เข้าสู่ระบบ
Terdengar suara pintu kamar Hana diketuk pelan ketika Hana baru saja selesai sholat. Dengan cepat, Hana melepas mukena yang masih menempel di tubuhnya setelah selesai.
"Ada apa, Bu?" tanya Hana pada ibunya yang berdiri di depan pintu saat pintu sudah terbuka. "Ali di luar," jawab ibu dengan senyum yang tersembunyi di balik bibirnya. Mendengar nama Ali disebut, Hana tersentak. Baru ingat, ia ada janji bertemu dengannya. Ia buru-buru merapikan mukena yang tergeletak di lantai, lalu mengambil khimar yang terjuntai di sana. "Al ... tunggu bentar, ya. Tunggu di dalam saja." "Gak apa-apa, di sini aja," jawab Ali dengan nada santai. "Ya sudah, tunggu sebentar, ya," jawab Hana sambil cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Dengan tergesa, Hana memilih baju di lemari, yang bisa langsung dipakai tanpa perlu disetrika agar Ali tidak terlalu lama menunggu. Ia teringat, semestinya Ali sudah menghubunginya siang tadi untuk memastikan apakah mereka jadi bertemu atau tidak. Beberapa menit berlalu, Hana selesai bersiap. Ia memandangi dirinya di depan cermin besar. Memilih celana kulot putih dan tunik dusty pink, ditambah dengan kerudung senada. Penampilannya begitu cantik, meski ada rasa ragu yang menggelayut di hati. "Ibu, Hana pergi dulu," kata Hana, berpamitan pada ibunya yang sudah menunggu di luar. Ternyata, ibunya juga menemani Ali tadi selama Hana bersiap. "Lama banget! Kasihan Ali, perutnya bunyi terus," canda ibu yang membuat Ali terkekeh ringan. "Biasalah, Bu, mau kencan, jadi dia lama siap-siap," sahut Ali dengan tawa yang menggoda. "Kencan apaan, coba," Hana pura-pura kesal, meski senyum di bibirnya tidak bisa disembunyikan. "Kami pergi dulu, Bu," Ali berpamitan pada ibu Hana. Ini adalah kedua kalinya Hana keluar dengan Ali. Pria tampan dengan rahang tegas, mata cokelat yang indah, dan hidung mancung. Penampilannya layaknya selebriti, membuat Hana merasa sedikit tidak percaya. Bagaimana bisa pria seperti Ali mengajaknya keluar? Sejak pertama kali bertemu dalam sebuah kerjasama antara perusahaan Hana dan Ali, ada sesuatu yang membuat Hana merasa nyaman. Ia tidak perlu berpura-pura, menjadi orang lain, atau merasa canggung saat berbicara dengannya. Ada rasa tenang dan nyaman yang tidak bisa dijelaskan. "Entar jatuh cinta loh, liatin aku terus," ujar Ali sambil tersenyum nakal, matanya tetap fokus di jalan. Hana langsung mengalihkan pandangan, wajahnya memerah. "Ih, apaan sih." Ia tersenyum malu sambil menatap ke luar jendela mobil, seolah mencari sesuatu yang menarik. Mereka melewati sebuah kafe yang pernah ia kunjungi bersama seseorang yang kini tak lagi bersamanya. Sebuah perasaan sesak muncul. Raut wajah Hana berubah menjadi sendu. Hana mencoba menarik napas dalam, mengatur perasaan yang tiba-tiba meluap. Terdengar suara tetesan hujan mengenai mobil Yang ia tumpangi. Ia menyentuh kaca mobil Yang tampak bekas sentuhan tetesan air hujan. Seolah langit turut merasakan apa yang ia rasakan. Hana tersenyum kecut, menarik napas panjang. "Masih jauh?" tanya Hana, berusaha mengalihkan perasaan yang Susah untuk dijelaskan. "Dikit lagi kok. Laper banget, ya?" canda Ali sambil tertawa kecil. Ketika memasuki sebuah parkiran yang cukup luas, menepikan mobil di depan sebuah restoran bertuliskan Dunia Laut. Dilihat dari deretan mobil dan sepeda motor yang tersusun rapi, sepertinya sedang Banyak pengunjung. Ali memperhatikan dirinya dari kaca yang ada di mobil, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Matanya melirik kearah Hana Yang juga sedang memperhatikan riasan Dari cermin kecil. Seulas senyum tipis terlukis disebut bibirnya, "udah cantik, kok," "Hm, digombalin lagi nih aku," sahut Hana, ia memasukan cermin kecil ke dalam tas. "Ada payung gak, Al?" tanya Hana menatap hujan yang semakin lebat. "Bawa dong, selalu siap," jawab Ali dengan percaya diri. