Share

14 Biarkan Terjadi

Penulis: Heartwriter
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 18:00:37

Wandra langsung melepaskan tangannya dari liontin, tapi asap sudah keluar terlalu banyak. Ia mundur selangkah, mencoba menjauh dari Clarissa.

"Clarissa, kamu... kamu harus pergi. Sekarang!" katanya dengan suara panik.

Tapi Clarissa tidak bergerak. Atau lebih tepatnya, ia bergerak—tapi bukan menuju pintu. Ia malah melangkah mendekati Wandra.

"Aroma ini..." bisik Clarissa dengan suara yang berubah—lebih serak, lebih dalam. "Apa ini? Kenapa... kenapa aku merasa..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   70 Marni Minta Jatah

    Jessica menatap Wandra dengan tatapan yang sangat serius. "Sekarang aku punya alasan untuk menolak perjodohan ini. Sekarang aku punya keberanian untuk bersikap keras pada orang tuaku. Aku bisa bilang aku tidak mau menikah dengan Adrian. Dan kalau mereka maksa, aku bisa bilang... aku bisa bilang aku sudah tidak suci lagi. Aku tahu itu akan membuat mereka shock dan marah. Tapi setidaknya mereka tidak bisa memaksaku menikah dengan playboy itu lagi.""Jadi kamu akan mengatakan kalau kamu kehilangan itu dariku?"tanya Wandra cemas.Jessica tertawa sambil memegang pipi Wandra. "Kamu jangan takut. Aku tidak akan pernah menyeret namamu dalam hal ini. Aku tidak akan pernah menyebut nama siapapun. Aku cuma akan bilang kalau aku melakukannya dengan seseorang yang aku temui secara kebetulan. Itu saja yang mau aku bilang dan aku berjanji aku tidak akan pernah menyebut namamu."Wandra menatap Jessica dengan perasaan yang sangat campur aduk. Di satu sisi, ia merasa sangat lega bahwa Jessica tidak mar

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   69 Reaksi Jessica yang Mengejutkan

    Gelombang kenikmatan kedua datang dengan cepat, bahkan lebih intens dari yang pertama. Jessica merasa seluruh tubuhnya bergetar dan melayang, mencapai orgasme lagi, yang kali ini lebih dalam dan memabukkan.Cairan kenikmatannya membasahi mulut Wandra, tapi pria itu tidak peduli, terus menghisap hingga Jessica kehabisan napas karena nikmat.Setelah orgasme kedua, dengan tubuh yang masih bergetar dan hasrat yang tak kunjung padam, Jessica merasa harus membalas. Dia ingin merasakan kekuatan dan gairah Wandra di tangannya.Dia mendorong Wandra pelan, lalu bergeser ke samping. Dengan mata berkaca-kaca karena kenikmatan, Jessica turun dari kasur, berlutut di antara kedua kaki Wandra yang terentang.Dia meraih batang kemaluan Wandra yang kini kembali tegang dan mengulumnya, merasakan tekstur panas dan keras itu di dalam mulutnya. Wandra mengerang, tangannya menekan kepala Jessica, mendorongnya lebih dalam.Suara isapan Jessica memenuhi kamar, bercampur dengan desahan Wandra. Dia mencium dan

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   68 Mendapatkan Kesucian Jessica

    Mobil Fortuner akhirnya sampai di depan Kost Marni—rumah dua lantai dengan cat putih bersih dan papan bertuliskan "KOST MARNI - Kost Bebas" di depan."Ini dia," kata Dokter Budi sambil memarkirkan mobil di pinggir jalan.Wandra langsung membuka pintu dan hendak turun dengan tergesa-gesa—tapi Dokter Budi memanggilnya."Wan! Kopermu!"Wandra baru teringat—koper berisi dua miliar rupiah masih ada di bagasi mobil."Oh iya! Terima kasih, Dok!" serunya sambil turun dan membuka bagasi.Ia mengangkat koper besar itu—cukup berat karena berisi tumpukan uang—dan menutup bagasi dengan cepat."Terima kasih sudah mengantarkan, Dok!" kata Wandra dengan terburu-buru."Sama-sama. Hati-hati dengan uangnya. Simpan di bank secepatnya.""Iya, Dok!"Wandra berlari masuk ke kost melalui pintu depan yang tidak terkunci. Dokter Budi menyetir pergi.***Di belakang, agak jauh, mobil Lamborghini merah menyala berhenti di pinggir jalan. Jessica turun dari mobil dengan cepat, menatap rumah kost yang baru saja dim

