ログインWandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali."
"Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali mengulum benda besar di depannya ini.
Wandra terus menggeliat-geliat merasakan sensasi dari permainan lidah dan mulut yang dilakukan oleh Caroline saat ini.
Caroline memegang benda perkasa di depannya ini dengan kedua tangannya. Setelah itu, lidahnya menari-nari untuk mengulas dengan seksama kepala rudal di depannya ini.
Apa yang dilakukan Caroline ini, membuat Wandra mendesah makin nyaring. "Ahhhh ... ini enak banget, kak Caroline. Nikmat. Aduhhh. Ahhhh..."
Caroline menenggelamkan batang besar milik Wandra hingga hampir mencapai tenggorokannya. Dia betul-betul menyukai batang besar ini, sekalipun mulutnya harus dibuka sebesar mungkin untuk bisa mengulum benda besar ini, tapi, batang besar ini terasa enak untuk dikulum.
Caroline mulai membayangkan liang keintimannya yang sempit, pasti akan penuh sekali saat kembali diterobos oleh benda besar ini.
"Ahhh ... pasti enak sekali kalau anuku diterobos lagi oleh terong segede ini. Tapi, jangan dulu ah. Aku akan menikmatinya dulu. Anak ini masih polos. Aku akan manfaatkan semaksimal mungkin," batin Caroline sambil mengulum benda perkasa ini.
Setelah itu, Caroline meninggalkan benda besar itu, kemudian dia berdiri dan mendongak ke atas untuk menatap wajah Wandra yang masih menahan kenikmatan.
"Hmmm. Aku baru sadar kalau anak ini tinggi juga. Tingginya mungkin ada 182 cm. Punyanya gede. Idaman banget. Sayang dia bukan CEO seperti mantanku terakhir." batin Caroline.
Setelah itu, Caroline menarik tangan Wandra untuk diajaknya ke kamarnya.
Dia tidak suka berada di kamarnya Wandra ini karena Kamar ini tidak memiliki AC.
"Mau ke mana, Kak?" Tanya Wandra
"Ikut aja!"
"Iya, kak." Pemuda berumur sembilan belas tahun ini terpaksa manut. Dia berjalan mengikuti Caroline.
Ternyata Caroline mengajak Wandra menuju ke kamar tidurnya. Setelah masuk kamar, Caroline langsung menutup pintu, saat sang pemuda masih berdiri kaku.
Setelah itu, gadis berumur 22 tahun ini langsung menjatuhkan diri di atas pembaringan. Dia tidur terlentang menghadap ke arah Wandra yang masih berdiri melotot karena melihat pemandangan indah di depannya ini.
Caroline memegang permukaan liang kewanitaannya dan berkata, "sini. Isep ini."
Mendengar perintah Caroline itu, Wandra langsung menelan ludah. Dia begitu terpesona dengan liang kewanitaan yang tercukur rapi yang berada di depannya ini.
"Kamu suka lihat ini, kan?" tanya Caroline manja. Suaranya terdengar mendesah. Dia betul-betul sudah terbawa gairah setelah melihat dan menghisap rudalnya Wandra tadi.
Wandra mengangguk cepat. Dadanya berdesir. Dia begitu takjub dengan apa yang sementara dia lihat dengan sangat jelas itu.
"Apa kamu pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?" tanya Caroline.
Wandra langsung menggeleng cepat. Karena memang ini adalah pengalaman pertama baginya melihat liang kewanitaan.
"Kamu ingin menyentuhnya?" pancing Caroline.
"Iya, kak."
"Kalau gitu, tunggu apa lagi. Ayo, sini. Sentuh dan lakukan apa aja yang kamu mau."
Ini adalah perintah kedua dari Caroline, perintah yang tidak bisa lagi ditolak Wandra. Karena itu, Wandra segera mengangguk.
Dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun, Wandra mulai naik di atas tempat tidurnya Caroline untuk mendekati tubuh polos Caroline yang sudah berada dalam keadaan sama polosnya.
"Jilatin pahaku. Terus, abis itu, jilatin terus sampai sini," perintah Caroline lagi sambil menunjuk.
Wandra mengangguk. Dia mulai mengeluarkan lidahnya untuk menjilati paha Caroline.
Caroline mulai mendesir saat merasakan ada benda lunak yang berpetualang di sekitar daerah paha. Saat benda basah itu masih juga berada di sana dan tidak juga bergerak ke atas, maka, Caroline berkata, "naik lagi."
Dengan masih agak takut-takut, Wandra meneruskan petualangan lidahnya ke atas hingga lidahnya sudah berada dekat sekali dengan benda menggairahkan nan mempesona yang tercukur rapih sehingga permukaannya terlihat sangat indah di mata Wandra itu.
"Kamu mulai dengan jilatin bagian atas sini. Mengerti?" Caroline menyentuh kekenyalan kecil di bagian atas kemaluannya.
Wandra mengangguk dan mulai mengikuti apa yang diperintahkan oleh Caroline itu.
Sesaat kemudian....
"Aduh ... terusin, sayang. Ini sangat enak. Ehmmm."
Mendengar bisikan manja dari Caroline itu, Wandra semakin bersemangat untuk mengulas kekenyalan yang seksi di hadapannya ini dengan lidahnya.
"Keluarkan lidahmu panjang-panjang terus jilatin ini-ku," perintah Caroline lagi sambil menunjuk ke arah kekenyalan kecilnya.
Wandra mengangguk. Dia mengeluarkan lidahnya dan mulai menjilati kekenyalan yang ditunjuk Caroline tadi.
"Aduh ... enak banget. Ahhhh ... terasa banget. Ini. Ehkkkk. Enakkkk!"
Wandra terus menjilati bagian atas dari empal klimis yang tercukur rapi milik Caroline.
Membuat Caroline semakin terbawa nafsu.
Wandra merasa kejantanannya semakin kencang karena merasakan gairah yang amat sangat saat dia mengulas permukaan liang kewanitaan milik Caroline ini.
"Aduh, Wandra. Ehhh ... terusin Wandra. Terusin. Gitu. Owh... Lidah kamu enak banget, terasa banget di itilku. Aduh. Enak banget, Wandra. Ugh..."
Caroline menarik tangan Wandra untuk dibawanya menuju ke arah buah dadanya.
Sambil terus menjilati kekenyalan yang terlihat sangat nikmat itu Wandra mulai memilin tonjolan berwarna coklat muda di buah dada Caroline.
"Masukin jarimu, sayang. Ugh, masukin jarimu," pinta Caroline.
Wandra menghentikan jilatannya. Dia agak bingung dengan keinginan Caroline ini. Dia menatap ke arah tangannya dia tidak tahu jari mana yang harus dia masukkan.
Caroline membuka matanya. Dia melihat kebingungan pemuda polos di depannya ini. "Masukin jari tengahmu supaya panjang masuk dalam. Ayo cepat."
Caroline langsung membuka lebar-lebar pahanya siap untuk dimasuki oleh jari tangan anak muda ini.
Wandra mengangguk. Kemudian dia menekuk empat jarinya dan hanya membiarkan jari tengahnya saja yang mengacung.
Setelah itu, Wandra mulai memasukkan jari tengahnya di kedalaman liang surga milik Caroline.
Caroline langsung menjerit tertahan saat jari tangan Wandra mulai masuk ke dalam liang sempitnya.
"Oh, enak banget, Wandra. Ini enak banget."
Wandra mulai memasuk-keluarkan jarinya ke dalam lubang surga ini. Dia merasakan rongga-rongga yang di dalam sana. Dia mulai merasa enak dengan apa yang dia lakukan ini.
"Wandra! Oh enak Wandra. Oh. Ugh...."
"Iya, kak. Ini enak banget. Aku juga suka ini, kak."
"Iya, Wandra. Mulai hari ini, kamu boleh menikmati ini. Owh ... enak banget. Nikmat eeee. Kocok terus, Wandra. Kocok terus. Ekh...."
Wandra melakukan apa yang diinginkan oleh Caroline. Pemuda yang baru sekarang melakukan hal ini itu, terus diajarkan oleh Caroline akan cara melakukan tusukan yang baik hingga dia mulai pinter.
Karena itu, beberapa saat kemudian tusukan-tusukan Wandra mulai terasa enak dan menghanyutkan bagi Caroline.
"Aduh, ini enak bangets. Enak banget. Terusin kocok, terus. Lebih cepat lagi."
Caroline semakin blingsatan. Tubuhnya kelojotan dalam kenikmatan yang amat sangat. Dia terus ceracau tidak karuan.
Gerak tubuh Caroline ini semakin membuat Wandra lebih bersemangat untuk mempercepat gerakan tangannya.
Tangan Wandra masuk keluar di dalam liang surga Caroline, memberikan rasa yang tidak terkatakan bagi Caroline, sehingga Caroline semakin berteriak dalam nikmat.
Akhirnya Caroline berteriak panjang karena dia telah berhasil mencapai puncak kenikmatan kedua yang dia cari sejak tadi.