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, mengambil payung yang disimpan dibagasi, sebelum membukakan pintu untuk Hana. Ali merangkul bahu Hana, memastikan agar gadis di sampingnya itu tidak terkena hujan. Sesuai dugaan, di dalam cukup ramai. Mata mereka beradu mencari meja yang tidak berpenghuni. "Ada meja kosong di sana, Mas," seorang karyawan memberi tahu. Dengan sigap mengantarkan mereka ke meja yang dimkasud, disudut ruangan yang baru saja ditinggal pergi tamu sebelumnya. Terlihat dari karyawan lain sedang membersihkan meja dengan satu kain lap ditangan. "Ali?" sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Hana yang mendapati siapa yang memanggil begitu terkejut. Itu Yudha, yang baru saja memanggil Ali. Dari luasnya kota yang mereka tinggali dan banyaknya tempat makan. mereka justru bertemu di sini. Tapi, tunggu dulu, mereka saling kenal? "Apa kabar?" sapa Ali, mereka saling berjabat tangan. Tampak akrab. "Baik. Lo, sendiri gimana?" "Baik, Alhamdulillah," sahut Ali. "Oh ya, kenalin ini Yudha teman SMP aku," Ali memutar tubuhnya ke arah Hana. Hana yang sedari tadi diam, memilih menyembunyikan diri dibalik punggung bidang Ali menggeser sedikit tubuhnya. Menampak diri ke hadapan Yudha. Menahan gejolak emosi yang kemabli muncul melihat orang yang kini dihadapannya. Perasaan sakit itu kembali hadir, menorehkan luka yang masih basah. "Hana?," Yudha mengeryitkan dahi, menatap Hana dan Ali bergantian. Ali yang bingung ketika Yudha menyebut nama Hana bertanya, "Kalian sudah saling kenal?" "Kebetulan kita satu tempat kerja," Hana melirik Yudha sekilas, beralih menatap mengangguk mendengar jawaban Hana. "Jadi, gimana ceritanya kalian bisa ...," Yudha menunjuk mereka berdua bergantian. Namun, tatapan terakhir terkunci di mata Hana. Seakan meminta penjelasan 'Apa hubunan kalian berdua'. "Harusnya nih kalo satu kantor sama Hana, kok waktu itu kita gak ketemu, ya? waktu itu gue ada proyek bareng sama kantor kalian. Tapi, intinya gue kenal Hana dari situ lah pokoknya. Oh, ya mau gabung?" tawar Ali kepada Yudha. Meja mereka sudah selesai dibersihkan. "Lain kali aja," Yudha melihat jam yang ada dipergelangan tangan kirinya. "Gue ada janji lagi habis ini. Gue duluan," Yudha menepuk lengan Ali pelan. "Han, sampai jumpa di kantor," pamit Yudha sebelum benar-benar pergi yang hanya dibalas Hana dengan senyum yang dipaksakan. Denting bunyi piring dan sendok beradu serta ramainya suara pengunjung berbincang membuat suasana tampak riuh. Hujan di luar sana sudah mulai mereda saat keduanya hampir selesai menikmati hidangan yang mereka pesan. perbincangan hangat seputar pekerjaan hingga obran ringan mengalir begitu saja. Andai ada yang tahu. Beberapa bulan lalu Hana menutup diri dari dunia luar. Ia memilih menghabiskan waktu mengurung diri di kamar. Sekedar diajak keluar mencari makan pun oleh sahabatnya ia enggan. Ia lakukan hanyalah bekerjan lalu pulang. Saat itu tidak ada yang menyadari seberapa rapuhnya Hana. Ia menggap dirinya bodoh dan terlalu buta akan cinta. Membuatnya tidak menyadari apa yang sudah terpampang jelas di depan mata. hatinya dulu hanya berporos pada satu nama, Yudha. Yah, lelaki yang baru saja ia temui tadi adalah sosok yang telah menghancurkannnya. Di saat ia menyakini bahwa Yudha adalah sosok yang ditakdirkan untuknya. Justru lelaki itu meninggalkannya, menikahi perempuan lain. Begitu susah payah ia untuk bangkit dari rasa sakit yang ditorehkan. Kini, membuatnya begitu hati-hati untuk memberikan perasaanya untuk orang lain. Ramainya suasana restoran berganti dengan deru suara kendaraan di jalan ditemani suara musik dari radio yang Ali nyalakan. Tak ubahnya di tempat sebelumnya, di sini pun mereka sesekali bernyanyi bersama saat lagu yang terdengar mereka ketahui. Jalan basah dan genangan air menyambut saat mereka sudah memasuki perumahanan rumah Hana. "Aku pulang aja. Salam buat ibu," pamit Ali sebelum kembali masuk ke dalam mobil. "Masuk gih," suruh Ali, dari dalam mobil. "Kalo kamu udah jalan," yang dibalas anggukan oleh Ali. Hana benar-benar menungggu hingga mobil Ali menghilang dari penglihannya. Baru saja hendak menutup pintu. Sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah Hana. Ia bisa melihat dari celah pintu yang hampir tertutup siapa yang kini berada di depan rumahnnya. Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut. Ada apalagi sekarang? batinnya. Hana bediri di depan pintu yang tertutup. Seakan memberi tahu jika ia tidak ingin mempersilahkan tamunya masuk. Kehadirannya tidak diterima. "Ada apa?" tanya Hana datar. "Kamu sama Ali? gak maksud aku, kamu dekat dengan Ali?" "Bukan urusan kamu. Sebaiknya kamu pulang. Gak baik pria beristri ke rumah perempuan lain malam hari pula," setelah mengatakan itu Hana segera masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Yudha sama sekali. Sementara sang tamu hanya bisa menatap nanar ke arah pintu berwarna hitam pekat di depannya.Hujan turun sejak sore, membasahi kota dengan suara yang pelan namun tak henti. Yudha duduk di tepi ranjang kosnya, punggung bersandar ke dinding, ponsel tergeletak di samping. Sudah tiga kali ibunya menelepon hari itu. Ia belum menjawab satu pun.Bukan karena tidak peduli. Justru karena terlalu peduli hingga ia kehabisan ruang untuk bernapas.Ia menatap langit-langit kamar yang kusam. Kos ini sempit, jauh dari kesan “kehidupan baru” yang dulu ia bayangkan saat memutuskan menikah dengan Risa. Ia mengira status akan membuatnya lebih tenang. Nyatanya, justru semakin banyak tuntutan yang harus ia pikul sendirian.Ponselnya kembali bergetar.Ibu.Yudha akhirnya menjawab.“Iya, Bu.”“Kamu belum kirim uangnya, Yudha. Ibu ditagih lagi,” suara ibunya bergetar. “Ibu malu.”Yudha menutup mata. Dadanya sesak.“Bu… Yudha lagi nggak ada.”Hening di seberang sana.“Oh… ya sudah,” jawab ibunya pelan, lalu sambungan terputus.Yudha memandangi layar ponsel lama setelah panggilan berakhir. Untuk pertam
Liburan itu seharusnya menjadi jeda. Setidaknya, itulah yang Yudha harapkan. Beberapa hari di luar kota, jauh dari rutinitas, jauh dari tekanan pekerjaan, dan jauh dari pikiran yang terus menghantuinya sejak pernikahannya dengan Risa. Namun yang ia dapatkan justru sebaliknya—jarak yang semakin terasa, meski mereka berada di tempat yang sama.Risa berdiri di depan jendela hotel, memunggungi Yudha. Ia sibuk merapikan tas kecilnya, memastikan semua barang bermerek yang ia bawa tersusun rapi. Sejak pagi, Risa nyaris tidak berbicara. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada nada tinggi. Hanya dingin yang menekan.“Kita pulang sore ini,” ucap Risa tanpa menoleh. “Aku harus kembali ke kantor besok. Ada apel pagi.”Yudha mengangguk. “Iya.”Ia ingin mengatakan sesuatu. Banyak, sebenarnya. Tentang pengakuannya yang tanpa sengaja terdengar oleh Risa beberapa hari lalu. Tentang rasa bersalah yang tak kunjung reda. Tentang Hana—nama yang masih sering muncul dalam diamnya. Tapi semua itu tertahan di tengg
