun cepat karena napas yang masih tersengal.Wandra naik ke atasnya perlahan, menopang tubuh dengan kedua lengan. Posisi misionaris klasik. Mereka saling menatap mata dalam diam yang intim sebelum Wandra menunduk da

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   136 Main dalam Bathup

    ---Setelah sesi berdiri berhadapan yang ganas di bawah shower, Susan mematikan air dan menarik tangan Wandra ke arah bathtub marmer yang luas di sudut kamar mandi. “Aku masih ingin kamu… tapi kali ini pelan-pelan,” bisik Susan dengan suara serak penuh nafsu. “Di bathtub. Lotus style. Aku ingin merasakanmu sangat dalam sambil kita saling peluk.”Wandra mengangguk. Tubuhnya masih penuh energi karena asap hitam liontin yang belum sepenuhnya hilang. Ia membuka keran air hangat, menuangkan bath foam beraroma lavender yang lembut. Uap hangat segera memenuhi kamar mandi yang mewah itu.Mereka berdua masuk ke bathtub yang sudah terisi air hangat. Wandra duduk lebih dulu, menyandarkan punggungnya di dinding bathtub. Kakinya agak terbuka. Susan naik ke pangkuannya dengan gerakan anggun, menghadap Wandra langsung. Ia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Wandra, bokongnya menyentuh paha pemuda itu. Posisi Lotus yang sempurna — dada ke dada, mata ke mata, sangat intim.Air hangat naik hingga p

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   135 Ingin Gaya Berbeda

    ---Susan masih terbaring lemas di dada Wandra, tubuhnya gemetar sisa orgasme yang kuat. Namun, asap hitam dari liontin masih menyelimuti ruangan, membuat gairahnya belum sepenuhnya padam. Ia mengangkat kepalanya, menatap Wandra dengan mata yang masih lapar.“Aku belum puas…” bisiknya serak. “Aku mau dari belakang. Doggy style… Aku ingin kamu menggenjotku sekuat mungkin.”Wandra merasakan gelombang gairah baru naik karena permintaan Susan. Ia mengangguk, suaranya parau, “Berbaliklah.”Susan tersenyum nakal. Ia turun dari tubuh Wandra dan berlutut di atas ranjang. Dengan gerakan sensual, ia menekuk tubuhnya, menurunkan dada hingga menyentuh kasur, bokongnya terangkat tinggi ke belakang. Posisi doggy style yang sempurna. Punggungnya melengkung indah, bokongnya yang montok dan bulat terpampang menggoda di depan Wandra, celahnya yang masih basah dan merah karena sesi sebelumnya terlihat jelas.Wandra berlutut di belakang Susan. Kedua tangannya meremas bokong wanita itu dengan penuh nafsu,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status