Share

RESMI BERCERAI

Author: Rara Qumaira
last update Last Updated: 2022-12-16 18:00:13

Bab 2

RESMI BERCERAI

"Tinggalkan dia. Mungkin dengan cara itu, aku bisa memaafkan kamu," sahut Irma.

Hisyam tampak terkejut.

"Kenapa? Gak bisa?"

"Maaf, Ir. Apa gak bisa syarat yang lain? Dia sedang hamil. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dia menuntutku untuk menikahinya sah secara hukum. Tolong, terima dia menjadi madumu. Aku janji, aku akan adil."

Irma tak mampu menjawab. Hatinya begitu sakit. Irma meninggalkan suaminya dan memilih tidur bersama putrinya.

Pagi hari, Irma tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Satu yang berubah, tak ada celotehan darinya.

"Bun, Arum lapar!" ujar Arum. Dia sudah bersiap untuk berangkat sekolah.

"Selamat pagi, anak Ayah!" sapa Hisyam. Arum tak menanggapi. Dia masih marah dengan kejadian kemarin.

"Disapa Ayah kok diam saja, sih?"

Arum masih diam seribu bahasa. Tak habis akal, Hisyam segera menuju ruang tamu. Tak lama kemudian, dia telah kembali dengan membawa boneka beruang warna merah muda seukuran Arum.

"Halo, Kak Arum! Mau main sama aku gak?" ujar Hisyam menirukan suara anak-anak. Arum memandang boneka tersebut dengan mata berbinar.

"Ini buat Arum, Yah?" tanya Arum antusias.

"Iya, dong! Sini, peluk Ayah!"

Arum segera berlari ke pelukan ayahnya. Hisyam mencium kening dan pipi putrinya dengan sayang.

"Selamat ulang tahun, ya, Sayang! Semoga menjadi anak yang shalihah kebanggaan Ayah dan Bunda!" ujar Hisyam.

"Maafkan, Ayah, ya! Lain kali, Ayah pasti ajak Arum jalan-jalan," lanjutnya.

"Janji, ya? Jangan bohong lagi!" ujar Arum sembari mengacungkan kelingkingnya.

"Iya, Ayah janji!" sahut Hisyam menyambut kelingking putrinya dengan kelingkingnya.

"Selamat pagi!" Seorang wanita muda yang sedang hamil nyelonong masuk ke dalam rumah.

"Winda, untuk apa kamu kesini?" tanya Hisyam.

"Mas, Nasha nanyain kamu terus, tuh! Katanya, dia mau berangkat sekolah diantar Papanya!" sahut Winda.

Hisyam merasa salah tingkah. Pasalnya, disitu ada Arum dan istrinya.

"Halo, Mbak Irma! Kenalkan, aku Winda! Istri kedua Mas Hisyam!" ujar Winda sembari mengulurkan tangannya.

Irma tak menanggapi. Dia biarkan tangan Winda menggantung. Akhirnya, Winda menarik tangannya kembali.

"Arum, kamu tunggu Bunda di kamar, ya!"

"Iya, Bun!" sahut Arum. Arum segera melangkah menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti. Dia bersembunyi dan mengintip dari balik dinding ruangan tersebut.

"Pergilah, Win!"

"Gak bisa gitu, dong, Mas! Lagian, Mbak Irma sudah tahu! Jadi, mulai sekarang, dia harus rela berbagi waktu suaminya!"

"Winda! Jangan ngomong sembarangan!" bentak Hisyam.

"Sembarangan bagaimana? Bukankah kemarin Mas bilang, Mas akan segera menikahi aku secara resmi. Sekarang Mbak Irma sudah tahu hubungan kita, jadi gak ada alasan lagi! Mbak Irma, kamu gak boleh egois! Aku juga istri mas Hisyam dan aku sedang hamil. Jadi, Mbak harus rela berbagi suami sama aku."

"Pergilah! Bawa suamimu! Aku sudah tak sudi!" ujar Irma sarkas.

"Irma! Apa maksudmu?" sahut Hisyam.

"Aku gak sanggup jika harus berbagi suami, Mas. Ceraikan aku!"

"Irma, jaga bicaramu!" bentak Hisyam.

"Aku tidak mau dimadu. Jika Mas ingin menikahinya, ceraikan aku dulu!" ujar Irma tenang.

