Share

Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat
Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat
Penulis: Maya Pertiwi

Bab 1

Penulis: Maya Pertiwi
Setelah kecelakaan itu, pacarku, Farel Anggara, hilang ingatan.

Kabar baiknya adalah itu tidak benar. Kabar buruknya, Farel sengaja melakukannya.

"Ziana Syardan, aku sudah lupa semua hal tentang kita. Hal-hal yang bisa dilupakan, berarti semua itu nggak penting."

"Apa kamu mengerti?"

Farel duduk tegak di ranjang rumah sakit. Fitur wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya penuh dengan ketidaksabaran.

Seolah takut penjelasannya kurang jelas, sehingga Ziana akan terus mengganggunya.

Angin berembus masuk ke dalam kamar, membelai wajah pucat Ziana dan menyengat setiap sarafnya.

"Ya. Aku mengerti," jawab wanita itu dengan sangat tenang.

Ziana Syardan sangat tenang, karena dia tahu Farel sedang bersandiwara.

Lima belas menit yang lalu.

Begitu Ziana siuman, dokter memberitahunya bahwa Farel terluka parah dan menderita amnesia.

Tanpa memedulikan tubuhnya yang lemah, dia bergegas menuju kamar rawat pria itu.

Namun, setibanya di depan pintu, Ziana melihat Farel, yang seharusnya terluka parah, sedang bersandar santai di ambang jendela.

Sambil merokok, pria itu menelepon seseorang.

Suaranya terdengar begitu lembut dan penuh kasih, sesuatu yang belum pernah Ziana dengar sebelumnya.

"Masih berani pergi kencan buta? Kalau nggak begitu, mana mungkin aku akan mengumumkan hubungan dengan Ziana untuk membuatmu cemburu?"

"Aku salah, oke?"

Seorang wanita merajuk di seberang telepon, suaranya terdengar sangat menggoda.

Jakun Farel naik-turun, dia bertanya dengan suara rendah dan serak, "Begitu saja?"

"Malam ini terserah kamu mau apa ...."

Suara wanita itu merendah, semakin ambigu.

Sisanya tidak terdengar lagi oleh Ziana.

Namun, dari tatapan mata Farel yang membara, Ziana tidak perlu menebak lagi untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

Tiba-tiba suara wanita itu meninggi saat berkata, "Tuan Farel, bagaimana dengan Ziana? Aku nggak mau jadi selingkuhan. Kalau sampai tersebar, bagaimana aku harus menghadapi orang-orang nantinya?"

Farel menjentikkan abu rokoknya dengan acuh tak acuh, matanya penuh tatapan percaya diri.

"Tenang saja, aku sudah menyuruh dokter memalsukan rekam medis amnesiaku. Selama aku nggak mengakui hubunganku dengannya, siapa yang akan percaya pada Ziana?"

Wanita itu terdiam sejenak, sepertinya masih belum puas.

"Bagaimana kalau dia terus menempel padamu? Kalau aku jadi dia, aku juga pasti nggak akan rela melepaskanmu."

"Aku nggak akan memberinya kesempatan untuk menggangguku."

Farel tersenyum, seolah dialah penguasa dalam permainan ini.

Ziana bersandar di dinding, kedua tangannya mengepal erat hingga ujung kuku menancap ke telapak tangannya. Namun, dia tidak merasakan sakit sedikit pun.

Dalam benaknya, kilasan ingatan berkelebat.

Ziana dan Farel adalah teman masa kecil.

Karena Keluarga Anggara tidak menyukainya, mereka terpaksa menjalani hubungan rahasia selama empat tahun.

Semalam, Farel akhirnya setuju untuk berterus terang kepada Keluarga Anggara tentang hubungan mereka.

Namun, dalam perjalanan menuju kediaman Keluarga Anggara hari ini, mereka mengalami kecelakaan.

Mereka berdua terluka dan pingsan.

