Share

Bab 4

Author: Okta
Tiwi mengurus prosedur kepulangannya dari rumah sakit seorang diri, lalu naik taksi pulang sendirian.

Seketika pintu terbuka, pemandangan yang menyambutnya adalah Raka yang sedang fokus memasak, sementara Meisya bertingkah manja di sampingnya. Mereka terlihat layaknya sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara.

Jika itu dulu, Tiwi pasti akan mengamuk seperti orang gila, menghancurkan dapur hingga berantakan, dan memukuli habis-habisan wanita yang berdiri di samping Raka.

Namun kini, dia tidak akan melakukan hal itu lagi, tidak akan membuat keributan. Dia hanya akan berdiri diam di samping, menatap mereka, lalu berkata.

"Kalian masak saja pelan-pelan. Aku naik ke atas dulu."

Raka berkata dengan nada datar.

"Kalau cemburu, sana pergi ke Keluarga Baskara buat nerima hukuman. Jangan main curang di belakang. Kalau kamu ngelakuin lagi ...." suaranya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada santai.

"Aku nggak bakal membiarkannya begitu saja."

Langkah Tiwi terhenti sejenak, lalu tanpa menoleh dia berkata.

"Nggak bakal ada yang kedua kalinya lagi."

Raka mencibir, "Baguslah."

Memang benar-benar tidak akan ada lagi yang kedua kalinya. Tinggal dua hari, dia akan pergi dari tempat ini selamanya dan tidak akan kembali.

Kali ini, dia pulang hanya untuk mengambil barang-barangnya.

Rumah ini dalam beberapa hari lagi akan memiliki nyonya baru. Rasanya tidak pantas jika dia masih tinggal di sini. Lebih baik dia segera pindah.

Saat Tiwi turun membawa koper, Raka dan Meisya sedang makan.

Melihatnya membawa koper, Raka menyunggingkan senyum sinis.

"Kenapa? Sekarang ganti main kabur dari rumah?"

Tiwi tersenyum. "Iya, sekarang ganti main kabur dari rumah."

"Boleh. Besok 'kan ulang tahunku. Ikut dulu acara ulang tahunku, baru lanjut kabur dari rumah."

"Oke."

Maka, di hadapan keduanya, Tiwi pergi dari vila itu dengan terang-terangan.

Setelah meletakkan kopernya di hotel, dia bersiap keluar untuk membeli beberapa barang lagi. Namun, baru saja melangkah keluar dari hotel, seseorang dari belakang menutup mulut dan hidungnya, lalu menyeretnya ke dalam gang sepi.

Saat membuka mata kembali, Tiwi mendapati dirinya terikat dan digantung di atas laut.

Tidak hanya dirinya yang ada di sana. Meisya juga tampak berdiri bersama para penculik.

Sudah jelas, ini pasti ulah Meisya lagi.

"Meisya, kamu sebenarnya mau ngapain sih?!"

Tiwi mengerutkan kening dan bertanya dengan nada dingin.

Meisya menatap wajah Tiwi yang cantik dan menawan. Sekilas, rasa iri dan kebencian melintas di matanya.

Meisya mengayunkan tangannya dan menampar wajah Tiwi dengan keras.

"Raka udah muak banget sama kamu, tapi kamu masih aja nempel dan nggak mau cerai. Ya udah, kalau nggak mau cerai, mati aja di laut hari ini!"

Hati Tiwi seketika mencelos.

"Meisya, kamu nggak bakal berhasil. Aku sama Raka itu suami istri. Kalau aku hilang, dia pasti bakal nyariin aku. Kalau sampai dia tahu sifat aslimu, kamu kira dia masih bakal suka sama kamu?"

Meisya tertawa lembut. Dia memanggil para penculik itu, lalu meminta mereka untuk menggantung dirinya juga di tempat yang sama.

"Coba tebak, Raka bakal pilih siapa?"

Tiwi mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tidak lagi bersuara.

Beberapa saat kemudian, Raka tiba di atas kapal sambil menenteng sebuah koper hitam.

Dengan mata memerah, Meisya buru-buru mendahului Tiwi dan berteriak.

"Raka, tolongin aku! Tiwi udah gila. Dia yang merencanakan semua penculikan ini. Aku takut banget!"

Tiwi buru-buru menyahut.

"Bukan begitu! Meisya yang jadi dalang penculikan ini. Raka, percaya sama aku!"

Raka saat itu sudah tidak lagi terlihat santai seperti biasanya. Seluruh tubuhnya memancarkan sikap acuh tak acuh, dan nada suaranya terdengar dingin.

"Tiwi, kayaknya aku udah pernah ngingetin kamu. Jangan diam-diam lakuin sesuatu di belakangku. Tapi kenapa kamu nggak pernah dengar sih? Kemarin bikin foto Meisya viral, sekarang kamu mau bunuh Meisya juga?"

Wajah Tiwi memucat. Dia menggelengkan kepala dengan panik, tetapi apa pun penjelasannya, Raka tidak mau mendengarkan sepatah kata pun.

Mata para penculik berbinar tamak, lalu berteriak lantang.

"Tuan Muda Raka, pilih salah satu dari dua orang ini. Yang satu istrimu, yang satu lagi …."

Ucapan penculik itu dipotong oleh Raka. Dia melemparkan koper di tangannya sembarangan ke depan, nadanya terdengar dingin dan mengancam.

"Nggak usah basa-basi. Aku pilih Meisya. Ini ada 60 miliar sesuai permintaanmu. Coba dihitung."

Para penculik terkejut sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Oke, oke. Nggak usah dihitung. Aku percaya sama Tuan Muda Raka. Woi, lepasin ikatan Meisya."

Tiwi tersenyum getir.

Raka tak pernah percaya pada kata-katanya. Dia hanya percaya pada Meisya.

Begitu Meisya diturunkan, dia langsung berlari memeluk Raka. Angin laut bertiup kencang dan mereka berpelukan di depan semua orang, bak sepasang kekasih yang baru saja selamat dari maut dan memastikan pasangannya masih hidup.

"Raka, terus Tiwi gimana?"

Meisya bertanya dengan nada ragu, raut wajah penuh kekhawatiran. Namun dari sudut yang tidak bisa dilihat Raka, dia menatap Tiwi dengan tatapan provokatif dan penuh kemenangan.

Raka memeluknya dan pergi tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar sangat datar.

"Bukannya dia yang ngatur sandiwara penculikan ini? Uang 60 miliar udah dikasih, masih nggak cukup?"

"Aku nggak yakin apa benaran Tiwi yang merencanakannya, tapi ... kamu mau selamatkan dia nggak?"

"Nggak usah. Biarin aja dia mati."

Kalimat itu benar-benar menghancurkan sisa harapan terakhir di hati Tiwi.

Tali yang mengikatnya dipotong dan Tiwi seketika jatuh terhempas ke dalam lautan dalam yang berputar bak pusaran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 14

    Jari-jari Tiwi yang lentik mencengkeram rambut pria itu. Wajahnya merona merah, suaranya terdengar pelan nyaris tak terdengar."Kamu bisa langsung ...."Pria itu terkekeh pelan, lalu mencium bibirnya. "Nggak bisa. Harus tunggu sampai kita nikah."Di hari-hari berikutnya, pria itu seolah tak memiliki pekerjaan. Setiap hari dia menempel di sisi Tiwi, mengikutinya ke mana pun wanita itu pergi.Mereka mendiskusikan detail pernikahan bersama dan mendekorasi rumah baru mereka berdua.Ciuman selamat pagi dan selamat malam setiap hari, kejutan yang selalu menanti saat dia pulang, serta lampu hangat yang selalu menyala khusus untuknya.Semua itu adalah hal-hal yang belum pernah Tiwi rasakan sebelumnya.Saat menikah dengan Raka dulu, karena Keluarga Surendra tidak menyukainya sebagai menantu, mereka sudah memberinya peringatan bahkan sebelum pernikahan. Seluruh urusan pernikahan diurus oleh keluarga pria itu. Dia tak diberi ruang untuk ikut campur, bahkan sempat dimarahi tanpa alasan yang jelas.

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 13

    Setelah mengucapkan itu, Tiwi berbalik dan pergi.Namun, tepat saat dia berbalik, Raka menariknya dengan kasar, sambil menggertakkan gigi."Jangan harap!"Detik berikutnya, "Dor!" Suara tembakan menggelegar. Raka tak kuasa menahan tubuhnya dan terpaksa berlutut.Dia menunduk, baru menyadari kakinya tertembak, darah seketika membasahi celananya.Sakit. Sangat sakit.Raka dibesarkan di dalam lingkungan keluarga konglomerat yang serba mewah sejak kecil. Jangankan tertembak, dipukul orang saja tidak pernah.Wajahnya pucat pasi, cengkeramannya pada pergelangan tangan Tiwi melemah sejenak karena tak tahan menahan sakit. Memanfaatkan celah itu, Tiwi berhasil melepaskan diri.Eric menurunkan senjatanya dengan ekspresi datar, lalu berkata."Ini peringatan terakhirku. Kamu udah bikin kekasihku ketakutan."Tiwi bahkan tak melirik Raka, juga tak peduli seberapa parah lukanya. Dia malah langsung berjalan menuju pria itu.Urat-urat di pelipis Raka menonjol. Dia berteriak dengan mata melotot penuh am

