Share

Bab 3

Author: Maya Sprite
Sinta kembali ke jalanan tua itu. Dia menyusuri jalan tersebut berulang kali untuk mencari.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Pak Andy meneleponnya dan berkata, "Kamera pengawas di jalanan semuanya rusak. Nggak terlihat jejak Nenek."

Nada bicara Pak Andy yang dingin sangat mirip dengan Yudha. Mungkin dia juga merasa tidak senang karena harus membantu mencari neneknya di tengah malam begini.

Sinta kembali mencoba menghubungi nomor telepon neneknya. Suara nada sambung membuat hatinya makin gelisah. Namun, panggilan itu tetap tidak diangkat.

Langit yang kelabu mulai menampakkan secercah cahaya.

Sinta bersiap melapor ke polisi. Dia segera memesan taksi dan bergegas menuju kantor polisi. Setelah Sinta mendeskripsikan ciri-ciri neneknya, polisi mengatakan bahwa mereka baru saja menerima laporan tentang seorang lansia yang pingsan di depan gerbang pengadilan dan mereka tidak tahu apakah itu neneknya atau bukan.

Hati Sinta langsung mencelos. Sinta teringat bahwa Nenek berlari keluar tepat setelah mengetahui masalah Arga. Arga baru saja dijatuhi vonis kemarin. Jadi, kemungkinan besar orang itu memang Nenek.

Mobil polisi melaju dengan sirine yang menderu menuju gerbang pengadilan. Di sanalah Sinta melihatnya.

Nenek meringkuk di sana. Di antara rambut putihnya, terdapat luka berdarah yang mengerikan. Darah di sekitarnya juga sudah mengering, menjadi warna merah gelap.

Sinta maju ke depan dengan langkah limbung. Lututnya terbentur keras ke tanah. Melihat noda darah dan debu di wajah Nenek, jemari Sinta pun gemetar hebat.

"Ambulans! Cepat panggil ambulans!" teriak Sinta sambil menoleh. Tangannya gemetar saat merogoh tas untuk mencari ponsel guna menghubungi ambulans.

Melihat situasi tersebut, polisi segera menawarkan diri untuk membawa mereka berdua ke rumah sakit. Sinta menggenggam erat tangan Nenek sambil mengucapkan terima kasih kepada para polisi itu.

Di Rumah Sakit Pusat Kota.

Lampu merah di ruang unit gawat darurat menyala terang. Pakaian Sinta masih ternoda darah Nenek, tetapi dia tidak sempat beristirahat karena harus segera mengurus administrasi pembayaran.

Di ujung lorong yang lain, di dalam sebuah ruang perawatan VIP, Dania sedang menghadap cermin sambil mengerucutkan bibirnya dengan tidak puas.

"Dokter, aku masih merasa pusing. Dadaku juga terasa begitu sesak," ucap Dania dengan suara manja kepada dokter yang sedang berkeliling memeriksa pasien. "Biarkan aku dirawat beberapa hari lagi untuk observasi. Yudha juga khawatir kalau aku sampai mengalami komplikasi."

Dokter itu hanya bisa mengangguk pasrah, lalu berbalik pergi.

Dania mendengus puas. Baru saja Dania hendak berbaring, sudut matanya menangkap sesosok bayangan yang tidak asing melintas cepat di depan pintu.

Apa itu Sinta?

Sedang apa dia di sini? Kenapa penampilannya begitu berantakan?

Mata Dania berputar mencari akal. Dia segera mengambil ponselnya dan menelepon Yudha. Dengan suara yang terdengar lemah dan tidak berdaya, Dania pun berkata, "Yudha, barusan aku … sepertinya melihat Bu Sinta di depan pintu kamarku. Apa dia … apa dia masih menyalahkanku karena masalah Arga?"

Keheningan menyelimuti ujung telepon selama beberapa detik sebelum Yudha menenangkan Dania, "Jangan khawatir, aku akan ke sana sekarang."

Tak lama kemudian, begitu Yudha memasuki rumah sakit, dia langsung melihat Sinta yang tampak linglung di bagian administrasi pembayaran. Yudha pun mengerutkan keningnya rapat-rapat dan bergegas menghampiri Sinta dengan aura dingin yang seakan memperingatkan siapa pun untuk tidak mendekat.

"Sinta, apa lagi yang ingin kamu lakukan? Kamu bahkan menguntit sampai ke rumah sakit?"

Suara Yudha yang terdengar sedingin es, menghantam telinga Sinta.

Sinta pun perlahan mengangkat kepalanya, matanya tampak merah.

Melihat ekspresi penuh penderitaan itu, Yudha tidak merasa kasihan sedikit pun. Dia malah merasa muak. Yudha mengira hal tersebut hanyalah trik baru Sinta untuk memancing simpati.

"Aku peringatkan padamu, menjauhlah dari Dania," ucap Yudha sambil berdiri di depan Sinta. "Arga itu pembunuh, buktinya sudah jelas. Dania sudah berbaik hati membelanya, tapi malah kena getahnya. Apa lagi yang kamu inginkan?"

Yudha menatap Sinta dengan tatapan merendahkan. Nadanya penuh perintah yang tidak bisa dibantah, "Sekarang juga, segera pergi minta maaf pada Dania. Lalu, buatlah rekaman video untuk mengklarifikasi komentar-komentar nggak benar tentangnya di internet."

Sinta merasa seakan baru saja mendengar lelucon terbesar di dunia. Tatapannya melewati bahu Yudha dan mendarat pada sosok Dania yang berdiri tidak jauh dari sana. Hati Sinta pun diselimuti rasa pahit yang menyesakkan.

"Aku nggak bakal minta maaf," ucap Sinta. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar begitu jelas. "Adikku nggak bersalah. Yudha, aku akan menemukan buktinya. Aku akan membuat Arga keluar dari sana dengan nama yang bersih."

Raut wajah Yudha langsung menjadi begitu muram.

Dia tidak menyangka bahwa sudah di titik ini sekalipun, Sinta masih berani keras kepala.

"Dasar nggak tahu diri!" ucap Yudha dengan dingin. Dia hanya melontarkan kata-kata itu sebelum berbalik dan berjalan ke arah Dania tanpa kembali melihat Sinta sedikit pun.

Sinta berdiri mematung di tempatnya. Aroma disinfektan di rumah sakit terasa begitu menyengat hingga membuatnya mual. Sinta pun menarik napas dalam-dalam, sambil memikirkan bahwa setelah ini dia harus kembali pergi ke bar tempat kejadian adiknya mendapatkan masalah.

Dia harus mendapatkan rekaman kamera pengawas itu. Dia harus menemukan orang yang sudah menjebak adiknya!

Tak lama setelah Sinta menyelesaikan administrasi pembayaran dan kembali ke depan ruang unit gawat darurat, dokter mendorong ranjang Nenek keluar. Dokter mengatakan bahwa kondisi Nenek sudah stabil untuk sementara. Namun, mengingat usianya yang sudah tua, Nenek tidak akan sanggup lagi menerima guncangan batin, apa pun itu.

Segera setelah itu, Sinta membawa Nenek kembali ke ruang perawatan. Setelah mencari perawat untuk membantu menjaga Nenek, Sinta pun bergegas pergi ke bar.

Akan tetapi, manajer bar tersebut bersikeras bahwa rekaman kamera pengawas selama beberapa hari itu rusak dan tidak ada yang bisa ditemukan. Tak peduli seberapa keras Sinta memohon, pihak bar hanya melambaikan tangan dengan tidak sabar dan akhirnya langsung memanggil petugas keamanan untuk mengusir Sinta keluar.

Sinta menyeret tubuhnya yang kelelahan untuk kembali ke rumah sakit.

Dia berjalan menuju ruang perawatan Nenek. Namun, saat tangannya baru saja menyentuh gagang pintu, Sinta menyadari bahwa pintu itu tidak tertutup rapat.