Ziana tidak menyangka, pengakuan yang dia nantikan selama empat tahun hanya alat bagi Farel untuk memicu kecemburuan wanita lain.

Pria itu sudah lama mencintai orang lain.

Pantas saja saat mengemudi tadi, Farel tidak fokus menyetir dan terus-menerus melihat ponselnya.

Saat Ziana mengingatkannya, pria itu hanya berdalih sedang menunggu pesan pekerjaan.

Ternyata, dia sedang menunggu pesan cemburu dari wanita itu.

Lamunan Ziana terputus oleh suara langkah kaki dokter. Dia berpura-pura baru sampai dan masuk ke kamar bersama dokter.

Saat itu, Farel sudah berbaring kembali di ranjang.

Pria itu bahkan tidak melirik Ziana, sibuk memerankan drama amnesianya di depan dokter.

Akhirnya, dia mengusir Ziana dengan nada dingin, "Kalau sudah mengerti, pergi sana."

Ziana merasa ingin bertepuk tangan untuk akting Farel.

Demi menendang Ziana keluar dari hidupnya, Tuan Muda Kedua Keluarga Anggara itu benar-benar mengerahkan segalanya.

Beberapa kali Ziana ingin bicara, tetapi rasa pahit menyumbat tenggorokannya. Pada akhirnya, yang terpancar di wajahnya hanyalah rasa malu.

Benar-benar memalukan.

Selama empat tahun berpacaran, cintanya pada Farel begitu dalam.

Pria itu tahu, teman-teman mereka pun tahu.

Tanpa menuntut status, dia merawat pria itu seperti seorang pelayan.

Asal pria itu marah, Ziana akan membujuknya hingga tenang meski harus mengorbankan waktu tidurnya.

Seluruh dunianya adalah Farel.

Namun sekarang, pria itu menggunakan cara yang begitu ekstrem untuk memaksanya menyerah.

Haha.

Sungguh ironis.

Ziana merasa mati rasa sekaligus sadar sepenuhnya. Dia hanya mengangguk dan berkata, "Oke, aku pergi."

Turuti saja kemauannya.

Cinta yang didapat dengan mengemis memang tidak akan bertahan lama.

Dia juga sudah lelah.

Ziana menundukkan kepala dan keluar dari ruangan.

Farel melirik punggung Ziana, alisnya sedikit terangkat. Dia tidak menyangka wanita itu akan menerimanya dengan begitu mudah.

Dia segera memanggil asistennya.

"Suruh seseorang mengawasi Ziana. Jangan sampai sekarang dia berlagak tegar, tapi sebentar lagi berbalik memohon padaku agar ingatanku pulih. Ada banyak orang di rumah sakit, nggak enak kalau sampai dilihat orang."

Sambil mengatakan hal itu, Farel mengerutkan kening, seolah sudah bisa membayangkan adegan Ziana mengemis padanya.

Asistennya mengangguk, lalu berbalik pergi.

....

Ziana lupa bagaimana dia kembali ke kamar rawatnya sendiri.

Dia duduk termangu di tepi ranjang, seperti anak kecil yang ditelantarkan.

Matanya terasa panas, tetapi air matanya tidak kunjung jatuh.

Perasaan cinta selama empat tahun, tidak mungkin dilepaskan seketika.

Akhirnya, dia merebahkan diri di ranjang dengan lelah. Tangannya menyentuh ponsel di samping tubuhnya.

Tekstur retakan yang kasar, membuat hatinya seakan melompat keluar.

Saat kecelakaan, ponsel itu ada di dalam tasnya dan tidak terbentur sama sekali.

Bagaimana mungkin ada retakan seperti itu?

Seolah menyadari sesuatu, Ziana mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar.

Ponsel itu memiliki bekas tekanan yang jelas. Layarnya hancur berkeping-keping dan sama sekali tidak bisa dinyalakan.

Bukti cinta antara dirinya dan Farel di dalam ponsel itu, pasti sudah lenyap.

