Mag-log inSebuah suara menghentikan langkah mereka di depan sebuah gerai butik internasional. Kimmy menoleh dan mendapati dua orang gadis seumurannya, Tika dan Septi, berdiri dengan tatapan heran. Mereka ini teman satu kelasnya Kimmy di kampus, yang sebentar lagi akan mengenakan toga."Ya ampun, Kimmy. Kamu ke mana saja? Katanya sakit parah sampai harus cuti?" Tika menghambur mendekat, langsung memeluk Kimmy dengan erat, diikuti oleh Septi yang tak kalah heboh.Kimmy tersenyum hangat, membalas pelukan mereka meski sempat merasa canggung sejenak. "Aku baik-baik saja, Tik, Sep.""Kamu menghilang bak di tekan bumi. Nomermu nggak bisa dihubungi lagi," ujar Tika.Pandangan kedua gadis itu kemudian beralih pada sosok pria tinggi di sebelah Kimmy, lalu turun ke arah bayi di dalam stroller. Keheningan singkat terjadi. Mereka seperti sedang mencerna pemandangan di depan mata mereka. Kimmy yang dulu dikenal sebagai mahasiswi polos, kini sudah berhijab. Bersama pria tampan dan seorang bayi."Kenalin ini s
"Sayang, kamu tahu apa yang terjadi tadi sore di kantor?" tanya Arsel pelan sambil memandang istrinya."Memangnya ada apa, Bang?""Zareen datang ke kantor. Bukan untuk urusan pekerjaan," jawab Arsel.Kimmy merasa jantungnya mencelos sesaat. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. Padahal suaminya sangat sering bertemu dengan mantannya itu. Arsel sudah bilang, bahwa Kimmy harus percaya padanya."Dia sudah tahu tentang pernikahan kita," lanjut Arsel."Lalu reaksinya bagaimana?""Dia marah besar, menangis, mencaci, dan menyebut Abang sebagai pengkhianat yang telah mempermainkan perasaannya bertahun-tahun." Arsel menghela napas. "Dia mengira kita menjalin asmara di belakangnya selama ini. Tapi Abang tidak membela diri dengan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Biarlah dia membenci Abang sebagai pengkhianat, daripada dia tahu kebenaran yang jauh lebih pahit tentang kita."Kimmy bisa merasakan kepahitan yang dirasakan Zareen. Pasti gadis itu sangat mencintai Arsel.
KAMU YANG KUCINTAI- 73 Percaya Diri Pak Aaron tidak mungkin lupa dengan malam yang telah direncanakan dengan begitu sempurna. Dia sampai bengong mengingatnya. Jadi, apakah setelah Arsel pulang, yang jadi sasarannya adalah adik tirinya sendiri? Makanya dia meninggalkan Zareen karena harus bertanggung jawab pada Kimmy. Lalu keluarga mereka membuat skenario harus mengarang cerita, begini, begitu."Kenapa Papa diam? Mama nggak rela Zareen dipermainkan sekian lama, Pa. Kalau memang yang dicintainya itu adik tirinya, ngapain dia deketin Zareen. Setelah itu ditinggal. Padahal pacaran sudah tiga tahun. Pantas saja selama ini Arsel nggak pernah membicarakan pernikahan dengan Zareen." Bu Aaron bicara dengan begitu sewot. Wajahnya tegang karena emosi.Pak Aaron menarik napas panjang. "Sudahlah, Ma. Nggak usah diperpanjang masalah ini. Biar saja. Nanti Arsel yang bakalan menerima karmanya," jawab Pak Aaron melunak. Membuat istri dan putrinya menjadi heran. Wajah dan tatapan penuh amarah tadi ti
"Aku sudah tahu semuanya. Tentang kamu dan Kimmy," jawab Zareen yang membuat Arsel langsung paham apa tujuan wanita itu datang menemuinya. Ia sudah tahu, cepat atau lambat Zareen pasti akan mendengar kabar itu.Arsel tidak menghindar. Ia menatap Zareen dengan sorot mata yang tenang, tapi sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Aku minta maaf, Reen," ujar Arsel rendah. Suaranya bariton dan penuh penyesalan.Zareen tersenyum getir. "Aku nggak nyangka, jadi selama tiga tahun kita menjalin hubungan, selama aku membayangkan masa depan denganmu, kamu diam-diam menjalin asmara dengan adik tirimu sendiri? Jadi ini yang kamu maksud kesalahan yang nggak bisa kamu jelaskan padaku."Tidak," jawab Arsel tegas. "Aku tidak pernah menjalin asmara dengan Kimmy saat aku masih bersamamu. Aku tidak pernah berniat mengkhianatimu.""Kamu pinter juga berkelit, Sel," ucap Zareen dengan suara lirih yang pedih. "Katanya kalian sudah lama saling mencintai dan akhirnya menikah diam-diam dan punya anak. Aku suda
"Dari kerabat jauh keluarga mereka, Bu. Semua kerabat sudah tahu dan nggak mungkin ini berita bohong. Mereka bilang kalau Pak Arsel sudah punya anak. Seorang bayi laki-laki, usianya hampir tiga bulan."Zareen terkesiap. Pukulan kali ini rasanya begitu telak. Ia merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja disedot keluar. Paru-parunya sesak. Bayangan kejadian beberapa waktu lalu di tempat praktik psikolog mendadak terputar kembali di kepalanya.Sosok wanita berhijab yang saat itu tidak bisa ia lihat wajahnya dan bayi mungil yang digendongnya, ternyata dia Kimmy. Jadi apa yang dilihat Linda waktu itu juga benar. Perempuan berhijab itu Kimmy. Akhirnya rasa penasarannya kala itu terjawab sudah. Mata Zareen memerah, napasnya tersengal. Rasa sakitnya kali ini lebih dahsyat lagi dibandingkan saat Arsel memutuskannya sepihak. Luka yang berusaha ia sembuhkan, kini berdarah-darah lagi. Bahkan lebih parah."Jadi selama ini aku dikhianati?" suara Zareen meninggi dan mulai tidak st
KAMU YANG KUCINTAI - 72 Zareen Langit yang baru selesai mandi, duduk di sofa tunggal dalam kamarnya. Ia memperhatikan kotak yang sudah terbungkus kertas kado di meja kamarnya. Itu hadiah ulang tahun yang ia persiapan untuk Kimmy berbulan-bulan lalu. Namun benda itu tidak akan pernah sampai ke tangan Kimmy. Langit tidak mungkin memberikannya."Harusnya kado ini sudah sampai di tanganmu, Kim. Kamu pasti menyukainya."Hatinya bergejolak. Jika saja Arsel ini seorang bajingan yang melarikan diri setelah berbuat salah, atau pria brengsek yang hanya mengincar raga Kimmy, Langit akan memiliki alasan untuk menghancurkan pria itu. Ia akan merebut Kimmy kembali. Namun kenyataannya jauh lebih menyakitkan. Arsel sosol pria yang bertanggung jawab. Dia melakukan kesalahan, tapi dia juga berdiri tegak melindungi korbannya. Memberikan kehidupan dan cinta yang sempurna untuk menebus dosanya.Langit menarik napas panjang, berusaha mengusir sesak di dadanya. Bayangan Kimmy melintas. "Semoga kamu bahag
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang







