Share

Bab 2

Penulis: Okta
Sesampainya di lantai atas, Tiwi mulai membereskan barang-barangnya.

Lima tahun menikah, di vila sebesar ini, barang-barang milik Tiwi ternyata sangat sedikit. Yang paling banyak justru barang-barang yang dia belikan untuk Raka.

Pakaian kesukaan Raka, jam tangan favorit Raka, hingga berbagai kerajinan dengan detail rumit yang disukai Raka.

Dulu, dia selalu menggunakan barang-barang itu untuk menyenangkan hati Raka, berharap pria itu tidak berselingkuh.

Kini, dia mengeluarkannya satu per satu dan membuang semuanya ke tempat sampah.

Saat hampir selesai membereskan barang, suara manja dari lantai bawah perlahan menghilang, berganti dengan isak tangis seorang wanita dan derap langkah kaki banyak orang.

Detik berikutnya, pintu kamarnya ditendang hingga terbuka lebar. Mata Tiwi membelalak.

Orang-orang Keluarga Baskara!

Belum sempat Tiwi bertanya apa tujuan mereka datang, sebuah tamparan keras melayang ke wajahnya.

Tiwi ditampar hingga kepalanya terasa berkunang-kunang. Dia terjatuh ke lantai, lalu diseret menuruni tangga.

Raka yang masih sibuk membujuk Meisya dengan suara pelan, tangannya sempat terhenti sejenak saat melihat Tiwi diseret turun layaknya anjing mati.

Kepala Rumah Tangga Keluarga Baskara, Joko, menatapnya dengan wajah muram dan berteriak penuh amarah.

"Aku kira setelah setengah tahun dihukum, kamu bakal jadi nurut. Siapa sangka kamu masih berani ngelanggar aturan. Tiwi, apa kamu udah berani mengabaikan aturan Keluarga Baskara?!"

Menatap penggaris berpaku di tangan Joko, bayangan hukuman-hukuman kejam masa lalu berkelebat di benaknya. Luka-luka di punggungnya seolah kembali perih.

Rasa takut yang luar biasa menyelimutinya. Dia langsung berlutut, memaksakan diri untuk tetap tenang, tetapi getaran dalam suaranya tetap mengkhianatinya.

"Pak Joko, aku nggak ngelakuin apa-apa. Sejak aku dibebaskan, aku nggak pernah ngelanggar aturan Keluarga Baskara ...."

Kalimatnya belum selesai, Raka sudah memotong. Pria itu mengetuk-ngetukkan abu rokoknya, ekspresinya sulit ditebak.

"Lihat sendiri. Ada yang mau kamu jelasin?"

Sebuah ponsel dilemparkan begitu saja ke depan Tiwi.

Layar ponsel itu menampilkan sebuah topik hangat yang sedang trending.

Isinya tak lain adalah foto ciuman mesra Raka dan Meisya di ruang tamu tadi. Hanya saja wajah Raka diblur, sementara wajah Meisya terlihat jelas.

"Di vila ini cuma ada kita bertiga. Kalau bukan kamu yang nyebarin foto ini, masa hantu yang nyebarin?" Raka menyeringai sinis.

Melihat tatapan provokatif di mata Meisya, Tiwi langsung paham. Ujung-ujung jarinya mengepal hingga memutih.

Dia tahu, apa pun yang dia katakan sekarang, Raka tidak akan percaya.

Meski begitu, Tiwi tetap ingin membela diri.

"Aku tahu kalian nggak bakal percaya, tapi aku nggak ngelakuin ini. Aku nggak nyebarin fotonya."

Benar-benar keras kepala. Sikapnya sama saja seperti dulu, benar-benar membuat Raka muak. Tidak ada kemajuan sedikit pun.

"Kamu pikir aku bodoh? Nggak bisa bikin alasan yang lebih masuk akal?" Raka memijat pangkal hidungnya, nada suaranya penuh ketidaksabaran. "Udah dikasih kesempatan buat jelasin, tapi nggak mau. Ya udah, nggak usah basa-basi lagi."

Selesai bicara, dia mengetuk meja dengan kesal. Maksudnya sudah sangat jelas.

Joko menangkap isyarat itu. Tatapannya menajam dan penggaris berpaku itu menghantam punggung Tiwi dengan keras.

"Aturan pertama Keluarga Baskara: Selalu utamakan kenyamanan suami. Tiwi melanggar, pantas dihukum!"