Siapa pelakunya, Ziana sudah bisa menebak.

Demi mencegahnya mengganggu, Farel benar-benar mempertimbangkan segalanya dengan matang.

Ziana tertawa getir. Dia melihat gambar di case ponselnya, karakter kartun yang digambar berdasarkan dirinya dan Farel.

Kebahagiaan saat itu nyata, tetapi kekejaman saat ini juga nyata.

Dia juga tidak ingin hal sudah tidak diinginkan pria itu.

Tak!

Ziana membuang ponsel itu ke tempat sampah, lalu memanggil perawat untuk mengurus kepulangan.

Saat hendak pergi, perawat memanggilnya sambil menunjuk tumpukan barang di sudut kamar.

"Nona Ziana, ini masih ada barang-barang Anda. Anda nggak mau membawanya?"

Ziana menoleh sejenak. Itu semua adalah hadiah yang dia siapkan untuk kunjungan ke Keluarga Anggara.

Dia boleh membuang Farel, tapi hadiah itu tetap harus dibawa pulang.

Lagi pula, itu semua dibeli dengan uangnya. Dijual di aplikasi barang bekas pun masih bisa menghasilkan uang.

Dia memilah barang-barang yang bisa dijual. Sisa makanan ringan yang tidak bisa dijual, dia berikan kepada para perawat di sana.

"Untuk kalian saja, silakan kalian makan. Terima kasih atas bantuannya."

Setelah itu, dia meninggalkan rumah sakit.

....

Setelah Ziana pergi, Farel sempat tidur sejenak.

Saat terbangun, dia melihat semangkuk bubur dari Kedai Selera Rasa di atas nakas.

Pria itu memijat pangkal hidungnya dan mendecakkan lidah.

Dia sudah menduga, menyingkirkan 'benalu' seperti Ziana tidak akan semudah itu.

Ziana tidak bosan melakukan taktik pura-pura tenang, padahal diam-diam mencoba mengambil hati seperti ini. Namun, dia yang bosan.

Farel bangkit, lalu berkata, "Bubur ini ...." Buang.

"Tuan Farel, Anda sudah bangun? Mau makan bubur? Biar saya ambilkan sendoknya, saya sengaja menyuruh orang membelinya secepat mungkin."

Asistennya menyodorkan sendok dengan penuh semangat.

Farel mengernyit. "Kamu yang beli?"

"Benar, saya yang beli." Asisten itu tersadar, lalu menambahkan, "Dokter bilang, Nona Ziana langsung keluar dari rumah sakit setelah kembali ke kamar. Sepertinya, dia sudah menerima kenyataan bahwa Anda amnesia dan putus dengannya."

Farel memakan bubur itu dengan tenang, lalu mencibir.

"Menerima? Ziana bukan orang seperti itu. Kalau dia tipe yang mudah menerima kenyataan, aku nggak akan menggunakan cara ini untuk memaksanya putus. Mungkin dia melihat ponselnya sudah kurusak, jadi dia merasa malu dan hanya bisa marah."

"Lalu, apa saya masih perlu menyuruh orang mengawasi Nona Ziana?" tanya asisten itu.

"Nggak perlu. Sebentar lagi, dia pasti akan datang mencariku dengan membawa berbagai alasan. Urus kepulanganku sekarang."

"Baik."

....

Ziana tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menuju vila milik Farel.

Jika ingin berakhir, maka harus berakhir dengan bersih.

Berdiri di depan pintu, dia menekan bel.

Selama empat tahun berhubungan, dia telah datang ke vila ini ratusan kali dan memasak untuk pria itu ratusan kali pula.

Meski setiap kali Farel akan merangkulnya sambil berbisik, "Ziana, saat kita menikah nanti, aku pasti akan menjadi pria paling bahagia di dunia!"

Namun, pria yang berjanji akan menikahinya itu, tidak pernah memberinya kunci vila ini.

