LOGINWanita itu lebih baik cerita langsung ke Arsel daripada ke Kimmy. Agar Kimmy yang sedang hamil tidak bertambah beban mentalnya.Sampai rumah, Mbak Asih langsung ke belakang untuk mengecek pintu dan jendela. Juga menyimpan lauk untuk sahur nanti. Sedangkan Kimmy dan Arsel masuk kamar. Kimmy mengambil buku KIA dan memberikan pada sang suami. Arsel membukanya. Dia memang tidak bisa menemani Kimmy periksa kehamilan. Sebab ia ke Pujon tiap akhir pekan. Jadi dokter kandungan tidak praktek."Dokter bilang apa?" tanya Arsel."Bayinya sehat. Beratnya juga sesuai umur.""Alhamdulillah."Selesai membaca keterangan dari dokter, Arsel meletakkan buku di meja. Kemudian berpindah ke atas tempat tidur untuk menyusul istrinya. Ada yang hendak dibicarakan dengan sang istri. Tapi kalau bicara sekarang, alamat Kimmy bakalan judes lagi dan dia tidak akan mendapatkan jatahnya malam itu. Sedangkan minggu depan dia juga sangat sibuk. Semoga tetap bisa pulang ke Pujon.Jadi, bukannya bicara. Arsel menatap i
"Mobilnya baru kan, Mbak?" kata Mbak Asih."Iya. Biar nggak terlacak, mungkin Bang Arsel tukar mobil dengan temannya, Mbak.""Bisa jadi, Mbak. Tapi itu masih baru. Coba lihat plat nomernya." Mbak Asih memperhatikan dengan teliti. "Nanti kutanyakan. Biasanya kan gantian sama mobilnya Mas Tora.""Kalau gitu saya tinggal belanja dulu, Mbak. Nanti kesiangan." "Iya."Mbak Asih segera melangkah menuruni tangga teras. Sedangkan Kimmy kembali masuk ke dalam. Saat bersamaan, Arsel keluar dari kamar. Pria itu tersenyum melihat istrinya dengan daster hamil warna maroon."Abang, pakai mobil siapa? Sepertinya mobil baru," tanya Kimmy.Arsel mengambil kunci mobil lalu menggandeng tangan istrinya untuk diajak keluar lagi. Pria itu membuka kunci dengan remote di tangannya. Pintu depan dibuka. "Ini punyamu," ujar Arsel yang membuat Kimmy terbeliak kaget, tapi juga tidak percaya."Nggak usah bercanda deh, Bang," sungutnya."Siapa yang bercanda. Ini serius. Abang beli untuk pulang ke Pujon. Dan ini mi
KAMU YANG KUCINTAI- 40 Curahan Hati 1Arsel memandang jam dinding. Pukul 02.50. Masih ada waktu sebenarnya. Arsel mengusap tengkuknya karena gelisah. Bagaimana ia menahannya sampai malam nanti. Semalam saja ia susah payah mengendalikan diri."Bang," panggil Kimmy setelah meletakkan mangkuk di meja."Abang ke kamar dulu," jawab Arsel lalu melangkah kembali ke peraduan mereka.Kimmy diam sejenak kemudian menyusul. Sementara Mbak Asih masih sibuk di dapur. Kimmy memang polos, tapi bukan bodoh. Dia tahu Arsel gelisah karena apa. Ketika tadi malam Arsel memeluknya dari belakang, ia merasakan detak jantung Arsel yang beradu di punggungnya. Merasakan ketegangan sang suami."Kamu tidak kedinginan pakai baju seperti itu?" tanya Arsel sambil menyalakan ponselnya. Kemudian mengecek pesan dan email untuk meredakan kegelisahan dalam dirinya."Aku sudah terbiasa dengan cuaca di sini, Bang. Lagian wanita hamil bawaannya selalu gerah."Arsel mengembalikan ponselnya di meja. Ia melangkah mendekat lan
Perutnya sudah besar. Usia menuju lima bulan adalah fase di mana tubuhnya berubah drastis. Ia merasa asing dengan bentuk tubuhnya sendiri, tapi ada kehangatan aneh setiap kali merasakan gerakan halus dari dalam sana. Bayi itu suka sekali menendang.Tiba-tiba daun pintu terbuka. Kimmy spontan menarik daster untuk menutupi perutnya dengan wajah yang memerah karena kaget sekaligus malu. Sang suami berdiri di ambang pintu. Arsel sempat terpaku. Pendar lampu kamar yang kuning keemasan memberikan siluet indah pada tubuh Kimmy. Meski tertutup baju hamil, Arsel bisa melihat dengan jelas betapa perut itu sudah jauh lebih besar dibanding terakhir kali ia melihatnya hampir dua minggu yang lalu. Dadanya berdesir hebat, antara rasa bersalah, rindu, dan gairah yang tertahan."Bang, bikin kaget saja. Kenapa nggak ngetuk pintu," omel Kimmy, suaranya ketus. Ia memalingkan wajah, tiba-tiba jengkel menatap Arsel yang mulai melangkah mendekat."Abang minta maaf, ya." Arsel menghampiri dan duduk di depan
