MasukSetelah napas mereka sedikit mereda di bawah guyuran shower, Wandra mematikan air. Mayang masih bergantung di lengannya, tubuh basah dan lemas. Wandra mengusap rambut basah Mayang ke belakang telinga dan mencium keningnya.“Ke bathtub,” bisiknya. “Airnya masih hangat.”Mereka keluar dari bilik shower. Wandra membuka keran bathtub besar di sudut kamar mandi, membiarkan air hangat memenuhi bak hingga hampir penuh. Uap naik pelan. Ketika air sudah cukup, Wandra masuk lebih dulu, lalu menarik Mayang masuk bersamanya.Air hangat segera menutupi tubuh mereka hingga dada. Mayang duduk menghadap Wandra di dalam bathtub, kaki-kakinya melingkar di pinggang pria itu. Wandra memegang pinggang Mayang dan mengangkatnya sedikit, mengarahkan batangnya yang masih tegang ke liang yang sudah sangat licin. Mayang menurunkan tubuhnya perlahan.“Ahhh…” desah Mayang panjang saat Wandra masuk sepenuhnya sekali lagi. Posisi lotus membuat mereka saling berhadapan sangat dekat, dada menempel, napas bercampur.W
Wandra mulai bergerak. Awalnya lambat, menarik hampir keluar lalu menghantam masuk kembali dengan dalam. Setiap hantaman membuat bokong Mayang bergoyang, dan suara tabrakan kulit basah mereka memenuhi kamar. Mayang mendorong pinggulnya ke belakang, menyambut setiap dorongan Wandra dengan antusias.“Lebih keras… Wandra…” desahnya.Wandra menurut. Ia mempercepat tempo, tangan mencengkeram pinggang Mayang erat-erat. Batangnya keluar-masuk dengan cepat dan dalam, menghantam titik paling sensitif di dalam tubuh Mayang berulang kali. Mayang menjerit kenikmatan, jari-jarinya mencengkeram seprai hingga kusut. Payudaranya bergoyang hebat setiap kali Wandra menghantam dari belakang.Wandra mencondongkan tubuh, satu tangannya meraih payudara Mayang dari belakang, memijatnya sambil terus menghunjam. Tangannya yang lain turun ke depan, jari-jarinya mencari klitoris Mayang dan mengusapnya cepat sesuai ritme hantamannya.“Ahhh… ahhh… Wandra… di situ… ya…!” pekik Mayang.Mereka bergerak liar dalam po
Wandra turun semakin rendah di antara paha Mayang yang sudah terbuka lebar. Ia menahan kedua kaki wanita itu dengan lembut, membiarkan cahaya bulan menerangi bagian paling intimnya yang sudah basah dan berdenyut. Tanpa terburu-buru, Wandra menunduk dan mengecup bibir kemaluan Mayang dengan sangat pelan, seolah memberi salam.Mayang langsung mengerang pelan, jari-jarinya mencengkeram seprai. Wandra tidak berhenti di situ. Lidahnya keluar, menjilat dari bawah ke atas dengan gerakan lambat dan panjang, merasakan rasa asin manis yang khas dari hasrat Mayang. Ia mengulangi gerakan itu berkali-kali, kadang hanya mengusap pelan di bibir luar, kadang menekan lebih dalam hingga ujung lidahnya menyentuh titik paling sensitif di atasnya.“Ahh… Wandra…” Mayang mendesah, suaranya sudah bergetar.Wandra memberikan waktu yang lama. Ia tidak terburu-buru. Lidahnya bergerak naik-turun, kiri-kanan, kadang membuat lingkaran kecil di sekitar klitoris Mayang, kadang menghisap pelan hingga wanita itu menga
Wandra dan Mayang Terurai berdiri saling berpelukan di tengah lembah yang hancur, membiarkan keheningan sore itu menyelimuti mereka. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidak ada bayangan ancaman Sang Penguasa yang membayangi. Pria tua itu sudah tiada, tubuhnya hancur total, dan cincin penyimpanannya kini berada di tangan Wandra.Mayang mengangkat wajahnya, matanya masih sedikit basah, tapi ada kelegaan yang mendalam di sana. “Aku… aku benar-benar bebas?” bisiknya pelan, seolah takut kenyataan itu akan hilang jika diucapkan terlalu keras.Wandra mengusap rambutnya dengan lembut. “Untuk saat ini, ya. Tidak ada lagi yang bisa mengendalikanmu lewat cara yang dia gunakan. Kita punya waktu. Waktu yang kita miliki sendiri.”Mereka tidak berlama-lama di lembah itu. Wandra mengeluarkan peta kuno pemberian Ferdinand Sanandro, memeriksa arah menuju Benua Naga Hitam. Matahari sore sudah mulai turun, dan perjalanan masih panjang. Mereka berjalan menyusuri jalur pegunungan yang leb
Wandra berhenti sejenak, matanya memandang pria tua yang terluka parah itu dengan tatapan dingin yang tidak menunjukkan setitik pun belas kasihan."Kalau kau sudah tewas," Wandra berkata dengan suara yang tenang tapi mengandung ancaman yang tidak bisa disalahartikan, "tentu tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengendalikan Mayang Terurai lagi."Kata-kata itu membuat Sang Penguasa membeku sejenak, menyadari bahwa Wandra sudah memikirkan segalanya dengan sangat matang. Dia tidak membutuhkan penawaran apa pun. Yang dia inginkan hanyalah memastikan bahwa ancaman ini tidak akan pernah bisa menghantui Mayang lagi.Melihat tekad membunuh yang begitu nyata di mata Wandra, Sang Penguasa akhirnya menyadari bahwa dia tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri. Dia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya, berbalik dan berlari dengan kecepatan yang luar biasa, mencoba menjauh dari Wandra sejauh mungkin.Tapi Wandra tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.Selama ribuan tahun, orang inil
"Kau yakin?" Wandra bertanya, meskipun dia sudah bisa merasakan kebenaran dalam reaksi Mayang yang begitu spontan."Aku sangat yakin!" Mayang berkata dengan suara yang penuh harapan yang tiba-tiba muncul di tengah ketakutannya. "Dengan menara ini, aku bisa bersembunyi tanpa takut Sang Penguasa akan menemukanku! Dia tidak akan bisa membawaku keluar dari sana!"Wandra memandang menara kecil di tangannya dengan perasaan campur aduk. Selama ini dia menyimpan benda ini tanpa tahu fungsinya, mencurigai bahwa itu adalah sesuatu yang berharga tapi tidak pernah bisa mengaktifkannya. Dan sekarang, di saat yang paling genting, benda itu ternyata adalah kunci untuk menyelamatkan Mayang."Kalau begitu, segera masuk," Wandra berkata dengan tegas, matanya melirik ke arah langit di mana sebuah sosok besar mulai terlihat jelas di antara awan gelap yang bergulung, seekor burung raksasa dengan bulu yang berkilau seperti logam, kilatan-kilatan listrik menari di sekeliling tubuhnya. "Biar aku yang menghad
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang







