LOGINWandra merapikan bajunya yang sedikit kusut dan melanjutkan perjalanan ke kampus. Dia masuk ke gerbang kampus tepat waktu untuk kuliah pagi.Hari itu berjalan seperti biasa di kampus. Wandra mengikuti kuliah dengan penuh konsentrasi, duduk di barisan depan seperti biasa. Setelah kuliah reguler selesai, dia bergabung dengan Ardo, Wita, dan Jono di ruang latihan tim untuk pemantapan terakhir sebelum kontes Olimpiade antar universitas yang akan diadakan besok.Clarissa sudah menunggu mereka dengan materi-materi pemantapan yang sudah disiapkannya. Wajahnya menunjukkan campuran antara antusiasme dan kecemasan yang wajar menjelang kompetisi besar."Baiklah, tim," Clarissa berkata sambil membuka presentasinya. "Besok adalah hari besar kita. Kita akan berhadapan dengan universitas-universitas yang jauh lebih bergengsi dari kampus kita. Tapi aku percaya, dengan persiapan yang sudah kita lakukan, kita punya kesempatan yang nyata."Clarissa menoleh ke Wandra. "Wandra, kamu akan menjadi tumpuan u
Pagi ini, Wandra keluar dari rumah kosnya dan mulai berjalan kaki menuju kampus seperti biasa. Matahari baru saja terbit dan udara masih sejuk. Jalanan masih cukup sepi dengan hanya beberapa kendaraan yang lewat.Wandra baru berjalan sekitar seratus meter dari rumahnya ketika telinganya menangkap suara motor yang melaju dari belakang dengan kecepatan yang tidak wajar. Bukan kecepatan orang yang sedang terburu-buru ke kantor. Tapi kecepatan orang yang sedang mengejar mangsa.Tanpa menoleh, Wandra merasakan aura pembunuh dari pengendara motor itu. Dan detik berikutnya, suara tembakan pistol memecah keheningan pagi.Peluru itu melesat ke arah kepala Wandra dari jarak sekitar sepuluh meter. Tapi Wandra hanya sedikit menggerakkan jarinya, dan peluru itu berbalik arah dengan kecepatan yang dilipatgandakan. Peluru itu menembus helm sang penembak dan bersarang di kepalanya. Motor yang ditungganginya oleng ke kiri dan menghantam pohon di pinggir jalan dengan suara benturan yang keras.Beberapa
Wandra berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Kedua gadis itu saling pandang dengan bingung.Di dalam kamarnya, Wandra membuka cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah benda yang sudah sangat lama tidak dia gunakan. Sebuah topeng.Topeng itu terbuat dari bahan yang tidak bisa dikenali oleh siapa pun di dunia modern. Permukaannya halus seperti sutra tapi keras seperti baja. Warnanya berubah-ubah tergantung cahaya yang menimpanya, kadang terlihat putih, kadang keperakan, kadang transparan. Ukiran-ukiran mikroskopis menghiasi setiap bagian permukaannya, aksara-aksara kuno dari peradaban yang sudah punah ribuan tahun yang lalu.Wandra membuatnya sendiri dua ribu tahun yang lalu, saat dia membutuhkan penyamaran untuk memasuki sebuah kerajaan yang melarang orang asing masuk. Topeng ini bukan sekadar menutupi wajah. Topeng ini mengubah segalanya. Wajah, suara, aura kultivasi, bahkan bau tubuh. Siapa pun yang memakainya akan menjadi orang yang sepenuhnya berbed
Di kota Arcandra, Wandra sama sekali tidak menyadari badai yang sedang mengarah kepadanya. Pagi itu dia sedang berjongkok di halaman belakang rumah kosnya, memeriksa pertumbuhan Akar Naga Biru yang baru dia tanam dari gua gurita iblis. Tanaman langka itu mulai menunjukkan tanda-tanda adaptasi dengan tanah barunya, beberapa tunas kecil sudah mulai muncul dari akarnya.Wandra tersenyum puas melihat pertumbuhan itu. Dia baru saja hendak menyiram tanaman berikutnya ketika dia mendengar suara langkah kaki yang familiar dari arah dalam rumah.Pintu belakang terbuka dan Mentira Wongso melangkah keluar ke halaman. Dia mengenakan pakaian yang lebih kasual hari ini, celana jeans dan blus putih, berbeda dari gaun formal yang dia kenakan saat pertama kali datang. Tapi wajahnya tetap cantik dan angkuh."Wandra," Mentira berkata tanpa basa-basi. "Kakekku mengutus aku untuk membicarakan sesuatu yang penting denganmu."Wandra berdiri dari posisi jongkoknya dan membersihkan tangannya. "Silakan bicara.
