Share

Bab 6

Author: Maya Sprite
"Tidurlah di gudang samping lantai dua. Kesehatan Dania sedang nggak baik. Dokter menyarankan dia untuk tinggal di kamar dengan pencahayaan yang lebih bagus. Dia sudah menempati kamar utama kita." Suara Yudha terdengar dari belakang.

Langkah kaki Sinta di tangga langsung terhenti. Perhatian dan kelembutan yang diberikan Yudha kepada Dania adalah sesuatu yang belum pernah dia dapatkan selama tiga tahun ini.

Tidak ingin berdebat, Sinta pun hanya berkata, "Baik." Lalu, berjalan menuju gudang tersebut.

Melihat gudang yang penuh dengan debu, Sinta membersihkannya seadanya hingga tengah malam.

Dia lalu mengeluarkan selimut dari dalam lemari, lalu merebahkan dirinya begitu saja.

Tubuh Sinta terasa begitu lelah, tetapi saat menatap cahaya yang menembus masuk dari jendela, Sinta justru sulit memejamkan mata.

Dahulu setelah menikah, demi pria itu, Sinta rela menghentikan pekerjaan desain yang sangat dicintainya. Dia dengan tulus melepaskan ambisinya demi berkutat di dapur dan belajar bagaimana menjadi istri Yudha dengan baik.

Kini, sekali saja keinginan untuk bercerai itu muncul, keinginan itu tumbuh dengan liar layaknya tanaman merambat yang memenuhi seluruh relung hatinya.

Sekarang, sisa-sisa harapan itu telah hancur sepenuhnya. Semua orang tahu bahwa alasan Yudha menikahinya dahulu adalah karena wajahnya yang mirip dengan Dania. Dia hanyalah sekadar pengganti.

Namun, bagaimana cara dia bisa pergi?

Keluarga Diwangka memiliki kekuasaan yang tidak tergoyahkan di Kota Uran dan Yudha sendiri adalah pria yang punya sifat suka mengontrol orang lain yang begitu kuat dan sudah mendarah daging. Yudha bisa saja tidak mencintai Sinta, tetapi dia tidak akan pernah membiarkan sosok "istrinya" ini menjadi bahan lelucon dengan mengajukan perceraian secara sepihak.

Jika Sinta mencari pengacara sembarangan, kemungkinan besar baru saja Sinta melangkah masuk ke firma hukum, detik berikutnya telepon dari Yudha sudah akan datang.

Sinta membalikkan badannya, otaknya berputar dengan cepat.

Tiba-tiba, sebuah nama muncul dari dasar ingatannya.

Vanda Diwangka.

Sahabatnya itu adalah putri di luar nikah dari kerabat jauh Keluarga Diwangka.

Sinta ingat betul bahwa Vanda mengambil jurusan hukum saat kuliah dan bahkan berhasil pergi ke luar negeri dengan beasiswa penuh.

Saat Keluarga Kumara tertimpa musibah sebelumnya, Vanda masih menempuh studi di luar negeri. Setelah kembali ke tanah air, Vanda sudah mencoba berbagai cara untuk menghubungi Sinta berkali-kali. Namun, saat itu Sinta sudah menikah dengan Yudha. Sinta tahu betul bahwa hidup Vanda di Keluarga Diwangka tidaklah mudah.

Sinta tidak ingin lagi merepotkan teman satu-satunya ini, apalagi membuat situasinya yang sudah sulit di Keluarga Diwangka menjadi makin buruk karena dirinya.

Oleh karena itu, selama ini Sinta tidak pernah berani menghubungi Vanda.

Sekarang jika dipikir-pikir kembali, rasanya sungguh konyol.

Sinta sangat mengenal sifat Vanda. Meski merupakan anggota Keluarga Diwangka, di dalam lubuk hatinya, Vanda lebih merendahkan tabiat Keluarga Diwangka dibandingkan siapa pun. Menghubungi Vanda mungkin adalah satu-satunya jalan keluar.

Sinta tidak lagi merasa ragu. Dia mencari di bagian paling bawah daftar kontak dan menemukan nomor yang sudah lama tidak pernah dihubunginya itu.

Sinta pun menekan tombol panggil.

Suara nada sambung terdengar dari ponsel. Setiap deringnya terasa seakan sedang memukul-mukul sarafnya yang tegang.

Telepon berdering cukup lama sebelum akhirnya diangkat. Dari ujung telepon, terdengar suara wanita yang serak karena kantuk dan sedikit tidak sabar. "Siapa ini malam-malam begini?"

Mendengar suara yang begitu akrab itu, tenggorokan Sinta terasa tersumbat, begitu kering dan perih.

Sinta membuka mulutnya. Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya dia mampu memanggil nama sahabatnya dengan suara serak, "Vanda."

Seketika itu juga, suasana di ujung telepon menjadi hening.

Setelah hening selama beberapa saat, suara Vanda kembali terdengar. Rasa kantuknya hilang seketika, berganti dengan luapan emosi yang meledak-ledak. "Sinta? Akhirnya kamu ingat untuk meneleponku? Ke mana saja kamu selama tiga tahun ini? Sudah berapa kali aku mencarimu setelah pulang ke tanah air, tapi di WhatsApp kamu selalu saja bilang 'aku baik-baik saja'. Baik apanya, dasar bodoh!"