Walaupun menikahi saudara tiri diperbolehkan, tapi itu tidak pantas saja bagi Pak Fardhan.Arsel menutup makannya dengan mengambil potongan kecil buah semangka. Kemudian ia bangkit. "Aku ke kamar dulu."Pak Fardhan memandang putranya yang menaiki tangga. Kemudian melanjutkan perbincangan dengan sang istri mengenai Langit. Sedangkan Salsa makan sambil sibuk dengan ponselnya.Sementara Arsel langsung berwudhu dan salat Maghrib. Setelah itu mengirimkan pesan pada Kimmy.[Sudah buka puasa?]Tidak ada balasan. [Sebentar lagi Abang berangkat ke Pujon.] Untuk pertama kalinya, Arsel membahasakan dirinya dengan panggilan Abang. Namun pesan kedua juga tidak ada respon. Mungkin Kimmy sedang sibuk berbuka dengan Mbak Asih. Atau bisa jadi dia memang marah. Biasanya mereka berbuka puasa sambil berbalas pesan atau video call.Arsel segera beranjak keluar. Turun dan menemui papanya yang hendak bangkit dari kursi ruang makan. "Pa, aku mau pulang," pamitnya."Papa sebenarnya ingin ngajak kamu ngobrol
KAMU YANG KUCINTAI - 39 Menggoda Arsel menarik napas panjang. Bukan papanya yang menemukan Langit, tapi justru Langit-lah yang datang sendiri. Nanti orang tuanya bakalan tahu kalau Kimmy tidak bersama pria itu. Papanya akan kembali sibuk mencari lagi di setiap sudut kota.Setelah beberapa saat terdiam, Arsel melangkah ke ruang makan. Di mana papa dan mama tirinya sudah duduk di sana untuk persiapan berbuka."Duduklah, Sel. Sebentar lagi azan." Pak Fardhan memandang putranya."Aku mau mandi dulu, Pa.""Buruan. Jangan sampai telat berbuka," kata sang papa.Arsel melangkah cepat ke lantai dua. Mengambil baju ganti dan langsung mandi. Setelah ini dia harus berangkat ke Pujon. Ia tahu kalau Kimmy sangat kecewa terhadapnya. Namun kalau tidak menuruti keinginan sang papa, besok atau lusa ia akan merecoki lagi untuk diajak buka bersama.Namun ketika dia kembali turun, sebelum melangkah ke meja makan, Arsel mendengar Bu Elok memberitahu papanya tentang telepon dari Langit tadi. "Hanya itu?
Mbak Asih memberanikan diri untuk mencegahnya. Dia sudah pernah melihat bagaimana seseorang menggugurkan kandungan lalu meninggal. Itu tetangganya sendiri, di desa sana."Mbak, tahu nggak. Sebingung apa saya saat ini.""Iya. Saya ngerti, Mbak. Maaf, saya nggak meremehkan kebingungan Mbak Kimmy. Tap
KAMU YANG KUCINTAI - 8 Kimmy Kimmy tercekat sejenak. Kemudian buru-buru menentramkan perasaannya yang bergemuruh melihat Arsel berhenti di bawah sana. Ia kembali melangkah. Sedangkan Arsel berhenti dan menepi. Ia cukup tahu diri. Karena bagi Kimmy, dirinya tak ubah seperti monster.Gadis itu mela
KAMU YANG KUCINTAI - 10 Jujur Saja "Andai aku punya tempat untuk pergi, Mbak," gumam Kimmy lirih pada Mbak Asih. Air mata terus meleleh di pipinya."Jangan pergi. Permasalahan Mbak Kimmy harus selesai juga di sini. Mereka yang berbuat, mereka juga yang harus bertanggung jawab. Dunia luar juga kej
KAMU YANG KUCINTAI- 11 Jaga Dia "Apakah kedatangan saya mengganggu, Bu Arini? Maaf, saya nggak menelepon dulu untuk bikin janji." Kimmy merasa tak enak hati dengan psikolog yang membukakan pintu. "Oh, nggak, Kimmy. Pasien setelah ini baru saja membatalkan janji, karena ada keperluan mendesak," j







