Share

Bab 2

Author: Maya Sprite
Ponsel di saku Sinta bergetar.

Sinta mengeluarkan ponselnya. Layar menyala dan muncul sebuah pesan dari Yudha:

[Kasus pertama yang ditangani Dania sekembalinya ke tanah air langsung dikacaukan olehmu dan adikmu. Sekarang, semua orang di luar sana meragukan kemampuannya. Mintalah maaf pada Dania dan buat video klarifikasi untuknya, maka masalah ini selesai sampai di sini.]

Bahkan, hanya melalui layar, Sinta bisa membayangkan tatapan mata Yudha yang sedingin es itu.

Sinta menatap baris tulisan tersebut dan ujung jarinya perlahan terasa dingin.

Dikacaukan?

Adik laki-laki satu-satunya difitnah hingga masuk penjara, tetapi di mata Yudha, hal itu justru dianggap sebagai noda memalukan dalam karier Dania.

Lalu sekarang, pria itu menuntutnya untuk meminta maaf kepada Dania.

Dada Sinta terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menyumbatnya. Sinta bahkan tidak lagi punya kekuatan hanya untuk membalas satu kata saja. Kemudian, Sinta tanpa ragu menekan tombol hapus.

Tiba-tiba, Sinta teringat pada neneknya.

Setelah peristiwa yang menimpa Arga, Sinta terus merahasiakannya dari neneknya. Sinta hanya mengatakan bahwa Arga pergi ke luar kota untuk mengikuti pelatihan tertutup dan baru akan kembali dalam beberapa bulan.

Nenek sudah tua dan memiliki penyakit jantung. Nenek tidak bisa menerima kejutan atau tekanan.

Sinta tidak boleh membiarkan sesuatu yang buruk kembali terjadi pada neneknya.

Begitu memikirkan hal tersebut, Sinta pun segera menghentikan sebuah taksi.

"Pak, ke Gang Limar."

Gang Limar adalah kawasan kota tua. Bahkan, lampu jalannya juga lebih temaram. Sinta turun dari mobil dan bergegas berlari menuju gedung apartemen tua yang sudah reyot itu.

Sinta menaiki tangga menuju lantai tiga dengan tergesa-gesa, lalu berdiri di depan pintu rumahnya dan mengeluarkan kunci.

Namun, saat kunci dimasukkan ke dalam lubang, kunci itu tidak bisa diputar.

Pintunya dikunci rapat dari dalam.

Hati Sinta sedikit lega, Nenek ada di rumah. Sinta pun menyimpan kembali kuncinya, lalu mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.

"Nenek, aku pulang."

Tidak ada jawaban.

Sinta kembali mengetuk, kali ini suaranya sedikit lebih keras. "Nenek? Ini aku, Sinta."

Firasat buruk mulai merayapi hati Sinta. Meski pendengaran Nenek sedikit terganggu, mustahil Nenek tidak mendengar suara sekeras ini.

Sinta pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Nenek.

"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi …."

Sinta tidak menyerah. Dia terus menelepon berkali-kali. Namun, yang terdengar dari ponselnya hanyalah pesan yang sama. Perasaan gelisah Sinta pun kian menjadi.

"Nenek! Apa Nenek di dalam? Buka pintunya!"

"Nenek!"

Pintu tetangga sebelah berderit dan terbuka sedikit. Seorang ibu paruh baya melongokkan kepalanya dan menatap Sinta dengan mata yang masih mengantuk.

"Sinta, jangan mengetuk lagi. Nenekmu nggak ada di rumah."

Sinta langsung menoleh. "Bibi Wati, Nenek pergi ke mana? Apa Bibi tahu?"

"Mana aku tahu?" Bibi Wati menguap, lalu seakan teringat sesuatu. "Oh iya, tadi sore ada beberapa orang berjas datang mencarinya. Katanya, mereka teman kerjamu di kantor. Lalu, mereka menunjukkan semacam video pada nenekmu …."

Video?

Jantung Sinta mencelos. Perasaan tidak tenang di hatinya kini menjadi makin nyata.

Bibi Wati melanjutkan kata-katanya, "Setelah nenekmu menontonnya, dia langsung terburu-buru pergi. Aku tanya mau ke mana, dia nggak bilang. Dia cuma bilang adikmu dalam masalah dan dia mau mencarimu untuk cari jalan keluar. Aku melihatnya berjalan pergi. Aduh, kakinya sudah nggak sekuat dulu, tapi dia jalan secepat itu …."

Kata-kata selanjutnya sudah tidak lagi terdengar jelas oleh Sinta.

Nenek sudah tahu.

Nenek pasti sudah melihat video saat Arga dibawa pergi.

Sinta mencari di jalanan selama lebih dari dua jam, tetapi sosok neneknya tidak ditemukan di mana pun.

Gimana ini?

Tidak ada jalan lain, dia terpaksa pulang untuk meminta bantuan Yudha.

Saat kembali ke vila Keluarga Diwangka, waktu sudah hampir mendekati tengah malam.

Sinta berdiri di luar gerbang besi berukir yang megah itu dan merasa dirinya seperti sebuah lelucon. Beberapa jam yang lalu, dia dengan tegas menghapus pesan singkat pria itu dan mengira dirinya bisa mempertahankan harga dirinya.

Namun kenyataannya, tanpa Yudha, dia bahkan tidak berdaya untuk mencari neneknya sendiri.