Berondongan keluhan itu datang seperti tembakan senapan mesin, tetapi justru membuat hati Sinta merasakan kehangatan yang sudah lama tidak dia rasakan.

Sinta tahu, Vanda benar-benar peduli padanya.

"Maafkan aku," ucap Sinta lirih. Suaranya menyiratkan kelelahan, yang bahkan tidak disadarinya sendiri.

Vanda dengan cepat menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Nada bicaranya langsung melembut, penuh dengan keraguan dan kekhawatiran. "Kamu kenapa? Suaramu terdengar aneh. Apa terjadi sesuatu?"

"Aku …." Sinta terdiam sejenak, tidak tahu harus memulai dari mana. Keluh kesah dan penderitaan selama tiga tahun ini bagaikan benang kusut yang sulit diurai ujung pangkalnya.

Sinta pun menarik napas dalam-dalam, lalu memutuskan untuk meringkasnya dengan cara yang paling sederhana.

"Aku sudah menikah."

"Apa?!" Suara Vanda langsung naik delapan oktaf. "Kamu sudah menikah? Dengan siapa? Kapan? Kenapa aku sama sekali nggak tahu? Apa kamu masih menganggapku temanmu?"

Menghadapi rentetan pertanyaan dari sahabatnya itu, Sinta hanya bisa tersenyum getir.

Belum sempat dia menjelaskan, nada bicara Vanda kembali berubah. Kali ini dengan sedikit nada menggoda yang penuh rasa ingin tahu. "Sudahlah, aku nggak akan mempermasalahkan hal itu sekarang. Cepat katakan, siapa pria itu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik? Kamu ini benar-benar pandai menyembunyikan rahasia."

Mendengar kegembiraan dan rasa penasaran yang tulus dari Vanda, hati Sinta terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Rasanya begitu perih bertubi-tubi.

Sinta memejamkan mata, lalu dengan suara lirih memutus khayalan Vanda.

"Sekarang, aku berencana untuk bercerai."

Di ujung telepon, suara heboh Vanda seketika menjadi sunyi.

Setelah waktu yang cukup lama, barulah suara Vanda kembali terdengar.

"Sinta, jujurlah padaku. Apa dia menindasmu?"

Vanda terlalu mengenal Sinta. Wanita ini terlihat lemah lembut, tetapi di lubuk hatinya, Sinta lebih keras kepala dibandingkan siapa pun. Sekali Sinta memercayai sesuatu atau seseorang, dia tidak akan pernah berubah pikiran meski harus terluka parah sekalipun. Kecuali, jika orang itu atau hubungan itu sudah membuatnya tidak lagi melihat harapan sedikit pun.

"Ya." Bulu mata Sinta yang lentik itu bergetar. Dadanya terasa seperti dihantam pukulan berat, tangannya meremas ujung bajunya dengan kuat saat dia mengakui hal itu.

Meski hanya satu kata, terkandung ribuan kata di dalamnya.

Di ujung telepon, Vanda menggertakkan giginya karena geram. Dia lalu mengumpat pelan, "Sialan, sudah kuduga. Dengan sifatmu itu, kalau nggak sampai terpojok, nggak mungkin kamu bakal melepaskannya. Siapa laki-laki itu? Katakan padaku, biar aku mencabik-cabiknya untukmu!"

"Nggak perlu, Vanda." Suara Sinta terdengar begitu tenang. "Nggak ada gunanya bertikai secara terang-terangan. Aku cuma ingin pergi secepat mungkin."

"Pergi?" Vanda mulai menenangkan diri. "Apa latar belakang orang itu? Apa dia tipe orang yang sangat sulit dihadapi?"

Sinta terdiam sejenak, lalu perlahan mengucapkan sebuah nama, "Yudha."

"Siapa?" Vanda sangsi, mengira dirinya salah dengar.

"Yudha."

Vanda pun tidak mampu berkata-kata.

Kali ini, keheningan di ujung telepon membawa rasa kemustahilan dan kemarahan yang meluap. Vanda mungkin tidak pernah menyangka dalam mimpinya sekalipun, bahwa pria yang membuat sahabatnya menderita selama tiga tahun ini ternyata adalah sepupu jauhnya sendiri.

"Berengsek!" Vanda akhirnya tidak tahan lagi dan memaki. "Sinta, apa kamu sudah gila? Bagaimana bisa kamu menikah dengan pria itu!"

"Ceritanya panjang." Sinta tidak ingin lagi mengingat masa lalu yang menyakitkan itu. "Vanda, sekarang … aku sangat membutuhkan bantuanmu."

Vanda segera menekan semua rasa terkejutnya. Suaranya berubah menjadi tenang. "Katakan saja. Selama aku bisa melakukannya, aku akan membantumu meski harus melewati rintangan sesulit apa pun."

Buku-buku jari Sinta memutih karena mencengkeram ponsel begitu erat. Dia mengucapkan kata demi kata dengan sangat jelas, "Bukankah kamu seorang pengacara? Bantu aku menyusun sebuah surat cerai."

Sinta terdiam sejenak, lalu mengingatkan Vanda, "Usahakan secepat mungkin dan jangan sampai ada orang lain yang tahu. Terutama, jangan sampai Yudha mengetahuinya."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status