Share

7 Bisikan Manja

Author: Heartwriter
last update publish date: 2026-04-23 17:30:28

Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali."

"Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali mengulum benda besar di depannya ini.

Wandra terus menggeliat-geliat merasakan sensasi dari permainan lidah dan mulut yang dilakukan oleh Caroline saat ini.

Caroline memegang benda perkasa di depannya ini dengan kedua tangannya. Setelah itu, lidahnya menari-nari untuk mengulas dengan seksama kepala rudal di depannya ini.

Apa yang dilakukan Caroline ini, membuat Wandra mendesah makin nyaring. "Ahhhh ... ini enak banget, kak Caroline. Nikmat. Aduhhh. Ahhhh..."

Caroline menenggelamkan batang besar milik Wandra hingga hampir mencapai tenggorokannya. Dia betul-betul menyukai batang besar ini, sekalipun mulutnya harus dibuka sebesar mungkin untuk bisa mengulum benda besar ini, tapi, batang besar ini terasa enak untuk dikulum.

Caroline mulai membayangkan liang keintimannya yang sempit, pasti akan penuh sekali saat kembali diterobos oleh benda besar ini.

"Ahhh ... pasti enak sekali kalau anuku diterobos lagi oleh terong segede ini. Tapi, jangan dulu ah. Aku akan menikmatinya dulu. Anak ini masih polos. Aku akan manfaatkan semaksimal mungkin," batin Caroline sambil mengulum benda perkasa ini.

Setelah itu, Caroline meninggalkan benda besar itu, kemudian dia berdiri dan mendongak ke atas untuk menatap wajah Wandra yang masih menahan kenikmatan.

"Hmmm. Aku baru sadar kalau anak ini tinggi juga. Tingginya mungkin ada 182 cm. Punyanya gede. Idaman banget. Sayang dia bukan CEO seperti mantanku terakhir." batin Caroline.

Setelah itu, Caroline menarik tangan Wandra untuk diajaknya ke kamarnya.

Dia tidak suka berada di kamarnya Wandra ini karena Kamar ini tidak memiliki AC.

"Mau ke mana, Kak?" Tanya Wandra

"Ikut aja!"

"Iya, kak." Pemuda berumur sembilan belas tahun ini terpaksa manut. Dia berjalan mengikuti Caroline.

Ternyata Caroline mengajak Wandra menuju ke kamar tidurnya. Setelah masuk kamar, Caroline langsung menutup pintu, saat sang pemuda masih berdiri kaku.

Setelah itu, gadis berumur 22 tahun ini langsung menjatuhkan diri di atas pembaringan. Dia tidur terlentang menghadap ke arah Wandra yang masih berdiri melotot karena melihat pemandangan indah di depannya ini.

Caroline memegang permukaan liang kewanitaannya dan berkata, "sini. Isep ini."

Mendengar perintah Caroline itu, Wandra langsung menelan ludah. Dia begitu terpesona dengan liang kewanitaan yang tercukur rapi yang berada di depannya ini.

"Kamu suka lihat ini, kan?" tanya Caroline manja. Suaranya terdengar mendesah. Dia betul-betul sudah terbawa gairah setelah melihat dan menghisap rudalnya Wandra tadi.

Wandra mengangguk cepat. Dadanya berdesir. Dia begitu takjub dengan apa yang sementara dia lihat dengan sangat jelas itu.

"Apa kamu pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?" tanya Caroline.

Wandra langsung menggeleng cepat. Karena memang ini adalah pengalaman pertama baginya melihat liang kewanitaan.

"Kamu ingin menyentuhnya?" pancing Caroline.

"Iya, kak."

"Kalau gitu, tunggu apa lagi. Ayo, sini. Sentuh dan lakukan apa aja yang kamu mau."

Ini adalah perintah kedua dari Caroline, perintah yang tidak bisa lagi ditolak Wandra. Karena itu, Wandra segera mengangguk.

Dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun, Wandra mulai naik di atas tempat tidurnya Caroline untuk mendekati tubuh polos Caroline yang sudah berada dalam keadaan sama polosnya.

"Jilatin pahaku. Terus, abis itu, jilatin terus sampai sini," perintah Caroline lagi sambil menunjuk.

