MasukSejak pagi Lucas hanya diam dengan pandangan kosong. Duduk di ruang kerjanya, pria itu nyaris tidak bergerak sedikit pun seolah pikirannya dipenuhi terlalu banyak hal untuk diproses.Elton yang masuk untuk ketiga kalinya hanya bisa menghela napas pelan. “Tuan, anda ada rapat dalam tiga puluh menit.”Lucas tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada jendela besar di depannya, tetapi jelas pikirannya berada jauh di tempat lain.“Tuan Muda?” panggil Elton sekali lagi.“Batalkan!” balas Lucas singkat tanpa melihat ke arah Elton.Elton sedikit terkejut. “Batalkan?”Lucas mengusap wajahnya kasar. “Aku tidak bisa fokus hari ini.”Itu jawaban yang sangat tidak biasa. Lucas dikenal sebagai seseorang yang selalu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan. Bahkan saat Alice menghilang selama dua tahun, dia tetap menjalankan semuanya tanpa cela.Namun sekarang berbeda saat bayangan Allison terus muncul di benaknya. Setiap kali dia mencoba menyangkalnya wajah Allison justru muncul di benak
"Apa kamu tidak ingin berterima kasih padaku?" tanya Noah sambil menyeringai lebar seolah ingin mendapat pujian setelah apa yang dia lakukan untuk Allison.Alis mata Allison terangkat tak mengerti mengapa Noah tiba-tiba meminta ucapan terima kasih darinya. Setelah semua kekacauan yang terjadi, laki-laki itu masih sempat-sempatnya mencari pujian.“Berterima kasih?” ulang Allison pelan sambil menyilangkan kedua tangan di dada. “Untuk apa tepatnya?”Noah mendekat sedikit dengan senyum penuh percaya diri. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari interogasi mengerikan kedua orang tuamu""Kalau bukan karena aku, mungkin sekarang mereka akan mengurungmu di gudang kosong yang gelap,” lanjut Noah dengan wajah serius berharap Allison takut. Allison memutar mata malas. “Jangan terlalu percaya diri. Mereka tidak akan melakukan itu.”“Tapi mereka jelas ingin melakukannya,” balas Noah cepat sambil tertawa kecil. “Dan aku menjadi pahlawan yang berdiri di depanmu.”“Pahlawan?” Allison menatap Noah dari a
Nama keluarga Decker bukan nama sembarangan. Bahkan di kalangan pebisnis kelas atas, keluarga Decker dikenal sebagai salah satu keluarga yang sangat berpengaruh dan sulit disentuh. Tidak banyak orang yang pernah bertemu langsung dengan pewaris keluarga itu, tetapi hampir semua orang tahu reputasi mereka. Sama seperti nama besar keluarga McCarthy.Dan sekarang Laki-laki yang berdiri santai di depan mereka ternyata adalah Noah Decker. Senyuman Noah semakin melebar saat melihat perubahan ekspresi Matter."Wah, akhirnya kalian mengenalku juga." Noah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kupikir aku harus menunjukkan kartu identitas dulu."Noah kemudian melangkah mendekati Susan dan Mattew dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya, tetapi tatapannya perlahan berubah tajam."Karena kalian tadi bertanya, sekarang giliranku bertanya." kata Noah pelan namun dapat membuat Mattew dan Susan berkeringat dinginNoah berhenti tepat di depan mereka. "Siapa yang memberi kalian hak u
Perkataan Allison membuat suasana semakin memanas. Dahi Noah langsung mengerut, jelas tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tatapannya tertuju pada Allison seolah ingin memastikan perkataan Allison benar-benar serius“Allison…” tegur Noah pelan.Sementara itu, di sisi lain, Lucas terlihat tak peduli. Tidak ada perubahan berarti pada ekspresinya, seolah perdebatan antara Allison, Alice, dan Noah sama sekali tidak mengganggunya. “Aku tidak butuh permintaan maaf,” lanjut Allison tenang sambil menyingkirkan tangan Lucas. “Aku hanya ingin semuanya berhenti sampai di sini.” Alice langsung menatap tajam. “Jadi sekarang kamu berpura-pura jadi orang paling baik?”“Alice,” tegur Noah cepat.“Aku tidak berpura-pura,” balas Allison datar. “Aku hanya lelah dengan semua drama dan permainan ini.”"Apa maksudmu?" seru Alice tak terima dengan perkataan Allison.Allison hanya mengangkat bahu pelan tanpa menjawab. Sikap itu justru membuat Alice semakin kesal. Rasanya seperti sedang dipe
Wajah Lucas menegang saat mendengar nada tinggi Alice. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat, berusaha menahan emosi yang tidak dapat dia kendalikan. Dia tidak suka saat Alice merendahkan bahkan menghina Allison.“Berhentilah berteriak! Kamu membuat pembeliku kabur,” balas Allison, berusaha tetap tenang. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya perlahan, seolah mencari kekuatan.Namun sikap itu justru membuat Alice semakin tersulut. “Kamu?” Alice tertawa sinis. “Kamu berani membalas kata-kataku? Apa kamu lupa siapa aku?”Suasana semakin memanas. Noah langsung melangkah lebih dekat ke sisi Alice. Dia merasa saat suasana tak terkendali maka Alice dalam bahaya. Dia memang bermaksud untuk melepaskan Alice, namun dia juga tak ingin memungkiri bahwa dirinya masih peduli dengan Alice.Sementara itu, Lucas akhirnya bergerak maju ke arah Alice. “Alice, cukup.” Suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Alice menoleh tidak menyangka Lucas akan menegurnya. “Kamu membelanya?”Lucas tidak menjawab
“Kenapa kamu belum pulang?” seru Allison saat jam tutup kafe.“Aku masih menunggu makanan pesananku,” jawab Lucas santai, duduk di kursinya seolah itu hal paling wajar di dunia.Allison menghela napas kasar, kesabarannya benar-benar diuji. “Apa otakmu bermasalah? Mana mungkin aku bisa menyelesaikan pesanan itu hari ini?”“Bukankah kamu sendiri yang menyuruh James mencatat pesananku?” balas Lucas cepat. “Atau kamu memang berniat menipuku? Mengambil uangku tanpa memberikan makananku?”Allison mengepalkan tangan menahan kesabarannya. Dia tahu semua pesanan itu hanya alasan Lucas. “Kamu tidak datang untuk kue dan minuman,” katanya dingin. “Jadi berhenti berpura-pura."Perkataan itu membuat Lucas menyeringai lebar. Setidaknya, Allison sudah memahami alasan sebenarnya dia datang. Dia tak perlu lagi bersembunyi di balik pesanan kue dan minuman yang tidak masuk akal. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini dia bisa tersenyum tanpa perlu berpura-pura.Lucas bersandar santai di tempat d







