Share

Bab 7

Author: Maya Sprite
Di ujung telepon, suara Vanda terdengar lugas dan tenang.

"Bisa, aku akan bantu buatkan drafnya. Besok siang jam dua belas, aku akan menyerahkannya padamu di kafe sebelah Grup Diwangka."

"Bisa nggak kalau tempatnya agak jauh dari Grup Diwangka?" ujar Sinta pelan. Dia tidak ingin terlihat oleh Yudha. Area sekitar perusahaan terlalu berisiko.

"Lalu, kamu mau di mana?" Nada bicara Vanda melembut.

"Kafe Violetta di pusat kota," jawab Sinta cepat.

Vanda sepertinya ingin kembali mengatakan sesuatu. Sinta tahu bahwa Vanda ingin menunjukkan perhatian kepadanya. Akan tetapi, Sinta sudah merasa sangat tidak enak karena sudah melibatkan Vanda sampai sejauh ini. Sinta khawatir jika nanti dia pergi, Vanda akan ikut terseret masalah. Oleh karena itu, Sinta segera berpamitan untuk tidur dan menutup teleponnya.

Alas tempat tidur di gudang itu begitu keras hingga terasa menusuk kulit. Sinta terus membolak-balikkan badannya, tetapi tetap tidak bisa terlelap. Tulang punggungnya terasa sakit karena tertekan permukaan yang keras.

Sinta teringat saat mereka baru menikah dahulu. Seluruh tata letak rumah ini didesain sendiri oleh Sinta atas permintaan Yudha. Demi memastikan Yudha bisa tidur nyenyak setelah pulang kerja, Sinta bahkan sempat bermanja-manja pada suaminya itu agar mau memesan kasur khusus dari luar negeri yang disesuaikan dengan struktur tulang belakang. Namun, sekarang setelah Dania kembali, bahkan kamar tidurnya sendiri juga harus dia serahkan pada Dania.

Sinta tertawa miris, menelan rasa pahit yang merayap di hatinya, meski kenyataannya Yudha juga jarang tidur di ranjang itu setelah mereka menikah.

Sinta hampir tidak tidur semalaman. Baru saat fajar hampir menyingsing, Sinta sempat memejamkan matanya sebentar, dalam keadaan setengah sadar.

Bunyi alarm yang memekakkan telinga berdering tepat waktu.

Sinta tersentak bangun dan membuka matanya. Untuk sejenak dia merasa linglung, tidak menyadari di mana dia berada. Baru setelah melihat tumpukan barang yang menggunung di sudut ruangan, Sinta pun kembali tersadar sepenuhnya.

Hari ini dia harus pergi bekerja di Grup Diwangka.

Ini adalah kesepakatan yang dia buat dengan Yudha kemarin. Dia tidak boleh memancing amarah Yudha untuk saat ini atau membiarkan masalah baru muncul secara tidak terduga.

Sinta segera beranjak bangun. Saat mencuci muka dan menatap pantulan wajahnya yang pucat di cermin, Sinta pun memoleskan riasan tipis di wajahnya. Baru setelah memakai lipstik, wajah Sinta tampak sedikit lebih segar dan berenergi.

Sinta lalu melangkah turun ke lantai bawah.

Udara di sana dipenuhi aroma roti panggang dan kopi yang semerbak.

Yudha dan Dania sedang duduk di meja makan.

Pria itu mengenakan kemeja yang dijahit khusus. Bagian lengannya digulung hingga memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Yudha menggunakan garpu untuk mengambil sepotong telur goreng yang berwarna kuning keemasan, lalu meletakkannya begitu saja ke piring Dania.

"Makan yang banyak, kamu terlalu kurus." Suara Yudha yang terdengar begitu lembut itu belum pernah didengar oleh Sinta sebelumnya.

Dania mengenakan setelan baju rumah berwarna merah muda. Senyumnya tampak begitu lebar. "Iya, aku tahu kok. Yudha, kamu memang yang paling baik padaku."

Keduanya tampak begitu mesra seakan dunia hanya milik berdua. Seakan-akan, merekalah pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun tinggal di vila ini.

Sinta yang berdiri di ujung tangga, tampak seperti seorang penyusup.

Di tempat di mana seharusnya ada hati, rasanya kosong melompong. Bahkan, sedikit pun rasa perih juga tidak terasa. Sinta hanya tersenyum dengan tenang.

Suara langkah kaki Sinta mengejutkan mereka. Mata Dania tampak sedikit berbinar, nyaris tidak terlihat.

Yudha menengadah dan menyadari riasan di wajah Sinta. Sinta yang biasanya selalu tampil polos tanpa riasan wajah setiap harinya, ternyata berdandan hari ini. Yudha kemudian teringat bahwa wanita itu akan ikut dengannya ke kantor hari ini. Mungkin Sinta tidak ingin mempermalukan dirinya. Untuk sesaat, tatapan dingin yang baru saja muncul di mata Yudha sedikit melembut.

Melihat hal itu, senyum di bibir Dania makin dalam, menyiratkan kebanggaan seorang pemenang yang sedang pamer.

"Kakak, kamu sudah bangun? Ayo ke sini dan sarapan," sapa Dania dengan ramah. Dania lalu berbalik menatap Yudha. Suaranya terdengar manja. "Yudha, kopiku sudah dingin. Bisakah kamu buatkan yang baru untukku?"

Yudha sempat mengerutkan kening. Akan tetapi, dia tetap berdiri dan berjalan menuju dapur.

Kini, hanya tersisa dua wanita itu di ruang makan.

Dania menyeka sudut bibirnya dengan serbet secara elegan, tatapannya beralih ke riasan di wajah Sinta, lalu terkekeh pelan.