Wandra mengangguk. Dia mulai mengeluarkan lidahnya untuk menjilati paha Caroline.

Caroline mulai mendesir saat merasakan ada benda lunak yang berpetualang di sekitar daerah paha. Saat benda basah itu masih juga berada di sana dan tidak juga bergerak ke atas, maka, Caroline berkata, "naik lagi."

Dengan masih agak takut-takut, Wandra meneruskan petualangan lidahnya ke atas hingga lidahnya sudah berada dekat sekali dengan benda menggairahkan nan mempesona yang tercukur rapih sehingga permukaannya terlihat sangat indah di mata Wandra itu.

"Kamu mulai dengan jilatin bagian atas sini. Mengerti?" Caroline menyentuh kekenyalan kecil di bagian atas kemaluannya.

Wandra mengangguk dan mulai mengikuti apa yang diperintahkan oleh Caroline itu.

Sesaat kemudian....

"Aduh ... terusin, sayang. Ini sangat enak. Ehmmm."

Mendengar bisikan manja dari Caroline itu, Wandra semakin bersemangat untuk mengulas kekenyalan yang seksi di hadapannya ini dengan lidahnya.

"Keluarkan lidahmu panjang-panjang terus jilatin ini-ku," perintah Caroline lagi sambil menunjuk ke arah kekenyalan kecilnya.

Wandra mengangguk. Dia mengeluarkan lidahnya dan mulai menjilati kekenyalan yang ditunjuk Caroline tadi.

"Aduh ... enak banget. Ahhhh ... terasa banget. Ini. Ehkkkk. Enakkkk!"

Wandra terus menjilati bagian atas dari empal klimis yang tercukur rapi milik Caroline.

Membuat Caroline semakin terbawa nafsu.

Wandra merasa kejantanannya semakin kencang karena merasakan gairah yang amat sangat saat dia mengulas permukaan liang kewanitaan milik Caroline ini.

"Aduh, Wandra. Ehhh ... terusin Wandra. Terusin. Gitu. Owh... Lidah kamu enak banget, terasa banget di itilku. Aduh. Enak banget, Wandra. Ugh..."

Caroline menarik tangan Wandra untuk dibawanya menuju ke arah buah dadanya.

Sambil terus menjilati kekenyalan yang terlihat sangat nikmat itu Wandra mulai memilin tonjolan berwarna coklat muda di buah dada Caroline.

"Masukin jarimu, sayang. Ugh, masukin jarimu," pinta Caroline.

Wandra menghentikan jilatannya. Dia agak bingung dengan keinginan Caroline ini. Dia menatap ke arah tangannya dia tidak tahu jari mana yang harus dia masukkan.

Caroline membuka matanya. Dia melihat kebingungan pemuda polos di depannya ini. "Masukin jari tengahmu supaya panjang masuk dalam. Ayo cepat."

Caroline langsung membuka lebar-lebar pahanya siap untuk dimasuki oleh jari tangan anak muda ini.

Wandra mengangguk. Kemudian dia menekuk empat jarinya dan hanya membiarkan jari tengahnya saja yang mengacung.

Setelah itu, Wandra mulai memasukkan jari tengahnya di kedalaman liang surga milik Caroline.

Caroline langsung menjerit tertahan saat jari tangan Wandra mulai masuk ke dalam liang sempitnya.

"Oh, enak banget, Wandra. Ini enak banget."

Wandra mulai memasuk-keluarkan jarinya ke dalam lubang surga ini. Dia merasakan rongga-rongga yang di dalam sana. Dia mulai merasa enak dengan apa yang dia lakukan ini.

"Wandra! Oh enak Wandra. Oh. Ugh...."

"Iya, kak. Ini enak banget. Aku juga suka ini, kak."

"Iya, Wandra. Mulai hari ini, kamu boleh menikmati ini. Owh ... enak banget. Nikmat eeee. Kocok terus, Wandra. Kocok terus. Ekh...."

Wandra melakukan apa yang diinginkan oleh Caroline. Pemuda yang baru sekarang melakukan hal ini itu, terus diajarkan oleh Caroline akan cara melakukan tusukan yang baik hingga dia mulai pinter.

Karena itu, beberapa saat kemudian tusukan-tusukan Wandra mulai terasa enak dan menghanyutkan bagi Caroline.