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 12

    Kemunculan Raka seketika membuat seluruh ruangan hening, disusul oleh bisik-bisikan di antara para tamu."Gila apa, cewek yang ditembak Eric ternyata udah bersuami?""Eh, aku ingat. Cewek yang ditembak Eric namanya Tiwi, 'kan? Dulu aku pernah lihat foto bugilnya viral.""Ya ampun, astaga, kok ceritanya jadi sinetron begini sih.""Kok Eric bisa suka sama cewek kayak dia, sih? Aku kalah saing di mana, ya?""Kalahnya mungkin karena kamu nggak seliar dia, kali."Cemoohan bernada sindiran dari beberapa orang itu membuat senyum di wajah Tiwi perlahan memudar.Ekspresi Eric ikut mendingin. Dia hanya melirik ke arah sana dengan tatapan datar. Beberapa prajurit berseragam militer diam-diam membawa pergi orang-orang yang tadi banyak bicara. "Pak, apa yang mau kamu lakukan pada kekasihku?"Raka mengabaikannya. Dia tetap menatap Tiwi, berkata dengan nada melamun."Kemari, Sayang. Aku memanggilmu."Saat ini, rasa terkejut yang mengguncang hati Tiwi tadi perlahan memudar, berganti dengan ketenangan

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 11

    Kalimatnya belum selesai, Raka sudah membantingkan ponselnya keras-keras ke wajah Meisya."Masih berani nanya kenapa?"Begitu melihat layar ponsel yang terlempar itu, Meisya langsung paham semuanya. Tatapannya bergetar, buru-buru hendak meraih tangan Raka."Raka, ini salah paham. Percaya sama aku. Aku bisa jelasin semuanya.""Cukup!" Raka menepisnya dengan tidak sabar. "Kamu pikir mempermainkanku itu seru, ya?""Kamu bener-bener bikin aku muak."Setelah itu, Raka berbalik dengan jengkel, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para pengawal untuk bertindak. Segala siksaan dan penderitaan yang dulu dialami Tiwi, kini ditimpakan seluruhnya pada Meisya.Jeritan pilu menggema di depan pintu bar."Aku salah, Raka. Aku benar-benar salah." Meisya merangkak mendekat, berusaha meraih kaki Raka sambil memohon ampun, suaranya serak. "Aku mohon, jangan pukul aku lagi ...."Namun, permohonan itu tak ada gunanya sama sekali. Yang menyambutnya justru hantaman tongkat besi yang lebih keras da

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 10

    Beberapa menit kemudian, Raka duduk di dalam mobil, mendengarkan laporan hasil penyelidikan dari seberang telepon."Pak Raka, Nyonya mengambil penerbangan pukul delapan pagi tadi, tujuan Negara Astina.""Sekarang dia di mana? Kalau belum keluar wilayah, hubungi ATC, suruh pesawatnya balik atau mendarat di bandara terdekat. Kalau udah keluar negeri, tangkap dia pas pesawatnya baru mendarat.""Sepertinya, pesawatnya sudah mendarat dari tadi, Pak." Suara asisten itu terdengar sedikit ragu, lalu melanjutkan, "Pak Raka, saya juga menemukan beberapa hal tentang Nyonya dan Nona Meisya. Apa Bapak mau melihatnya dulu?"Raka menjawab singkat."Kirim ke sini.""Baik, Pak."Sebuah dokumen dan beberapa video segera dikirimkan. Raka membukanya.Video pertama memperlihatkan Meisya yang sedang diam-diam memasang beberapa kamera tersembunyi di ruang tamu.Video kedua memperlihatkan Meisya yang berdiri bersama para penculik di atas kapal, menampar Tiwi, sambil melontarkan kata-kata keji dengan wajah pen

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 9

    Setelah mendapatkan kunci kamar, Raka segera membuka pintu dan menggeledah seluruh ruangan.Kamar itu bersih dan rapi, tanpa jejak keberadaan Tiwi sedikit pun.Dia kembali menelepon Tiwi, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.Hingga saat dia mencoba mengirim pesan berupa tanda tanya, barulah dia menyadari bahwa pesannya juga tidak bisa terkirim.Karena Tiwi telah memblokirnya.Raka melihat pesannya gagal terkirim. Amarah di dadanya langsung meledak.Dia menendang kursi hingga terlempar. Wajahnya seketika dipenuhi amarah, sementara tekanan yang terpancar darinya begitu kuat hingga terasa mencekam. Tiwi berani memblokirnya? Dari mana dia berani melakukan itu? Setelah meninggalkan hotel, Raka pulang ke rumah.Di perjalanan, Meisya meneleponnya berkali-kali, tetapi semua panggilan itu Raka tolak mentah-mentah.Sesampainya di rumah, Raka menendang pintu kamar utama hingga terbuka lebar.Dia mendapati semua barang milik Tiwi telah raib. Bukan hanya itu, Tiwi juga membuang semua barang ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status