Home / Urban / Kalung Ajaib Pemuda Desa / 6 Efek Samping Liontin

Share

6 Efek Samping Liontin

Author: Heartwriter
last update publish date: 2026-04-23 17:29:28

Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.

Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak biasa. Benda ini telah menyelamatkan nyawanya.

Ia menggenggam liontin itu dengan kedua tangannya, mencoba merasakan sesuatu. Tidak ada yang terjadi selama beberapa saat. Lalu, perlahan, ia merasakan kehangatan yang sama seperti tadi.

Tiba-tiba, cahaya lembut memancar dari liontin. Bukan cahaya terang, tapi cahaya redup berwarna keemasan yang berdenyut-denyut seperti detak jantung.

Dari liontin itu, keluar asap tipis. Asap itu tidak berbau tak sedap seperti asap biasa, malah beraroma harum—seperti campuran bunga mawar, melati, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa ia identifikasi. Aroma itu memenuhi ruangan, meresap ke dalam paru-parunya.

Wandra merasakan perubahan dalam dirinya. Tubuhnya terasa hangat, jantungnya berdegup lebih cepat. Ada sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya—seperti gairah yang membakar, perasaan yang sangat intens yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia mendengar ketukan di pintu. "Wandra? Kamu baik-baik saja?" suara Caroline terdengar dari luar.

"I-iya, baik," jawab Wandra, suaranya sedikit serak.

Pintu terbuka, dan Caroline masuk. Ia sudah berganti pakaian tidur—piyama sutra tipis yang melekat di tubuhnya. Tapi begitu ia melangkah masuk, asap dari liontin menyentuhnya juga.

Caroline berhenti, matanya membesar. Ia merasakan hal yang sama—aroma yang memabukkan, sensasi hangat yang menjalar di tubuhnya, dan sesuatu yang lebih dalam... hasrat yang tiba-tiba membakar.

"Apa... apa ini?" tanyanya dengan napas terengah-engah.

Wandra menatap Caroline, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar melihatnya—bukan sebagai orang yang ditolongnya, tapi sebagai seorang wanita yang sangat menarik. Mata Caroline yang tajam kini tampak lembut dan penuh gairah. Bibirnya yang tipis kini tampak begitu mengundang.

Caroline juga merasakan hal yang sama. Ia melihat Wandra dengan cara yang berbeda—pemuda desa yang tadi sore menyelamatkan nyawanya kini tampak begitu menawan. Ototnya yang kencang dari bekerja keras, wajahnya yang jujur namun tampan dengan caranya sendiri, dan mata cokelatnya yang dalam.

Mereka saling menatap, napas keduanya memburu. Asap dari liontin terus mengepul, mengisi ruangan dengan aroma yang semakin kental.

Tanpa sadar, mereka saling mendekat. Jarak di antara mereka menyusut, ditarik oleh sesuatu yang lebih kuat dari logika—hasrat yang dibakar oleh kekuatan liontin.

Caroline menyentuh dada Wandra, merasakan detak jantungnya yang kencang. "Ini... ini gila," bisiknya. "Tapi aku tidak bisa... menahan diri..."

Wandra menggenggam tangan Caroline yang menyentuh dadanya. "Saya juga merasakannya," ujarnya dengan suara rendah dan penuh gairah.

Mereka berdiri sangat dekat, napas mereka bercampur, mata mereka saling terkunci dalam tatapan yang penuh hasrat. Liontin di dada Wandra terus memancarkan cahaya redup dan asap beraroma itu, seolah mengatur irama perasaan mereka.

Setelah itu, mereka saling serang. Saling cumbu, saling remas dengan gairah yang menggebu-gebu di dada mereka.

Mereka tidak memikirkan hal lain. Pada saat ini, satu-satunya yang mereka pikirkan adalah saling menyerang, saling cium, saling remas, saling jilat dengan sepenuhnya membiarkan hasrat mereka keluar tak terkendali.

Caroline mulai merobek-robek baju yang dikenakan Wandra.

Wandra juga melakukan hal yang sama.

Dengan kasar, Wandra menarik bra yang dipakai Caroline hingga terlepas dan dengan rakusnya, dia menghisap puting buah dadanya Caroline, seperti orang kehausan.

Caroline meremas rambut Wandra sambil melenguh, karena dia semakin terjebak dalam gairah yang membara yang membuat inti tubuhnya mulai berdenyut-denyut, siap untuk dimasuki barang lelaki.

Untuk beberapa detik, Caroline biarkan lidah dan mulut Wandra bermain-main di buah dadanya.

Permainan lidah itu semakin menghanyutkan. Caroline ingin lebih.

Dia dorong tubuh Wandra ke atas pembaringan. Kemudian, dengan bernafsu, Caroline yang sama seperti Wandra, sedang dikuasai oleh asap dari liontin wasiat itu, mulai membuka celana jeans yang dikenakan Wandra.

Sesaat kemudian, Caroline tersentak kaget saat melihat benda besar dari balik celana dalam yang baru disingkapnya ini.

Ada benda sangat besar. Yang tidak pernah dia bayangkan. Benda yang jauh lebih besar dari milik suaminya yang telah menceraikannya karena dia tidak memiliki anak.

Wandra melihat batang miliknya. Dan dia juga kaget. Setahu dia, batang miliknya itu tidak sebesar ini.

Dan dia tidak perlu lama dalam keadaan bingung karena ada suara di telinganya yang berkata kalau membesarnya batangnya itu, berhubungan dengan kesaktian liontin wasiat di lehernya.

Sementara itu, bukannya takut melihat betapa besarnya barang milik Wandra, maka, Caroline malah lebih semangat untuk test drive batang perkasa itu.

Dia segera membuka semua pakaian yang tersisa hingga polos tanpa sehelai benang pun, kemudian dia mulai menaiki tubuh Wandra.

Saat batang itu hendak masuk di Liang keintimannya yang sempit, dia sempat merasa perih hingga dia menggigit bibirnya, tapi beberapa saat kemudian, dia mulai merasa nyaman.

"Ahhhhh.... Ini... Ini mentok banget. Enakkkk."

Caroline merasa fit. Merasa benda besar itu sangat pas dengan ukuran liang kewanitaannya, sehingga setiap gerakannya, mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa.

Gesekan yang terjadi merasuk hingga ke jiwa. Dia merasakan pengalaman baru yang luar biasa, yang tidak pernah dia alami sebelumnya dengan mantan suaminya.

Wandra sendiri adalah seorang perjaka yang sebelumnya tidak pernah berhubungan intim. Saat ini, dia cuma mengikuti nalurinya, yang terbawa oleh pengaruh asap dari liontin wasiat.

Yang jelas, Wandra merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Caroline bergoyang dengan semangat di atas tubuhnya, membuat batang kebanggaannya merasakan gesekan yang teramat nikmat di selangkangannya Caroline.

"Ugh... Enak." Wandra menyesal karena baru sekarang bisa merasakan ini.

Caroline mengangkat pantatnya, kemudian menurunkan pantatnya dalam gerakan erotis karena dia terbawa nafsu yang bergelora di jiwanya.

Caroline melakukan gerakan yang sama dan berulang-ulang, tapi semuanya terasa nikmat bagi keduanya.

Caroline menemukan batang yang sangat tepat untuk membuat inti tubuhnya merasa dipilin-pilin oleh kenikmatan penuh di setiap gerakan yang dilakukannya.

Caroline betul-betul ketagihan akan batang besar yang betul-betul mendatangkan ketegangan dan kenikmatan di setiap gesekan yang terjadi.

Caroline jadi semakin semangat untuk bergerak. Menaikkan dan menurunkan tubuhnya dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat, demi bisa meraih kenikmatan yang semakin dashyat.

"Ohhhh. Ahhhhh... Wandra. Arghhhh! Ini luar biasa, Wandra!" Caroline menjerit-jerit. Dia tahu akan segera mencapai puncak pertamanya. Dan ini adalah yang terbaik yang pernah dia rasakan.

Wandra binggung dengan teriakan dan ekspresi Caroline. "Apa kamu tidak apa-apa?"

"ARRRGHHHH... WANDRA. OHHHH. SHITTTT!!! WANDRA!!!"

Wandra bingung. Dia cuma diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Caroline turun dari tubuh Wandra. Nafasnya terengah-engah tapi puas.

Tapi, dia agak tidak puas karena kamar ini sangat panas karena tidak memiliki AC.

Wandra menunggu. Saat ini, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya.

Setelah beberapa saat, Caroline duduk dan memperhatikan batangnya Nathan. "Astaga."

"Kenapa, kak?" tanya Wandra heran.

"Pantesan enak banget. Ternyata punyamu gede banget, Wandra."

Wandra cuma terdiam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

"Kita main lagi dari awal, ya?" kata Caroline.

"Iya, kak. Terserah kakak." Wandra pasrah.

Caroline mengajak Wandra berdiri di dekat dinding.

Caroline mulai mengulas dada pria muda bernama Wandra di depannya ini. Lidahnya dia julurkan sepanjang mungkin, kemudian lidahnya mulai menyusuri perut pria muda yang mulai menelan salivanya itu.

Caroline mulai memperhatikan batang perkasa milik Wandra yang terlihat gagah dengan ukurannya itu.

Bagi Wandra, seumur-umur, baru sekarang inilah, kejantanannya ditonton orang. Apalagi yang menatapnya adalah seorang gadis cantik nan seksi.

Caroline memperhatikan milik Wandra dan dia kembali berdecak kagum. "Astaga!"

"Kenapa, kak? Apa ada yang salah?"

"Ini salah banget, sih."

"Salahnya dimana?" Wandra semakin salah tingkah. Dia berusaha untuk berjongkok untuk menyembunyikan pusakanya.

"Salahnya itu, kenapa baru sekarang aku bisa melihat kejantanan sebesar ini? Ini wow banget. Luar biasa!"

"Apa itu bagus?" tanya Wandra polos.

"Tentu saja bagus. Idaman wanita loh yang model terong kek gini."

"Benarkah?"

"Ya iyalah. Makanya berdiri lagi. Aku mau isep anumu yang gede itu."

"Diisep?"

"Iya. Kamu pasti mau kenikmatan lebih. Iya kan?"

"Iya."

"Nah. Makanya. Ayo aku isep. Kamu berdiri dan nyandar di sana."

Dengan penuh rasa ingin tahu. Wandra mulai berdiri. Dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping wastafel seperti keinginan Caroline.

Caroline jalan berjongkok untuk mendekati Wandra. Dia menatap penuh minat ke arah benda besar teracung yang sangat menggoda itu.

Caroline masih berada dalam pengaruh asap yang keluar dari liontin wasiat itu,  karena itu dia ingin meraih kenikmatan sebanyak-banyaknya. Setelah sebelumnya dia merasakan gesekan dari benda besar milik Wandra itu di inti tubuhnya, maka sekarang dia ingin menikmati benda besar itu di dalam mulutnya.

"Wih. Betul-betul besar. Punya mantanku semuanya lewat sama ini. Ckckck." Sehabis itu, Caroline mulai mengulum benda besar yang sudah membuatnya bergairah itu.

"Ahhhh ..." Wandra merasakan sesuatu saat mulut kecil Caroline mengulum rudal besarnya ini.

Wandra adalah seorang anak muda yang memang masih polos. Karena keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan maka Wandra tidak pernah bergaul yang macam-macam di luaran.

Apalagi dia tinggal di desa dimana jarang ada rekan sebaya yang jadi lawan jenisnya di kampungnya yang dipenuhi penduduk yang sudah menua.

Setiap kali jam pelajaran usai, dia langsung pulang ke rumahnya dan itu berlanjut hingga SMP dan SMA.

Wandra tidak pernah bergaul dengan teman-teman sebayanya karena dia harus membantu orang tuanya untuk berjualan di warung dan juga membuat makanan untuk dijual.

Wandra berhasil lulus SMA dengan nilai yang bagus. Sayangnya karena keterbatasan biaya, juga karena warung orang tuanya semakin susah mendapatkan keuntungan  maka Wandra tidak bisa melanjutkan pendidikannya di jenjang kuliah.

Datang ke kota ini, adalah kesempatannya untuk mengenyam bangku kuliah.

Caroline mulai menjilati kepala rudal Wandra dengan penuh hasrat.

"Aduh, enak sekali, kak. Ini enak sekali."

Lidah Caroline menari-nari mengulas sekujur batang hingga kepala yang dirangkai dengan menghisap pusaka milik Wandra itu dengan penuh perasaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   381 Pertanyaan Wandra

    Mbah Sidi tidak langsung menjawab. Ia menatap Mayang dengan tatapan yang aneh, seperti sedang memilih kata-kata yang paling tepat."Kau tidak akan menemukan jawaban itu dengan mendengarkannya," Mbah Sidi berkata. "Ingatanmu harus kau temukan sendiri. Tapi yang jelas, dulu, saat kau masih kecil, kau diserang oleh musuh. Musuh yang sangat kuat. Kau nyaris terbunuh saat itu."Mayang merasakan lututnya lemas. Wandra meraih lengannya, menopangnya."Musuh itu," Mbah Sidi melanjutkan, "berusaha membunuhmu. Saat itu kau sedang sendirian di hutan. Kau panik. Kau lari. Dan dalam pelarianmu, kau tersandung dan jatuh ke sebuah lembah yang dipenuhi oleh jamur Adlora."Mayang menggenggam lengan Wandra dengan erat."Tanpa sengaja, kau memakan jamur itu," Mbah Sidi berkata. "Mungkin karena lapar. Mungkin karena panik. Tapi apapun alasannya, jamur itu menyelamatkan hidupmu. Energi yang terkandung di dalamnya meledak keluar dari tubuhmu, menciptakan ledakan yang melukai musuhmu dan memaksanya untuk kab

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   380 Jawaban dari Cermin

    Wandra menutup pintu kamar dengan pelan, memastikan tidak ada yang menguping dari luar. Di dalam kamar, Mayang sudah duduk bersila di atas ranjang, sementara cermin kuno itu diletakkan di atas meja kecil di hadapannya. Cahaya redup dari permukaan cermin berkelip-kelip seperti lilin yang nyaris padam.Wandra duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap cermin itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia sudah memikirkan pertanyaan ini sejak tadi, sejak Mbah Sidi menunjukkan pengetahuannya tentang tripang dewa dengan akurasi yang mencengangkan."Ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan," Wandra berkata akhirnya.Mbah Sidi muncul perlahan di permukaan cermin, tubuhnya yang keriput dan kecil tampak berbaring santai seperti orang yang baru saja tidur nyenyak. "Pertanyaan apa lagi, anak muda? Semoga bukan pertanyaan yang membosankan."Wandra menatapnya lekat-lekat. "Kapan dunia akan kiamat?"Mbah Sidi terdiam. Mayang ikut terdiam, menoleh ke arah Wandra dengan ekspresi terkejut."Kau seri

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   379 Cermin Pengetahuan

    Wandra juga mengangguk, meskipun ekspresinya dingin. "Aku tidak akan membocorkannya."Mbah Sidi tersenyum, lalu sosoknya perlahan memudar dari permukaan cermin, meninggalkan pantulan samar wajah Wandra dan Mayang yang berdiri di depannya.Mayang merapikan pakaiannya, mengenakan jubah longgar dan cadar tipisnya, lalu menoleh ke Wandra. "Ayo."Wandra menghela napas. "Baik. Tapi biar aku yang bicara dengan Jack Sparrow."Mereka berdua keluar dari kamar dan menaiki tangga menuju geladak atas. Malam itu cukup terang, bulan nyaris purnama menggantung di langit tanpa awan, membuat permukaan laut terlihat seperti hamparan perak yang bergerak perlahan.Jack Sparrow berdiri di kemudi seperti biasa, mata setengah terpejam, mulut menggumamkan lagu pelaut yang tidak jelas nadanya. Ketika Wandra dan Mayang mendekat, ia membuka satu matanya."Ada apa, pasangan muda? Tidak bisa tidur?"Wandra berdiri di samping kemudi. "Kami perlu mengubah arah sedikit ke timur laut. Sekitar sembilan belas kilometer