Dengan tangan gemetar, Sinta menekan bel pintu.

Yang membukakan pintu adalah kepala pelayan. Melihat penampilan Sinta yang berantakan, dia pun menyampingkan tubuh untuk membiarkan Sinta masuk.

Ruang tamu itu terang benderang.

Yudha sedang duduk di sofa. Tangannya memegang segelas anggur merah sambil menatap berita bisnis di televisi. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Sinta tidak sempat mengganti sepatunya. Dia berlari mendekat dengan tergesa-gesa. Suaranya gemetar karena panik.

"Yudha, Nenek hilang!"

Yudha menengadah. Tatapannya menyapu Sinta. Melihat penampilan Sinta yang berantakan, Yudha pun sedikit mengerutkan kening tanpa kentara.

"Dia sudah tua. Mungkin cuma berkunjung ke rumah tetangga," sahut Yudha dengan acuh tak acuh.

"Nenek sudah tahu soal Arga! Ada yang menunjukkan video itu padanya. Nenek pergi dari rumah sejak sore tadi. Ponselnya nggak bisa dihubungi. Aku juga sudah mencarinya ke mana-mana, tapi nggak ketemu!" Air mata Sinta mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun, Sinta menahannya sekuat tenaga. "Bisakah kamu … membantuku mencarinya? Relasimu luas …."

Tepat pada saat itu, terdengar langkah kaki yang pelan dan halus dari arah tangga.

"Yudha, pencahayaan di kamar tamu sangat buruk. Bolehkah aku pindah ke kamar lain?"

Dania yang mengenakan gaun tidur satin, tampak berjalan menuruni tangga pelan-pelan, sambil berpegangan pada pagar tangga.

Tatapan mata Sinta langsung membeku.

Melihat Dania, sorot mata Yudha langsung menjadi lembut. Dia bangkit berdiri dan menghampiri Dania, lalu melepaskan jasnya untuk disampirkan ke bahu wanita itu.

"Dania baru saja kembali dan belum menemukan tempat tinggal. Jadi, dia akan menginap di sini selama beberapa hari." Yudha menjelaskan dengan nada datar kepada Sinta yang tampak syok itu, seakan hanya sedang membicarakan cuaca.

Menginap beberapa hari?

Sinta merasa seakan tenggorokannya disumbat oleh segumpal kapas, hingga membuatnya sulit bernapas.

Namun, sekarang bukan saatnya untuk meributkan hal itu. Sinta lebih mengkhawatirkan keberadaan neneknya.

Sinta pun menarik napas dalam-dalam. Suaranya terdengar nyaris seperti memohon.

"Yudha, aku mohon padamu, tolong bantu aku menemukan nenekku terlebih dulu. Nenek sudah tua dan punya penyakit jantung. Tiap menit yang dihabiskan Nenek di luar sana cuma akan menambah bahaya bagi nyawanya!"

Mungkin karena nada bicara Sinta yang begitu mendesak menyentuh hatinya, Yudha pun sedikit mengerutkan kening dan akhirnya mengangguk.

"Baiklah, aku akan suruh Pak Andy untuk memeriksa rekaman kamera pengawas," ucap Yudha sambil menelepon Andy, sekretarisnya dan mengambil kunci mobil. "Aku akan ikut pergi bersamamu."

Beban di hati Sinta akhirnya terasa sedikit terangkat.

Namun, tepat di saat Yudha melangkahkan kaki untuk pergi bersama Sinta, Dania yang berada di belakang mereka tiba-tiba mengerang kesakitan. Tubuhnya melemas dan dia jatuh tersungkur ke lantai.

"Ah …."

"Dania!"

Reaksi Yudha sangat cepat. Dalam sekejap saja dia sudah berbalik dan langsung mengangkat Dania dalam dekapannya.

"Apa yang terjadi?" Suara Yudha terdengar cemas.

Dania bersandar di pelukan Yudha. Wajahnya pucat pasi dan dia berkata dengan suara yang lemah, "Nggak apa-apa … cuma penyakit lama, gula darah rendah. Mungkin karena hari ini terlalu lelah di persidangan …. Pergilah, nggak usah memedulikanku ...."

Makin Dania berkata tidak perlu dipedulikan, makin dalam kerutan di kening Yudha.

Sambil mendekap Dania, Yudha melirik ke arah Sinta yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang juga pucat pasi. Nada bicara Yudha pun kembali dingin dan tegas seperti biasa.

"Dia sudah tua. Bisa saja memang sedang pergi berkunjung ke rumah orang dan ponselnya kehabisan baterai. Jangan berlebihan."

Yudha terdiam sejenak, seakan merasa keputusannya tidak salah.

"Aku akan mengantar Dania ke rumah sakit dulu. Kamu cari saja lagi sendiri."

Setelah berkata seperti itu, Yudha bahkan tidak lagi menoleh ke arah Sinta. Sambil mendekap Dania di pelukannya, Yudha bergegas menuju garasi.

Sinta berdiri mematung sendirian di ruang tamu yang luas itu. Tangan dan kakinya terasa sedingin es.

Setitik harapan terakhir yang baru saja menyala, kini dipadamkan oleh pria itu tanpa ampun.

Ternyata, di antara neneknya dan seorang wanita yang berpura-pura sakit, Yudha lebih memilih yang terakhir tanpa keraguan sedikit pun.

Ternyata, dirinya dan keluarganya benar-benar tidak berarti apa-apa di hati pria itu ....
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status