Share

Bab 5

Author: Okta
Tiwi mengira dirinya akan mati tenggelam di laut, tetapi nyatanya tidak. Dia justru selamat dan berhasil ditarik kembali oleh seseorang.

Saat membuka mata, dia kembali berada di kamar rawat inap rumah sakit.

"Udah sadar?"

Raka berdiri di ambang pintu, nada suaranya datar tanpa emosi.

Tenggorokan Tiwi terasa kering dan perih. Dengan susah payah, dia duduk dan hendak mengulurkan tangan untuk mengambil gelas air di sampingnya. Namun, detik berikutnya, Raka menepis gelas itu hingga jatuh ke lantai.

Air tumpah membasahi lantai.

Raka menatapnya penuh ejekan.

"Mau minum? Turun terus jilat airnya di lantai."

"Tiwi, kayaknya kamu itu benaran butuh dididik lagi, ya. Sandiwara penculikan yang kamu buat sendiri itu seru, ya?"

Tiwi menunduk, suaranya serak.

"Bukannya aku jatuh ke laut tadi? Siapa yang nyelamatin aku?"

Raka tertawa, menepuk-nepuk pipi Tiwi dengan gestur yang sangat menghina, lalu melemparkan ponsel ke hadapan Tiwi.

"Siapa lagi kalau bukan komplotan kesayanganmu? Coba lihat, perhatian banget, kan? Takut kamu hipotermia, sampai-sampai nyariin baju buat nyelimutin kamu."

"Uang tebusannya 30 juta, kalian bagi ke berapa orang? Siapa yang dapat bagian paling besar? Kamu, ya?"

Foto di ponsel itu memperlihatkan para penculik yang sedang menutupi tubuh Tiwi yang tak sadarkan diri dengan pakaian.

"Bukan aku yang ngelakuin. Aku nggak tahu ...." ucap Tiwi dengan susah payah.

"Cukup!" Raka memotong dengan kesal. "Nggak capek apa? Ada asiknya apa kamu bersandiwara begini? Bukti sudah jelas di depan mata, masih saja ngotot!"

Ruangan itu kembali hening mencekam.

Tiwi memejamkan mata, memilih untuk tidak bersuara lagi.

Mungkin muak menatap wajahnya, Raka berjalan ke arah jendela. Sambil membelakangi Tiwi, ia menyalakan sebatang rokok dan berbicara dengan nada datar tanpa emosi.

"Habis nemenin Meisya di pesta pernikahan nanti, aku bakal kirim dia buat tinggal di tempat lain. Kalian nggak bakal ketemu lagi, jadi kamu nggak usah nyari gara-gara sama dia lagi."

Tiwi hanya merasa lelah luar biasa. Dia tak ingin lagi menjelaskan bahwa semua ini bukan ulahnya.

Sudah dijelaskan berkali-kali, tetapi pria itu tak pernah percaya sedikit pun.

Dia menoleh, menatap ke luar jendela.

"Kalau kamu sayang banget sama dia, kamu bisa ceraikan aku, terus nikahin dia."

Raka terkekeh dingin.

"Aku takut kalau aku ceraikan kamu, kamu yang udah gila ini bakal beneran gila total. Nanti ada orang gila yang terus-menerus mengganggu hidupku dan Meisya."

Tiwi angkat bicara.

"Aku nggak bakal ngerepotin kalian, soalnya lusa aku ...."

"Udah, cukup!" Raka memotong dengan nada tak sabar. "Nggak ada satu pun kata jujur yang keluar dari mulut kamu. Aku juga malas dengarnya."

"Aku masih harus nemenin Meisya milih gaun buat pesta ulang tahun besok. Kamu diam aja di sini sendirian."

Setelah berkata demikian, Raka langsung pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh.

Tiwi menatap pintu yang kini kosong, lalu menyunggingkan senyum kecut.

Keesokan paginya, dia sudah berdandan dan berganti pakaian.

Pernikahan mereka belum berakhir, yang berarti dia masih berstatus sebagai istri Raka.

Aturan ke-673 Keluarga Baskara: Pada hari ulang tahun suami, istri wajib hadir.

Ini adalah hari terakhirnya. Dia tidak ingin ada satu pun kesalahan yang terjadi.

Di pesta ulang tahun tersebut, padahal dialah istri Raka, tetapi yang benar-benar berdiri di sisi Raka justru Meisya. Di tengah sorak-sorai para tamu, Raka dan Meisya memegang sebilah pisau yang sama, lalu bersama-sama memotong kue pertama

Pria tampan dan wanita cantik, pasangan yang begitu serasi.

