MasukPukulan demi pukulan terus menghantam tubuh Wandra. Rajasa Victory dan keempat Pelindung Istana terus menyerangnya tanpa henti, tidak memahami mengapa pemuda yang tadi bertarung dengan begitu tangguh kini membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk.Pao Pao berdiri terpaku di seberang ruangan, matanya bergerak antara Wandra yang terus dipukuli dan Mayang yang berdiri kebingungan. Dia sudah menyaksikan kekuatan Wandra sebelumnya, tahu bahwa pemuda itu sanggup melawan balik kapan saja dia mau. Tapi entah mengapa, insting Pao Pao mengatakan bahwa ini bukan saatnya untuk ikut campur. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam sedang terjadi, sesuatu yang tidak seharusnya dia ganggu.Handoko yang masih terluka di lantai juga hanya bisa memandang dengan bingung, tidak mengerti mengapa pemuda yang baru saja menyelamatkan mereka kini seperti menyerahkan dirinya untuk dipukuli tanpa usaha lebih untuk melawan. Apakah Rajasa terlalu kuat bagi Wandra?Mayang berdiri dengan tangan yang gemetar, matanya tidak
Wandra melancarkan pukulan demi pukulan ke arah kultivator alam manusia roh itu dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak memberikan ruang untuk bernapas. Setiap gerakannya presisi, mematikan, jauh melampaui apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh seseorang yang terlihat baru berumur delapan belas tahun.Kultivator itu, yang tadi begitu percaya diri menghadapi Mayang, kini benar-benar terdesak. Dia mencoba bertahan, mencoba melawan, tapi setiap serangan Wandra menembus pertahanannya seperti pisau yang menembus mentega. Dalam hitungan detik, sebuah pukulan telak Wandra mendarat di dadanya, membuat pria itu terlempar ke belakang dan jatuh berlutut dengan darah yang mengucur deras dari mulut dan hidungnya.Tapi sebelum Wandra sempat menyelesaikan pertarungan itu, sebuah gemuruh besar menggetarkan seluruh ruangan bawah tanah. Dinding di sisi lain runtuh, mengungkap sebuah lorong tersembunyi, dan dari sana muncul lima sosok dengan aura yang jauh lebih mengerikan dari siapa pun yang sudah ha
Dan di samping mereka, berdiri seorang pria dengan aura yang jauh lebih mengerikan dari siapa pun di ruangan itu, kultivator alam manusia roh level satu, satu tingkat di atas alam manusia suci yang selama ini menjadi puncak kekuatan yang dikenal secara umum."Jebakan," Pao Pao mendesis, menyadari bahwa asisten Peramal Naga Merah yang tadi memberi tahu Perdana Menteri sebenarnya sudah mengirimkan informasi palsu untuk memancing mereka ke sini.Mayang berdiri tegak, matanya berkilat dengan kemarahan yang dingin. "Kalian pikir bisa menjebakku semudah ini?"Perdana Menteri tersenyum licik. "Mayang Terurai. Akhirnya kita bertemu langsung. Ramalan Peramal Naga Merah memang tidak pernah salah, meskipun butuh waktu lama untuk mengonfirmasinya."Pertarungan meletus tanpa peringatan lebih lanjut. Para pengawal menyerbu masuk, Pangeran Ketiga melesat menyerang Handoko, dan Perdana Menteri sendiri menyerang Pao Pao dengan kekuatan penuh alam manusia suci level tiganya.Kultivator alam manusia roh
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan mewah di rumah Perdana Menteri yang terletak di area elit dekat Istana Pualam Putih, Wandra duduk di sebuah kursi dengan tangan yang diikat rantai besi di belakang punggungnya. Dia sengaja tidak melawan, membiarkan dirinya diinterogasi sesuai skenario yang sudah dia rencanakan.Perdana Menteri duduk di hadapannya dengan ekspresi yang penuh kecurigaan, matanya menyipit memandang Wandra dari atas ke bawah seperti sedang menaksir seekor binatang buruan."Ceritakan lagi," Perdana Menteri berkata dengan suara yang dingin. "Ceritakan tentang pria berjenggot yang katamu membunuh semua perampok itu."Wandra mengulangi ceritanya dengan detail yang sama persis seperti yang dia berikan kepada petugas kerajaan sebelumnya, tanpa satu pun kesalahan atau kontradiksi. Sandiwara yang sudah dia mainkan selama tujuh ribu tahun membuatnya sangat ahli dalam menjaga konsistensi cerita.Tapi Perdana Menteri sama sekali tidak percaya. "Bohong," dia berkata dengan suara
Beberapa pengawal berpakaian seragam resmi Istana Pualam Putih mendatangi rumah sewaan Wandra dengan langkah yang tegas dan berwibawa. Pemimpin rombongan itu, seorang pria berumur sekitar tiga puluh lima tahun dengan lencana khusus di dadanya, mengetuk pintu dengan keras."Wandra," pria itu memanggil dengan suara yang tidak menyisakan ruang untuk penolakan. "Kau diminta untuk ikut bersama kami. Ada beberapa pertanyaan tambahan tentang peristiwa di bank kemarin."Wandra yang sedang berlatih teknik dasar yang diajarkan Rafika membuka pintu dengan ekspresi yang berpura-pura terkejut. "Ada apa, Pak?""Perdana Menteri ingin bertemu denganmu secara langsung," pengawal itu menjelaskan. "Ikuti kami sekarang."Rafika yang berdiri di dekat kios sayurnya, tidak jauh dari rumah Wandra, langsung merasakan firasat buruk. Dia bergegas mendekat, wajahnya yang tersamarkan riasan tetap berusaha menunjukkan kekhawatiran seorang tetangga biasa. "Tunggu, kenapa harus Perdana Menteri sendiri yang meminta?
Rafika, yang sudah kembali ke posisi "sedang duduk kesakitan" seperti para korban lainnya, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.Namun Wandra langsung bertindak. Dia, berkata, "Saya melihatnya!" Wandra berkata dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Ada seorang pria berjenggot lebat, bertubuh besar, dan berambut putih! Dia masuk entah dari mana dan langsung menyerang semua perampok itu dengan kecepatan yang luar biasa! Setelah selesai membunuh mereka, dia langsung pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun!"Orang-orang mulai berbisik-bisik dengan takjub, beberapa mengangguk mempercayai cerita itu meskipun mereka sendiri tidak melihat apa pun karena tertidur oleh bubuk yang disebar oleh Rafika."Kita harus mengambil kembali harta benda kita!" seseorang berteriak, mengingatkan semua orang tentang barang-barang berharga yang tadi dirampas.Kekacauan yang teratur pun terjadi. Setiap orang mulai mencari dan mengambil kembali harta benda mere
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa







