LOGINHujan turun sejak sore, membasahi kota dengan suara yang pelan namun tak henti. Yudha duduk di tepi ranjang kosnya, punggung bersandar ke dinding, ponsel tergeletak di samping. Sudah tiga kali ibunya menelepon hari itu. Ia belum menjawab satu pun.Bukan karena tidak peduli. Justru karena terlalu peduli hingga ia kehabisan ruang untuk bernapas.Ia menatap langit-langit kamar yang kusam. Kos ini sempit, jauh dari kesan “kehidupan baru” yang dulu ia bayangkan saat memutuskan menikah dengan Risa. Ia mengira status akan membuatnya lebih tenang. Nyatanya, justru semakin banyak tuntutan yang harus ia pikul sendirian.Ponselnya kembali bergetar.Ibu.Yudha akhirnya menjawab.“Iya, Bu.”“Kamu belum kirim uangnya, Yudha. Ibu ditagih lagi,” suara ibunya bergetar. “Ibu malu.”Yudha menutup mata. Dadanya sesak.“Bu… Yudha lagi nggak ada.”Hening di seberang sana.“Oh… ya sudah,” jawab ibunya pelan, lalu sambungan terputus.Yudha memandangi layar ponsel lama setelah panggilan berakhir. Untuk pertam
Liburan itu seharusnya menjadi jeda. Setidaknya, itulah yang Yudha harapkan. Beberapa hari di luar kota, jauh dari rutinitas, jauh dari tekanan pekerjaan, dan jauh dari pikiran yang terus menghantuinya sejak pernikahannya dengan Risa. Namun yang ia dapatkan justru sebaliknya—jarak yang semakin terasa, meski mereka berada di tempat yang sama.Risa berdiri di depan jendela hotel, memunggungi Yudha. Ia sibuk merapikan tas kecilnya, memastikan semua barang bermerek yang ia bawa tersusun rapi. Sejak pagi, Risa nyaris tidak berbicara. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada nada tinggi. Hanya dingin yang menekan.“Kita pulang sore ini,” ucap Risa tanpa menoleh. “Aku harus kembali ke kantor besok. Ada apel pagi.”Yudha mengangguk. “Iya.”Ia ingin mengatakan sesuatu. Banyak, sebenarnya. Tentang pengakuannya yang tanpa sengaja terdengar oleh Risa beberapa hari lalu. Tentang rasa bersalah yang tak kunjung reda. Tentang Hana—nama yang masih sering muncul dalam diamnya. Tapi semua itu tertahan di tengg
Pintu kamar hotel itu tertutup perlahan, tapi suara pengakuan Yudha masih terngiang jelas di kepala Risa. Kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya terasa seperti cambukan yang menghantam harga dirinya tanpa ampun.“Aku menyesal menikah dengan Risa… Seandainya aku bisa mengulang semuanya, aku akan memilih Hana.”Risa berdiri mematung di depan wastafel kamar mandi. Tangannya mencengkeram pinggiran marmer begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pantulan wajahnya di cermin terlihat asing—mata merah, rahang mengeras, dan senyum tipis yang bukan lahir dari kebahagiaan.“Jadi selama ini aku cuma pengganti?” gumamnya lirih.Ia menundukkan kepala, napasnya naik turun tidak beraturan. Air dari keran yang dibiarkan mengalir seakan menjadi satu-satunya suara yang mampu meredam riuh di kepalanya. Ia merasa dipermainkan. Bukan hanya oleh Yudha, tapi juga oleh keadaan yang membuatnya harus menelan kenyataan pahit ini seorang diri.Risa menegakkan tubuhnya, mematikan keran, lalu melangkah
Hana mengernyit saat mendapati Yudha berdiri di depan pintu kamarnya."Ada apa?"Yudha merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meraih tangan Hana dan meletakkannya di sana."Ini uang yang ibu pinjam dulu. Aku baru tahu soal ini, dan aku ingin segera mengembalikannya."Hana menatap uang itu. Sempat ragu untuk menerima, tapi menolak pun terasa seperti menghina keluarga Yudha."Oh, oke." Ia hendak menarik tangannya, tapi Yudha menggenggamnya lebih erat.Tatapan mereka bertemu."Maaf...." suara Yudha terdengar lirih, penuh penyesalan.Hana hanya diam."Beri aku satu kesempatan lagi...."Hana tercekat. Entah kenapa, mendengar kata-kata itu, dadanya terasa sesak.Ia mengerjap, mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan Yudha. "Apa maksudmu?"Yudha menatapnya dalam-dalam. "Aku menyesal, Han ... Aku menyesal memilih Risa. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu. Tidak harus mendengarkan Ibu. Aku bodoh."Jantung Hana berdegup kencang. Kata-kata itu, andai saja ia dengar dul
Ponsel Hana berdering saat ia tiba di hotel. Nomor asing, tapi foto profilnya jelas memperlihatkan wajah Risa. Hana menghela napas berat. Rasanya sudah cukup lelah berurusan dengan wanita itu, tapi ia tetap menjawab dengan enggan. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Han, aku gak jadi nitip. Aku ambil aja langsung. Kamu di mana?" Suara Risa terdengar tanpa basa-basi. Yudha, yang berdiri di samping istrinya, mengernyit heran. Ia mendengar Risa menyebut nama "Han". Apakah itu Hana? "Baru sampai hotel. Ini mau masuk." "Aku tunggu di lobi." Telepon terputus begitu saja. Tanpa sopan santun. Hana kembali menarik napas, berusaha menahan kekesalan. "Kenapa?" tanya Ali. "Risa mau ambil titipannya sendiri. Dia nunggu di lobi." Tak lama, mereka tiba di lobi hotel. Hana berjalan menuju meja resepsionis, sementara Ifa memilih langsung ke kamar. "Han!" Suara Risa terdengar lantang. Hana menoleh, dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berdiri di sebelah Risa. Yudha.
Seharian ini Yudha bekerja dengan gelisah. Pikirannya terus melayang ke kota tempat Risa, Hana, dan Ali berada. Ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa mereka bertiga ada di satu tempat yang sama. Keinginan untuk menyusul semakin kuat, tetapi keuangan sedang tidak stabil. Lagi pula, mereka akan kembali bekerja pada hari Senin. Namun, semakin ia mencoba menahan diri, semakin tidak tenang rasanya. Akhirnya, muncul ide untuk meminjam uang kepada Zaki, rekan kerjanya yang sedang sibuk di depan laptop. "Zak, lo ada uang nggak? Gue mau pinjam," tanya Yudha langsung. Zaki menoleh dengan dahi berkerut. "Tumbenan lo pinjam uang. Berapa?" Yudha cepat menghitung perkiraan biaya tiket pesawat pulang-pergi, transportasi, makan, serta penginapan karena tidak mungkin tidur sekamar dengan Risa yang berbagi kamar dengan rekan kerjanya. Setelah semuanya ia perhitungkan, ia menunjukkan angka di layar ponselnya. Zaki membulatkan mata. "Segini?" "Ya. Gue transfer sekarang ya?" "Transfer aja, br