Paku-paku itu menancap dalam ke kulit dan daging Tiwi. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya mengerang tertahan.

"Aturan ke-38 Keluarga Baskara: Dilarang cemburuan, dilarang melawan dan membantah. Tiwi melanggar, pantas dihukum!"

Hantaman kedua menyusul. Tiwi berkeringat dingin karena kesakitan, tubuhnya gemetar hebat, punggungnya sudah bersimbah darah.

"Aturan ke-375 Keluarga Baskara ...."

"Aturan ke-1.245 ...."

"Aturan ke-3.535 ...."

Pukulan demi pukulan mendarat. Tiwi sudah tidak ingat berapa banyak hantaman yang dia terima. Wajahnya pucat pasi, penglihatannya mulai dipenuhi bayang-bayang.

Bayangan tatapan Raka yang penuh senyum lima tahun lalu. Bayangan Raka memeluknya di tengah hujan deras, dengan nada santai bersumpah pada langit bahwa seumur hidup dia hanya akan mencintai Tiwi seorang.

Tepat sebelum kesadarannya tenggelam dalam kegelapan, satu pemandangan terpatri sangat jelas di matanya. Raka sedang asyik menggoda Meisya dalam pelukannya, sambil menatapnya yang sedang dipukul dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh.

Inilah suaminya. Pria yang dia cintai mati-matian selama lima tahun ini ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 14

    Jari-jari Tiwi yang lentik mencengkeram rambut pria itu. Wajahnya merona merah, suaranya terdengar pelan nyaris tak terdengar."Kamu bisa langsung ...."Pria itu terkekeh pelan, lalu mencium bibirnya. "Nggak bisa. Harus tunggu sampai kita nikah."Di hari-hari berikutnya, pria itu seolah tak memiliki pekerjaan. Setiap hari dia menempel di sisi Tiwi, mengikutinya ke mana pun wanita itu pergi.Mereka mendiskusikan detail pernikahan bersama dan mendekorasi rumah baru mereka berdua.Ciuman selamat pagi dan selamat malam setiap hari, kejutan yang selalu menanti saat dia pulang, serta lampu hangat yang selalu menyala khusus untuknya.Semua itu adalah hal-hal yang belum pernah Tiwi rasakan sebelumnya.Saat menikah dengan Raka dulu, karena Keluarga Surendra tidak menyukainya sebagai menantu, mereka sudah memberinya peringatan bahkan sebelum pernikahan. Seluruh urusan pernikahan diurus oleh keluarga pria itu. Dia tak diberi ruang untuk ikut campur, bahkan sempat dimarahi tanpa alasan yang jelas.

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 13

    Setelah mengucapkan itu, Tiwi berbalik dan pergi.Namun, tepat saat dia berbalik, Raka menariknya dengan kasar, sambil menggertakkan gigi."Jangan harap!"Detik berikutnya, "Dor!" Suara tembakan menggelegar. Raka tak kuasa menahan tubuhnya dan terpaksa berlutut.Dia menunduk, baru menyadari kakinya tertembak, darah seketika membasahi celananya.Sakit. Sangat sakit.Raka dibesarkan di dalam lingkungan keluarga konglomerat yang serba mewah sejak kecil. Jangankan tertembak, dipukul orang saja tidak pernah.Wajahnya pucat pasi, cengkeramannya pada pergelangan tangan Tiwi melemah sejenak karena tak tahan menahan sakit. Memanfaatkan celah itu, Tiwi berhasil melepaskan diri.Eric menurunkan senjatanya dengan ekspresi datar, lalu berkata."Ini peringatan terakhirku. Kamu udah bikin kekasihku ketakutan."Tiwi bahkan tak melirik Raka, juga tak peduli seberapa parah lukanya. Dia malah langsung berjalan menuju pria itu.Urat-urat di pelipis Raka menonjol. Dia berteriak dengan mata melotot penuh am