"Irma!" bentak Hisyam.

Winda tersenyum penuh kemenangan.

"Udah, Mas! Ceraikan saja dia! Aku gak mau, ya, anakku lahir tanpa ayah!" sahut Winda.

"Winda, sebaiknya kamu pulang dulu! Biar aku bicara dulu dengan Irma!" ujar Hisyam.

"Gak perlu, Mas! Gak ada lagi yang perlu dibicarakan!" sahut Irma.

"Ir, tolong pikirkan baik-baik! Bagaimana dengan Arum jika kita bercerai!"

"Arum akan ikut aku, Mas! Jangan khawatir! Dia tidak akan merepotkan kamu!" sahut Irma.

"Bukan itu maksudku! Dia butuh sosok seorang Ayah!"

"Kamu tetap Ayahnya, Mas! Aku tidak akan menghalangi kalian bertemu!"

"Irma … Arum masih kecil. Dia butuh keluarga yang lengkap."

"Untuk apa keluarga lengkap jika didalamnya hanya ada api? Lepaskan aku, Mas! Aku tidak mau dimadu!"

Hisyam menghembuskan nafas panjang.

"Baiklah, jika memang itu keputusanmu! Irmawati binti Abdurrohman, dengan ini aku jatuhkan talak padamu! Mulai hari ini, kamu bukan istriku lagi!"

"Ayo, Mas, kita pergi! Nasha sudah nunggu dari tadi!" ujar Winda, lalu menarik Hisyam meninggalkan rumah tersebut dengan senyum kemenangan.

Irma terduduk di lantai. Dia menangis tergugu. Rumah tangga yang dia perjuangkan, kini telah berakhir. Arum keluar dari persembunyiannya, lalu berlari mengejar ayahnya.

"Ayah ... jangan pergi! Jangan tinggalin Arum!"

Langkah Hisyam terhenti. Dia menoleh. Dilihatnya, putrinya berlari ke arahnya. Dia segera membawa Arum ke dalam pelukannya. Setelah puas memeluknya, Hisyam mencium kening dan pipi putrinya.

"Arum … Arum disini jaga Bunda, ya! Jangan nakal!"

"Ayah mau kemana?"

"Ayah harus pergi! Tapi Arum gak usah khawatir, Ayah akan sering-sering mengunjungi Arum."

Tin tin tiiiin ....

Winda memencet klakson dengan tak sabar.

"Ayah pergi dulu, ya!" Hisyam melepas pelukan putrinya, lalu segera masuk ke dalam mobil, dan melaju meninggalkan rumah tersebut.

"Ayah ...," ujar Arum lirih. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Yang dia tahu, wanita hamil di samping ayahnya dan gadis kecil yang duduk di bangku belakang itu telah merebut ayahnya.

Irma memeluk putrinya.

"Bun ... Ayah pergi!" ujar Arum sembari terisak.

"Gak papa, Sayang! Biarkan saja! Masih ada Bunda disini!" sahut Irma sembari menghapus air matanya.

Dua bulan setelah kejadian itu, surat cerai mereka telah keluar. Hak asuh Arum jatuh ke tangan Irma. Rumah yang mereka tempati selama ini diserahkan kepada Irma sebagai harta gono gini.

Tiga bulan pertama, nafkah untuk Arum masih berjalan lancar. Namun, memasuki bulan keempat, Hisyam sudah tidak mengirim uang untuk Arum.

Irma pun tak mau mengemis. Dia berjuang seorang diri untuk membesarkan putrinya. Irma tak bisa bekerja karena tidak tega meninggalkan putrinya sendirian. Tabungannya mulai menipis. Satu persatu aset telah terjual.

"Arum, boleh Bunda bicara sebentar?" tanya Irma.

"Ada apa, Bun?" tanya Arum. Dia menghentikan aktivitasnya mengerjakan PR.

"Rencananya, Bunda mau mengajak Arum pindah ke Surabaya. Bagaimana menurut Arum?"

"Kalau kita pindah kesana, trus, sekolah Arum bagaimana?"

"Ya … sekolahnya pindah, Sayang! Bunda rencananya mau buka catering disana."

"Kenapa gak disini saja, Bun?" tanya Arum.

"Arum gak mau, ya?" tanya Bundanya sedih.

"Arum mau, Bun, cuma …."

"Cuma apa, Sayang?"