"Aduh, ini enak bangets. Enak banget. Terusin kocok, terus. Lebih cepat lagi."

Caroline semakin blingsatan. Tubuhnya kelojotan dalam kenikmatan yang amat sangat. Dia terus ceracau tidak karuan.

Gerak tubuh Caroline ini semakin membuat Wandra lebih bersemangat untuk mempercepat gerakan tangannya.

Tangan Wandra masuk keluar di dalam liang surga Caroline, memberikan rasa yang tidak terkatakan bagi Caroline, sehingga Caroline semakin berteriak dalam nikmat.

Akhirnya Caroline berteriak panjang karena dia telah berhasil mencapai puncak kenikmatan kedua yang dia cari sejak tadi.

Tusukan Wandra membuat Caroline mencapai puncaknya yang kedua.

Sementara Wandra kebingungan saat dia merasakan ada cairan yang membanjiri di jari tengahnya.

Caroline meminta Wandra ke atas. Ke buah dadanya.

Kini Wandra mulai memilin tonjolan yang terlihat besar menggoda itu di buah dada montok nan menggairahkan yang membuat Wandra tidak tahan lagi untuk menghisap tonjolan di bagian kiri.

"Oh, begitu, Wandra. Isep, sayang. Oh ... aku sudah kepingin deh." Caroline semakin terbawa rasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   355 Jadi Saksi Mata

    Rafika, yang sudah kembali ke posisi "sedang duduk kesakitan" seperti para korban lainnya, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.Namun Wandra langsung bertindak. Dia, berkata, "Saya melihatnya!" Wandra berkata dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Ada seorang pria berjenggot lebat, bertubuh besar, dan berambut putih! Dia masuk entah dari mana dan langsung menyerang semua perampok itu dengan kecepatan yang luar biasa! Setelah selesai membunuh mereka, dia langsung pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun!"Orang-orang mulai berbisik-bisik dengan takjub, beberapa mengangguk mempercayai cerita itu meskipun mereka sendiri tidak melihat apa pun karena tertidur oleh bubuk yang disebar oleh Rafika."Kita harus mengambil kembali harta benda kita!" seseorang berteriak, mengingatkan semua orang tentang barang-barang berharga yang tadi dirampas.Kekacauan yang teratur pun terjadi. Setiap orang mulai mencari dan mengambil kembali harta benda mere

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   354 Bertemu Perampok

    Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota menuju bank utama yang terletak tidak jauh dari pasar. Sepanjang perjalanan, Wandra sengaja mengajak Rafika bercakap-cakap tentang hal-hal ringan, kehidupan sehari-hari di pasar, harga-harga sayuran, cuaca. Dia memperhatikan bahwa meskipun Rafika berbicara dengan gaya seorang wanita paruh baya biasa, ada kecerdasan dan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap kata-katanya, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan atau akting sebaik apa pun.Bank yang mereka tuju adalah sebuah bangunan yang cukup besar, dengan pilar-pilar batu di depannya dan interior yang ramai dengan antrian orang-orang yang juga ingin menyimpan uang mereka sebelum libur panjang.Wandra dan Rafika duduk berdampingan di bangku antrian, menunggu giliran mereka dipanggil. Wandra memperhatikan sekelilingnya dengan roh primordialnya yang menyebar diam-diam, sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging setelah tujuh ribu tahun hidup penuh kewaspadaan

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   353 Terkenang Masa Lalu

    'Dia mulai bersimpati,' batin Wandra di tengah-tengah "penderitaannya" yang sebenarnya sama sekali tidak dia rasakan secara fisik. 'Bagus.'Setelah hampir dua jam, Panjul dan anak buahnya akhirnya lelah sendiri dan meninggalkan Wandra yang terbaring di tanah dengan pakaian yang sudah kotor dan robek di beberapa tempat, meskipun tidak ada luka fisik sungguhan yang tertinggal di tubuhnya yang sebenarnya kebal terhadap segala serangan.Bang Ganjar mendekati Wandra yang masih terbaring, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah yang bercampur dengan kepuasan. "Yah, sudahlah. Ini uang untuk berobat," dia berkata sambil melemparkan beberapa keping perak yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang seharusnya diperlukan untuk pengobatan yang layak. "Cari tabib saja."Wandra bangkit dengan susah payah, memegangi tubuhnya seolah kesakitan. "Di mana saya bisa menemukan tabib, Pak?""Tabib biasa di sini sedang pergi ke luar kota," seorang warga yang menyaksikan kejadian itu menjawab dengan simpa

