MasukMalam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.
Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak biasa. Benda ini telah menyelamatkan nyawanya.
Ia menggenggam liontin itu dengan kedua tangannya, mencoba merasakan sesuatu. Tidak ada yang terjadi selama beberapa saat. Lalu, perlahan, ia merasakan kehangatan yang sama seperti tadi.
Tiba-tiba, cahaya lembut memancar dari liontin. Bukan cahaya terang, tapi cahaya redup berwarna keemasan yang berdenyut-denyut seperti detak jantung.
Dari liontin itu, keluar asap tipis. Asap itu tidak berbau tak sedap seperti asap biasa, malah beraroma harum—seperti campuran bunga mawar, melati, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa ia identifikasi. Aroma itu memenuhi ruangan, meresap ke dalam paru-parunya.
Wandra merasakan perubahan dalam dirinya. Tubuhnya terasa hangat, jantungnya berdegup lebih cepat. Ada sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya—seperti gairah yang membakar, perasaan yang sangat intens yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia mendengar ketukan di pintu. "Wandra? Kamu baik-baik saja?" suara Caroline terdengar dari luar.
"I-iya, baik," jawab Wandra, suaranya sedikit serak.
Pintu terbuka, dan Caroline masuk. Ia sudah berganti pakaian tidur—piyama sutra tipis yang melekat di tubuhnya. Tapi begitu ia melangkah masuk, asap dari liontin menyentuhnya juga.
Caroline berhenti, matanya membesar. Ia merasakan hal yang sama—aroma yang memabukkan, sensasi hangat yang menjalar di tubuhnya, dan sesuatu yang lebih dalam... hasrat yang tiba-tiba membakar.
"Apa... apa ini?" tanyanya dengan napas terengah-engah.
Wandra menatap Caroline, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar melihatnya—bukan sebagai orang yang ditolongnya, tapi sebagai seorang wanita yang sangat menarik. Mata Caroline yang tajam kini tampak lembut dan penuh gairah. Bibirnya yang tipis kini tampak begitu mengundang.
Caroline juga merasakan hal yang sama. Ia melihat Wandra dengan cara yang berbeda—pemuda desa yang tadi sore menyelamatkan nyawanya kini tampak begitu menawan. Ototnya yang kencang dari bekerja keras, wajahnya yang jujur namun tampan dengan caranya sendiri, dan mata cokelatnya yang dalam.
Mereka saling menatap, napas keduanya memburu. Asap dari liontin terus mengepul, mengisi ruangan dengan aroma yang semakin kental.
Tanpa sadar, mereka saling mendekat. Jarak di antara mereka menyusut, ditarik oleh sesuatu yang lebih kuat dari logika—hasrat yang dibakar oleh kekuatan liontin.
Caroline menyentuh dada Wandra, merasakan detak jantungnya yang kencang. "Ini... ini gila," bisiknya. "Tapi aku tidak bisa... menahan diri..."
Wandra menggenggam tangan Caroline yang menyentuh dadanya. "Saya juga merasakannya," ujarnya dengan suara rendah dan penuh gairah.
Mereka berdiri sangat dekat, napas mereka bercampur, mata mereka saling terkunci dalam tatapan yang penuh hasrat. Liontin di dada Wandra terus memancarkan cahaya redup dan asap beraroma itu, seolah mengatur irama perasaan mereka.
Setelah itu, mereka saling serang. Saling cumbu, saling remas dengan gairah yang menggebu-gebu di dada mereka.
Mereka tidak memikirkan hal lain. Pada saat ini, satu-satunya yang mereka pikirkan adalah saling menyerang, saling cium, saling remas, saling jilat dengan sepenuhnya membiarkan hasrat mereka keluar tak terkendali.
Caroline mulai merobek-robek baju yang dikenakan Wandra.
Wandra juga melakukan hal yang sama.
Dengan kasar, Wandra menarik bra yang dipakai Caroline hingga terlepas dan dengan rakusnya, dia menghisap puting buah dadanya Caroline, seperti orang kehausan.
Caroline meremas rambut Wandra sambil melenguh, karena dia semakin terjebak dalam gairah yang membara yang membuat inti tubuhnya mulai berdenyut-denyut, siap untuk dimasuki barang lelaki.
Untuk beberapa detik, Caroline biarkan lidah dan mulut Wandra bermain-main di buah dadanya.
Permainan lidah itu semakin menghanyutkan. Caroline ingin lebih.
Dia dorong tubuh Wandra ke atas pembaringan. Kemudian, dengan bernafsu, Caroline yang sama seperti Wandra, sedang dikuasai oleh asap dari liontin wasiat itu, mulai membuka celana jeans yang dikenakan Wandra.
Sesaat kemudian, Caroline tersentak kaget saat melihat benda besar dari balik celana dalam yang baru disingkapnya ini.
