Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 76. Harapan Palsu

Share

76. Harapan Palsu

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-05-09 20:22:01

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi ketika Kamila menyelesaikan riasannya. Hari ini, dia sengaja meliburkan warung online-nya karena ingin memberikan kejutan.

"Aku sudah mencari informasi dari temen-temen bengkelku, Mil. Mereka semua bilang kalau Harsa itu orangnya baik dan nggak pernah neko-neko. Nggak pernah main perempuan juga. Tetangga-tetangganya juga bilang begitu."

Kalau Toni sudah turun tangan dan memberikan pernyataan, itu artinya informasi yang diberikan memang benar adanya. Kamila
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Kamila slh phm nihh ciyee Harsa jgn terbang ya buruan dah lamar Kamila lsg mumpung lg kumpul keluarga bsr
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    81. Deep Talk

    Harsa bermimpi indah sekali. Dia sudah merasakan surga dunia. Hal yang selama ini hanya bisa dirasakannya di alam mimpi, akhirnya bisa dia rasakan di dunia nyata. Dengan wanita yang sama. Wanita yang mencuri hatinya tujuh tahun yang lalu. Yang membuatnya tidak berminat dengan wanita lain. "Enak nggak, Mas?" tanya Kamila dengan senyum menggoda dan suara lembut. Ah, bagaimana Harsa tidak tergila-gila? Wanita ini akhirnya menjadi miliknya. Rasanya jauh lebih nikmat dan memabukkan ketika dia merasakan manisnya Kamila secara langsung. Otaknya bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih ketika dia menyelami surga bersama wanita itu. "Aku mau lagi," rengek Kamila. Harsa tertawa ketika wanita itu menaiki tubuhnya. Dia seperti melihat bidadari. Begitu cantik menyilaukan mata, apalagi bidadari yang satu ini benar-benar agresif. Harsa mengerang. Teman-temannya bilang, berhubungan badan dengan wanita yang masih perawan itu rasanya memabukkan. Sangat sempit dan jepitannya kuat. Hal yang tidak di

  • Karma Suami Mendua    80. Malam Pertama

    Kamila melihat bayangannya di cermin kamar mandi hotel. Rambutnya basah dan wajahnya polos tanpa make-up. Tubuhnya masih terbalut handuk setelah membersihkan diri sebersih mungkin. Detak jantungnya cepat, kedua tangannya gemetar. Dia tidak menyangka akan sampai di titik ini. Menikah dengan pria lain setelah sebelumnya dikhianati. "Kenapa rasanya grogi banget ya?" gumamnya. Nafasnya keluar masuk dengan cepat. Ini bukan pertama kalinya dia menikah, jadi kenapa dia seperti gadis perawan yang baru kali ini menikah? Padahal ketika dengan Putra dulu, rasanya tidak seperti ini. Mereka langsung ke inti begitu masuk ke dalam kamar. Melakukan ritual malam pertama dengan Putra yang begitu agresif, seolah-olah sudah lama menahan diri. Mengabaikan Kamila yang menangis kesakitan. "Dia Mas Harsa. Bukan Mas Putra," gumamnya, menyalahkan diri karena terus membandingkan dua pria itu. Kamila meraih baju ganti di sandaran besi tempat handuk diletakkan, tapi tangannya berhenti. Dia melirik baju penga

  • Karma Suami Mendua    79. Kedatangan Pemilik Unilion

    Acara pernikahan itu benar-benar berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun. Semua tamu berbisik-bisik, membicarakan tentang kedua pengantin yang terlihat sangat bahagia. Banyak yang membandingkannya dengan pernikahan Kamila dan Putra dulu. Di mana hanya Kamila yang terlihat bahagia, sedangkan Putra terlihat bosan dan sering melihat jam tangan. Sekarang, pengantin pria terlihat sekali begitu memuja pengantin wanita. Bahkan, sang pria sesekali mengipasi ratunya yang kegerahan, atau mengelap keringat sang pujaan hati dengan tisu. "Ck! Bikin iri saja. Si Harsa kenapa jadi bucin begitu?" komentar Bariono yang baru saja datang. "Kayak kamu nggak pernah aja. Dulu juga kamu begitu ke Mariana," sindir Evelyn dengan ketus. Erik yang melihat interaksi kedua orang itu hanya menaikkan alis. Semua orang tahu bagaimana chemistry mereka. Sering sekali bertengkar jika sudah bertemu, tapi sebenarnya saling perhatian. Sayangnya, peraturan perusahaan membuat mereka menahan diri. Erik tahu i

  • Karma Suami Mendua    78. SAH!

