เข้าสู่ระบบ“Siapa di dalam kamar mandi?” Salah seorang pelayan mengetuk pintu, bertanya dengan suara keras siapa yang tengah berada di dalam kamar mandi. “Hei! Jawab aku!” Hans menatap nyalang pada Selena, detik kemudian, pria itu memincuk rahang gadis tersebut sambil berbisik. “Katakan, jika kau sedang di dalam kamar mandi! Cepat!”Air mata Selena luruh, rasa sakit akibat terapit tangan Hans, membuat rahangnya sedikit susah digerakkan. “A-aku sedang buang air besar!” jawab Selena sedikit terbata. Bibirnya gemetar, takut jika pria dihadapannya akan mencekiknya. “Aku siapa?”“Selena!”“Oh, Nona Selena, baiklah. Kukira siapa, aku tadi mendengar teriakan. Kau tidak apa-apa, Nona?”“T-tidak, aku hanya kaget saat melihat kecoa. Ya, itu saja.”“Oh, baiklah. Kuharap kau tidak akan bertemu dengan hewan menjijikan itu lagi.”Setelah itu, suara dari balik pintu kamar mandi tersebut lenyap. Terdengar langkahnya samar menjauhi area tersebut. Namun, Hans tidak lantas melepaskan Selena. Pria itu betul bet
“Siapa pemuda yang bersama dengan adik iparmu itu?” tanya Selena pada Sutra. “Itu? Dia Hans. Calon suaminya. Kenapa? Kau mengenalnya?” Selena mengangguk, lalu sedikit memundurkan langkahnya. “Kau dikelilingi orang-orang Kama? Apa … kau tidak takut?” Sutra menggeleng. “Tentu saja tidak. Mereka bisa melindungi.” “Tapi pemuda itu suka menyiksaku saat aku masih disekap. Bahkan dia kerap memperlakukanku layaknya khewan.” Selena menjulurkan kedua tangannya. Menunjukkan kuku kukunya yang terlepas. “Hei, kukumu lepas?” Sutra menatap heran. Selena mengangguk. “Dia yang melakukannya.” “Apa, masudmu yang melakukan hal itu adalah Hans?” Selena mengangguk. “Dia adalah salah satu dari empat orang yang sering mendatangiku untuk memberi makan. Tapi … dia memang yang paling berperan dan paling jahat.” “Kau tidak sedang berbohong ‘kan?” Selena menggeleng. “Apa kau tidak percaya padaku? Jika memang kau tidak percaya, coba kapan kapan kau tanya pada orang Kama yang pernah menjadi p
Setelah membersihkan tubuhnya, Selena berganti pakaian, kemudian wanita yang terlihat begitu kurus tersebut menatap pantulan dirinya dalam cermin. Entah sudah berapa lama ia melewatkan hal itu, menatap wajahnya dalam dalam dari sebuah kaca oval yang bertengger di dinding. “Kau sudah mandi?” Sutra kembali datang setelah meninggalkan Selena untuk beberapa menit. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Sutra yang berdiri di balik punggungnya. “Ya, baru selesai.” “Sekarang ikutlah denganku, kita makan. Setelah itu kau akan kuajak untuk menjenguk Nenek.” Selena menarik lengan Sutra. “Ada apa?” tanya Sutra sambil menautkan kedua alisnya. “Aku tidak mau makan dengan banyak orang. Aju malu.” Selena tertunduk. “Kenapa?” Selena menggeleng. “Kalau boleh aku meminta, tolong kasih aku makan di sini saja. Aku belum bisa bertemu dengan banyak orang.” Kemudian ia kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Sutra baru menangkap sinyal, jika sebetulnya Selena mempunyai rasa malu karena ke
“Dokter bilang, Nenek tidak punya banyak waktu lagi. Jadi … aku ingin kita mengatakan jika putrinya sudah tiada. Jujur, Kama. Aku takut, takut jika sampai hembusan napas terakhirnya, Nenek belum tahu jika Bibi Zatulini telah tiada.” Sutra kembali berurai air mata. Kama diam, pria itu mencoba untuk menekuri segalanya. Tiba-tiba kedua telapak tangannya mengepal sempurna, wajahnya menyiratkan kemarahan. Entah pada siapa. “Beri aku sedikit waktu, Sutra. Aku akan mencari siapa pembunuh Zatulini sendiri.” “Bagaimana dengan Hans? Apa dia belum bisa menemukan pembunuhnya?” Kama menggeleng. “Pembunuh Zatulini terlalu rapi. Seharusnya kita bisa mengandalkan Selena. Tapi … dia sendiri tidak tahu siapa pembunuh itu.” “Aku ada ide,” ujar Sutra. Kama menoleh. “Apa?” Sebelah alisnya menukik. “Kau benaskan Selena. Setidaknya, biarkan dia mengunjungi Nenek. Karena bagaimana pun juga, dia adalah cucu kandung Mariana.” Kama kembali termenung, napasnya menyeret berat. Sebetulnya Kama m
Mata tua itu akhirnya terbuka perlahan. Ekor matanya basah dengan setitik air mata. Jari-jarinya mulai sedikit ada pergerakan. Sutra mengurai pelukan yang ia berikan untuk sang nenek—Mariana. Matanya kembali mengucurkan derai air mata. “Nenek, kau bangun!” Mariana berusaha tersenyum di tengah rasa sakit yang menderanya. “Nenek minta maaf padamu, Nak,” katanya sambil berusaha memegang punggung tangan Sutra. Sutra menggeleng. “Tidak, Nek. Kau tidak memiliki salah apa pun. Kau orang yang begitu baik selama ini.” “Tidak, Nak. Nenek selalu menyia-nyiakanmu. Maafkan Nenek. Di penghujung nyawa nenek, nenek ingin melepas segala penat dalam hati, dan—“ “Sst!” potong Sutra. “Jangan membahas hal yang tidak perlu dibahas, Nek. Sekarang lebih baik Nenek foku dengan kesehatan Nenek. Semua akan terlalui. Nenek pasti akan sembuh.” Mariana tersenyum samar. “Di mana Zatulini?” Sutra terdiam. Ada dua kemungkinan saat dia mengatakan kabar terakhir putri Mariana tersebut. Kemungki
Sebetulnya Sutra ingin bicara pada Kama perihal perjodohan Ellies dengan Hans di meja makan pagi ini. Namun, tiba-tiba ponselna berdering. Sebuah panggilan telepon masuk. “Ya, aku Sutra. Ini dengan siapa?” “Ini dari rumah sakit. Nenek Anda mengalami kecelakaan pagi buta tadi, dan saat ini kondisinya dalam keadaan kritis.” Sutra beranjak. “Nenek? Nenek Mariana?” “Ya, Nyonya. Sebelum Nenek Anda koma, dia sempat memberikan ponselnya kepada pihak rumah sakit dan menyuruh pihak rumah sakitnuntuk kenghubungi nomor Anda. Sekarang, sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit.” Sutra mematikan ponselnya. Tiba-tiba bapasnya begitu sesak dan antap, seolah tercabut dari badannya. Air matanya tiba-tiba mengalir deras. Kama yang melihat sang istri sedang menangis, segera merangsek kursinya dan mendekatinya. “Ada apa dengan Nenek Mariana? Siapa yang menelponmu?” Ia memeluk tubuh sang istri dengan erat. “Nenek sedang kritis di rumah sakit, dia koma. Kata pihak rumah sakit, dia menga