Ada benda sangat besar. Yang tidak pernah dia bayangkan. Benda yang jauh lebih besar dari milik suaminya yang telah menceraikannya karena dia tidak memiliki anak.
Wandra melihat batang miliknya. Dan dia juga kaget. Setahu dia, batang miliknya itu tidak sebesar ini.
Dan dia tidak perlu lama dalam keadaan bingung karena ada suara di telinganya yang berkata kalau membesarnya batangnya itu, berhubungan dengan kesaktian liontin wasiat di lehernya.
Sementara itu, bukannya takut melihat betapa besarnya barang milik Wandra, maka, Caroline malah lebih semangat untuk test drive batang perkasa itu.
Dia segera membuka semua pakaian yang tersisa hingga polos tanpa sehelai benang pun, kemudian dia mulai menaiki tubuh Wandra.
Saat batang itu hendak masuk di Liang keintimannya yang sempit, dia sempat merasa perih hingga dia menggigit bibirnya, tapi beberapa saat kemudian, dia mulai merasa nyaman.
"Ahhhhh.... Ini... Ini mentok banget. Enakkkk."
Caroline merasa fit. Merasa benda besar itu sangat pas dengan ukuran liang kewanitaannya, sehingga setiap gerakannya, mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa.
Gesekan yang terjadi merasuk hingga ke jiwa. Dia merasakan pengalaman baru yang luar biasa, yang tidak pernah dia alami sebelumnya dengan mantan suaminya.
Wandra sendiri adalah seorang perjaka yang sebelumnya tidak pernah berhubungan intim. Saat ini, dia cuma mengikuti nalurinya, yang terbawa oleh pengaruh asap dari liontin wasiat.
Yang jelas, Wandra merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Caroline bergoyang dengan semangat di atas tubuhnya, membuat batang kebanggaannya merasakan gesekan yang teramat nikmat di selangkangannya Caroline.
"Ugh... Enak." Wandra menyesal karena baru sekarang bisa merasakan ini.
Caroline mengangkat pantatnya, kemudian menurunkan pantatnya dalam gerakan erotis karena dia terbawa nafsu yang bergelora di jiwanya.
Caroline melakukan gerakan yang sama dan berulang-ulang, tapi semuanya terasa nikmat bagi keduanya.
Caroline menemukan batang yang sangat tepat untuk membuat inti tubuhnya merasa dipilin-pilin oleh kenikmatan penuh di setiap gerakan yang dilakukannya.
Caroline betul-betul ketagihan akan batang besar yang betul-betul mendatangkan ketegangan dan kenikmatan di setiap gesekan yang terjadi.
Caroline jadi semakin semangat untuk bergerak. Menaikkan dan menurunkan tubuhnya dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat, demi bisa meraih kenikmatan yang semakin dashyat.
"Ohhhh. Ahhhhh... Wandra. Arghhhh! Ini luar biasa, Wandra!" Caroline menjerit-jerit. Dia tahu akan segera mencapai puncak pertamanya. Dan ini adalah yang terbaik yang pernah dia rasakan.
Wandra binggung dengan teriakan dan ekspresi Caroline. "Apa kamu tidak apa-apa?"
"ARRRGHHHH... WANDRA. OHHHH. SHITTTT!!! WANDRA!!!"
Wandra bingung. Dia cuma diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Caroline turun dari tubuh Wandra. Nafasnya terengah-engah tapi puas.
Tapi, dia agak tidak puas karena kamar ini sangat panas karena tidak memiliki AC.
Wandra menunggu. Saat ini, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
Setelah beberapa saat, Caroline duduk dan memperhatikan batangnya Nathan. "Astaga."
"Kenapa, kak?" tanya Wandra heran.
"Pantesan enak banget. Ternyata punyamu gede banget, Wandra."
Wandra cuma terdiam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Kita main lagi dari awal, ya?" kata Caroline.
"Iya, kak. Terserah kakak." Wandra pasrah.
Caroline mengajak Wandra berdiri di dekat dinding.
Caroline mulai mengulas dada pria muda bernama Wandra di depannya ini. Lidahnya dia julurkan sepanjang mungkin, kemudian lidahnya mulai menyusuri perut pria muda yang mulai menelan salivanya itu.
Caroline mulai memperhatikan batang perkasa milik Wandra yang terlihat gagah dengan ukurannya itu.
Bagi Wandra, seumur-umur, baru sekarang inilah, kejantanannya ditonton orang. Apalagi yang menatapnya adalah seorang gadis cantik nan seksi.
Caroline memperhatikan milik Wandra dan dia kembali berdecak kagum. "Astaga!"
"Kenapa, kak? Apa ada yang salah?"
"Ini salah banget, sih."