Tusukan Wandra membuat Caroline mencapai puncaknya yang kedua.
Sementara Wandra kebingungan saat dia merasakan ada cairan yang membanjiri di jari tengahnya.
Caroline meminta Wandra ke atas. Ke buah dadanya.
Kini Wandra mulai memilin tonjolan yang terlihat besar menggoda itu di buah dada montok nan menggairahkan yang membuat Wandra tidak tahan lagi untuk menghisap tonjolan di bagian kiri.
"Oh, begitu, Wandra. Isep, sayang. Oh ... aku sudah kepingin deh." Caroline semakin terbawa rasa.
Wandra merapikan bajunya yang sedikit kusut dan melanjutkan perjalanan ke kampus. Dia masuk ke gerbang kampus tepat waktu untuk kuliah pagi.Hari itu berjalan seperti biasa di kampus. Wandra mengikuti kuliah dengan penuh konsentrasi, duduk di barisan depan seperti biasa. Setelah kuliah reguler selesai, dia bergabung dengan Ardo, Wita, dan Jono di ruang latihan tim untuk pemantapan terakhir sebelum kontes Olimpiade antar universitas yang akan diadakan besok.Clarissa sudah menunggu mereka dengan materi-materi pemantapan yang sudah disiapkannya. Wajahnya menunjukkan campuran antara antusiasme dan kecemasan yang wajar menjelang kompetisi besar."Baiklah, tim," Clarissa berkata sambil membuka presentasinya. "Besok adalah hari besar kita. Kita akan berhadapan dengan universitas-universitas yang jauh lebih bergengsi dari kampus kita. Tapi aku percaya, dengan persiapan yang sudah kita lakukan, kita punya kesempatan yang nyata."Clarissa menoleh ke Wandra. "Wandra, kamu akan menjadi tumpuan u
Pagi ini, Wandra keluar dari rumah kosnya dan mulai berjalan kaki menuju kampus seperti biasa. Matahari baru saja terbit dan udara masih sejuk. Jalanan masih cukup sepi dengan hanya beberapa kendaraan yang lewat.Wandra baru berjalan sekitar seratus meter dari rumahnya ketika telinganya menangkap suara motor yang melaju dari belakang dengan kecepatan yang tidak wajar. Bukan kecepatan orang yang sedang terburu-buru ke kantor. Tapi kecepatan orang yang sedang mengejar mangsa.Tanpa menoleh, Wandra merasakan aura pembunuh dari pengendara motor itu. Dan detik berikutnya, suara tembakan pistol memecah keheningan pagi.Peluru itu melesat ke arah kepala Wandra dari jarak sekitar sepuluh meter. Tapi Wandra hanya sedikit menggerakkan jarinya, dan peluru itu berbalik arah dengan kecepatan yang dilipatgandakan. Peluru itu menembus helm sang penembak dan bersarang di kepalanya. Motor yang ditungganginya oleng ke kiri dan menghantam pohon di pinggir jalan dengan suara benturan yang keras.Beberapa
Wandra berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Kedua gadis itu saling pandang dengan bingung.Di dalam kamarnya, Wandra membuka cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah benda yang sudah sangat lama tidak dia gunakan. Sebuah topeng.Topeng itu terbuat dari bahan yang tidak bisa dikenali oleh siapa pun di dunia modern. Permukaannya halus seperti sutra tapi keras seperti baja. Warnanya berubah-ubah tergantung cahaya yang menimpanya, kadang terlihat putih, kadang keperakan, kadang transparan. Ukiran-ukiran mikroskopis menghiasi setiap bagian permukaannya, aksara-aksara kuno dari peradaban yang sudah punah ribuan tahun yang lalu.Wandra membuatnya sendiri dua ribu tahun yang lalu, saat dia membutuhkan penyamaran untuk memasuki sebuah kerajaan yang melarang orang asing masuk. Topeng ini bukan sekadar menutupi wajah. Topeng ini mengubah segalanya. Wajah, suara, aura kultivasi, bahkan bau tubuh. Siapa pun yang memakainya akan menjadi orang yang sepenuhnya berbed
Di kota Arcandra, Wandra sama sekali tidak menyadari badai yang sedang mengarah kepadanya. Pagi itu dia sedang berjongkok di halaman belakang rumah kosnya, memeriksa pertumbuhan Akar Naga Biru yang baru dia tanam dari gua gurita iblis. Tanaman langka itu mulai menunjukkan tanda-tanda adaptasi dengan tanah barunya, beberapa tunas kecil sudah mulai muncul dari akarnya.Wandra tersenyum puas melihat pertumbuhan itu. Dia baru saja hendak menyiram tanaman berikutnya ketika dia mendengar suara langkah kaki yang familiar dari arah dalam rumah.Pintu belakang terbuka dan Mentira Wongso melangkah keluar ke halaman. Dia mengenakan pakaian yang lebih kasual hari ini, celana jeans dan blus putih, berbeda dari gaun formal yang dia kenakan saat pertama kali datang. Tapi wajahnya tetap cantik dan angkuh."Wandra," Mentira berkata tanpa basa-basi. "Kakekku mengutus aku untuk membicarakan sesuatu yang penting denganmu."Wandra berdiri dari posisi jongkoknya dan membersihkan tangannya. "Silakan bicara.