Bahkan ketika kunci pintu diganti dengan sistem sidik jari, semua pelayan sudah didaftarkan, tetapi dia tetap diperlakukan seperti orang asing.

Tak lama kemudian, Bibi Winda membukakan pintu.

"Nona Silvia, apa sidik jarinya nggak terbaca lagi ...?"

Nona Silvia?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
cinta buta bisa membuat orang menjadi dungu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 100

    Sebagai Tuan Muda Kedua yang dididik Keluarga Anggara dan lulusan terbaik jurusan keuangan luar negeri, sebenarnya Farel juga orang yang hebat. Sikapnya yang santai dan liar hanyalah kulit luar. Pada intinya, dia tetaplah seorang pengusaha.Bagaimana mungkin dia membiarkan Silvia meributkan masalah kebocoran data di resor secara terang-terangan, jika tidak ada tujuannya? Selain karena cintanya pada Silvia, motif utamanya adalah untuk merusak kerja sama antara Vihan dan Nyonya Helena. Setelah itu, dia tinggal mencari kambing hitam.Ziana adalah kandidat terbaik. Dengan latar belakang hubungannya yang hancur dan kegagalan promosinya, cukup dengan membesar-besarkan rasa cemburu, tuduhan pembocoran rahasia akan terasa masuk akal bagi siapa pun. Silvia bisa lolos tanpa noda.Sementara Farel akan tampil sebagai penyelamat yang mewakili Perusahaan Anggara untuk bernegosiasi ulang dengan Nyonya Helena.Saat ini, pilihan terbaik bagi Nyonya Helena selain Vihan hanyalah Farel. Setelah mema

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 99

    Ziana refleks mengeratkan genggamannya pada teko air. Saat dia mendongak, Vihan sudah memimpin rombongannya menuju kursi utama."Duduk semuanya."Vihan merapikan kerah jasnya dengan gerakan santai, tetapi memancarkan aura dominasi seorang pemimpin yang kuat. Melihat semua orang duduk, Ziana merasa canggung. Tak jauh dari sana, Aryani menggerakkan bibirnya tanpa suara, “Kamu nggak dengar? Duduk!”Dia mengerti. Ziana merasa lega dan segera kembali ke kursinya. Namun, ada seseorang yang tampaknya jauh lebih menderita darinya.Di samping kursi Silvia, berdiri seorang pria. Dia adalah salah satu bawahan kunci Vihan dengan jabatan tinggi. Berdasarkan pengaturan tempat duduk, pria inilah yang seharusnya menempati kursi tersebut. Namun, Silvia duduk di sana atas perintah Farel. Begitu berdiri, dia akan terlihat lebih rendah dari orang lain. Di depan tatapan begitu banyak orang, Silvia tentu saja tidak mau.Silvia tidak bergerak. Dia merasa Vihan akan memaklumi posisinya sebagai kekasi

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 98

    Ruang rapat. Dalam rapat tingkat tinggi ini, orang dengan posisi menengah seperti Ziana hanya bisa duduk sebagai pendengar tanpa hak suara. Dia duduk di kursi barisan paling luar. Baru saja dia membuka buku catatannya, Farel datang bersama Silvia.Farel membiarkan Silvia duduk di kursi tepat di sampingnya, posisi yang sangat tinggi bagi orang lain. Melihat hal itu, banyak orang berbisik iri."Benar-benar seperti karakter CEO di dunia nyata, Tuan Farel tampan dan romantis banget!" "Bukan cuma tampan, dia juga sangat memanjakan pacarnya. Kudengar kemarin Nona Silvia terkejut, dia langsung memanggil tiga spesialis untuk memeriksanya." "Aku juga dengar. Benar-benar bikin iri. Ziana, kamu satu departemen dengan Nona Silvia, apa kamu nggak kenyang makan 'kemesraan' mereka tiap hari?"Mendengar hal itu, tangan Ziana yang sedang membuka tutup pulpen terhenti sejenak. Ternyata demi Silvia, Farel menutup rapat semua kejadian di vila kemarin. Benar-benar cinta yang dalam. Dia tidak mendon