"Salahnya dimana?" Wandra semakin salah tingkah. Dia berusaha untuk berjongkok untuk menyembunyikan pusakanya.
"Salahnya itu, kenapa baru sekarang aku bisa melihat kejantanan sebesar ini? Ini wow banget. Luar biasa!"
"Apa itu bagus?" tanya Wandra polos.
"Tentu saja bagus. Idaman wanita loh yang model terong kek gini."
"Benarkah?"
"Ya iyalah. Makanya berdiri lagi. Aku mau isep anumu yang gede itu."
"Diisep?"
"Iya. Kamu pasti mau kenikmatan lebih. Iya kan?"
"Iya."
"Nah. Makanya. Ayo aku isep. Kamu berdiri dan nyandar di sana."
Dengan penuh rasa ingin tahu. Wandra mulai berdiri. Dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping wastafel seperti keinginan Caroline.
Caroline jalan berjongkok untuk mendekati Wandra. Dia menatap penuh minat ke arah benda besar teracung yang sangat menggoda itu.
Caroline masih berada dalam pengaruh asap yang keluar dari liontin wasiat itu, karena itu dia ingin meraih kenikmatan sebanyak-banyaknya. Setelah sebelumnya dia merasakan gesekan dari benda besar milik Wandra itu di inti tubuhnya, maka sekarang dia ingin menikmati benda besar itu di dalam mulutnya.
"Wih. Betul-betul besar. Punya mantanku semuanya lewat sama ini. Ckckck." Sehabis itu, Caroline mulai mengulum benda besar yang sudah membuatnya bergairah itu.
"Ahhhh ..." Wandra merasakan sesuatu saat mulut kecil Caroline mengulum rudal besarnya ini.
Wandra adalah seorang anak muda yang memang masih polos. Karena keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan maka Wandra tidak pernah bergaul yang macam-macam di luaran.
Apalagi dia tinggal di desa dimana jarang ada rekan sebaya yang jadi lawan jenisnya di kampungnya yang dipenuhi penduduk yang sudah menua.
Setiap kali jam pelajaran usai, dia langsung pulang ke rumahnya dan itu berlanjut hingga SMP dan SMA.
Wandra tidak pernah bergaul dengan teman-teman sebayanya karena dia harus membantu orang tuanya untuk berjualan di warung dan juga membuat makanan untuk dijual.
Wandra berhasil lulus SMA dengan nilai yang bagus. Sayangnya karena keterbatasan biaya, juga karena warung orang tuanya semakin susah mendapatkan keuntungan maka Wandra tidak bisa melanjutkan pendidikannya di jenjang kuliah.
Datang ke kota ini, adalah kesempatannya untuk mengenyam bangku kuliah.
Caroline mulai menjilati kepala rudal Wandra dengan penuh hasrat.
"Aduh, enak sekali, kak. Ini enak sekali."
Lidah Caroline menari-nari mengulas sekujur batang hingga kepala yang dirangkai dengan menghisap pusaka milik Wandra itu dengan penuh perasaan.
Dan di samping mereka, berdiri seorang pria dengan aura yang jauh lebih mengerikan dari siapa pun di ruangan itu, kultivator alam manusia roh level satu, satu tingkat di atas alam manusia suci yang selama ini menjadi puncak kekuatan yang dikenal secara umum."Jebakan," Pao Pao mendesis, menyadari bahwa asisten Peramal Naga Merah yang tadi memberi tahu Perdana Menteri sebenarnya sudah mengirimkan informasi palsu untuk memancing mereka ke sini.Mayang berdiri tegak, matanya berkilat dengan kemarahan yang dingin. "Kalian pikir bisa menjebakku semudah ini?"Perdana Menteri tersenyum licik. "Mayang Terurai. Akhirnya kita bertemu langsung. Ramalan Peramal Naga Merah memang tidak pernah salah, meskipun butuh waktu lama untuk mengonfirmasinya."Pertarungan meletus tanpa peringatan lebih lanjut. Para pengawal menyerbu masuk, Pangeran Ketiga melesat menyerang Handoko, dan Perdana Menteri sendiri menyerang Pao Pao dengan kekuatan penuh alam manusia suci level tiganya.Kultivator alam manusia roh
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan mewah di rumah Perdana Menteri yang terletak di area elit dekat Istana Pualam Putih, Wandra duduk di sebuah kursi dengan tangan yang diikat rantai besi di belakang punggungnya. Dia sengaja tidak melawan, membiarkan dirinya diinterogasi sesuai skenario yang sudah dia rencanakan.Perdana Menteri duduk di hadapannya dengan ekspresi yang penuh kecurigaan, matanya menyipit memandang Wandra dari atas ke bawah seperti sedang menaksir seekor binatang buruan."Ceritakan lagi," Perdana Menteri berkata dengan suara yang dingin. "Ceritakan tentang pria berjenggot yang katamu membunuh semua perampok itu."Wandra mengulangi ceritanya dengan detail yang sama persis seperti yang dia berikan kepada petugas kerajaan sebelumnya, tanpa satu pun kesalahan atau kontradiksi. Sandiwara yang sudah dia mainkan selama tujuh ribu tahun membuatnya sangat ahli dalam menjaga konsistensi cerita.Tapi Perdana Menteri sama sekali tidak percaya. "Bohong," dia berkata dengan suara