"Kalau kita pindah kesana, apa kita masih bisa bertemu Ayah?" tanya Arum sedih.

Melihat hal itu, Irma pun turut sedih.

"Arum kangen ya, sama Ayah?" tanya Irma.

Arum mengangguk.

"Sudah lama Ayah gak nengok Arum," ujarnya sedih.

"Bagaimana kalau besok kita temui Ayah ke rumah barunya?"

"Memangnya boleh, Bun?"

Irma mengangguk.

"Hore! Terimakasih, Bunda!" ujar Arum, lalu memeluk Bundanya erat. Tanpa terasa, air mata Irma menetes. Namun, dia segera menghapusnya. Dia tak ingin putrinya melihat air matanya. Semoga besok tidak terjadi masalah, harapnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
hei njing, bisa g jgn terlalu gampang minta cerai tokoh ceritanya. minimal pintar dijitlah istri pertama. udah jelas ada unsur pidananya koq dibikin gampang nyerah, bangsat banget yg bikin cerita.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   HARI PERNIKAHAN

    “Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan aku hari ini,” ujar Vano dengan mimik wajah serius. Sekar menatap menatap wajah sahabatnya tersebut dengan mimik wajah yang semakin kebingungan. “Apaan sih? Aku gak ngerti deh!” ujar Sekar lagi. Vano terkekeh geli menatap wajah wanita di hadapannya yang menurutnya terlihat lucu dan menggemaskan.“Lho, Van, dari tadi?” tanya Irma yang tiba-tiba muncul.“Bunda!” seru Vano, lalu bangkit dari posisinya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.“Barusan, Bun. Aku kangen sama masakan bunda, makanya main kesini,” sahut Vano seraya terkekeh.“Ayo langsung ke ruang makan. kebetulan bunda hari ini masak kesukaan kamu,” sahut Irma. “Asyik ... kayaknya bunda sudah ada feeling aku mau main nih!” ujar Vano. Dengan santai, dia menggandeng lengan wanita paruh baya tesebut menuju ruang makan meninggalkan Sekar yang masih bengong di tempatnya. Selang tak berapa lama kemudian, Sekar pun sudah menyusul mereka.***“Van!” panggil Sekar. Saat ini

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   TERJEBAK

    BAB 39TERJEBAKVano melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya untuk mengurai rasa panas yang menguasai tubuhnya. Sayangnya, usaha yang dia lakukan sia-sia, tubuhnya semakin tak dapat dikendalikan. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Airin masuk ke dalam ruangan dengan membawa secangkir minuman. Pakaian yang melekat erat ditubuhnya, ditambah lagi dua kancing yang terbuka di bagian atas membuat Vano menatapnya tanpa berkedip. Vano meneguk ludahnya kasar.“Kamu kenapa, van? Sakit?” tanya Airin. Vano tak menjawab. Pandangannya masih terfokus pada gundukan kenyal yang terlihat menantang di hadapannya. Airin tersenyum tipis penuh kemenangan, lalu dengan santainya duduk di pangkuan pria tersebut.“Wow ... aku bahkan bisa merasakannya. Mau aku bantu melepaskannya?” ujar Airin dengan gaya manjanya seraya mengusap dada Vano dengan lembut. Tubuh Vano semakin memanas. Spontan, dia meraih tengkuk wanita tersebut, lalu menyambar bibirnya dengan lumatan yang panas. Airin semakin diatas angin. Ta

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   KEJUJURAN VANO

    BAB 38KEJUJURAN VANO“Berdasarkan bukti-bukti dan kesaksian para saksi, maka saudara Aldi Wiratama dinyatakan bersalah dengan hukuman tujuh tahun penjara.” Ketuk palu hakim, mengakhiri jalannya sidang hari ini. Aldi menghembuskan nafas lega. Meskipun dia harus mendekam dalam penjara, setidaknya hukumannya jauh lebih ringan dari tuntutan yang seharusnya yaitu dua belas tahun penjara. Nasha pun tak kuasa menahan air matanya. Kini, dia harus berjuang seorang diri membesarkan anaknya nantinya.Usai sidang selesai, Nasha menghampiri sang suami sebelum kembali di bawa lapas."Mas!" ujar Nasha lirih."Jaga anak kita baik-baik. Maaf aku tidak menemani kamu membesarkan anak kita nantinya!" ujar Aldi."Mas!" Spontan, Nasha mendekap tubuh sang suami dengan erat. Dia menangis tergugu dalam pelukan sang suami.“Aku akan membebaskan kamu, Sha. Aku tidak akan mengikatmu dalam ikatan pernikahan yang tidak sehat ini. Nasha Syakilla binti Suwito, aku ja---“ Belum selesai Aldi menyelesaikan kalimatnya