    Banyak yang meremehkan Harsa secara diam-diam. Semua orang hanya tahu bahwa dia bekerja di toko bangunan. Hanya segelintir orang yang tahu siapa Harsa sebenarnya, saking tertutupnya pria itu. Kamila menulikan telinga ketika mendengar berbagai selentingan mengenai calon suaminya. Dia lebih tahu Harsa. Mereka semua akan bungkam begitu tahu siapa Harsa yang sebenarnya. Selama dua bulan mempersiapkan pernikahan, tidak sedikit tetangga yang mencibir Kamila. Mereka menganggap bahwa Kamila malah downgrade. Dari yang dulunya menikah dengan pria kaya, sekarang hanya dengan pekerja toko bangunan. "Kamu kelihatan cantik banget hari ini, Mbak. Aura kamu beda. Kelihatan lebih bahagia," celetuk MUA yang dulu juga menangani pernikahan Kamila dengan Putra. "Masa sih, Mbak?" Kamila tersenyum. Sejak bangun tidur, Kamila memang terus tersenyum. Jantungnya terus berdebar karena tak sabar untuk menjalani hari ini. Hari spesial yang ditunggu-tunggu. Dia bahkan sampai tidak bisa tidur semalaman. Untun

  • Karma Suami Mendua    77. Lamaran

    Kamila menatap Harsa heran. Pria itu malah terlihat bahagia sekali ketika melihat cincin yang terpasang di jari kirinya. "Kamu menerimaku." Di luar dugaan, Harsa mencium jari Kamila yang terpasang cincin. Kamila langsung terengah karena syok. "Kamu mau poligami?" Amarah Kamila langsung naik. Kening Harsa berkerut. "Poligami? Aku kan belum menikah." Kamila menggertakkan giginya. "Kamu mau menikahi gadis itu sekaligus menikahi aku. Bukankah itu namanya poligami?" Kali ini, Harsa terlihat kebingungan. "Gadis yang mana? Aku masih menunggu kamu." "Lha itu yang tadi menyuapi kamu buah! Itu calon istri kamu, kan?" pekik Kamila merasa frustrasi sekaligus jengkel. Mata Harsa membelalak. "Enggak lah. Buat apa aku menikahi dia? Bisa dihajar Ilham aku nanti." Gantian Kamila yang sekarang bingung. "Maksudnya?" "Ya dia calon istri Ilham. Dia yang mau menikah besok." "Tapi dia menyuapi kamu!" Harsa menggeleng. "Enggak. Diana tadi mau menyuapi kakaknya yang ada di depanku. Kamu nggak liha

  • Karma Suami Mendua    76. Harapan Palsu

    Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi ketika Kamila menyelesaikan riasannya. Hari ini, dia sengaja meliburkan warung online-nya karena ingin memberikan kejutan. "Aku sudah mencari informasi dari temen-temen bengkelku, Mil. Mereka semua bilang kalau Harsa itu orangnya baik dan nggak pernah neko-neko. Nggak pernah main perempuan juga. Tetangga-tetangganya juga bilang begitu." Kalau Toni sudah turun tangan dan memberikan pernyataan, itu artinya informasi yang diberikan memang benar adanya. Kamila tidak lagi meragukan kemampuan sang kakak dalam mencari informasi. Dulu, saat Toni mengingatkan tentang Putra, Kamila mengabaikan. Dia menganggap bahwa kakaknya hanya cemburu karena belum juga mendapatkan pasangan. "Kelihatannya dia sangat menyayangi anakmu. Malah kalau dilihat-lihat, Fiona lebih dekat dengan Harsa daripada dengan ayahnya sendiri. Tapi satu yang pasti, Mil. Dia rajin sholat. Kamu memang belum tahu sifat aslinya karena belum terikat dengan pernikahan. Tapi setidaknya, dia tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status