Share

Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?
Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?
Author: Maya Sprite

Bab 1

Author: Maya Sprite
"Dijatuhi hukuman penjara seumur hidup!"

Suara hakim itu bergema.

Wung.

Sinta Kumara terhuyung. Dia nyaris jatuh tersungkur.

Penjara seumur hidup?

Bagaimana mungkin … Sinta tahu sendiri orang seperti apa Arga Kumara itu sejak kecil. Bagaimana mungkin Arga membunuh orang?

Sebelum persidangan dimulai, apa yang dijanjikan Yudha Diwangka kepadanya?

"Sinta, jangan bikin keributan." Yudha mengerutkan kening, suaranya dipenuhi rasa tidak sabar. "Dania baru saja kembali dari luar negeri, dia jurusan hukum. Ini adalah pertarungan pertamanya untuk membangun reputasinya, setelah kembali ke tanah air. Kalau dia menang, ini akan sangat membantu rencana masa depannya. Serahkan kasus adikmu kepadanya, nggak akan ada masalah."

Sinta tidak ingin menyerahkan keselamatan adiknya ke tangan Dania Resmawan. Oleh karena itu, Sinta pun langsung membantahnya dengan keras, "Yudha, ini menyangkut nyawa adikku! Bukan batu loncatan bagi Dania untuk mencari muka!"

Akan tetapi, pria itu sama sekali tidak mau mendengar.

Tatapan Yudha perlahan berubah menjadi dingin. Bahkan, tersirat ancaman di dalamnya. "Justru karena dia adikmu, makanya aku membiarkan Dania turun tangan. Kamu cukup percaya padaku saja."

Percaya pada Yudha.

Sinta pun percaya.

Hasilnya, sepanjang proses persidangan, selain membacakan teks pembelaan di awal, Dania hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membela Arga setelahnya.

Menghadapi bukti-bukti yang diajukan oleh pengacara penggugat, yaitu Rendra Batara, Dania tidak hanya gagal membantah, tetapi malah cenderung menyetujui bukti-bukti dari pihak lawan.

Hanya berdasarkan beberapa laporan dari Rendra, Dania sama sekali tidak mengajukan keberatan.

Pada akhirnya, Dania hanya bisa menatap tanpa berbuat apa-apa, saat Arga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Dania sama sekali tidak peduli. Benar juga, itu bukan adik Dania, melainkan adiknya.

Sinta berjalan keluar dari ruang pengadilan dengan langkah terhuyung-huyung. Udara dingin yang tiba-tiba terhirup membuatnya terbatuk-batuk beberapa kali.

Sinta menatap sosok dua orang di depannya. Dania tengah bersandar mesra di samping Yudha. Bahunya tampak gemetar sedikit saat dia menangis tersedu-sedu, hingga wajahnya tampak begitu memelas.

"Yudha, maafkan aku …. Aku benar-benar sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, rantai bukti pihak lawan … terlalu lengkap. Aku nggak bisa menemukan celah sedikit pun. Arga, dia mungkin benar-benar …."

"Sudahlah, ini bukan salahmu." Suara Yudha terdengar begitu lembut, kelembutan yang belum pernah dirasakan Sinta sebelumnya. Yudha melepaskan jasnya dan dengan hati-hati menyampirkannya ke bahu Dania. "Aku tahu, kamu sudah berusaha keras."

Dania terisak. Sudut matanya melirik ke arah Sinta dan ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi penuh rasa bersalah yang dibuat-buat. "Sinta, jangan salahkan aku. Aku …."

Sebelum kata-kata itu selesai diucapkan, Sinta sudah berjalan menghampiri mereka berdua.

Tepat di saat Sinta mendekat, Yudha secara naluriah menarik Dania ke belakang tubuh untuk melindunginya.

Hanya gerakan kecil, tetapi begitu alami.

Melihat cara Yudha melindungi Dania, kekecewaan di mata Sinta seakan meluap keluar.

Menatap tangan Yudha yang mendekap untuk melindungi Dania, Sinta seakan menyadari bahwa Yudha bukan lagi sosok yang dahulu dia kenal.

Namun, teringat akan ketidakadilan yang menimpa adiknya, mata Sinta tetap menatap tajam ke arah Dania.

"Kenapa?" Suara Sinta terdengar kering dan parau. "Begitu banyak kejanggalan dalam ucapan Rendra, kenapa kamu nggak membantah sepatah kata pun? Sebenarnya kamu ini pengacara pembela siapa?!"

Dania bersembunyi di balik punggung Yudha dan hanya memperlihatkan sepasang matanya yang memerah. Dia terlihat begitu polos dan malang.

Namun, yang menjawab pertanyaan Sinta adalah Yudha.

"Cukup, Sinta. Fakta sudah terpampang nyata di depan mata, sampai kapan kamu mau terus membuat keributan?"

"Fakta?" Sinta tertawa getir. "Fakta apa? Adikku nggak membunuh orang! Dia cuma pergi bekerja paruh waktu, mana mungkin dia membunuh orang?"

Dengan emosi yang meluap-luap, Sinta pun melanjutkan kata-katanya, "Apa kamu nggak tahu siapa itu Rendra? Seluruh Kota Runka tahu kalau dia anak orang kaya yang manja, yang suka mempermainkan nyawa orang! Dulu, ada rumor kalau dia pernah bermain-main sampai menewaskan seseorang. Kenapa kamu nggak menyelidiki dia? Kenapa kamu justru percaya pada omong kosongnya?"

"Bu Sinta, jangan asal bicara."

Terdengar suara yang meremehkan dari arah samping.

Rendra berjalan menuruni anak tangga dengan santai sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Dia berhenti tepat di depan Sinta, dengan seringai jahat yang tersungging di wajahnya.

"Kamu bilang aku pernah bermain-main sampai menewaskan seseorang? Itu cuma rumor. Bicara tanpa bukti itu namanya pencemaran nama baik. Hati-hati, aku bisa menuntutmu."

Rendra menatap Sinta dengan angkuh. Sorot matanya tidak bisa menyembunyikan penghinaan dan provokasi sedikit pun. Akhirnya, pandangan Rendra melewati Sinta, lalu bertatapan sejenak dengan Dania yang mengintip dari balik punggung Yudha. Tatapan penuh kemenangan yang seolah menyimpan rahasia di antara mereka berdua.

Setelah berkata seperti itu, Rendra pergi begitu saja dengan angkuhnya bersama anak buahnya, seakan baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan yang menarik.

Tepat pada saat itu, tiba-tiba saja ada yang berteriak.

"Lihat! Itu Pak Yudha!"

"Juga Bu Dania!"

Seketika itu juga, sekumpulan besar wartawan merangsek maju dari segala penjuru, mengepung mereka hingga tidak ada celah.

"Bu Dania, bagaimana tanggapan Anda mengenai hasil putusan kali ini? Sebagai pengacara lulusan luar negeri, apa yang ingin Anda sampaikan mengenai kekalahan di laga perdana Anda ini?"

"Bu Dania, ada rumor yang mengatakan kalau Anda sama sekali nggak melakukan pembelaan maksimal di persidangan, apa itu benar?"

"Pak Yudha, kenapa Anda memilih Bu Dania untuk menangani kasus ini?"

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan tajam tersebut, wajah Dania langsung menjadi pucat pasi.

Wajah Yudha juga langsung tampak muram.

Yudha merengkuh Dania erat-erat ke dalam pelukannya, menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghalangi semua sorotan kamera. Tanpa membuang waktu, Yudha pun segera menerobos kerumunan dan berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh sedikit pun.

Dari awal hingga akhir, Yudha sama sekali tidak ingat pada Sinta yang berdiri di sampingnya.

Dengan begitu saja, dia meninggalkan Sinta sendirian di sana, membiarkan para wartawan mengepung Sinta hingga tidak bisa berkutik.

Hati Sinta dirayapi rasa pedih yang menyayat saat menatap punggung mereka berdua.

Melihat mereka tidak bisa mengejar Yudha, para wartawan segera mengalihkan sasarannya dan mengepung Sinta hingga tidak ada celah sedikit pun.

"Bu, apa Anda anggota keluarga Arga?"

"Apa pendapat Anda mengenai putusan pengadilan ini?"

"Menurut Anda, apakah Bu Dania sudah menjalankan tugasnya dengan baik?"

Tiba-tiba, seorang wartawan hiburan yang bermata jeli mengenali Sinta dan memekik kaget, "Tunggu! Bukankah Anda …. Bukankah Anda Sinta Kumara, istri CEO Grup Diwangka?"

Hal ini langsung menimbulkan kegemparan.

Seketika itu juga, semua lensa kamera langsung menyorot wajah Sinta.

"Ya ampun, benar-benar istrinya Pak Yudha!"

"Pelakunya ternyata adiknya sendiri? Ini rahasia besar keluarga konglomerat!"

Di tengah suara-suara keriuhan itu, terselip beberapa bisikan yang membuat Sinta merasa seakan terperosok ke dalam lubang es yang begitu dingin.

"Jadi, wanita yang dilindungi Pak Yudha tadi adalah Dania yang dirumorkan itu, ya? Kudengar dia itu kekasih impian Pak Yudha, yang pergi tanpa pamit dan sudah ditunggu-tunggu oleh Pak Yudha selama tiga tahun ini …."

"Pantas saja. Apa kalian nggak sadar? Bu Sinta dan Dania punya kemiripan di bagian mata dan alisnya …."

"Jadi begitu ceritanya! Pantas saja, begitu Keluarga Kumara bangkrut, Pak Yudha langsung menikahi putri angkat Keluarga Kumara yang nggak dikenal ini. Ternyata selama ini dia cuma seorang pengganti …."

Pengganti ....

Kata itu seperti sambaran petir yang meledak hebat di dalam benak Sinta yang sedang kacau.

Pantas saja saat Keluarga Kumara bangkrut, ketika Sinta yang hanya merupakan putri angkat yang menumpang hidup dan harus bekerja di tiga tempat berbeda hingga kelelahan seperti anjing, bisa mendapatkan perhatian dari CEO Grup Diwangka yang berkedudukan tinggi itu. Bahkan, sampai dinikahi meski harus melawan penolakan dari semua orang.

Sinta sempat mengira itu adalah penyelamatan, sebuah harapan di tengah masa-masa kelam hidupnya.

Ternyata, dari awal hingga akhir, semuanya hanyalah lelucon belaka.

Dirinya tak lebih dari sekadar bayangan wanita lain.

Sinta berdiri terpaku di sana, membiarkan lampu kilat kamera menyambar-nyambar wajahnya dengan liar. Dia pun menatap ke arah perginya Yudha yang begitu tidak berperasaan, lalu tiba-tiba tertawa getir dengan suara lirih.

Selama menikah tiga tahun ini, Sinta selalu berhati-hati dan memberikan segala yang dia miliki.

Tapi ternyata, selama ini semua hanyalah pertunjukan tunggal dari perasaan yang bertepuk sebelah tangan.

Dania melihat namanya menjadi viral di internet. Dia pun merogoh ponselnya, mengirimkan sebuah pesan ke nomor asing, lalu segera menghapusnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status