LOGINAh, Kimmy semakin sedih. Hari ini ia genap berusia dua puluh dua tahun. Apa mamanya masih ingat ulang tahunnya? Apa Langit mengirimkan ucapan di email-nya. Mbak Asih tidak tahu dan Kimmy memang tak ingin memberitahunya. Itu tak penting. Dan Arsel? Jelas tidak mungkin tahu. Sedihnya hati Kimmy.Ia mengeluarkan buku kecil dari dalam laci. Lalu menulis sesuatu di sana."Selamat menyambut ulang tahunmu, Kimmy. Hari ini genap 22 tahun usiamu. Kamu akan jadi seorang ibu di usia ini. Duh Kimmy, yang kuat ya sayang. Jadilah wanita yang hebat. Happy birthday Kimmy Putri Palupi binti Heru Harimurti."Di akhir tulisannya, Kimmy melukis gambar hati. Tak terasa air matanya meleleh. Ini ulang tahun pertamanya tanpa ada ucapan dari siapapun. Biasanya sang mama yang selalu memberikan ucapan. Lalu Langit. Pria itu selalu memberinya hadiah. Tapi kini sepi."Nggak apa-apa, Kim. Bukankah kamu senang suamimu nggak di rumah. Katamu bisa tidur bebas menguasai ranjang sendirian, nggak engap karena dikekepin
"Sarapan dulu, Mas." Bu Elok menghampiri ke kamar sambil membawa nampan berisi sarapan dan minum."Nanti saja, Ma," jawabnya pelan."Ayolah sarapan sedikit. Sejak tadi malam Mas nggak makan. Nanti kalau sakit malah susah menyelesaikan masalah ini."Akhirnya Pak Fardhan meraih piring berisi nasi dengan lauk tumis sawi dan ayam bumbu rujak. Dia memaksakan diri untuk menghabiskannya. Istrinya benar. Ia tidak boleh tumbang oleh masalah."Bagaimana rencana Mas sekarang?" tanya Bu Elok hati-hati setelah suaminya selesai makan.Pak Fardhan mengembuskan napas berat. "Mana mungkin papa menikahkan Salsa dengan bajingan itu. Dia itu penipu," jawabnya dengan geram."Lalu ...."Hening. Pak Fardhan tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Kepala rasanya hampir meledak. Anak buah yang dikirimnya telah memberikan laporan akurat tentang siapa Ettan dan latar belakang keluarganya. Dan tak mungkin ia menikahkan putrinya dengan lelaki itu. Bukan karena dia dari keluarga biasa, tapi baginya Ettan itu be
KAMU YANG KUCINTAI- 53 Untuk Kimmy Arsel memperhatikan foto Kimmy di tengah sunyinya malam. Foto candid yang dikirim Mbak Asih tadi pagi.[Pesan saya tidak dijawab Kimmy, Mbak. Sedang di mana dia sekarang?] Ini pesan yang dikirim Arsel pada Mbak Asih.[Mbak Kimmy di teras, Mas. Lagi nungguin tukang donat lewat. Dua hari ini Mbak Kimmy lagi suka makan donat.] Balas Mbak Asih sambil mengirimkan gambar Kimmy yang diambil secara sembunyi-sembunyi.Di gambar itu Kimmy berdiri di teras rumah Pujon yang masih dibalut kabut tipis. Ia mengenakan terusan hamil berwarna soft blue sebatas betis, warna yang membuat kulit pualamnya tampak kian bersinar di bawah cahaya matahari pagi. Perutnya berbentuk bulat indah.Ada desir panas yang menjalar di dada Arsel, sebuah kerinduan yang menyesakkan paru-paru. Ia menyentuh permukaan layar. Rasanya ingin segera pulang, membenamkan wajah di ceruk leher Kimmy, dan merasakan sapaan sang anak dari dalam perut mamanya.🖤LS🖤Salsa meringkuk di atas sprei yang
Sekujur tubuh Arsel mendadak kaku. Di balik kelopak matanya yang terpejam, visualisasi Kimmy muncul tanpa sensor. Kulit perut Kimmy yang seputih pualam, membulat dengan indah karena benih yang ia tanam di sana. Ia membayangkan permukaan kulit yang kencang itu."Abang mau lihat anak kita, Kim," suara Arsel terdengar berat dan mulai gusar."Nggak usah. Besok saja. Sudah ya, Bang. Aku sudah mengantuk.""Kim, sebentar.""Aku ngantuk, Bang."Arsel menghela napas pelan. "Baiklah. Selamat tidur, Sayang. I love you.""Iya. Selamat tidur juga, Bang. Assalamu'alaikum."Klik. Panggilan terputus sebelum Arsel menjawab salam. "Wa'alaikumsalam." Arsel menjawab lirih sambil mendengkus pelan. Perasaannya jadi campur aduk kalau begini. Kimmy belum pernah menjawab ucapan cintanya.Jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sunyi merayap masuk, tapi di dalam kepala Arsel terjadi huru-hara.Pikiran yang sejak tadi tegang karena Salsa, kini bergeser ke arah yang jauh lebih 'sinting'. Rasa
Nyali Ettan benar-benar ciut. Ia gemetar hebat di bawah cengkeraman Arsel. "Kalau kamu mau teriak minta bantuan, silakan. Kalau mau lapor polisi karena pukulanku, silakan. Kutunggu."Ettan terdiam. Ia baru menyadari betapa bodohnya selama ini. Ia mengira Salsa hanyalah gadis kaya yang kesepian, yang bisa ia manfaatkan untuk kesenangannya tanpa perlu memikirkan konsekuensi. Ia tak pernah mencintai Salsa. Baginya gadis itu hanyalah selingan sementara. Memanfaatkan perasaan Salsa yang tergila-gila padanya."Kutunggu 1X24 jam dari sekarang. Kamu datang ke rumahku bersama orang tuamu. Jika besok malam kamu tidak muncul, aku sendiri yang akan menjemputmu dengan cara yang jauh lebih menyakitkan dari sekadar pukulan ini. Aku akan mengajarimu cara lelaki bertanggung jawab." Ettan mengangguk cepat. "I-iya, Mas. Saya mengerti."Arsel melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Ettan nyaris terjatuh. Tanpa menoleh lagi, Arsel dan Tora masuk ke dalam mobil. Mesin menderu, dan mobil itu meles
KAMU YANG KUCINTAI - 52 Demi Kamu Arsel mendekat. Bu Elok sebenarnya gemetar. Tapi nekat memanggil putra tirinya. Dia khawatir kalau kejadian tentang Salsa ini membuat pencarian Kimmy dinomer duakan atau berhenti sama sekali. Walaupun ia juga masih berharap bahwa Langit bakalan menemukan Kimmy."Maaf kalau saya mengganggumu dalam keadaan begini. Saya nggak bisa membahasnya dengan papamu, makanya saya memanggilmu. Saya hanya ingin, Kimmy tetap dicari sampai ketemu. Jika saya harus membayar ini dengan menjauh dari kalian, akan saya lakukan. Asal anak saya ketemu." Bu Elok terisak di akhir kalimatnya."Tidak perlu bernegosiasi dengan saya, Bu. Saya tak ingin lagi mencampuri hubungan Ibu dengan papa saya. Soal Kimmy, tak perlu khawatir. Saya yang akan mencarinya sampai ketemu. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Seharusnya tuntutan Ibu bisa lebih keras dan lebih tegas lagi dari ini, tapi saya tidak tahu apa yang ada dibenak Ibu.""Saya sedih dan hancur dengan nasib yang menimpa Kimmy
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju







