INICIAR SESIÓNDemi membuktikan kemampuannya sebagai pengacara yang baru kembali dari luar negeri, Dania Resmawan diminta Yudha Diwangka untuk membela adik Sinta Kumara. Namun, di luar dugaan, mereka kalah dalam persidangan, sehingga Arga Kumara harus mendekam di penjara. Akibatnya, Dania menjadi sasaran kritikan publik dan merasa sangat malu. Meski Dania kalah, Yudha justru menuntut Sinta meminta maaf kepada Dania. Di saat yang sama, nenek Sinta jatuh pingsan dan menjadi koma setelah mendengar kabar bahwa Arga dijebloskan ke penjara. Menghadapi sikap Yudha yang selalu pilih kasih dan terus-menerus memihak Dania …. Sinta pun akhirnya menyadari bahwa selama ini, dirinya hanyalah sosok pengganti belaka ….
Ver másSetelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis
Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i
Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa
Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.