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 97

    "Tuan Farel." Melihat Farel semakin dekat dengan Ziana, Silvia segera menarik lengan pria itu dan berlagak murah hati. "Aku lihat Nona Tamara juga punya kehidupannya yang sulit, berikan dia satu kesempatan lagi. Aku juga bersedia menerima hukuman dari resor."Dengan perkataan ini, dia mendapatkan kembali harga diri dan citra baiknya. Farel menarik kembali tatapannya dan melambai. "Kalau begitu, lupakan saja pemecatan Tamara."Melihat hal itu, polisi berkata, "Kalau begitu, kami akan membawa tersangka pergi."Mendengar hanya dirinya yang ditangkap, keinginan bertahan hidup Desi mengalahkan rasa takutnya. Dia menerjang polisi dan menerkam ke arah Ziana. "Bu Ziana, aku nggak mau dipenjara! Kumohon ...."Belum sempat dia menyentuh Ziana, Ziana seolah-olah terdorong dan jatuh ke arah meja dapur. "Jangan mendekat!"Dalam teriakan itu, Ziana sengaja menyebarkan tepung di atas meja. Tepung itu jatuh tepat mengenai Silvia dan Hilda. Keduanya berteriak histeris melihat penampilan masing-m

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 96

    Orang itu adalah Desi. Sebagai staf departemen housekeeping, dia tahu persis titik buta CCTV dan prosedur pembersihan kamar. Dia memanfaatkan hal itu untuk memukul Tamara sampai pingsan saat temannya itu sedang menyedot debu. Setelah memotret dokumen tersebut, dia mengirimkannya kepada Hilda, yang kemudian memberitahu Silvia untuk melakukan penggerebekan.Dia mengira jika Ziana dan Tamara tertangkap basah, tidak akan ada yang memeriksa CCTV area luar. Dengan begitu, aksinya masuk-keluar vila melalui titik buta tidak akan pernah terungkap. Siapa sangka, Ziana dan Tamara justru menuntun mereka satu per satu untuk menunjukkan jati diri asli mereka.Desi menatap Silvia dan Hilda, memohon bantuan. Namun, keduanya tetap diam membisu. Membayangkan dirinya harus masuk penjara, Desi gemetar hebat karena takut. Dia langsung menunjuk mereka berdua."Merekalah yang menyuruhku melakukan ini! Mereka mau menyingkirkan Ziana!""Kamu!" Silvia bereaksi cepat. Dia mulai menangis tersedu-sedu. "Ak

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 95

    Menyadari situasi memburuk, Silvia kembali memainkan aktingnya. "Ziana, aku tadi hanya khawatir kalau berita kebocoran ini tersebar, reputasi resor akan hancur." Dia mencoba menggunakan nama baik resor untuk membersihkan diri.Ziana menyadari Farel hendak membela Silvia lagi, jadi dia segera memotong, "Jadi maksud Bu Silvia, Anda sama sekali nggak punya bukti? Semua perkataan Anda tadi murni hanya spekulasi pribadi? Memfitnah rekan kerja dan membiarkan pencuri yang asli bebas, apa itu yang disebut menjaga reputasi resor?"Mendengar hal itu, wajah Silvia menjadi kaku, dia tidak bisa membantah. Polisi berkata dengan tegas, "Nona Silvia, bicara seperti itu tidak hanya tidak bertanggung jawab, tapi juga bisa mencelakai orang lain."Silvia selalu dipuja-puja, ini pertama kalinya dia ditegur di depan umum. Ekspresi wajahnya tampak bergetar menahan malu.Ziana tidak mau membuang waktu menatapnya lagi dan berkata, "Hilda, Desi, bagaimana dengan kalian? Jangan-jangan kalian juga nggak punya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status