Pintu kamar hotel itu tertutup perlahan, tapi suara pengakuan Yudha masih terngiang jelas di kepala Risa. Kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya terasa seperti cambukan yang menghantam harga dirinya tanpa ampun.“Aku menyesal menikah dengan Risa… Seandainya aku bisa mengulang semuanya, aku akan memilih Hana.”Risa berdiri mematung di depan wastafel kamar mandi. Tangannya mencengkeram pinggiran marmer begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pantulan wajahnya di cermin terlihat asing—mata merah, rahang mengeras, dan senyum tipis yang bukan lahir dari kebahagiaan.“Jadi selama ini aku cuma pengganti?” gumamnya lirih.Ia menundukkan kepala, napasnya naik turun tidak beraturan. Air dari keran yang dibiarkan mengalir seakan menjadi satu-satunya suara yang mampu meredam riuh di kepalanya. Ia merasa dipermainkan. Bukan hanya oleh Yudha, tapi juga oleh keadaan yang membuatnya harus menelan kenyataan pahit ini seorang diri.Risa menegakkan tubuhnya, mematikan keran, lalu melangkah
Hana mengernyit saat mendapati Yudha berdiri di depan pintu kamarnya."Ada apa?"Yudha merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meraih tangan Hana dan meletakkannya di sana."Ini uang yang ibu pinjam dulu. Aku baru tahu soal ini, dan aku ingin segera mengembalikannya."Hana menatap uang itu. Sempat ragu untuk menerima, tapi menolak pun terasa seperti menghina keluarga Yudha."Oh, oke." Ia hendak menarik tangannya, tapi Yudha menggenggamnya lebih erat.Tatapan mereka bertemu."Maaf...." suara Yudha terdengar lirih, penuh penyesalan.Hana hanya diam."Beri aku satu kesempatan lagi...."Hana tercekat. Entah kenapa, mendengar kata-kata itu, dadanya terasa sesak.Ia mengerjap, mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan Yudha. "Apa maksudmu?"Yudha menatapnya dalam-dalam. "Aku menyesal, Han ... Aku menyesal memilih Risa. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu. Tidak harus mendengarkan Ibu. Aku bodoh."Jantung Hana berdegup kencang. Kata-kata itu, andai saja ia dengar dul
Ponsel Hana berdering saat ia tiba di hotel. Nomor asing, tapi foto profilnya jelas memperlihatkan wajah Risa. Hana menghela napas berat. Rasanya sudah cukup lelah berurusan dengan wanita itu, tapi ia tetap menjawab dengan enggan. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Han, aku gak jadi nitip. Aku ambil aja langsung. Kamu di mana?" Suara Risa terdengar tanpa basa-basi. Yudha, yang berdiri di samping istrinya, mengernyit heran. Ia mendengar Risa menyebut nama "Han". Apakah itu Hana? "Baru sampai hotel. Ini mau masuk." "Aku tunggu di lobi." Telepon terputus begitu saja. Tanpa sopan santun. Hana kembali menarik napas, berusaha menahan kekesalan. "Kenapa?" tanya Ali. "Risa mau ambil titipannya sendiri. Dia nunggu di lobi." Tak lama, mereka tiba di lobi hotel. Hana berjalan menuju meja resepsionis, sementara Ifa memilih langsung ke kamar. "Han!" Suara Risa terdengar lantang. Hana menoleh, dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berdiri di sebelah Risa. Yudha.
Seharian ini Yudha bekerja dengan gelisah. Pikirannya terus melayang ke kota tempat Risa, Hana, dan Ali berada. Ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa mereka bertiga ada di satu tempat yang sama. Keinginan untuk menyusul semakin kuat, tetapi keuangan sedang tidak stabil. Lagi pula, mereka akan kembali bekerja pada hari Senin. Namun, semakin ia mencoba menahan diri, semakin tidak tenang rasanya. Akhirnya, muncul ide untuk meminjam uang kepada Zaki, rekan kerjanya yang sedang sibuk di depan laptop. "Zak, lo ada uang nggak? Gue mau pinjam," tanya Yudha langsung. Zaki menoleh dengan dahi berkerut. "Tumbenan lo pinjam uang. Berapa?" Yudha cepat menghitung perkiraan biaya tiket pesawat pulang-pergi, transportasi, makan, serta penginapan karena tidak mungkin tidur sekamar dengan Risa yang berbagi kamar dengan rekan kerjanya. Setelah semuanya ia perhitungkan, ia menunjukkan angka di layar ponselnya. Zaki membulatkan mata. "Segini?" "Ya. Gue transfer sekarang ya?" "Transfer aja, br







