FAZER LOGINKapal hitam Sekte Naga Laut merapat di sisi Leviathan dengan gerakan yang begitu presisi, seolah tidak ada air laut yang bisa menghalangi kehendaknya. Sebuah jembatan kayu diturunkan, dan satu per satu, para punggawa Sekte Naga Laut mulai melangkah naik ke geladak Leviathan.Yang berjalan paling depan adalah seorang pria berumur sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi dan kekar dengan kulit yang gelap terbakar matahari laut, matanya tajam seperti elang yang mengawasi mangsanya. Jubahnya berwarna biru tua dengan sulaman benang perak berbentuk naga yang melingkar di sekujur kain, sebuah simbol kekuasaan yang tidak perlu dijelaskan lagi."Burundi," seseorang berbisik dengan suara yang penuh ketakutan di antara kerumunan penumpang.Di belakang Burundi, lima orang lainnya berjalan dengan formasi yang sangat terlatih, masing-masing memancarkan aura kultivator alam manusia suci dengan level yang bervariasi antara tujuh hingga sembilan, level yang jauh melampaui apa pun yang dimiliki oleh k
Wandra merasakan kemarahan mulai membara di dalam dadanya, tapi dia mengingat peringatan Jack Sparrow untuk tidak membuat masalah selama pelayaran, sebuah syarat yang penting agar mereka bisa mencapai Laut Tibran dengan selamat."Mayang tidak tertarik untuk bertemu siapa pun," Wandra berkata dengan suara yang berusaha tetap tenang meskipun tersirat ketegasan yang jelas.Gerson, yang tidak terbiasa mendapatkan penolakan, membisikkan sesuatu kepada pelayannya. Pria gemuk itu kemudian mulai menyebutkan sejumlah uang yang sangat besar, mencoba menawar agar Wandra bersedia "melepaskan" Mayang untuk bertemu dengan tuan mudanya.Kesabaran Wandra mulai menipis mendengar tawaran menghina itu. Tanpa peringatan, tangannya bergerak cepat, sebuah tamparan yang mendarat telak di wajah pelayan gemuk itu, membuat beberapa giginya terlempar keluar dari mulutnya."Aku sudah bilang, dia tidak tertarik," Wandra berkata dengan suara yang dingin. "Jangan ulangi lagi."Tapi alih-alih ketakutan, Gerson justr
Pagi ini, Wandra dan Mayang tiba di pelabuhan besar bernama Tarantika, sebuah kota pelabuhan yang ramai dengan ratusan kapal berlabuh, mulai dari kapal nelayan kecil hingga kapal dagang raksasa yang membawa barang dari berbagai penjuru negeri. Mayang, yang sudah kembali ke wujud aslinya yang begitu memukau, menarik banyak pandangan dari orang-orang yang lewat, meskipun Wandra sudah memberikannya jubah longgar dengan tudung untuk sedikit menyamarkan kecantikannya yang terlalu mencolok, tapi tetap saja ada beberapa pria yang berhasil mengagumi kecantikan Mayang.Mereka mulai mencari kapal yang bersedia mengantar mereka menyeberangi sebuah wilayah laut yang disebut Laut Tibran, sesuai dengan petunjuk di peta pemberian Ferdinand Sanandro yang menunjukkan bahwa jalur menuju Benua Naga Hitam harus melewati perairan itu terlebih dahulu.Tapi setiap nahkoda yang mereka tanya selalu menggelengkan kepala dengan wajah pucat begitu mendengar nama Laut Tibran disebutkan."Laut Tibran?" seorang na
Di atas ranjang yang sudah berantakan, ciuman mereka semakin dalam dan lapar. Wandra masih berada di dalam Mayang, bergerak pelan tapi penuh tekanan. Mayang tidak lagi hanya menerima. Ia mengangkat pinggulnya lebih tinggi, menekan Wandra lebih dalam setiap kali pria itu mendorong.Hasrat yang semula penuh kelembutan kini berubah menjadi liar.Mayang mendorong dada Wandra hingga pria itu terlentang. Ia tidak menunggu. Dengan gerakan cepat, Mayang naik kembali ke atas tubuh Wandra, memegang batangnya yang masih basah dan keras, lalu menurunkan dirinya sekaligus hingga pangkal.“Ahhh—!” erang Mayang keras, kepalanya mendongak.Ia mulai menggoyang pinggulnya dengan ganas. Naik-turun, maju-mundur, memutar. Setiap gerakan dibuat untuk merasakan Wandra sedalam mungkin. Payudaranya bergoyang di depan wajah Wandra. Wandra mengangkat tubuhnya, menghisap salah satu puncaknya sambil tangan mencengkeram pinggang Mayang erat-erat dan mendorong dari bawah dengan kekuatan yang sama liarnya.Suara bas
Setelah napas mereka sedikit mereda di bawah guyuran shower, Wandra mematikan air. Mayang masih bergantung di lengannya, tubuh basah dan lemas. Wandra mengusap rambut basah Mayang ke belakang telinga dan mencium keningnya.“Ke bathtub,” bisiknya. “Airnya masih hangat.”Mereka keluar dari bilik shower. Wandra membuka keran bathtub besar di sudut kamar mandi, membiarkan air hangat memenuhi bak hingga hampir penuh. Uap naik pelan. Ketika air sudah cukup, Wandra masuk lebih dulu, lalu menarik Mayang masuk bersamanya.Air hangat segera menutupi tubuh mereka hingga dada. Mayang duduk menghadap Wandra di dalam bathtub, kaki-kakinya melingkar di pinggang pria itu. Wandra memegang pinggang Mayang dan mengangkatnya sedikit, mengarahkan batangnya yang masih tegang ke liang yang sudah sangat licin. Mayang menurunkan tubuhnya perlahan.“Ahhh…” desah Mayang panjang saat Wandra masuk sepenuhnya sekali lagi. Posisi lotus membuat mereka saling berhadapan sangat dekat, dada menempel, napas bercampur.W
Wandra mulai bergerak. Awalnya lambat, menarik hampir keluar lalu menghantam masuk kembali dengan dalam. Setiap hantaman membuat bokong Mayang bergoyang, dan suara tabrakan kulit basah mereka memenuhi kamar. Mayang mendorong pinggulnya ke belakang, menyambut setiap dorongan Wandra dengan antusias.“Lebih keras… Wandra…” desahnya.Wandra menurut. Ia mempercepat tempo, tangan mencengkeram pinggang Mayang erat-erat. Batangnya keluar-masuk dengan cepat dan dalam, menghantam titik paling sensitif di dalam tubuh Mayang berulang kali. Mayang menjerit kenikmatan, jari-jarinya mencengkeram seprai hingga kusut. Payudaranya bergoyang hebat setiap kali Wandra menghantam dari belakang.Wandra mencondongkan tubuh, satu tangannya meraih payudara Mayang dari belakang, memijatnya sambil terus menghunjam. Tangannya yang lain turun ke depan, jari-jarinya mencari klitoris Mayang dan mengusapnya cepat sesuai ritme hantamannya.“Ahhh… ahhh… Wandra… di situ… ya…!” pekik Mayang.Mereka bergerak liar dalam po
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik







