Share

Bab 50

Author: Maya Sprite
Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.

Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.

Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.

Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."

Sin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status