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   352 Aku Menemukanmu

    Aura kultivasinya sama sekali tidak terdeteksi. Bukan karena tersembunyi dengan teknik penyamaran kultivasi biasa, tapi karena benar-benar tidak ada aura kultivasi yang keluar sama sekali. Seperti seorang wanita biasa yang tidak memiliki kekuatan apa pun.Tapi Wandra tahu lebih baik dari itu. Delapan ratus tahun yang lalu, dia pernah merasakan hal yang sama. Mayang Terurai memiliki kemampuan untuk menyembunyikan seluruh auranya dengan sempurna, sebuah kemampuan langka yang bahkan Wandra sendiri tidak sepenuhnya pahami mekanismenya meskipun sudah hidup tujuh ribu tahun.'Aku menemukanmu,' batin Wandra sambil memandang rumah sederhana itu. 'Setelah delapan ratus tahun.'Wandra memutuskan untuk tidak langsung mendekat malam itu. Dia perlu waktu untuk merencanakan pendekatannya dengan hati-hati. Terlalu banyak kesempatan sebelumnya yang gagal karena dia terlalu terburu-buru, membuat Mayang curiga sebelum Wandra sempat membangun kepercayaan.Kali ini, dia akan melakukannya dengan sabar.Ke

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   351 Menemukan Wanita yang Dicarinya

    "Aku baru saja hendak melaporkan hal ini kepada pemimpin Istana Pualam Putih," Dixon melanjutkan. "Tapi saat itu, pemimpin sedang menerima seorang tamu penting, jadi aku memutuskan untuk menundanya sampai besok pagi. Kemudian aku mendapatkan pesan dari perantaraku bahwa ada beberapa orang yang ingin bertemu denganku untuk meminta ramalan. Aku memutuskan untuk pergi ke restoran, berpura-pura sebagai perantara biasa, dan mengarahkan mereka menuju selatan kota untuk bertemu dengan seorang perantara palsu di sana, sementara aku sendiri pulang ke rumah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan pemimpin Istana Pualam Putih besok pagi."Dixon memandang Wandra dengan mata yang penuh penyesalan sekarang. "Tapi kedatanganmu membuat semua rencanaku kacau."Wandra menatap Dixon dengan tajam. "Apakah ini semua yang ada di pikiranmu? Tidak ada lagi yang kau sembunyikan?""Aku sudah mengatakan semuanya," Dixon berkata dengan cepat, terlalu cepat.Wandra bisa merasakan sedikit

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   350 Dixon Memberitahu Semuanya

    Wandra memandang Dixon dengan ekspresi yang tetap tenang, meskipun tuduhan tentang kematian Yang Dipertuan Agung baru saja dilontarkan kepadanya."Aku tidak mau masalah," Wandra berkata dengan suara yang datar. "Aku cuma ingin tahu tentang Mayang Terurai. Apa yang kau ketahui tentangnya?"Wandra menatap lurus ke mata Dixon. "Dan aku ingatkan, jangan sampai kau membawa masalah bagi Mayang Terurai. Aku tidak akan senang kalau itu terjadi."Kata-kata terakhir Wandra, meskipun diucapkan dengan nada yang sama tenangnya, mengandung sebuah peringatan yang tidak bisa disalahartikan. Wajah Dixon yang tadi sudah waspada kini berubah menjadi merah padam oleh kemarahan yang campur dengan sesuatu yang lain, mungkin rasa terhina karena diperingatkan oleh seseorang yang dia anggap jauh di bawah levelnya."Kau berani mengancamku di rumahku sendiri?" Dixon mendesis.Tanpa memberikan peringatan lebih lanjut, Dixon melangkah mundur dan menekan sebuah tombol tersembunyi yang terpasang di dinding di belak

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   2 Pusaka Keluarga

    "Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   1 Barang Peninggalan Kakek

    Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   6 Efek Samping Liontin

    Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   5 Tinggal bersama Dokter Cantik

    Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status