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   378 Pria Tua dalam Cermin

    Mereka tidak kembali ke ranjang.Wandra menarik Mayang dari kasur, masih basah, masih menyatu dalam hasrat yang belum padam. Ia menekan wanita itu ke dinding dekat meja kecil, tepat di depan cermin kuno pemberian Viona yang tergeletak diam. Dalam posisi berdiri saling berhadapan, Wandra mengangkat salah satu kaki Mayang ke pinggangnya, lalu masuk kembali dengan satu dorongan dalam.Mayang mengerang di lehernya. Wandra menghantam ke atas, cepat dan lapar. Dada mereka saling bergesekan. Ciuman mereka basah. Gairah yang sempat sempat mereda meledak lagi di depan permukaan cermin yang buram itu.“Wandra… di sini… ahh…”Wandra tidak menjawab. Ia hanya menekan Mayang lebih rapat ke dinding, menghentak lebih dalam, napasnya panas di telinga wanita itu. Mayang membalas dengan menggerakkan pinggulnya ke bawah setiap kali Wandra mendorong ke atas. Suara tubuh mereka yang basah memenuhi kamar kapal yang bergoyang.Tengah asyik seperti itu, tiba-tiba keduanya kaget.Sebuah desahan terdengar.Buka

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   377 Gairah Naik

    Setelah Viona dan Baskoro pergi, kamar itu kembali sunyi. Wandra masih memegang cermin kuno itu beberapa saat, memandang permukaannya yang buram. Tidak ada getaran energi. Tidak ada petunjuk. Ia tidak tahu cara mengaktifkannya, sama seperti yang dikatakan Mayang.Akhirnya Wandra meletakkan cermin itu di meja kecil dekat tempat tidur, di samping lampu minyak yang sudah hampir padam. “Nanti saja,” gumamnya pelan. “Kalau waktunya tiba, rahasianya akan terbuka sendiri.”Ia menoleh ke ranjang.Mayang sudah terlelap. Cahaya redup dari jendela kecil kapal menerangi tubuhnya yang hanya diselimuti kain tipis. Napasnya teratur. Rambutnya tergerai di bantal. Kain itu sedikit tersingkap di dada, memperlihatkan lekuk payudara Mayang yang montok dan penuh, kulitnya tampak lembut di bawah cahaya malam.Wandra berdiri di tepi ranjang cukup lama. Gairah yang sempat tertahan selama percakapan tadi naik lagi dengan cepat. Ia duduk perlahan di sisi Mayang, berhati-hati agar tidak langsung membangunkannya

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   376 Pemberian Viona

    Malam itu, setelah keramaian akibat kekalahan Sekte Naga Laut mulai mereda dan sebagian besar penumpang kembali ke aktivitas normal mereka, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamar Wandra dan Mayang.Wandra membuka pintu dan menemukan Viona berdiri di sana bersama pelayan tuanya, wajah keduanya menunjukkan campuran antara rasa syukur dan keseriusan."Boleh kami masuk sebentar?" Viona bertanya dengan suara yang sopan. "Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, dan sesuatu yang ingin aku berikan sebagai tanda terima kasih."Wandra mempersilakan mereka masuk. Mayang, yang sedang duduk di dekat jendela kecil kamar mereka, mengangguk ramah kepada kedua tamu itu.Setelah duduk dengan canggung di kursi kayu sederhana yang tersedia, Viona menarik napas panjang sebelum mulai bercerita."Aku belum sepenuhnya jujur tentang siapa aku sebenarnya," Viona memulai, matanya menerawang jauh seolah mengingat kenangan yang sangat menyakitkan. "Namaku Viona Montenegra. Aku adalah keturunan dari Klan Mont

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   3 Menolong Dokter Wanita

    Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   7 Bisikan Manja

    Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   5 Tinggal bersama Dokter Cantik

    Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   4 Diajak Tinggal Bersama

    Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status