Beberapa pengawal berpakaian seragam resmi Istana Pualam Putih mendatangi rumah sewaan Wandra dengan langkah yang tegas dan berwibawa. Pemimpin rombongan itu, seorang pria berumur sekitar tiga puluh lima tahun dengan lencana khusus di dadanya, mengetuk pintu dengan keras."Wandra," pria itu memanggil dengan suara yang tidak menyisakan ruang untuk penolakan. "Kau diminta untuk ikut bersama kami. Ada beberapa pertanyaan tambahan tentang peristiwa di bank kemarin."Wandra yang sedang berlatih teknik dasar yang diajarkan Rafika membuka pintu dengan ekspresi yang berpura-pura terkejut. "Ada apa, Pak?""Perdana Menteri ingin bertemu denganmu secara langsung," pengawal itu menjelaskan. "Ikuti kami sekarang."Rafika yang berdiri di dekat kios sayurnya, tidak jauh dari rumah Wandra, langsung merasakan firasat buruk. Dia bergegas mendekat, wajahnya yang tersamarkan riasan tetap berusaha menunjukkan kekhawatiran seorang tetangga biasa. "Tunggu, kenapa harus Perdana Menteri sendiri yang meminta?
Rafika, yang sudah kembali ke posisi "sedang duduk kesakitan" seperti para korban lainnya, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.Namun Wandra langsung bertindak. Dia, berkata, "Saya melihatnya!" Wandra berkata dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Ada seorang pria berjenggot lebat, bertubuh besar, dan berambut putih! Dia masuk entah dari mana dan langsung menyerang semua perampok itu dengan kecepatan yang luar biasa! Setelah selesai membunuh mereka, dia langsung pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun!"Orang-orang mulai berbisik-bisik dengan takjub, beberapa mengangguk mempercayai cerita itu meskipun mereka sendiri tidak melihat apa pun karena tertidur oleh bubuk yang disebar oleh Rafika."Kita harus mengambil kembali harta benda kita!" seseorang berteriak, mengingatkan semua orang tentang barang-barang berharga yang tadi dirampas.Kekacauan yang teratur pun terjadi. Setiap orang mulai mencari dan mengambil kembali harta benda mere
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota menuju bank utama yang terletak tidak jauh dari pasar. Sepanjang perjalanan, Wandra sengaja mengajak Rafika bercakap-cakap tentang hal-hal ringan, kehidupan sehari-hari di pasar, harga-harga sayuran, cuaca. Dia memperhatikan bahwa meskipun Rafika berbicara dengan gaya seorang wanita paruh baya biasa, ada kecerdasan dan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap kata-katanya, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan atau akting sebaik apa pun.Bank yang mereka tuju adalah sebuah bangunan yang cukup besar, dengan pilar-pilar batu di depannya dan interior yang ramai dengan antrian orang-orang yang juga ingin menyimpan uang mereka sebelum libur panjang.Wandra dan Rafika duduk berdampingan di bangku antrian, menunggu giliran mereka dipanggil. Wandra memperhatikan sekelilingnya dengan roh primordialnya yang menyebar diam-diam, sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging setelah tujuh ribu tahun hidup penuh kewaspadaan
'Dia mulai bersimpati,' batin Wandra di tengah-tengah "penderitaannya" yang sebenarnya sama sekali tidak dia rasakan secara fisik. 'Bagus.'Setelah hampir dua jam, Panjul dan anak buahnya akhirnya lelah sendiri dan meninggalkan Wandra yang terbaring di tanah dengan pakaian yang sudah kotor dan robek di beberapa tempat, meskipun tidak ada luka fisik sungguhan yang tertinggal di tubuhnya yang sebenarnya kebal terhadap segala serangan.Bang Ganjar mendekati Wandra yang masih terbaring, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah yang bercampur dengan kepuasan. "Yah, sudahlah. Ini uang untuk berobat," dia berkata sambil melemparkan beberapa keping perak yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang seharusnya diperlukan untuk pengobatan yang layak. "Cari tabib saja."Wandra bangkit dengan susah payah, memegangi tubuhnya seolah kesakitan. "Di mana saya bisa menemukan tabib, Pak?""Tabib biasa di sini sedang pergi ke luar kota," seorang warga yang menyaksikan kejadian itu menjawab dengan simpa
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang