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   PERMINTAAN ALDI

    BAB 37PERMINTAAN ALDI “Saudara Aldi, anda yang ingin bertemu dengan Anda!” ujar seorang petugas sipir, lalu membuka pintu penjara. Dengan penuh semangat, Aldi bangkit dari posisinya, lalu melangkahkan kakinya. Dia mendengus dengan kesal saat tahu siapa yang datang menjenguknya.“Sayang ... bagaimana keadaan kamu?” tanya Nasha seraya memeluk tubuh sang suami. “Sha ... apaan sih?” protes Aldi seraya mendorong tubuh sang istri perlahan agar menjauh.“Mas ... kamu kenapa sih?” tanya Nasha bingung.“Gak enak dilihat petugas,” sahut Aldi cuek, lalu melangkahkan kakinya dan duduk di kursi yang telah disediakan. Nasha pun mengernyitkan dahinya heran. Namun, tak urung, dia mengikuti langkah sang suami dan duduk di hadapannya. “Kamu kenapa, Mas?” tanya Nasha.“Apanya yang kenapa?” tanya Aldi.“Sejak kemarin, kamu berubah jadi cuek,” sahut Nasha.“Biasa saja.”“Gak, aku yakin pasti ada sesuatu. Katakan, ada apa sebenarnya?” desak Nasha.“Sudah ku bilang tidak ada. Untuk apa kamu kesini?” tan

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   SIDANG PERDANA

    BAB 36SIDANG PERDANA‘Aku tidak rela wanita itu menguasai perusahaan. Enak saja, aku yang mendampingi Mas Hisyam hingga seperti sekarang, malah dia yang dapat warisan. Rugi dong perjuanganku selama ini!’ ujarnya dalam hati.“Maaf, Bu, untuk keperluan administrasi, saya tetap meminta pembayaran di depan!” ujar Pak Adnan.“Tentu saja, Pak! Berapa saya harus membayarnya?” tanya winda dengan gaya elegannya. Pak Adnan menyerahkan sebuah kertas yang berisi rincian dana yang harus dibayarkan. Wind amenelan ludah kasar melihat angka tersebut. Sebenarnya itu memang harga yang pantas untuk pengacara sekelas Adnan Wijaya. Masalahnya, saat ini dia sedang pailit. Uang segitu tentu saja sangat berharga untuknya.“Em ... saya akan membayarnya separuh. Untuk sisanya ... bagaimana kalau saya bayar dengan cara lain!” ujar Winda.“Maksudnya?” tanya Pak Adnan bingung. Dengan penuh percaya diri, Winda melangkah mendekati pria paruh baya tersebut seraya melepaskan beberapa kancingnya sehingga menampakkan p

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   KEDATANGAN AIRIN

    BAB 35KEDATANGAN AIRINKring .... Tiba-tiba, ponsel Vano berbunyi.“Halo, Pa! Ada apa?” tanya Vano.“_____.”“Sudah, Pa. Dia ada disini sekarang,” sahut Vano smabil melirik kesal pada Airin.“____.”“Gak bisa gitu dong, Pa! Dia itu tidak kompeten!” “____.”“Tapi, Pa ....”“____.”“Iya, iya!” sahut Vano sambil bersungut-sungut. Airin mendengarkan pembicaraan mereka sambil senyum-senyum. Meski tidak tahu pasti, namun dia bisa menebak arah pembicaraan mereka.Klik. Vano memutusukan panggilan teleponnya. Dia menghela nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri.“Bagaimana, Pak Vano?” ujar Airin sambil tersenyum manis. Vano merasa semakin muak.“Baiklah, kamu diterima, tapi ____.”“Yey ... terima kasih, Van!” ujar Airin gembira sambil bertepuk tangan.“Aku belum selesai bicara!” bentak Vano. Airin segera menghentikan aksinya sebelum Vano benar-benar marah padanya. “Oke, lanjutkan!” ujar Airin.“Kamu diterima, tapi, jika dalam masa percobaan selama satu bulan kinerja kamu mengece

