MasukMeski terkejut dengan permintaan pamannya, Rivan mengangguk.“Om pengin ngerasain langsung bakso urat legendaris buatan keponakan Om yang katanya bikin kuli bangunan jadi perkasa itu!" sambung Om Burhan.“Wah! Wah! Mas Burhan kepingin perkasa lagi, tuh Mbak! Siap-siap Dendi punya adik, nih!” goda Tante Lidya yang masih di sana.Suasana teras kontrakan sederhana itu dipenuhi oleh tawa hangat keluarga.Dendam dan kesombongan masa lalu kini telah meleleh sepenuhnya oleh ketulusan hati dan mukjizat bakso ajaib buatan Rivan Djati.“Aahh… segar!” Om Burhan meletakkan sendoknya di atas mangkok yang sudah kosong tak bersisa.Hanya dalam beberapa saat setelah menghabiskan porsi bakso urat komplit buatan keponakannya, wajah pria tambun itu mendadak memerah sehat dan terlihat makin segar."Luar biasa, Van! Persendian Om yang tadinya sering pegal sekarang rasanya enteng banget kayak umur tiga puluhan lagi!" puji Om Burhan dengan nada penuh kekaguman.Tante Sonia di sampingnya ikut tersenyum senan
Setelah Dendi menghilang di balik pintu dengan membawa amarahnya, keheningan kembali menyelimuti ruang perawatan intensif lantai lima tersebut.“Hghh… anak itu… selalu saja mengedepankan emosinya dulu.”Om Burhan menghela napas panjang, lalu menatap Rivan dengan sorot mata penuh harap yang meruntuhkan seluruh sisa-sisa harga dirinya selama ini.“Van, suapin lagi tantemu pake kuah ajaibmu!” Tante Lidya meminta.Rivan mengangguk pelan, kemudian kembali melangkah mendekati ranjang rumah sakit.“Tante…” ucap pelan Rivan di dekat Tante Sonia yang terbaring diam. “Semoga kuah ini membawa kesembuhan untuk Tante.”Dengan tenang dan penuh kehati-hatian, Rivan menyuapkan kuah kaldunya ke Tante Sonia.Cairan hangat yang kaya akan energi alam elemen kehidupan mengalir perlahan melewati tenggorokan sang bibi.Seketika, gelombang penyembuhan langsung bekerja meredakan kejang pada otot-otot jantungnya.Hanya butuh beberapa detik setelah suapan kedua itu tertelan sempurna.Kelopak mata Tante Sonia ak
"Minggir kamu dari mamaku!" raung Dendi kalap sambil mendorong bahu tegap Rivan sekuat tenaga.Namun, postur tubuh tegap Rivan yang telah diperkuat oleh energi alam, sehingga tetap kokoh bagai batu karang di samping ranjang.Dia sama sekali tidak bergeser, membuat Dendi yang sudah dikuasai kemurkaan buta kehilangan akal sehat sepenuhnya."Kurang ajar! Rasain, nih!" teriak Dendi.Dia mengepalkan tangan kanan erat-erat, lalu mengayunkannya dengan kekuatan penuh ke arah rahang Rivan.Bugh!“Dendi, stop!” seru Tante Lidya.Suara hantaman tinjunya terdengar cukup keras di dalam ruang VVIP yang sunyi.Namun, bagi Rivan… pukulan itu macam gigitan nyamuk saja.Berkat perlindungan energi alam, kulit wajah Rivan sama sekali tidak memar atau lecet sedikit pun.Justru Dendi yang merasakan buku-buku jarinya mendadak linu dan nyeri, seolah baru saja menghantam sebongkah beton padat."A-akh... sialan! Tanganku..." ringis Dendi sambil menarik tangannya kembali dengan wajah berkerut menahan sakit.Tap
“Kalo bukan karena Rivan, papamu saat ini masih terbaring lumpuh mencong di atas ranjang rumah sakit! Pikirin nyawa mamamu sekarang, Dendi!" teriak Tante Lidya.Hantaman fakta kebenaran yang meledak dari mulut Tante Lidya seketika membuat Dendi, Om Burhan, dan seluruh kerabat besar keluarga Hendra membatu dalam keheningan yang luar biasa mencekam di tengah terkaparnya tubuh Tante Sonia."Bohong! Gak mungkin! Kamu pasti sengaja ngarang cerita ini kan, Tante, biar Rivan keliatan berjasa di keluargaku?!" raung Dendi dengan mata merah menyala.Dia menolak memercayai kenyataan pahit yang baru saja meremukkan ego besarnya.Dia tak sudi meyakini kalau kesembuhan total papanya dari stroke … murni karena sepupu yang selalu dia injak-injak selama ini.Melihat keponakannya yang masih bebal di depan tubuh Tante Sonia yang terkapar pingsan, Tante Lidya tidak gentar sedikit pun."Kalo kamu pikir aku bohong, telepon Rivan sekarang! Aku berani panggil dia ke sini untuk bersaksi langsung di depan muka
“Kok bisa kamu minta gitu, Lidya?” Tante Sonia mendengus kencang.Tangannya yang dipenuhi cincin emas mengibas di udara dengan ketus.Wajahnya yang dilapisi bedak tebal langsung berubah sinis begitu mendengar nama keponakan yatim piatunya disebut.Tante Lidya berusaha membujuk, “Mbak…”"Nggak bisa, Lidya! Rivan nggak boleh datang ke acara syukuran suamiku. Aku nggak mau suamiku stroke lagi!" bentak Tante Sonia dengan nada ketus.Dia menolak mentah-mentah usulan adik iparnya."Kedatangan anak pembawa sial itu cuma bakal bikin tensi darah suamiku naik lagi. Kamu sengaja ya mau bikin Mas Burhan jantungan dan stroke lagi?!"Tante Lidya melangkah mendekat, mencoba memegang tangan kakak iparnya demi meluruskan kesalahpahaman."Mbak Sonia, tolong dengar dulu. Mas Burhan pasti baik-baik aja, dan jalannya acara ini justru bakal makin berkah kalo semua keponakan berkumpul.""Nggak! Gak usah sok ceramahin aku, Lidya!” Tante Sonia tetep nolak.“Mbak….”“Keputusanku udah bulat, rumah ini haram dim
‘Saatnya detik-detik saat cairan mukjizat-nya Rivan ngasi liat khasiatnya!’ batin Tante Lidya sambil terus berharap hasilnya terbukti baik.“Ayo, Mas… dimakan pelan-pelan.” Tante Lidya menyuapkan bubur berkuah kaldu Rivan ke mulut kakaknya.Glek! Glek!Setetes demi setetes kuah kaldu berenergi alam murni elemen kehidupan mengalir turun melewati kerongkongan Om Burhan.Dalam hitungan detik, energi murni tersebut bereaksi secara instan di dalam pembuluh darahnya.Hawa hangat yang tak kasat mata menjalar naik, menembus jaringan saraf otak yang sempat tersumbat.Setelah itu melancarkan aliran darah yang kaku dengan kecepatan supernatural."L-Lidya... sup apa ini? Kok... lidahku mendadak rasanya enteng banget?"Suara Om Burhan terdengar bulat, berbobot, dan sama sekali tidak tersendat lagi.Padahal sejak semalam, pria tambun itu hanya bisa mengeluarkan erangan tidak jelas dan kata-kata cadel yang sulit dipahami akibat kelumpuhan saraf wajahnya.“Astaga!”Seketika itu juga, semua orang di r