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   67 Jessica Mengikuti Wandra

    "Sama-sama. Harusnya aku yang berterima kasih," kata Hadi sambil menutup koper dan menyerahkannya pada Wandra. "Ini semua untukmu. Gunakan dengan bijak."Wandra menerima koper itu dengan tangan yang sedikit gemetar—bukan karena beratnya koper, tapi karena menyadari apa yang ada di dalamnya. Dua miliar rupiah. Jumlah yang mengubah hidup.Dokter Budi juga memasukkan tas kecil berisi seratus juta ke dalam tas kerjanya dengan senyuman puas."Baiklah," kata Hadi sambil berdiri, "kalian mau makan siang dulu sebelum pulang? Aku sudah suruh koki siapkan makanan enak.""Terima kasih, Pak Hadi," jawab Dokter Budi, "tapi kami harus segera kembali. Saya masih ada shift di rumah sakit, dan Wandra masih ada kuliah.""Oh, baiklah. Sekali lagi, terima kasih banyak, Wandra. Kamu menyelamatkan keluarga kami."Mereka berpamitan dan berjalan menuju pintu depan. Tapi saat mereka hampir sampai di pintu, ada suara dari tangga."Kakek?! Kakek sembuh?!"Seorang gadis muda—sekitar 19 tahun—berlari turun tangga

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   66 Menyembuhkan Pasien Kanker Darah

    Mereka naik tangga ke lantai dua dan berjalan melalui koridor yang luas menuju sebuah kamar besar di ujung koridor.Hadi membuka pintu, dan Wandra masuk ke kamar yang sangat luas—hampir sebesar seluruh apartemennya Caroline. Ada tempat tidur king size di tengah, dengan berbagai peralatan medis di sekitarnya—monitor, infus, tabung oksigen.Di tempat tidur, terbaring seorang pria tua—sekitar 70-an tahun—dengan wajah yang sangat pucat, tubuh yang sangat kurus, dan napas yang sangat lemah. Kulitnya terlihat kekuningan, matanya cekung, dan ia terlihat seperti mayat hidup—seseorang yang benar-benar berada di ujung hidupnya.Ini adalah Pak Suseno Senior—ayah dari Hadi Suseno, pengusaha sukses yang juga dermawan besar."Ayah," bisik Hadi sambil mendekati tempat tidur. "Ayah, ada yang datang untuk bantu Ayah. Dia... dia penyembuh ajaib."Pak Suseno Senior membuka matanya perlahan—matanya sangat sayu, sangat lemah. Ia menatap Wandra dengan tatapan yang hampir kosong."Nak..." suaranya sangat le

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   65 Tamu Tak Diundang

    Kuliah Anatomi berlangsung selama dua jam—dari jam 08:00 sampai 10:00. Dan saat jam sudah menunjukkan pukul 09:45, tinggal lima belas menit lagi sebelum kuliah selesai, tiba-tiba ada ketukan di pintu ruang kuliah.**TOK TOK TOK**Prof. Hartono menghentikan penjelasannya dan menoleh ke pintu. "Ya, masuk."Pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya—sekitar 50-an tahun, mengenakan jas dokter putih, dengan wajah yang serius tapi ramah—masuk dengan langkah cepat."Permisi, Prof. Hartono," katanya dengan sopan. "Maaf mengganggu kuliah. Tapi saya perlu bicara dengan salah satu mahasiswa Profesor sebentar."Prof. Hartono mengerutkan kening. "Mahasiswa mana?""Wandra. Kalau tidak salah, dia mahasiswa semester satu."Semua mata di ruang kuliah langsung menoleh pada Wandra. Lisa menatapnya dengan bingung. "Wan, kamu kenal dokter itu?"Wandra juga bingung. Ia menatap pria itu dengan lebih teliti—wajahnya terlihat familiar. Di mana ia pernah melihat wajah ini?Lalu ia teringat—Dokter Budi! Dokter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status