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   KEMBALI MASUK PENJARA

    BAB 34KEMBALI MASUK PENJARA“Bapak Aldi telah melakukan kesalahan. Jadi, pihak penggugat mengajukan permohonan pembatalan pembebasan bersyarat atas nama Bapak Aldi.” Petugas kepolisian tersebut memberikan penjelasan.“Memangnya apa yang dilakukan suami saya?” tanya Nasha emosi.“Sha, kendalikan emosimu. Sebaiknya, kamu panggil Aldi kesini.”“Tapi, Ma, kalau Mas Aldi kesini, nanti mereka akan menangkapnya,” sahut Nasha keberatan.“kalau kamu tidak menyuruh Aldi kesini, yang ada dia akan menjadi buronan. Hukumannya bisa semakin berat,” sahut Winda.Dengan langkah berat, Nasha memanggil Aldi yang sedang berbaring di kamarnya.“Mas, bangun! Ada yang nyari kamu di depan!” ujar Nasha.“Siapa, Sha?” sahutnya dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.“Polisi.”“Apa? Mau apa mereka kesini?”“Mereka bilang mau menangkap kamu. Katanya, kamu melakukan kesalahan sehingga pihak Sekar meminta pembatalan penangguhan penahanan. Memangnya, apa yang sudah kamu lakukan sama Sekar?” tanya Nasha t

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   KEMARAHAN ALDI

    BAB 33KEMARAHAN ALDI"Secara hukum, saya pemilik sah perusahaan ini dan saya sudah mengambil alih kepemimpinan perusahaan ini. Kamu tidak punya hak apapun," sahut Sekar."Jadi itu alasan kamu memblokir semua kartuku? Itu ulah kamu, bukan?" "Tentu saja. Itu kartu milik perusahaan. Aku tidak mungkin membiarkan kamu memegangnya," sahut Sekar santai."Tapi tetap saja, kamu tidak tahu apa-apa mengenai perusahaan ini," ujar Aldi."Apa Anda lupa berapa lama saya menjadi sekretaris Anda?" sahut Sekar.Aldi tak dapat menjawab. Dia mulai gusar.“Apa kamu akan menguasai perusahaan ini sendiri? Jangan lupa, disini ada hak Nasha dan mamanya.”“Tidak ada berkas yang membuktikan bahwa mereka memiliki hak atas perusahaan ini.”“Mereka sedang memperjuangkan haknya. Tunggu saja!” ujar Aldi.“Tentu. Aku juga ingin tahu sejauh mana usaha mereka,” sahut Sekar santai.“Terserah kamu, tapi …." Aldi menggantung ucapannya."Apa?" tanya Sekar."Kembalikan semua yang sudah kuberikan sama kamu!" Sekar terkeke

  • Kau Hancurkan Hidup Ibuku, Ku Hancurkan Hidup Anakmu   KEDATANGAN ALDI

    BAB 32KEDATANGAN ALDI“Pasti berhubungan dengan wanita itu, kan?”“Sudahlah, Pa. Jangan mengait-ngaitkan Sekar. lagian, ini gak papa, kok. Hanya bengkak sedikit, sebentar juga sembuh.”"Dasar bucin! Sekarang Papa mau tanya. Kenapa dia hari ini gak masuk?”“Dia ada pertemuan dengan pengacara ayahnya, Pa.”“Baru juga bekerja, sudah beberapa kali izin. Kamu tidak bisa seperti itu, Van. Bagaimana tanggapan karyawan lain? Mereka pasti berfikir kamu pilih kasih," ujar Papa Vano."Biarin sajalah, Pa, mereka mau bilang apa. Aku yang lebih tahu mengenai Sekar. Jika tidak ada hal yang benar-benar penting, dia tidak mungkin izin.""Ini yang Papa tidak suka dari kamu. Lembek kalau sudah masalah wanita itu," ujar Sang Papa tak suka.“Pa, jangan begitu dong! Ini aku sudah memenuhi permintaan Papa untuk membantu mengurus perusahaan.”“Papa tahu. Tapi kalau sekretaris kamu sering izin begini, pekerjaannya akan terbengkalai. Yang repot kamu juga!”“Papa gak usah khawatir, aku bisa mengatasi kok!” “T

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status