Share

Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati
Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati
Author: Okta

Bab 1

Author: Okta
Semua orang langsung bersiul dan bersorak riuh.

"Keren banget kamu, Raka. Si Tiwi benar-benar udah kamu didik sampai nurut, ya. Sifatnya sekarang benar-benar kayak orang lain."

Tatapan Raka beralih ke arah Tiwi. Beberapa detik kemudian, dia mengambil permen itu, meliriknya sekilas, lalu membuangnya sembarangan.

"Aktingmu bagus banget. Mana mungkin kamu sepenurut ini?"

"Udah, ngaku aja. Kali ini kamu mau ngapain lagi?"

Tiwi menunduk, menatap permen yang tergeletak di lantai, lalu berkata pelan.

"Aku mau pulang ke kediaman lama sebentar."

Raka tidak bertanya apa tujuan Tiwi pulang ke kediaman lama, juga tidak bertanya kenapa Tiwi yang paling membenci tempat itu kali ini malah berinisiatif untuk pulang. Dia bahkan tidak bertanya bagaimana kondisi luka di wajah Tiwi. Raka hanya melambaikan tangan sembarangan dan menyetujui permintaannya begitu saja. Bahkan untuk melirik Tiwi sekali lagi pun dia malas.

Lima tahun berumah tangga, nyatanya cuma begini.

Sesampainya di kediaman lama, Tiwi langsung berlutut dan bersujud di lantai, lalu membenturkan dahinya ke lantai sambil memohon.

"Nenek, aku nggak mau menandatangani perjanjian pernikahan untuk tahun keenam. Tinggal tiga hari lagi, masa pernikahanku dengan Raka akan berakhir. Tiga hari lagi, aku akan pergi dan nggak akan pernah kembali. Aku mohon Nenek mengabulkan permintaanku."

Dulu, karena Keluarga Surendra tidak puas dengan Tiwi sebagai menantu, mereka diam-diam membuat perjanjian pernikahan dengan Tiwi tanpa sepengetahuan Raka. Perjanjian itu harus ditandatangani ulang setiap tahun saat masa berlakunya habis.

Pasal pertama perjanjian pernikahan.

Jika Raka berselingkuh di luar, itu dianggap sebagai kegagalan Tiwi dalam menjaga suaminya. Tiwi tidak hanya akan dihukum cambuk oleh Keluarga Surendra, tetapi juga kehilangan hak untuk meminta cerai. Segala keputusan dan penafsiran atas perjanjian ini sepenuhnya berada di tangan Keluarga Surendra.

Waktu pertama kali membaca pasal ini, Tiwi memang merasa sedikit tidak nyaman, tetapi rasa itu jauh kalah oleh kegembiraannya. Karena tanpa pasal ini, dia tidak akan pernah bisa menikahi Raka. Dia yakin Raka akan selalu baik padanya dan tidak akan pernah berselingkuh.

Namun sekarang, mimpi indahnya telah dihancurkan tanpa ampun oleh kenyataan. Barulah Tiwi sadar betapa naif dan bodohnya dirinya dulu.

"Pernikahan ini pada dasarnya keluargamu yang sok naik kelas, 'kan? Lagian, Raka nggak ada niatan buat cerai, kok kamu berani-beraninya ngajuin perceraian padaku?"

Tatapan Tiwi bergetar. Dia kembali membenturkan dahinya ke lantai.

"Aku mohon Nenek mengabulkannya."

Nyonya Besar Keluarga Surendra, Siti Surendra, terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.

"Sudahlah. Kalian memang nggak cocok. Lima tahun menikah, kamu bahkan nggak memberiku satu cucu pun. Lagi pula, keluarga kami baru saja menemukan calon yang lebih cocok untuk Raka. Kalau begitu, cerai saja."

Tiwi menahan getir yang terasa di bibirnya.

Pernikahannya dengan Raka masih berjalan, tetapi Keluarga Surendra sudah sejak lama mencarikan wanita baru untuknya.

"Tiga hari lagi kamu pergi, perlu Raka antar kamu?" Siti mengalihkan pembicaraan dengan halus.

Tiwi tersenyum getir.

"Nggak usah dan nggak perlu kasih tahu Raka juga. Di hari aku pergi, dia berencana mengadakan pesta pernikahan buat Meisya. Jangan sampai aku malah ngerusak kesenangannya."

Tatapan Siti tampak rumit.

"Dulu kamu paling tergila-gila sama Raka. Kok sekarang ...."

Mata Tiwi bergetar, wajahnya memucat. Dia memaksakan diri untuk tersenyum.

"Aku udah nggak berani lagi suka sama dia."

Lima tahun lalu, saat Tiwi dan Raka baru menikah, mereka begitu mesra hingga membuat orang lain iri.

Raka rela antre berjam-jam demi membelikan kue kesukaan Tiwi saat dia tengah ngidam. Saat Tiwi kram perut sampai menggigil karena datang bulan, Raka akan menggosok-gosokkan telapak tangannya berulang kali sampai hangat, lalu menempelkannya di perut Tiwi untuk meredakan sakitnya. Begitu tahu Tiwi suka hal-hal romantis, Raka tidak pernah absen memberikan kejutan setiap hari.

Semua orang bilang, Tiwi sudah menikah dengan pria yang tepat. Raka benar-benar mencintainya setengah mati.

Namun keindahan itu selalu singkat, seperti kembang api yang meledak lalu padam dalam sekejap. Baru setengah tahun berlalu, Raka sudah tidak tahan dengan godaan di luar dan mulai berselingkuh.

Hukuman cambuk dari perjanjian pernikahan datang seperti yang telah ditetapkan, tetapi Tiwi tidak peduli.

Dia tidak percaya, hancur, menampar selingkuhan Raka, menjambak rambutnya, membuat keributan yang menggemparkan seluruh kota hingga semua orang tahu.

Keluarga Baskara murka dan mengirim orang untuk menghukumnya. Namun sebelum batang besi itu sempat menghantam tubuhnya, suara dingin Raka lebih dulu terdengar.

"Kalian berani-beraninya nindas istriku kayak gini, apa kalian mengira aku udah mati?"

Sejak saat itu, sekeras apa pun dia membuat keributan, sekejam apa pun cara dia menghajar pelakor, Keluarga Baskara yang terkenal ketat dengan aturan keluarga tak pernah ikut campur.

Selama dia membuat onar, Raka selalu melindunginya.

Sampai akhirnya Meisya muncul dan membuat segalanya jadi tak terkendali.

Seperti biasa, Tiwi kembali menggerebek pelakor, dan kali ini orangnya adalah Meisya. Detik sebelumnya, dia memperingatkan gadis itu untuk menjauh dari Raka. Detik berikutnya, tongkat besi Keluarga Baskara sudah mendarat di punggungnya.

Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menjerit. Sebanyak 38 pukulan, seolah-olah sengaja menyindir bahwa dia hanyalah perempuan yang cuma tahu berebut cinta dan membuat keributan.

Lukanya bahkan belum sembuh, Meisya sudah datang dengan wajah penuh kebencian dan mengutuknya agar mati mengenaskan. Tiwi yang tak tahan akhirnya mendorongnya, dan malam itu juga, Keluarga Baskara melempar Tiwi dari lantai tiga.

Satu kali, dua kali, tiga kali. Makin sering hal itu terjadi, makin dalam keputusasaan merasuki hati Tiwi.

Sampai pada ke-99 kalinya, Meisya kembali datang memprovokasi dan mencekik anjing pemberian Raka sampai mati di depan matanya. Tiwi, dengan tubuh penuh luka, menyeret dirinya ke bar tempat Raka minum, lalu menangis memohon agar Raka membantunya.

Tubuh Raka dipenuhi bau alkohol. Dengan rokok terselip di bibir, dia menyeringai seenaknya. Dia bilang akan membantu Tiwi memberi pelajaran pada Meisya.

Namun dalam sekejap, Raka malah melempar Tiwi ke ruang leluhur Keluarga Baskara.

"Kalau kamu sudah mau nurut, baru kamu boleh keluar."

Kepala Tiwi langsung berdengung dan terasa berputar.

Baru saat itu dia sadar. Kenapa Keluarga Baskara yang selama bertahun-tahun tak pernah ikut campur tiba-tiba muncul saat dia memperingatkan Meisya. Kenapa saat dia menerima hukuman keluarga, menyebut nama Raka sama sekali tidak membuat Keluarga Baskara gentar.

Ternyata, semua ini ulah Raka.

Raka ingin melindungi Meisya, tetapi tak mau turun tangan sendiri. Jadi, dia menyuruh Keluarga Baskara yang menghukumnya.

Setelah enam bulan disiksa, Tiwi benar-benar sudah belajar untuk menurut. Dia tak pernah lagi mempertanyakan Raka, juga tak pernah lagi membuat keributan dengannya.

...