Beberapa hari berlalu sejak Wandra mendapatkan menara misterius dari gua gurita iblis. Setiap malam setelah selesai berkultivasi, Wandra mengeluarkan menara kecil itu dan mempelajarinya dengan saksama.Dia sudah mencoba meneteskan darahnya ke permukaan menara itu. Biasanya, benda-benda pusaka kultivasi bisa diaktifkan dengan darah pemilik baru, sebuah proses yang disebut pengikatan darah. Tapi menara itu tidak merespons. Darah Wandra hanya mengalir di permukaannya yang halus dan jatuh ke bawah tanpa diserap.Wandra juga sudah mencoba mengalirkan energi kultivasinya ke dalam menara itu. Dari energi yang sangat kecil sampai energi yang sangat besar. Hasilnya tetap sama. Menara itu diam, seolah-olah benda mati biasa yang tidak memiliki fungsi apa pun.Tapi insting Wandra yang sudah terasah selama tujuh ribu tahun berkata lain. Setiap kali dia memegang menara itu, dia merasakan sesuatu yang sangat halus di dalamnya. Seperti jantung yang berdetak sangat pelan, sangat lambat, nyaris tidak t
Kemudian salah satu orang bertopeng tertawa.“Bohong! Tidak mungkin! Yang Agung tidak bisa dibunuh oleh siapa pun! Dia sudah hidup selama ratusan tahun!”“Terlebih lagi oleh bocah sepertimu,” yang lain menambahkan dengan nada mengejek.Pemimpin kelompok melepaskan topengnya, menunjukkan wajah seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun dengan bekas luka di pipi kiri dan mata yang tajam penuh kelicikan. Dia memindai aura kultivasi Wandra dan Ayu.“Alam pemurnian tubuh level satu dan alam kondensasi roh level tiga,” pria itu mendengus. “Kalian ini Cuma anak-anak kecil yang tersesat. Yang Agung mungkin sedang tidur atau pergi berburu, karena itulah kalian bisa masuk dan keluar dari gua tanpa dimakan. Tapi jangan bohong tentang membunuh Yang Agung.”Dia menoleh ke anak buahnya. “Tangkap mereka berdua. Persembahkan mereka juga bersama yang lainnya. Yang Agung pasti akan senang mendapat dua korban tambahan.”Beberapa orang bertopeng mulai bergerak mendekati Wandra dan Ayu. Mereka mengelu
Asap keunguan dari liontin giok Wandra akhirnya menipis, nyaris tak terlihat, namun sensasi memabukkan yang ditinggalkannya masih berdenyut dalam tubuh Rara dan Wandra. Mereka terengah-engah, bersandar di dinding ruang dosen, tubuh saling memeluk setelah luapan gairah yang intens. Kaki Rara bergeta
Mata Wandra terbelalak melihat pemandangan itu. Asap yang tebal membakar indranya, dan tubuh Rara yang telanjang di hadapannya adalah pemandangan yang memancing setiap serat gairahnya. Batang kemaluannya, yang baru saja melepaskan diri, kini kembali menegang dengan cepat, membusung perkasa.Rara te
Rara, dosennya Wandra di Fakultas Kedokteran, sudah mencecar Wandra dengan ciuman bertubi-tubi.Rara berusia 34 tahun, seorang wanita cerdas, karismatik, dengan rambut hitam bergelombang yang selalu tertata rapi dan tatapan mata yang tajam.Wandra terkejut melihat reaksinya ini, di kantor dosen, ap
Wandra hanya tahu bahwa sekarang mereka sedang berbicara dengan cara yang tidak lagi terasa seperti briefing asisten dosen.Dan liontin di dadanya—Wandra merasakannya.Denyutan yang berbeda. Lebih hangat dari biasanya. Dan saat ia menunduk untuk mengambil cangkir kopinya, dari sudut pandang yang s