Saat pintu didorong terbuka, ruangan di dalamnya kosong melompong.

Seprai dan selimut di atas tempat tidur tertata dengan begitu rapi, seakan tidak pernah ada orang yang berbaring di sana.

Jantung Sinta serasa berhenti berdetak. Dia berlari kencang menuju pos perawat, mencengkeram tangan seorang perawat dan bertanya dengan cemas, "Di mana pasien di tempat tidur ini? Nenek tua yang baru saja keluar dari ruang unit gawat darurat itu?"

Perawat itu memeriksa catatan medis, lalu menjawab dengan nada yang formal, "Oh, pasien itu sudah dipindahkan oleh pihak keluarga."

"Keluarga?" Sinta tertegun. "Keluarga yang mana?"

"Seorang pria yang bernama Yudha. Dia bilang, dia cucu menantu pasien dan sudah menyelesaikan semua prosedur administrasinya."

Yudha ....

Kata itu bagaikan jarum baja yang membara, menusuk dengan tepat ke jantung Sinta.

Sinta pun memahami semuanya sekarang.

Dia berbalik, berlari seperti kesetanan menuju ruang perawatan Dania, lalu menendang pintunya hingga terbuka lebar.

Di dalam kamar, Dania sedang bersandar di kepala tempat tidur. Yudha duduk di samping tempat tidur sambil memegang pisau buah. Dia tampak begitu fokus mengupas apel untuk Dania. Yudha mengupasnya dengan sangat hati-hati, hingga kulit apelnya terjuntai panjang tanpa terputus sedikit pun.

Mendengar suara benturan keras, gerakan Yudha terhenti. Dia mengangkat pandangan dan menatap dingin ke arah Sinta yang berdiri di depan pintu.

Kedua mata Sinta tampak merah padam. Suaranya terdengar menahan amarah. "Di mana nenekku? Kamu bawa ke mana nenekku?!"

Yudha tidak segera menjawab.

Dia memotong sepotong kecil apel pelan-pelan, menusuknya dengan tusuk gigi, lalu menyuapkannya ke mulut Dania.

Dania melirik Sinta dengan tatapan penuh kemenangan, lalu membuka mulut dan memakannya.

Setelah melakukan semua itu, barulah Yudha meletakkan pisau buahnya, menyeka tangannya dengan serbet, lalu perlahan bangkit berdiri.

Yudha berjalan menghampiri Sinta. Tubuhnya yang tinggi besar seketika mengurung wanita itu dalam bayangan hitam yang pekat.

"Mau tahu?" Bibir tipisnya terbuka sedikit, tetapi kata-kata yang keluar darinya jauh lebih dingin dibanding es di musim penghujan. "Rekam videonya, berikan klarifikasi untuk Dania. Selama aku puas, aku akan memberitahumu di mana nenekmu berada."

Yudha menggunakan satu-satunya anggota keluarga Sinta yang tersisa untuk memaksa Sinta tunduk kepada Dania.

Tubuh Sinta gemetar hebat karena amarah, juga karena benci. Dia menatap wajah di depannya itu, wajah yang sudah dia cintai selama tiga tahun. Akan tetapi, saat ini, wajah itu terasa begitu asing dan mengerikan.

Kuku-kuku Sinta tertancap dalam ke telapak tangannya. Rasa sakit yang menusuk tulang itu membantu Sinta mempertahankan sisa-sisa kesadaran terakhirnya.

Sinta melihat penghinaan yang terang-terangan di mata Yudha dan melihat senyum kemenangan tipis yang tersungging di bibir Dania yang berada di belakang pria itu.

Setelah beberapa saat ....

Sinta pun mengangkat kepalanya dan menyambut tatapan dingin Yudha. Kerongkongannya terasa seakan dipenuhi oleh amis darah.

Sambil menggertakkan giginya, Sinta pun menegaskan kata yang keluar dari mulutnya.

"Baik!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status