LOGINSudah sejak tadi ketegangan seksual yang terasa di sekitar mereka berdua yang semakin tak tertahankan.Bahkan saat dj rumah sakit, Windy melakukan segala yang bisa Windy lakukan untuk menahan diri agar tidak menarik Wandra ke kamar mandi dan melakukannya di sana di bilik kamar mandi.Jadi yang bisa Windy lakukan untuk saat ini hanyalah menunggu hingga di kamar apartemen ini, sampai dia dan Wandra bisa berdua saja.Wandra sempat ijin ke kamar mandi untuk membilas wajahnya. Saat ini Wandra lemah, tapi dia tahu, segera Setelah dia mendapatkan partner sex, maka dia akan kuat lagi.Windy duduk di tepi tempat tidur, Windy memikirkan Pertemuan pertama mereka berdua. Mengingat wajah Wandra dan bagaimana melihat Wandra saja, sudah membangkitkan gairahnya.Itu mengirimkan getaran ke klitoris Windy, hanya dengan memikirkannya, dan Windy menjadi begitu bergairah.Windy sedang membuka kancing celana jeansnya, saat Wandra membuka pintu kamar mandi dan Wandra berdiri di sana.Windy bangkit dari temp
"Baiklah," kata Caroline, meski ada perasaan tidak enak yang tidak bisa ia jelaskan. "Windy, tolong hati-hati di jalan. Dan pastikan Wandra langsung istirahat begitu sampai di apartemen.""Tenang saja, Car. Aku akan jaga dia baik-baik," jawab Windy sambil tersenyum.Caroline berkata pada Wandra. "Istirahat yang cukup ya, Wan. Besok kita bicara lagi.""Baik, Dok."Windy memapah Wandra keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Mobilnya—Honda HR-V putih mutiara yang sama modelnya dengan mobil Lisa—diparkir tidak jauh dari pintu keluar.Windy membukakan pintu penumpang dan membantu Wandra masuk. Wandra hampir jatuh ke kursi, tubuhnya benar-benar tidak punya tenaga."Terima kasih," gumam Wandra sambil menarik napas dalam.Windy tersenyum sambil menutup pintu, lalu berputar ke sisi pengemudi dan masuk. Ia menyalakan mesin dan AC, lalu menatap Wandra dengan tatapan yang penuh perhatian."Kamu pasti sangat lelah," katanya dengan suara lembut. "Apa yang kamu lakukan tadi... itu luar biasa. Aku
Wandra tidak menjawab. Ia terlalu lelah untuk berdebat atau menjelaskan. Tubuhnya terasa sangat lemas, kepalanya pusing, dan ia hanya ingin duduk atau bahkan berbaring.Caroline, yang melihat kondisi Wandra, segera menopangnya lebih erat. "Para dokter, Wandra sangat kelelahan. Bisakah kita lanjutkan diskusi ini nanti? Dia butuh istirahat."Dokter senior yang tadi menyatakan Pak Ahmad meninggal melangkah maju. Ia menatap Wandra dengan ekspresi yang campur aduk—antara kagum, tidak percaya, dan sedikit takut."Pemuda ini..." katanya pelan, "...bukan orang biasa. Dia memiliki tangan yang... yang ajaib. Tangan yang bisa membawa orang kembali dari kematian. Tangan yang bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan."Ia menoleh pada dokter-dokter lain. "Saya sudah praktik sebagai dokter selama tiga puluh tahun. Saya sudah melihat banyak hal. Tapi saya tidak pernah melihat sesuatu seperti ini. Ini adalah... keajaiban. Tidak ada kata lain untuk menggambarkannya.""Orang ajaib dengan t
Monitor jantung yang tadinya hampir datar mulai menunjukkan aktivitas—garis yang bergerak naik turun, masih lemah, tapi ada.**PIP... PIP... PIP...**Suara monitor itu mulai berbunyi—pelan, tidak teratur, tapi ada."Jantungnya berdetak!" seru Caroline. Sebagai dokter, ia langsung mengenali tanda-tanda vital yang kembali. "Ya Tuhan, jantungnya mulai berdetak lagi!"Wandra terus bekerja, terus memutar jarum-jarum dengan pola yang diajarkan liontin. Keringatnya mulai bercucuran—bukan karena panas ruangan, tapi karena konsentrasi yang luar biasa dan energi yang mengalir dari liontin melalui tubuhnya ke pasien.Perubahan terus terjadi. Warna kulit Pak Ahmad semakin membaik, dari merah muda menjadi warna normal yang sehat. Dada yang tadinya diam kini mulai bergerak naik turun dengan lembut—tanda napas kembali.Monitor saturasi oksigen yang tadinya nol persen mulai naik—20%... 40%... 60%... terus naik perlahan.Caroline tidak bisa menahan diri. Ia mengeluarkan smartphonenya dan menelepon ses
Pintu tertutup, dan ruangan jadi lebih sunyi—hanya terdengar tangisan Windy yang perlahan mereda menjadi isak tangis pelan.Wandra berdiri di dekat pintu, tidak yakin apakah ini saat yang tepat untuk mendekat. Ia melirik ke arah Caroline, mencari petunjuk.Caroline melepaskan pelukannya pada Windy dan berbisik sesuatu di telinganya. Windy menoleh ke arah Wandra dengan mata yang sembab dan merah."Windy," kata Caroline pelan, "ini Wandra. Temanku. Dia... dia punya kemampuan khusus. Aku tahu ini terdengar gila, tapi... bisakah kamu percaya padaku dan membiarkannya mencoba sesuatu?"Windy menatap Wandra dengan bingung. "Mencoba apa? Ayahku sudah... sudah meninggal.""Aku tahu," kata Caroline. "Tapi Wandra... dia pernah membangkitkan seseorang yang sudah dinyatakan meninggal. Mungkin... mungkin dia bisa melakukan hal yang sama untuk ayahmu."Windy menatap tidak percaya. "Itu... itu tidak mungkin. Orang yang sudah mati tidak bisa hidup lagi. Ini bukan film.""Aku tahu ini terdengar mustah
Wandra baru saja memasuki lobby gedung apartemen, pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian di hotel bersama Lisa tadi. Ia merasa lelah—bukan lelah fisik, tapi lelah mental dan emosional. Terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari.Ia berjalan menuju lift, bermaksud langsung naik ke apartemen Caroline di lantai lima belas, mandi, dan tidur. Ia butuh waktu untuk memproses semua yang terjadi.Tapi saat ia hampir sampai di lift, pintu lift itu terbuka dan Caroline keluar dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan jas dokter dan membawa tas kerjanya, wajahnya tampak khawatir dan cemas."Wandra!" panggilnya begitu melihat Wandra.Wandra menoleh. "Dokter Caroline? Ada apa? Mau keluar?"Caroline berjalan cepat menghampiri Wandra. "Aku baru saja dapat telepon dari Windy, sahabatku. Ayahnya... ayahnya dalam kondisi kritis. Kanker otak stadium akhir. Para dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku harus ke rumah sakit sekarang untuk menemani Windy. Dia pasti sangat terpukul."Wandra mengangguk