"Kakak mau berangkat kerja? Yudha ini ada-ada saja, bagaimana bisa dia membiarkanmu melakukan pekerjaan yang melelahkan seperti itu." Dania terdiam sejenak, lalu nada bicaranya berubah, menyiratkan kebanggaan yang tak lagi ditutup-tutupi. "Oh iya, aku hampir lupa kasih tahu Kakak. Untuk mendukung karierku, Yudha sudah memberikan modal untuk membukakan firma hukum untukku, tepat di lokasi terbaik di pusat kota. Kalau nanti Kakak punya masalah hukum, jangan ragu untuk mencariku, ya."

Ini adalah sebuah peringatan.

Peringatan bagi Sinta bahwa sekarang Dania sudah kembali. Yudha hanya akan berlutut di bawah kaki Dania. Apa pun yang dia inginkan, pasti akan dikabulkan Yudha. Sementara Sinta hanyalah pecundang yang sebentar lagi akan diusir keluar.

Jika itu terjadi kemarin, mungkin kata-kata ini sudah cukup untuk menyayat hati Sinta hingga tak bersisa.

Namun sekarang, Sinta hanya menarik kursi dengan tenang dan duduk. Dia mengambil sepotong roti, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Oh, ya? Kalau begitu, selamat untukmu."

Sinta bahkan sama sekali tidak melirik Dania, seakan hanya sedang mengomentari cuaca hari ini.

"Tapi soal kerja, itu janji yang diucapkan sendiri oleh Yudha." Sinta mengangkat pandangannya, menatap lekat-lekat ke wajah Dania yang mulai tampak kaku. "Mulai hari ini, aku adalah sekretaris pribadi Pak Yudha. Aku akan pergi dan pulang kantor bersamanya."

Sinta juga ingin membuat Dania merasa tidak nyaman.

Benar saja, raut wajah Dania langsung berubah. Dania mencengkeram garpu di tangannya kuat-kuat. Baru saja hendak membalas, Yudha sudah muncul dari dapur sambil membawa sup.

Yudha meletakkan sup itu dengan hati-hati di hadapan Dania. Saat menyadari raut wajah Dania yang sedikit berubah, Yudha beralih menatap Sinta. Rasa tidak puas di mata Yudha tampak begitu jelas.

Sinta malas untuk menjelaskan.

Apa pun yang dipikirkan pria itu, sudah tidak penting lagi baginya.

Bagi Sinta, sarapan ini hanyalah cara untuk mengisi perut dan mengumpulkan tenaga demi menghadapi hari yang akan datang.

Setelah selesai makan, Dania berdiri dan menggandeng lengan Yudha dengan manja. "Yudha, antar aku ke firma hukum, ya? Ini hari pertama pembukaannya. Aku ingin kamu jadi orang pertama yang melihatku duduk di kursi bos."

"Baiklah," jawab Yudha tanpa ragu.

Keduanya berjalan berdampingan menuju pintu keluar.

Saat sedang mengganti sepatu di koridor, Dania seakan teringat sesuatu. Dia pun menoleh dan melemparkan tatapan yang sangat provokatif ke arah Sinta yang masih berada di ruang makan.

Sebelum pergi, Dania sengaja berkata kepada Sinta, "Kakak, nanti kamu terpaksa harus pergi ke kantor sendirian, ya."

Sinta mengangkat gelas susunya dan menyesapnya sedikit. Setelah sudah tidak tidur semalaman dan sudah memutuskan untuk pergi, Sinta tidak ingin lagi memusingkan urusan-urusan sepele seperti ini.

Jika Sinta masih memedulikan Yudha, mungkin trik kekanak-kanakan Dania itu masih bisa menyakitinya. Namun, sekarang, Sinta sama sekali tidak peduli lagi.

Seandainya bukan demi bisa merawat neneknya dengan baik setelah bercerai nanti, dia bahkan terlalu malas meladeni sandiwara ini.

Setelah selesai makan, Sinta harus berjalan keluar dari area kompleks vila, baru bisa mendapatkan taksi, sehingga membuat dia terlambat di hari pertama bekerja.

Gedung Grup Diwangka menjulang tinggi menembus awan. Begitu Sinta melangkah masuk ke lobi, resepsionis yang melihatnya segera menelepon melalui saluran internal. Tak lama kemudian, seorang pria berkacamata bingkai emas dengan ekspresi angkuh berjalan menghampiri Sinta.

Dia adalah asisten utama kepercayaan Yudha, Rudy Giyanta.

"Bu Sinta, ikut aku." Nada bicara Rudy terdengar begitu formal dan kaku, seakan dia merasa tidak senang dengan keterlambatan Sinta.

Rudy membawa Sinta ke bagian HRD untuk mengurus prosedur administrasi, lalu mengeluarkan setumpuk formulir dan berkata kepadanya, "Isi saja semua ini sampai selesai."

Karyawan di sekitar mereka mulai melirik diam-diam sambil berbisik-bisik.

"Siapa dia? Sikap Pak Rudy buruk sekali padanya."

"Katanya sekretaris CEO yang baru. Kayaknya dia … kerabat Pak Yudha?"

"Kerabat apa? Menurutku, paling-paling dia masuk lewat jalur orang dalam. Kalau nggak, mana mungkin bisa langsung jadi sekretaris CEO."

"Belum tentu. Lihat saja raut nggak sabar Pak Rudy itu. Jelas-jelas dia nggak menyukai wanita itu. Kalau dia benar-benar punya pendukung, siapa yang berani bersikap kayak gitu padanya?"

Suara bisik-bisik itu tidak terlalu keras, juga tidak juga pelan, sehingga cukup untuk sampai ke telinga Sinta.

Tanpa ekspresi sedikit pun, Sinta mengambil pena dan menuliskan namanya di atas formulir itu secoret demi secoret.

Sinta Kumara.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status