MasukBudiman memandang Wandra. Matanya langsung membaca aura kultivasi pemuda itu. Alam pemurnian tubuh level satu.Kerutan dalam muncul di dahi Budiman. 'Alam pemurnian tubuh level satu? Tidak mungkin. Suara tadi mengandung tekanan yang jauh melampaui level empat alam kebangkitan. Tidak mungkin berasal dari kultivator alam pemurnian tubuh. Pasti ada orang lain yang lebih kuat yang melindungi bocah ini.'Secercah keberanian mulai tumbuh kembali di dada Budiman. Mungkin dia tadi salah memperkirakan. Mungkin tekanan dalam suara itu berasal dari seseorang yang bersembunyi di dekat sini, bukan dari pemuda kecil di hadapannya.Budiman memutuskan untuk mencoba bernegosiasi dulu sambil mencari tahu apakah ada orang lain yang bersembunyi."Anak muda," Budiman berkata dengan nada yang dia usahakan untuk terdengar ramah. "Kau datang sendirian?""Ya. Sopirku menunggu di luar.""Sopirmu? Hanya sopir?""Ya. Kultivasinya di alam pemurnian tubuh. Sama sepertiku."Budiman menatap Wandra lekat-lekat, menco
Keheningan total menyelimuti halaman selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.Kemudian, seperti bendungan yang pecah, teriakan dan tepuk tangan memenuhi seluruh halaman. Orang-orang melompat dari kursi mereka. Beberapa menangis. Beberapa berteriak kegirangan. Kamera-kamera berkedip tanpa henti.Wandra berjongkok di tepi panggung dan melompat turun. Dia berjalan menuju tubuh Wandi yang sudah tidak bernyawa dan melepaskan cincin penyimpanan dari jarinya. Tanpa memeriksa isinya, Wandra berjalan menuju Wahyu Wicaksana dan menyerahkan cincin itu."Ini untuk keluarga Wicaksana. Sebelumnya aku sudah memberikan cincin penyimpanan rampasan kepada Damar untuk keluarga Halim. Jadi ini untuk menyeimbangkan."Wahyu menerima cincin itu dengan tangan yang gemetar. "Wandra, aku..."Tapi Wandra sudah berbalik dan berjalan menuju Damar yang berdiri bersandar di mobilnya dengan senyum lebar."Damar, di mana letak Sekte Tangan Sakti?"Senyum Damar sedikit memudar. "Wandra, kamu serius mau ke
Di luar, Damar sudah menunggu dengan mobil sport barunya yang mengkilap di bawah cahaya pagi. Mobil itu berwarna hitam metalik, jauh lebih mewah dan lebih bertenaga dari mobil lamanya. Hasil dari harta yang dia dapatkan dari cincin penyimpanan Grandmaster Hartono.Wandra masuk ke kursi penumpang. Cindy berlari menyusul dan masuk ke kursi belakang sebelum ada yang sempat mencegahnya. Rombongan lainnya mengikuti dengan mobil-mobil mereka masing-masing.Damar memacu mobilnya menuju bekas kediaman keluarga Hendrawan. Perjalanan itu hanya memakan waktu beberapa menit.Setibanya di sana, pemandangan yang menyambut mereka mirip dengan beberapa hari yang lalu saat pertarungan Wandra melawan Reno. Panggung besar yang dibangun Lisa masih berdiri di halaman depan rumah. Kursi-kursi penonton sudah kembali terisi oleh ratusan orang. Wartawan dan kamera di mana-mana. Siaran langsung sudah berjalan di berbagai platform media sosial.Dan di atas panggung, seorang pria berdiri sendirian dengan wajah y
Selama dua hari penuh Wandra mengurung diri di kamarnya. Pintu dikunci rapat, jendela ditutup, dan dia duduk bersila di atas tempat tidurnya dalam posisi meditasi yang tidak berubah. Di hadapannya, dua butir inti roh binatang iblis melayang di udara, diselimuti oleh cahaya keemasan yang berdenyut pelan mengikuti irama napas Wandra.Proses pemurnian inti roh bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Wandra harus menyerap energi dari inti roh itu sedikit demi sedikit, memurnikannya di dalam tubuhnya, dan mengintegrasikannya dengan kultivasinya yang sudah sangat tinggi. Bagi kultivator biasa, satu inti roh tingkat empat sudah cukup untuk membuat mereka naik beberapa level sekaligus. Tapi bagi Wandra yang sudah berada di level seribu delapan ratus sembilan puluh dua, energi yang dibutuhkan untuk naik satu level saja sudah jauh lebih besar.Tapi inti roh yang dia dapatkan dari Istana Harta Berharga kali ini berkualitas sangat tinggi. Inti roh tingkat empat dari singa iblis