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 12

    Kemunculan Raka seketika membuat seluruh ruangan hening, disusul oleh bisik-bisikan di antara para tamu."Gila apa, cewek yang ditembak Eric ternyata udah bersuami?""Eh, aku ingat. Cewek yang ditembak Eric namanya Tiwi, 'kan? Dulu aku pernah lihat foto bugilnya viral.""Ya ampun, astaga, kok ceritanya jadi sinetron begini sih.""Kok Eric bisa suka sama cewek kayak dia, sih? Aku kalah saing di mana, ya?""Kalahnya mungkin karena kamu nggak seliar dia, kali."Cemoohan bernada sindiran dari beberapa orang itu membuat senyum di wajah Tiwi perlahan memudar.Ekspresi Eric ikut mendingin. Dia hanya melirik ke arah sana dengan tatapan datar. Beberapa prajurit berseragam militer diam-diam membawa pergi orang-orang yang tadi banyak bicara. "Pak, apa yang mau kamu lakukan pada kekasihku?"Raka mengabaikannya. Dia tetap menatap Tiwi, berkata dengan nada melamun."Kemari, Sayang. Aku memanggilmu."Saat ini, rasa terkejut yang mengguncang hati Tiwi tadi perlahan memudar, berganti dengan ketenangan

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 11

    Kalimatnya belum selesai, Raka sudah membantingkan ponselnya keras-keras ke wajah Meisya."Masih berani nanya kenapa?"Begitu melihat layar ponsel yang terlempar itu, Meisya langsung paham semuanya. Tatapannya bergetar, buru-buru hendak meraih tangan Raka."Raka, ini salah paham. Percaya sama aku. Aku bisa jelasin semuanya.""Cukup!" Raka menepisnya dengan tidak sabar. "Kamu pikir mempermainkanku itu seru, ya?""Kamu bener-bener bikin aku muak."Setelah itu, Raka berbalik dengan jengkel, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para pengawal untuk bertindak. Segala siksaan dan penderitaan yang dulu dialami Tiwi, kini ditimpakan seluruhnya pada Meisya.Jeritan pilu menggema di depan pintu bar."Aku salah, Raka. Aku benar-benar salah." Meisya merangkak mendekat, berusaha meraih kaki Raka sambil memohon ampun, suaranya serak. "Aku mohon, jangan pukul aku lagi ...."Namun, permohonan itu tak ada gunanya sama sekali. Yang menyambutnya justru hantaman tongkat besi yang lebih keras da

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 10

    Beberapa menit kemudian, Raka duduk di dalam mobil, mendengarkan laporan hasil penyelidikan dari seberang telepon."Pak Raka, Nyonya mengambil penerbangan pukul delapan pagi tadi, tujuan Negara Astina.""Sekarang dia di mana? Kalau belum keluar wilayah, hubungi ATC, suruh pesawatnya balik atau mendarat di bandara terdekat. Kalau udah keluar negeri, tangkap dia pas pesawatnya baru mendarat.""Sepertinya, pesawatnya sudah mendarat dari tadi, Pak." Suara asisten itu terdengar sedikit ragu, lalu melanjutkan, "Pak Raka, saya juga menemukan beberapa hal tentang Nyonya dan Nona Meisya. Apa Bapak mau melihatnya dulu?"Raka menjawab singkat."Kirim ke sini.""Baik, Pak."Sebuah dokumen dan beberapa video segera dikirimkan. Raka membukanya.Video pertama memperlihatkan Meisya yang sedang diam-diam memasang beberapa kamera tersembunyi di ruang tamu.Video kedua memperlihatkan Meisya yang berdiri bersama para penculik di atas kapal, menampar Tiwi, sambil melontarkan kata-kata keji dengan wajah pen

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 9

    Setelah mendapatkan kunci kamar, Raka segera membuka pintu dan menggeledah seluruh ruangan.Kamar itu bersih dan rapi, tanpa jejak keberadaan Tiwi sedikit pun.Dia kembali menelepon Tiwi, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.Hingga saat dia mencoba mengirim pesan berupa tanda tanya, barulah dia menyadari bahwa pesannya juga tidak bisa terkirim.Karena Tiwi telah memblokirnya.Raka melihat pesannya gagal terkirim. Amarah di dadanya langsung meledak.Dia menendang kursi hingga terlempar. Wajahnya seketika dipenuhi amarah, sementara tekanan yang terpancar darinya begitu kuat hingga terasa mencekam. Tiwi berani memblokirnya? Dari mana dia berani melakukan itu? Setelah meninggalkan hotel, Raka pulang ke rumah.Di perjalanan, Meisya meneleponnya berkali-kali, tetapi semua panggilan itu Raka tolak mentah-mentah.Sesampainya di rumah, Raka menendang pintu kamar utama hingga terbuka lebar.Dia mendapati semua barang milik Tiwi telah raib. Bukan hanya itu, Tiwi juga membuang semua barang ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status