Beberapa hari berlalu sejak Wandra mendapatkan menara misterius dari gua gurita iblis. Setiap malam setelah selesai berkultivasi, Wandra mengeluarkan menara kecil itu dan mempelajarinya dengan saksama.Dia sudah mencoba meneteskan darahnya ke permukaan menara itu. Biasanya, benda-benda pusaka kultivasi bisa diaktifkan dengan darah pemilik baru, sebuah proses yang disebut pengikatan darah. Tapi menara itu tidak merespons. Darah Wandra hanya mengalir di permukaannya yang halus dan jatuh ke bawah tanpa diserap.Wandra juga sudah mencoba mengalirkan energi kultivasinya ke dalam menara itu. Dari energi yang sangat kecil sampai energi yang sangat besar. Hasilnya tetap sama. Menara itu diam, seolah-olah benda mati biasa yang tidak memiliki fungsi apa pun.Tapi insting Wandra yang sudah terasah selama tujuh ribu tahun berkata lain. Setiap kali dia memegang menara itu, dia merasakan sesuatu yang sangat halus di dalamnya. Seperti jantung yang berdetak sangat pelan, sangat lambat, nyaris tidak t
Kemudian salah satu orang bertopeng tertawa.“Bohong! Tidak mungkin! Yang Agung tidak bisa dibunuh oleh siapa pun! Dia sudah hidup selama ratusan tahun!”“Terlebih lagi oleh bocah sepertimu,” yang lain menambahkan dengan nada mengejek.Pemimpin kelompok melepaskan topengnya, menunjukkan wajah seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun dengan bekas luka di pipi kiri dan mata yang tajam penuh kelicikan. Dia memindai aura kultivasi Wandra dan Ayu.“Alam pemurnian tubuh level satu dan alam kondensasi roh level tiga,” pria itu mendengus. “Kalian ini Cuma anak-anak kecil yang tersesat. Yang Agung mungkin sedang tidur atau pergi berburu, karena itulah kalian bisa masuk dan keluar dari gua tanpa dimakan. Tapi jangan bohong tentang membunuh Yang Agung.”Dia menoleh ke anak buahnya. “Tangkap mereka berdua. Persembahkan mereka juga bersama yang lainnya. Yang Agung pasti akan senang mendapat dua korban tambahan.”Beberapa orang bertopeng mulai bergerak mendekati Wandra dan Ayu. Mereka mengelu
Lila ambruk lemas di samping Wandra, tubuhnya masih kejang pelan, cairan putih kental terus menetes dari celahnya yang sudah sangat membengkak. Kamar kecil itu dipenuhi aroma seks yang pekat dan suara napas empat wanita yang tersengal-sengal.Marni, yang dari tadi hanya menonton sambil sesekali men
Wandra merasakan gelombang tekanannya bahkan dari jarak lima meter—gelombang yang mendorongnya setengah langkah ke depan meski tidak mengenainya langsung.*"Ia yang berbahaya,"* kata Barata. *"Empat yang lain adalah gangguan. Ia yang harus diatasi."*"Aku tahu." Wandra mendarat di balik kerangka be
Lima hari berikutnya, Wandra menjaga dirinya agar tetap di jalur yang paling sederhana yang bisa ia tempuh. Mengantar Joanna pagi. Pulang. Masuk ke Ruang Penakluk Naga—dua kali di hari pertama, sekali di hari-hari berikutnya seperti yang Barata sarankan, dengan jeda yang cukup di antaranya untuk m
Diagram yang sama dengan yang ada di kitab—tapi tidak terbatas pada halaman, tidak terbatas pada skala yang bisa digenggam di tangan. Diagram yang membentang dari satu tepi langit ke tepi yang lain, yang detail-detailnya bisa Wandra lihat dengan jelas meski skalanya sangat besar, yang panahnya dan







