LOGINBerbeda dari sebelumnya, Nayla kali ini bicara dengan sangat serius, tidak tampak pura-pura sama sekali.Awalnya, dia mengira Nayla dan Simon hanya sedang saling mengenal.Sudah berapa lama?Baru tiga bulan, mereka sudah menikah.Tidak, dia tidak mau percaya!Nayla mengerutkan kening, menatap dengan tidak sabar.Sebelum dia bisa berbicara, Winda yang hampir masuk ke taksi melihat adegan itu dan berlari kembali untuk melindungi Nayla."Mau apa lagi kamu? Mau ganggu Nayla lagi?""Minggir!" Hans berteriak, wajahnya memerah.Tubuh Winda gemetar hebat.Tapi dia tetap berdiri tegak di depan Nayla, tidak goyah sedikit pun.Nayla terkejut, lalu merasakan kehangatan di hatinya.Hans mendorong Winda ke samping dengan paksa, mencengkeram bahu Nayla erat-erat sambil menuntut dengan suaranya serak, "Kamu pasti bohong! Kalian berdua belum menikah!"Nayla berusaha sekuat tenaga, tapi tidak bisa bergerak sedikit pun. Amarahnya pun meluap. Dia mengangkat kakinya dan menginjak punggung kaki Hans dengan
Hans merasa seolah ada batu besar yang menekan dadanya. Memegangi mangkuk kosong, dia melemparkannya ke arah Michael, seluruh tubuhnya membara karena marah.Michael terpukul di kepala hingga darah mengucur deras. Dia memegangi dahinya, mengeluarkan teriakan yang menusuk telinga."Hans, kamu itu kenapa? Salah apa aku tentang Nayla?"Darah merembes melalui jarinya. Semua orang menatap dengan tercengang.Butuh beberapa saat sebelum seseorang bergegas mendekat dan menekan sapu tangan ke luka Michael.Nayla terkejut.Bukankah Hans dan Michael sahabat paling dekat?Mengapa mereka bertengkar? Sepertinya karena dia?Betapa anehnya.Hans bertengkar dengan Michael karena dia."Nggak peduli seperti apa pun Nayla, bukan urusanmu untuk menghakiminya. Kalau kamu berani bicara begitu lagi tentang dia di hadapanku, kubunuh kamu." Hans menatapnya dengan mata penuh ancaman.Michael merasa pusing habis dipukul dan mendesis marah, "Oke, oke! Kita sahabat sudah bertahun-tahun, tapi kamu pukul aku demi oran
Winda pasti sudah mencari tahu dan memesan tempat di restoran terkenal.Suasana di sana tenang dan bersih, dihiasi dengan dekorasi bergaya antik.Banyak orang datang ke sini karena reputasinya, dan ada juga wisatawan, sehingga restoran ini ramai.Nayla dan Winda duduk di meja kecil dekat lorong di tengah ruang makan."Nayla, terima kasih banyak atas bantuanmu."Melihat suasana agak berisik, dan khawatir Nayla merasa tidak senang, Winda menjelaskan dengan canggung."Maaf, aku tadinya mau pesan ruang pribadi, tapi ditolak restoran, katanya jumlah kita terlalu sedikit. Semoga kamu nggak keberatan dengan meja ini."Dia merasa bahwa, mengingat status Nayla sebagai putri keluarga kaya, ruang pribadi akan lebih tepat untuknya.Nayla tersenyum ramah. "Nggak apa-apa, kita cuma makan, nggak masalah duduknya di mana."Winda tahu bahwa Nayla lembut dan sopan, tapi tidak menyangka wanita itu sangat rendah hati juga."Apa nggak terlalu berisik?""Kita cuma sedang makan. Tinggal fokus dengan makanan
"Sepuluh tahun yang lalu?"Arman terkejut. "Kita memang menyimpan rekamannya, tapi mungkin agak sulit mencarinya setelah sekian lama.""Kita bisa persempit cakupannya, fokus di area sekitar Danau Niko.""Oke, nanti aku sampaikan. Kasih kabar saja kapan kamu mau datang."Arman tidak bertanya apa yang dia inginkan.Keponakannya bisa melakukan apa pun yang dia inginkan."Terima kasih, Paman.""Nayla ...."Nayla hampir menutup telepon ketika pamannya tiba-tiba memanggil. "Paman, ada apa?"Tawa malu-malu terdengar dari ujung telepon. "Nggak apa-apa, kita bicarakan waktu kita ketemu saja.""Oke."Mendengar suara pamannya yang familier dan menenangkan, Nayla merasa sakit yang menusuk dadanya dan buru-buru menutup telepon.Dia menarik napas dalam-dalam, dan setelah beberapa saat, emosinya mulai mereda.Kenangan masa lalu semakin sering muncul di pikirannya belakangan ini.Dia sering merasa sesak dari waktu ke waktu.Seperti rasa takut yang mencekiknya saat hampir tenggelam sepuluh tahun yang l
Karin merasa napasnya perlahan terhenti. Matanya membelalak ketakutan, seolah dirinya akan mati dicekik saat itu juga.Dia memukul tangan Hans, berusaha mengucapkan kata-katanya. "Lepaskan aku ...."Tepat saat dia hampir kehabisan napas.Hans akhirnya melepaskannya.Dia terjatuh dengan keras ke tanah, terengah-engah mencari udara. Tenggorokannya terbakar seolah-olah baru menghirup asap panas.Hans memberinya tatapan dingin sebelum berjalan pergi."Jangan pergi ...."Karin mencoba meraihnya, tapi tangannya hanya menggapai udara kosong. Dia hanya bisa menyaksikan dengan tanpa daya saat Hans berjalan pergi tanpa menoleh lagi.Punggungnya yang dingin dan tidak peduli tercermin dalam pupil matanya.Pada saat itu.Kebencian seakan ingin menghancurkan dunia merayap masuk ke dalam hatinya.Dia pernah sangat dicintai dan sangat bahagia.Semua ini salah si jalang Nayla. Dia tidak akan membiarkan wanita sialan itu lepas begitu saja!Pesawat tiba di Hanka pada pukul 2 siang.Saat Nayla dan Simon t
"Oke."Simon setuju tanpa mengajukan pertanyaan apa pun.Nayla terkejut."Kamu ... bahkan nggak tanya kenapa?""Tanya apa?"Suara dalam itu kembali bergema di dekatnya. "Apa pun yang istriku ingin lakukan, lakukanlah. Aku akan bekerja sama."Mendengar kata-katanya, Nayla spontan menoleh, wajahnya berseri-seri dengan kegembiraan.Simon berdiri dua meter di depannya, senyum terlukis di bibirnya. Tangannya melambaikan ponselnya.Dengan tubuh tinggi dan berpostur jangkung, dia memancarkan aura yang elegan. Wajahnya yang tampan dan gagah sangat memikat.Nayla dipenuhi kegembiraan dan berlari cepat ke arahnya."Kenapa kamu di sini?"Dia menatap dengan wajah bersinar. Matanya yang jernih berkilau dengan senyum cerah.Hati Simon berdebar.Sebahagia itu bertemu dengannya?"Pak Robin bilang kamu datang ke sini. Kebetulan aku sedang di dekat sini, jadi aku mau menjemputmu sekalian."Tanpa diduga, Nayla meneleponnya tepat saat dia baru tiba."Ada apa hari ini? Kenapa kamu ceria sekali?"Nayla meng