Setelah keluar dari kediaman lama, Tiwi naik taksi pulang.

Saat membuka pintu, pemandangan kacau dan berantakan langsung menyambutnya.

Tiwi menoleh, telapak tangannya mengepal.

"Kenapa? Cemburu lagi?"

Nada Raka terdengar ambigu, tetapi Tiwi bisa merasakan jelas sinisme di baliknya.

Raka mendengus dingin. Dia menunggu mata Tiwi memerah dan memohon agar dia berhenti, atau menampar Meisya lalu mulai berteriak dan membuat keributan.

'Persis kayak orang gila,' batin Raka menilai.

Namun kali ini, Tiwi tidak melakukannya. Dia hanya menundukkan kepala, suaranya pelan.

"Nggak kok. Aku cuma khawatir kalian kedinginan."

Luka di sekujur tubuh dan siksaan selama setengah tahun tanpa melihat cahaya matahari terus mengingatkan Tiwi pada harga yang harus dibayarnya setiap kali dia cemburu. Mana mungkin dia berani cemburu?

Dia sudah tidak berani lagi.

Raka terkekeh sinis.

"Syukurlah kalau nggak cemburu. Soalnya kalau kamu ngambek, aku harus repot-repot pergi ke Keluarga Baskara lagi."

"Sana pergi. Lihat mukamu bikin suasana jadi nggak enak."

Tiwi bangkit dengan terhuyung-huyung, berjalan pincang menaiki tangga.

Raka tidak tahu, tiga hari lagi, dia tak perlu merasa terganggu lagi.

Karena Tiwi akan benar-benar pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 14

    Jari-jari Tiwi yang lentik mencengkeram rambut pria itu. Wajahnya merona merah, suaranya terdengar pelan nyaris tak terdengar."Kamu bisa langsung ...."Pria itu terkekeh pelan, lalu mencium bibirnya. "Nggak bisa. Harus tunggu sampai kita nikah."Di hari-hari berikutnya, pria itu seolah tak memiliki pekerjaan. Setiap hari dia menempel di sisi Tiwi, mengikutinya ke mana pun wanita itu pergi.Mereka mendiskusikan detail pernikahan bersama dan mendekorasi rumah baru mereka berdua.Ciuman selamat pagi dan selamat malam setiap hari, kejutan yang selalu menanti saat dia pulang, serta lampu hangat yang selalu menyala khusus untuknya.Semua itu adalah hal-hal yang belum pernah Tiwi rasakan sebelumnya.Saat menikah dengan Raka dulu, karena Keluarga Surendra tidak menyukainya sebagai menantu, mereka sudah memberinya peringatan bahkan sebelum pernikahan. Seluruh urusan pernikahan diurus oleh keluarga pria itu. Dia tak diberi ruang untuk ikut campur, bahkan sempat dimarahi tanpa alasan yang jelas.

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 13

    Setelah mengucapkan itu, Tiwi berbalik dan pergi.Namun, tepat saat dia berbalik, Raka menariknya dengan kasar, sambil menggertakkan gigi."Jangan harap!"Detik berikutnya, "Dor!" Suara tembakan menggelegar. Raka tak kuasa menahan tubuhnya dan terpaksa berlutut.Dia menunduk, baru menyadari kakinya tertembak, darah seketika membasahi celananya.Sakit. Sangat sakit.Raka dibesarkan di dalam lingkungan keluarga konglomerat yang serba mewah sejak kecil. Jangankan tertembak, dipukul orang saja tidak pernah.Wajahnya pucat pasi, cengkeramannya pada pergelangan tangan Tiwi melemah sejenak karena tak tahan menahan sakit. Memanfaatkan celah itu, Tiwi berhasil melepaskan diri.Eric menurunkan senjatanya dengan ekspresi datar, lalu berkata."Ini peringatan terakhirku. Kamu udah bikin kekasihku ketakutan."Tiwi bahkan tak melirik Raka, juga tak peduli seberapa parah lukanya. Dia malah langsung berjalan menuju pria itu.Urat-urat di pelipis Raka menonjol. Dia berteriak dengan mata melotot penuh am