Hartono tidak menjawab. Air matanya mengalir bercampur dengan darah dan tanah."Aku yakin mereka juga memohon," Wandra berkata pelan. "Tapi kau tidak pernah memberikan ampun."Injakan terakhir Wandra menghantam kepala Hartono. Dan Grandmaster Hartono, kultivator alam kebangkitan level satu, pelindung hukum keluarga Limanto dari kota Dekon, tewas di sebuah lapangan bola kosong di pinggiran kota Bantara.Wandra berjongkok di samping tubuh Hartono dan melepaskan cincin penyimpanan dari jari manis pria itu. Dia memeriksa isinya dan menemukan banyak barang berharga di dalamnya. Emas, perhiasan, senjata pusaka, pil-pil kultivasi, dan juga Pedang Penakluk Binatang Iblis yang baru saja dibeli Hartono di lelang tadi.Wandra mengambil pedang itu dan memeriksanya. Bilah pedang itu berpendar dengan cahaya kebiruan saat dia menggenggam gagangnya. Energi yang mengalir dari pedang itu terasa hidup di tangannya, seolah-olah pedang itu mengenali majikan barunya.'Bagus,' batin Wandra. 'Pedang ini akan
Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Sonya yang masih setengah tertidur dalam kepuasan, dengan senyum hangat yang jelas-jelas ditujukan khusus untuknya, Wandra berjalan menuju ruang tamu kapal pesiar tempat Damar menunggu.Damar sudah berdiri dari kursinya dengan wajah yang gelisah. Matanya bergerak-gerak ke segala arah seperti seekor rusa yang merasakan kehadiran predator di dekatnya."Wandra, kita harus cepat pergi," Damar berkata dengan suara rendah. "Grand Master Hartono tadi menatapmu dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat saat kita keluar dari ruangan lelang. Aku yakin dia sudah merencanakan sesuatu."Wandra mengangguk tanpa menunjukkan kekhawatiran apa pun. "Ayo."Mereka turun dari kapal pesiar melalui tangga utama dan berjalan menuju parkiran pelabuhan tempat mobil sport hitam Damar diparkir. Udara laut yang asin menerpa wajah mereka saat mereka meninggalkan dermaga. Pelabuhan kota Bantara masih ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang, tapi Wandra bisa merasaka
Wandra memasukkan smartphonenya kembali ke saku. Ia menatap Desy dengan tatapan yang berubah—dari ragu menjadi yakin."Kak Desy," katanya dengan suara yang mantap, "percayalah pada saya. Saya akan buat semua menu ini. Dan saya jamin, semuanya akan sempurna."Desy menatapnya dengan tatapan tidak per
Wandra tahu ia seharusnya mengatakan tidak. Ia bukan koki dan tidak punya teman koki. Ia bahkan tidak pernah memasak untuk acara besar. Ia hanya bisa masak makanan sederhana untuk diri sendiri.Tapi melihat wajah Nissa yang sangat khawatir, melihat betapa desperatenya situasi ini...Dan entah kenap
Pagi di hari Minggu, datang dengan cuaca cerah.Wandra terbangun di kamarnya yang baru, merasakan sedikit pegal di tubuhnya—bukan karena kelelahan fisik biasa, tapi karena... karena apa yang terjadi semalam antara dirinya dengan Mirna.Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang kalut. Ini s
Marni, yang tadinya meringis kesakitan, merasakan punggungnya tiba-tiba terasa hangat, nyeri mereda bahkan hilang seperti tidak pernah ada.Tapi, bersama dengan itu, sensasi lain muncul—rasa panas yang membakar, gairah yang sudah lama terpendam kini bangkit.Wandra merasakan liontin itu berdenyut l