Di bawah sorotan lampu, mereka terlihat begitu serasi, seolah-olah Raka dan Meisya adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.

Tiwi berdiri di area yang diselimuti bayangan, menatap semua itu dalam diam.

Dia tidak ingin mencari perhatian dengan maju ke depan dan membuat suasana menjadi canggung. Sebaliknya, dia mencari sudut sepi, lalu meneguk minumannya dalam diam.

Di sepanjang sesi permainan selanjutnya, Meisya terus-menerus menargetkannya.

Ketika Tiwi kalah, aturannya adalah pihak yang kalah harus menampar pipinya sendiri satu kali, lalu minum tiga gelas sebagai hukuman.

Ketika Tiwi menang, aturannya adalah pemenang harus melepas satu pakaian. Jika menolak, dia harus menampar dirinya sendiri satu kali, lalu minum tiga gelas sebagai hukuman.

Plak!

Plak, plak!

Tamparan ke-99, dan gelas hukuman ke-297.

Pipi Tiwi membengkak parah, sementara perutnya terasa panas dan bergejolak hebat.

Semua tamu terdiam, hanya Raka yang masih sibuk membujuk Meisya yang sedang merajuk.

"Udah, jangan marah lagi. Aturannya aja udah aku ubah sesuai maumu, masa masih nangis sih? Udah, jangan nangis, ya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 14

    Jari-jari Tiwi yang lentik mencengkeram rambut pria itu. Wajahnya merona merah, suaranya terdengar pelan nyaris tak terdengar."Kamu bisa langsung ...."Pria itu terkekeh pelan, lalu mencium bibirnya. "Nggak bisa. Harus tunggu sampai kita nikah."Di hari-hari berikutnya, pria itu seolah tak memiliki pekerjaan. Setiap hari dia menempel di sisi Tiwi, mengikutinya ke mana pun wanita itu pergi.Mereka mendiskusikan detail pernikahan bersama dan mendekorasi rumah baru mereka berdua.Ciuman selamat pagi dan selamat malam setiap hari, kejutan yang selalu menanti saat dia pulang, serta lampu hangat yang selalu menyala khusus untuknya.Semua itu adalah hal-hal yang belum pernah Tiwi rasakan sebelumnya.Saat menikah dengan Raka dulu, karena Keluarga Surendra tidak menyukainya sebagai menantu, mereka sudah memberinya peringatan bahkan sebelum pernikahan. Seluruh urusan pernikahan diurus oleh keluarga pria itu. Dia tak diberi ruang untuk ikut campur, bahkan sempat dimarahi tanpa alasan yang jelas.

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 13

    Setelah mengucapkan itu, Tiwi berbalik dan pergi.Namun, tepat saat dia berbalik, Raka menariknya dengan kasar, sambil menggertakkan gigi."Jangan harap!"Detik berikutnya, "Dor!" Suara tembakan menggelegar. Raka tak kuasa menahan tubuhnya dan terpaksa berlutut.Dia menunduk, baru menyadari kakinya tertembak, darah seketika membasahi celananya.Sakit. Sangat sakit.Raka dibesarkan di dalam lingkungan keluarga konglomerat yang serba mewah sejak kecil. Jangankan tertembak, dipukul orang saja tidak pernah.Wajahnya pucat pasi, cengkeramannya pada pergelangan tangan Tiwi melemah sejenak karena tak tahan menahan sakit. Memanfaatkan celah itu, Tiwi berhasil melepaskan diri.Eric menurunkan senjatanya dengan ekspresi datar, lalu berkata."Ini peringatan terakhirku. Kamu udah bikin kekasihku ketakutan."Tiwi bahkan tak melirik Raka, juga tak peduli seberapa parah lukanya. Dia malah langsung berjalan menuju pria itu.Urat-urat di pelipis Raka menonjol. Dia berteriak dengan mata melotot penuh am