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 12

    Kemunculan Raka seketika membuat seluruh ruangan hening, disusul oleh bisik-bisikan di antara para tamu."Gila apa, cewek yang ditembak Eric ternyata udah bersuami?""Eh, aku ingat. Cewek yang ditembak Eric namanya Tiwi, 'kan? Dulu aku pernah lihat foto bugilnya viral.""Ya ampun, astaga, kok ceritanya jadi sinetron begini sih.""Kok Eric bisa suka sama cewek kayak dia, sih? Aku kalah saing di mana, ya?""Kalahnya mungkin karena kamu nggak seliar dia, kali."Cemoohan bernada sindiran dari beberapa orang itu membuat senyum di wajah Tiwi perlahan memudar.Ekspresi Eric ikut mendingin. Dia hanya melirik ke arah sana dengan tatapan datar. Beberapa prajurit berseragam militer diam-diam membawa pergi orang-orang yang tadi banyak bicara. "Pak, apa yang mau kamu lakukan pada kekasihku?"Raka mengabaikannya. Dia tetap menatap Tiwi, berkata dengan nada melamun."Kemari, Sayang. Aku memanggilmu."Saat ini, rasa terkejut yang mengguncang hati Tiwi tadi perlahan memudar, berganti dengan ketenangan

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 11

    Kalimatnya belum selesai, Raka sudah membantingkan ponselnya keras-keras ke wajah Meisya."Masih berani nanya kenapa?"Begitu melihat layar ponsel yang terlempar itu, Meisya langsung paham semuanya. Tatapannya bergetar, buru-buru hendak meraih tangan Raka."Raka, ini salah paham. Percaya sama aku. Aku bisa jelasin semuanya.""Cukup!" Raka menepisnya dengan tidak sabar. "Kamu pikir mempermainkanku itu seru, ya?""Kamu bener-bener bikin aku muak."Setelah itu, Raka berbalik dengan jengkel, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para pengawal untuk bertindak. Segala siksaan dan penderitaan yang dulu dialami Tiwi, kini ditimpakan seluruhnya pada Meisya.Jeritan pilu menggema di depan pintu bar."Aku salah, Raka. Aku benar-benar salah." Meisya merangkak mendekat, berusaha meraih kaki Raka sambil memohon ampun, suaranya serak. "Aku mohon, jangan pukul aku lagi ...."Namun, permohonan itu tak ada gunanya sama sekali. Yang menyambutnya justru hantaman tongkat besi yang lebih keras da

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 10

    Beberapa menit kemudian, Raka duduk di dalam mobil, mendengarkan laporan hasil penyelidikan dari seberang telepon."Pak Raka, Nyonya mengambil penerbangan pukul delapan pagi tadi, tujuan Negara Astina.""Sekarang dia di mana? Kalau belum keluar wilayah, hubungi ATC, suruh pesawatnya balik atau mendarat di bandara terdekat. Kalau udah keluar negeri, tangkap dia pas pesawatnya baru mendarat.""Sepertinya, pesawatnya sudah mendarat dari tadi, Pak." Suara asisten itu terdengar sedikit ragu, lalu melanjutkan, "Pak Raka, saya juga menemukan beberapa hal tentang Nyonya dan Nona Meisya. Apa Bapak mau melihatnya dulu?"Raka menjawab singkat."Kirim ke sini.""Baik, Pak."Sebuah dokumen dan beberapa video segera dikirimkan. Raka membukanya.Video pertama memperlihatkan Meisya yang sedang diam-diam memasang beberapa kamera tersembunyi di ruang tamu.Video kedua memperlihatkan Meisya yang berdiri bersama para penculik di atas kapal, menampar Tiwi, sambil melontarkan kata-kata keji dengan wajah pen

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 9

    Setelah mendapatkan kunci kamar, Raka segera membuka pintu dan menggeledah seluruh ruangan.Kamar itu bersih dan rapi, tanpa jejak keberadaan Tiwi sedikit pun.Dia kembali menelepon Tiwi, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.Hingga saat dia mencoba mengirim pesan berupa tanda tanya, barulah dia menyadari bahwa pesannya juga tidak bisa terkirim.Karena Tiwi telah memblokirnya.Raka melihat pesannya gagal terkirim. Amarah di dadanya langsung meledak.Dia menendang kursi hingga terlempar. Wajahnya seketika dipenuhi amarah, sementara tekanan yang terpancar darinya begitu kuat hingga terasa mencekam. Tiwi berani memblokirnya? Dari mana dia berani melakukan itu? Setelah meninggalkan hotel, Raka pulang ke rumah.Di perjalanan, Meisya meneleponnya berkali-kali, tetapi semua panggilan itu Raka tolak mentah-mentah.Sesampainya di rumah, Raka menendang pintu kamar utama hingga terbuka lebar.Dia mendapati semua barang milik Tiwi telah raib. Bukan hanya itu, Tiwi juga membuang semua barang ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status