LOGIN"Tebakan Mbak Asih jitu juga waktu itu. Ternyata yang lahir memang baby boy," kata Kimmy saat mereka ngobrol sehabis makan siang."Saya belum pernah ngerasain hamil dan punya anak, Mbak Kimmy. Tapi begitulah yang sering dibilang orang-orang kampung. Eh, kebetulan bener juga."Mereka berbincang hingga membahas tentang nama. "Abang, saja yang ngasih nama. Aku nggak kepikiran satu nama pun untuk anak cowok," kata Kimmy."Kita kasih nama Ravensa saja. Nanti panggilannya Ravi." Arsel sengaja mengambil dari nama tengahnya. Nama pemberian sang mama. "Ravensa Heru Permana. Bagaimana?""Iya, aku setuju," jawab Kimmy karena ada nama papanya yang disematkan di sana. Dan akhirnya mereka sepakat nama itu untuk putra mereka. 🖤LS🖤Sore harinya proses administrasi diurus dengan cepat dan privat. Arsel melangkah lebih dulu sambil menenteng babies does carrier. Yang di dalamnya ada baby Ravi. Sedangkan Kimmy berjalan di dampingi Mbak Asih.Dan mobil barunya Arsel meluncur tenang ke arah apartement.
"Maafkan Papa. Tapi kita akan terus mencari Kimmy."Bu Elok bergeming. Hatinya benar-benar sesak malam itu. Perasaan yang langsung terkoneksi dengan keadaan putrinya saat itu juga.Tiga bulan setelah Salsa diasingkan ke Kuala Lumpur, Bu Elok tetap mendampingi Pak Fardhan untuk menjenguk putrinya di sana. Sudah dua kali menyambangi. Pak Fardhan juga sadar, Bu Elok berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Hanya saja mereka yang tidak bisa menerima kehadirannya."Ayo, kita masuk kamar!" ajak Pak Fardhan sambil merangkul bahu istrinya."Nanti dulu. Perutku mulas. Aku mau ke kamar mandi di belakang saja," tolak Bu Elok menepiskan tangan suaminya dan langsung melangkah pergi.Dan sepanjang malam itu Bu Elok tidak bisa tidur.🖤Pukul 22:15 suasana menjadi tegang. Dokter dan suster masuk dengan peralatan lengkap. Pembukaan sudah lengkap."Ayo, Mbak Kimmy. Tarik napas dalam-dalam, dorong saat mulasnya datang," instruksi dokter dengan tenang.Arsel berdiri di sisi kepala Kimmy, membi
KAMU YANG KUCINTAI - 60 Welcome BabyJantung Arsel berdegup kencang. Kemudian ia memandang asisten disebelahnya yang tengah menata berkas."Yusri, saya harus keluar karena ada urusan mendadak. Tolong semua urusan kantor kamu handle. Nanti jika Papa saya nyariin, bilang kalau saya ada keperluan mendesak di lapangan," kata Arsel sambil mematikan laptop."Baik, Pak Arsel," jawab Yusri.Arsel bergegas keluar ruangan. Meninggalkan laptop yang akan diurusi asistennya. Sebentar kemudian Arsel sudah memacu mobilnya membelah kemacetan Surabaya menuju apartemennya untuk berganti mobil. Di tengah situasi genting begini, insting pelindungnya masih bekerja. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun, termasuk orang suruhan papanya atau Langit melacak keberadaannya. Tinggal sedikit lagi, setelah itu Kimmy mungkin akan siap berhadapan dengan mereka.Sepanjang perjalanan ia terus menghubungi Mbak Asih yang lebih dulu sampai ke klinik bersama Kimmy naik taksi."Sabar, Sayang. Abang sudah di jalan. Sebentar
Pak Fardhan menatap wajah istrinya dengan saksama. Wajah itu kini semakin muram. Semenjak mereka pulang dari Kuala Lumpur setelah mengantar Salsa, Bu Elok seolah berubah menjadi orang asing. Ia sering melamun, nafsu makannya hilang, dan yang paling kentara, istrinya itu berulang kali menolak untuk bersentuhan di atas ranjang."Kita nggak akan berpisah. Kita rawat anak Kimmy baik-baik nantinya. Kimmy bisa melanjutkan kuliahnya lagi setelah melahirkan. Dan dia bisa menikah dengan Langit," ujar Pak Fardhan hati-hati. "Nggak semua lelaki punya hati sebesar Langit, Elok. Pria itu tampan, mapan, dan dia mencintai Kimmy apa adanya. Bahkan saat tahu Kimmy hamil anak lelaki lain. Kimmy beruntung mendapatkan pria seperti dia."Itu jalan keluar terbaik bagi Kimmy. Kita nggak mungkin menikahkan Kimmy dengan Arsel. Memang secara agama boleh-boleh saja, tapi ini akan jadi omongan sampai kapanpun. Mereka sebagai kakak beradik di mata publik. Bayangkan jika Kimmy mendadak muncul setelah menghilang, p
Langit juga tahu kalau selama ini Bu Elok sangat membela keluarga barunya. Pria itu membuka email. Dan semua pesan yang dikirim kepada Kimmy tak ada balasan. Ucapan selamat ulang tahunnya beberapa hari yang lalu pun tak terbaca. Lalu ia teringat sosok di mall Malang waktu itu. Benar itu Kimmy, tapi kenapa tak mau menemuinya, mungkin karena malu. Dia bukan lagi Kimmy yang dulu."Kim, bukalah email ini. Kamu akan tahu kalau aku nggak memandang siapa pun kamu sekarang. Bagiku kamu tetap Kimmy yang dulu," ucap Langit dalam hati sambil mengetik pesan. Diungkapkan semuanya di sana. Dia mencintai Kimmy dan akan menerima Kimmy apa adanya. Berharap kalau Kimmy akan membuka pesannya.Langit menghela napas berat. Ia berpikir, Kimmy pasti tidak sendirian. Pergi dari rumah dalam keadaan hamil, tentu harus punya tujuan. Pasti ada yang menemani. Tapi siapa? Dia kenal Kimmy yang tidak memiliki siapa-siapa di luar sana. Teman terdekat gadis itu hanya dirinya.Arsel, dari ucapannya seolah menantang.
KAMU YANG KUCINTAI- 59 Minyak Telon"Siapa yang nelepon?" tanya Arsel masih berdiri memandang istrinya."Dokter Rin, Bang."Arsel lega. Kemudian melangkah ke kamar untuk mandi. Sedangkan Kimmy mengangkat telepon itu di dekat jendela kaca. "Halo, assalamu'alaikum, Dok.""Wa'alaikumsalam. Dek, kamu di mana. Beberapa hari ini rumahmu sepi saat saya jalan-jalan.""Saya di Surabaya, Dok. Bang Arsel kan sakit, saya dan Mbak Asih ke apartemennya untuk menjenguk. Terus Bang Arsel nggak ngizinin saya balik ke Pujon. Sekarang saya disewakan apartment dekat unitnya. Rencananya akhir pekan ini saya ke Pujon untuk pamitan dan bertemu dengan dokter Rin.""O, gitu. Ya sudah. Saya pikir ada apa-apa. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Memang seharusnya dekat dengan suami menjelang persalinan. Kasihan juga Arsel pontang-panting Surabaya-Pujon. Sering perjalanan malam, pulang pagi. Kan khawatir kalau terjadi sesuatu di jalan, Dek.""Iya, Dok. Saya juga kepikiran kalau terjadi apa-apa di jalan. Kalau
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang