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 12

    Kemunculan Raka seketika membuat seluruh ruangan hening, disusul oleh bisik-bisikan di antara para tamu."Gila apa, cewek yang ditembak Eric ternyata udah bersuami?""Eh, aku ingat. Cewek yang ditembak Eric namanya Tiwi, 'kan? Dulu aku pernah lihat foto bugilnya viral.""Ya ampun, astaga, kok ceritanya jadi sinetron begini sih.""Kok Eric bisa suka sama cewek kayak dia, sih? Aku kalah saing di mana, ya?""Kalahnya mungkin karena kamu nggak seliar dia, kali."Cemoohan bernada sindiran dari beberapa orang itu membuat senyum di wajah Tiwi perlahan memudar.Ekspresi Eric ikut mendingin. Dia hanya melirik ke arah sana dengan tatapan datar. Beberapa prajurit berseragam militer diam-diam membawa pergi orang-orang yang tadi banyak bicara. "Pak, apa yang mau kamu lakukan pada kekasihku?"Raka mengabaikannya. Dia tetap menatap Tiwi, berkata dengan nada melamun."Kemari, Sayang. Aku memanggilmu."Saat ini, rasa terkejut yang mengguncang hati Tiwi tadi perlahan memudar, berganti dengan ketenangan

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 11

    Kalimatnya belum selesai, Raka sudah membantingkan ponselnya keras-keras ke wajah Meisya."Masih berani nanya kenapa?"Begitu melihat layar ponsel yang terlempar itu, Meisya langsung paham semuanya. Tatapannya bergetar, buru-buru hendak meraih tangan Raka."Raka, ini salah paham. Percaya sama aku. Aku bisa jelasin semuanya.""Cukup!" Raka menepisnya dengan tidak sabar. "Kamu pikir mempermainkanku itu seru, ya?""Kamu bener-bener bikin aku muak."Setelah itu, Raka berbalik dengan jengkel, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para pengawal untuk bertindak. Segala siksaan dan penderitaan yang dulu dialami Tiwi, kini ditimpakan seluruhnya pada Meisya.Jeritan pilu menggema di depan pintu bar."Aku salah, Raka. Aku benar-benar salah." Meisya merangkak mendekat, berusaha meraih kaki Raka sambil memohon ampun, suaranya serak. "Aku mohon, jangan pukul aku lagi ...."Namun, permohonan itu tak ada gunanya sama sekali. Yang menyambutnya justru hantaman tongkat besi yang lebih keras da

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 10

    Beberapa menit kemudian, Raka duduk di dalam mobil, mendengarkan laporan hasil penyelidikan dari seberang telepon."Pak Raka, Nyonya mengambil penerbangan pukul delapan pagi tadi, tujuan Negara Astina.""Sekarang dia di mana? Kalau belum keluar wilayah, hubungi ATC, suruh pesawatnya balik atau mendarat di bandara terdekat. Kalau udah keluar negeri, tangkap dia pas pesawatnya baru mendarat.""Sepertinya, pesawatnya sudah mendarat dari tadi, Pak." Suara asisten itu terdengar sedikit ragu, lalu melanjutkan, "Pak Raka, saya juga menemukan beberapa hal tentang Nyonya dan Nona Meisya. Apa Bapak mau melihatnya dulu?"Raka menjawab singkat."Kirim ke sini.""Baik, Pak."Sebuah dokumen dan beberapa video segera dikirimkan. Raka membukanya.Video pertama memperlihatkan Meisya yang sedang diam-diam memasang beberapa kamera tersembunyi di ruang tamu.Video kedua memperlihatkan Meisya yang berdiri bersama para penculik di atas kapal, menampar Tiwi, sambil melontarkan kata-kata keji dengan wajah pen

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 9

    Setelah mendapatkan kunci kamar, Raka segera membuka pintu dan menggeledah seluruh ruangan.Kamar itu bersih dan rapi, tanpa jejak keberadaan Tiwi sedikit pun.Dia kembali menelepon Tiwi, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.Hingga saat dia mencoba mengirim pesan berupa tanda tanya, barulah dia menyadari bahwa pesannya juga tidak bisa terkirim.Karena Tiwi telah memblokirnya.Raka melihat pesannya gagal terkirim. Amarah di dadanya langsung meledak.Dia menendang kursi hingga terlempar. Wajahnya seketika dipenuhi amarah, sementara tekanan yang terpancar darinya begitu kuat hingga terasa mencekam. Tiwi berani memblokirnya? Dari mana dia berani melakukan itu? Setelah meninggalkan hotel, Raka pulang ke rumah.Di perjalanan, Meisya meneleponnya berkali-kali, tetapi semua panggilan itu Raka tolak mentah-mentah.Sesampainya di rumah, Raka menendang pintu kamar utama hingga terbuka lebar.Dia mendapati semua barang milik Tiwi telah raib. Bukan hanya itu, Tiwi juga membuang semua barang ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status