LOGINSetelah orgasme yang membara itu, Hana tetap terbaring di atas dada Wandra sebentar, napasnya masih tersengal-sengal, vagina yang basah dan penuh sperma Wandra berdenyut pelan di sekitar penisnya yang mulai melunak di dalam. Ia angkat kepala, bibirnya menyentuh bibir Wandra dalam ciuman lembut, lidahnya menyapu bibir bawahnya sebelum ia bergeser ke samping. 'Kita belum selesai, pelindungku. Ayo, ganti posisi biar lebih nyaman,' bisik Hana dengan suara serak penuh janji, tangannya membelai lengan Wandra sambil mendorongnya pelan agar berguling menghadap sisi ranjang.Wandra mengikuti gerakannya, tubuhnya yang panas dan berkeringat berputar hingga ia berbaring menyamping, punggungnya menghadap Hana. Penisnya, masih setengah tegang dan mengkilap oleh campuran cairan mereka, terkulai di antara pahanya. Kamar VIP terasa semakin pengap, cahaya neon berkedip pelan di dinding, sementara suara musik bass dari luar seperti detak jantung yang mempercepat hasrat mereka. Hana tersenyum nakal, m
Di dalam kamar VIP klub malam yang remang-remang, cahaya neon biru samar-samar menyinari dinding berlapis kain merah tebal, menahan dentuman musik bass dari luar.Udara terasa berat dengan aroma parfum Hana yang manis bercampur keringat Wandra setelah pertarungan sengit melawan para preman. Hana, wanita berusia 27 tahun dengan tubuh montok berbalut gaun ketat hitam yang kini setengah terbuka, menatap Wandra dengan mata penuh rasa syukur dan hasrat. Rambut panjangnya yang hitam bergelombang jatuh ke bahu, bibir merahnya masih basah dari aksi oral tadi, di mana ia menghisap penis Wandra dengan rakus, lidahnya melingkar di batang tebal itu hingga Wandra mengerang dan menyemprotkan cairan hangat ke mulutnya.Wandra, pria tampan berusia 18 tahun yang sebenarnya kultivator berusia ribuan tahun, berdiri di depan ranjang lebar berseprai sutra hitam. Tubuhnya atletis, otot-ototnya masih tegang dari adrenalin, penisnya yang baru saja dirangsang kini setengah tegang lagi, mengkilap oleh air liu
Wandra membiarkan Hana terus menjilat dengan penuh penghayatan, lidahnya yang lincah melingkar di sekitar batang penisnya, menciptakan sensasi basah yang membuatnya mendesis pelan.Ia merasakan setiap gerakan itu sebagai ungkapan syukur yang dalam, bukan hanya kenikmatan fisik, tapi juga ikatan emosional yang terbentuk di tengah kegelapan klub malam. Tangan Wandra naik, meremas paha Hana yang lembut tapi berotot, jari-jarinya menekan kulit di bawah gaun hitam ketat itu. Ia merasakan kehangatan tubuhnya, denyut nadi yang cepat, dan itu membuat hatinya berdegup lebih kencang. Setelah pertarungan di parkiran, kemenangan ini terasa lebih manis, seperti hadiah yang ia rebut dengan tangan sendiri.Hana mengangkat kepala sebentar, matanya bertemu dengan tatapan Wandra yang penuh hasrat. "Kamu layak mendapatkan ini, Wandra," bisiknya, suaranya bergetar dengan emosi yang tulus. Ia tak hanya ingin membalas budi; ada rasa lega yang membuncah di dadanya, kebebasan dari ancaman Tangan Besi yang
Di parkiran depan klub, Wandra baru saja menghadapi sekelompok preman yang dipimpin oleh bos mereka. Dengan gerakan cepat dan presisi yang lahir dari latihan kultivasinya selama ribuan tahun, Wandra menghajar mereka satu per satu. Tinju-tinjunya mendarat tepat, mematahkan perlawanan, dan dalam hitungan menit, parkiran itu sunyi, hanya ditinggalkan tubuh-tubuh yang terkapar. Aura kemenangan membara di dadanya saat ia melangkah masuk ke klub, darah di tangannya sudah dibersihkan sekilas, tapi semangatnya tak tergoyahkan. Suara musik bass yang menggelegar menyambutnya, lampu neon berkedip-kedip di kegelapan, dan aroma campuran parfum mahal serta asap rokok memenuhi udara. Wandra berjalan dengan langkah tegas, bahunya lebar dan otot-ototnya menegang di bawah kemeja ketat. Ia merasa percaya diri, dominan, seperti pria yang baru saja merebut kendali dari kegelapan. Matanya menyapu ruangan, tapi sebelum ia mencapai bar, seorang wanita mendekatinya. Hana, penanggung jawab klub malam ini,
Hana yang mengintip dari jendela lantai dua langsung jatuh terduduk karena kakinya tidak kuat menopang tubuhnya. Di bawah sana, di parkiran depan klub, ratusan orang berdiri dengan berbagai senjata di tangan mereka. Tongkat besi, parang, pisau, bahkan beberapa orang terlihat membawa senjata api. Puluhan motor dan puluhan mobil diparkir mengepung seluruh area depan klub."Habis..." Hana berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kita habis..."Wandra berdiri dari kursinya dan berjalan ke pintu depan klub dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat dia berjalan ke kampus setiap pagi.Dia membuka pintu dan melangkah keluar ke parkiran.Ratusan pasang mata langsung tertuju padanya. Suasana yang tadi ribut mendadak hening. Mereka melihat seorang pemuda berumur delapan belas tahun berdiri sendirian di depan pintu klub dengan tangan di saku celana dan ekspresi yang setenang air.Dari salah satu mobil mewah yang diparkir di barisan depan, seorang pria berumur sekitar lima puluh t
Pemimpin rombongan itu adalah seorang pemuda berumur sekitar dua puluh dua tahun. Dia cukup tampan dengan rambut yang dimodel ke atas dan mengenakan jaket kulit hitam yang mahal. Tapi ada sesuatu yang tidak menyenangkan di matanya. Sesuatu yang menunjukkan bahwa dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan tanpa peduli bagaimana caranya. Di belakangnya berjalan sekitar sepuluh orang pemuda bertubuh besar yang jelas-jelas adalah pengawalnya.Jarwo. Anak dari Jontor, pemimpin organisasi mafia Tangan Besi, organisasi mafia terbesar di kota Arcandra.Hana langsung berpindah ke samping Clarissa dan berbisik dengan nada yang penuh ketakutan. "Clara, kita harus pergi dari sini sekarang. Aku tidak tahu Jarwo akan datang malam ini."Clarissa mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?""Jarwo itu berbahaya. Dia tidak bisa melihat gadis cantik tanpa ingin mendapatkannya. Dan cara dia mendapatkannya..." Hana menelan ludah. "Dia tidak peduli mau atau tidak mau. Dia akan memaksa."Wandra yang







