Share

Bab 231

Author: Finella Zakaria
"Dasar bodoh." Simon bergumam pelan, matanya yang gelap dipenuhi kasih sayang. "Kamu sama sekali nggak berubah, masih sebodoh dulu."

"..."

Nayla benar-benar tidak mengerti, jadi dia hanya mendengus dan mengabaikannya.

Tapi perasaan ini ... entah kenapa terasa romantis.

Manis dan sangat menyenangkan.

Jauh lebih manis dan bahagia daripada lima tahunnya bersama Hans.

Dia bahkan bertanya-tanya apakah segalanya akan berubah jika Simon adalah orang yang menyelamatkannya.

Mungkinkah mereka bisa bersama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rienie El Dela.
Ach.... malas.... penulisnya bertele tele
goodnovel comment avatar
Meinar W.
kebenaran apa si? ah teka teki mulu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!   Bab 1431

    Austin melihat sosoknya yang sendirian di balkon, lalu bangkit dan berjalan ke sana.Saat Winda mendongak, dia menyadari bahwa Austin sedang berjalan menghampiri Friska. Matanya melirik sekilas ke arah sesuatu, lalu dia memegang gelas anggurnya lagi dan melanjutkan minum bersama Amanda.Melihat mereka semua bersemangat, Nayla tidak ingin merusak suasana. "Minum pelan-pelan, jangan sampai mabuk.""Sayang, kalau saja kamu nggak sedang hamil, kamu juga harus ikut minum dengan kami."Amanda tertawa kecil, pipinya memerah dan terlihat cantik. Dengan mata yang sedikit kabur karena mabuk, senyum cerahnya tampak sangat memikat.Setelah meneguk minuman dalam-dalam, Winda menyetujui. "Iya, aku sepertinya belum pernah minum bersama Nayla."Nayla dapat melihat bahwa mereka sudah agak mabuk. Dia hanya tersenyum tanpa menjawab, lanjut mengamati mereka minum.Nenek Asih adalah orang yang pengertian. Dia makan sedikit lalu kembali ke kamarnya agar tidak mengganggu para muda-muda mengobrol.Saat melewa

  • Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!   Bab 1430

    "Manusia itu bisa berubah, bukan begitu?"Austin mendengarkan percakapan mereka. Raut wajahnya sedikit berubah, melirik ke arah mereka, tanpa mengatakan apa-apa.Nayla menundukkan pandangannya, menyadari bahwa ucapan Simon itu dimaksudkan untuk menguji Friska, sehingga dia tidak berkomentar apa-apa.Amanda merasakan ada sesuatu di antara mereka, tanpa sadar juga melirik ke arah mereka semua. Dia merasa suasana agak aneh, tetapi tidak bertanya apa-apa.Winda tidak tahu apa-apa. Dia mengambil beberapa botol minuman, termasuk dua botol anggur merah.Duo botol anggur merah itu adalah hadiah khusus dari Austin pada pesta perayaan sebelumnya, yang dia suruh dibawa pulang."Aku nggak tahu bagaimana kualitas anggurnya. Yang ada di rumah cuma ini, selain itu cuma ada bir putih. Nggak apa-apa?""Iya, ini sudah cukup. Kami bisa minum apa saja."Amanda yang pertama berdiri dan mengambil anggur merah dari tangan Winda."Sini aku bukakan, aku sudah terbiasa."Alis Mario sedikit terangkat, tetapi mat

  • Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!   Bab 1429

    "Terima kasih."Tanpa sadar, Winda memeluk hadiah yang diberikan Austin dan pipinya memerah.Austin memberinya sebuah kotak kecil, entah apa isinya, tetapi dari tampilan luarnya seperti berisi kalung atau gelang.Austin mengangguk dan tersenyum padanya. "Tinggal di rumah baru memberimu lebih banyak motivasi untuk menulis naskah. Aku tunggu naskah suksesmu selanjutnya.""Oh iya, ada lagi yang mau kuberikan."Dia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan amplop tebal dari saku jasnya dan menyerahkannya ke tangan Winda.Amplop itu menggembung saking tebalnya."Ini apa?"Winda agak terkejut, menatap Austin dengan bingung."Ini bonus dari perusahaan, ditambah ganti rugi kecelakaan kerja. Tentu saja, termasuk hadiah dariku sebagai ucapan selamat menempati rumah baru."Winda pun mengerti.Uang di dalamnya pasti tidak sedikit."Pak Austin, kamu sudah banyak membantuku."Winda ingin mengembalikannya, tetapi sebelum sempat dia serahkan, tangan Austin sudah lebih dulu terangkat dan menahan amplop itu.

  • Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!   Bab 1428

    Winda tidak bisa menyembunyikan rasa gembira dan antusiasmenya, mengajak Nayla untuk melihat-lihat kamar tidur utama, sementara Simon tetap duduk di ruang tamu.Nenek Asih dan bibi pengurus rumah sedang sibuk di dapur. Teman-teman Winda di Hanka hanya beberapa. Untuk acara syukuran ini, mereka menyiapkan hidangan hotpot.Dua hari sebelumnya saat mengobrol di grup, Amanda dan Nayla sama-sama mengusulkan untuk makan hotpot, sehingga Winda dengan senang hati menerima usulan tersebut.Di atas meja, dua kaldu hotpot yang masing-masing pedas dan tidak pedas sudah mendidih. Aromanya menyebar ke seluruh ruang tamu.Meskipun Simon tampak dingin, Nenek Asih tersenyum dan membawakannya minuman."Nak, silakan minum dulu, sebentar lagi baru bisa makan."Tangan Nenek Asih yang keriput memegang botol kola, menyodorkannya ke hadapan Simon, dengan raut wajah yang tampak ramah dan lembut.Simon sedikit mengerutkan kening, mengambil botol kola itu dengan kedua tangan dan berkata, "Terima kasih. Silakan d

  • Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!   Bab 1427

    Nayla membelalakkan matanya, lalu segera bangkit dari kursinya, mengelilingi meja, dan meminta Boby duduk di sofa untuk menceritakannya perlahan."Dia bilang apa?""Kisahnya hampir sama dengan sebelumnya, tapi kali ini pakai bukti.""Bukti apa?""..."Boby menyerahkan sebuah kuitansi toko barang bekas ke tangan Nayla."Ini."Nayla memperhatikan tanggal pembelian di atasnya, yaitu tiga bulan yang lalu. Di sana juga tertulis nama toko barang bekas tersebut.Boby menjelaskan, "Tiga bulan lalu, Sunny mengaku membeli liontin giok ini di toko itu waktu pergi belanja dengan Ryan.""Karena di atasnya ada ukiran namanya, harganya nggak mahal. Sunny bilang dia suka, lalu Ryan membelinya.""Sudah dicek ke tokonya? Benar beli di toko ini?" Nayla masih ragu.Boby mengangguk. "Aku sudah ke toko itu sebelum datang ke sini. Pemiliknya mengaku pernah menjual liontin giok seperti ini tiga bulan lalu."Dia mencoba menanyakan kepada pemilik toko mengapa liontin itu ada di sana, dan pemiliknya mengaku bahw

  • Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!   Bab 1426

    Calvin mengangkat tangan satunya, menyelipkannya di sela-sela tangannya dan dada Sandra, lalu melepaskan tali tipis yang mengikat.Gerakannya sangat lembut, sentuhannya seolah-olah hanya sekilas menyentuh kulit yang lembut itu. Tubuh Sandra sedikit bergetar, malu setengah mati, dan dia menggigit bibirnya dengan keras.Sepanjang proses itu, dia tidak berani menatap Calvin sedikit pun.Waktu seakan berhenti pada saat itu. Sandra merasakan gerakan lembut di bawah dadanya, berharap semua ini segera berakhir.Setelah beberapa detik yang menyiksa, suara Calvin akhirnya terdengar."Nona Sandra, sudah lepas."Sandra menghembuskan napas lega, seolah beban berat terangkat. Lalu, kedua tangannya menopang sandaran kursi, mencoba untuk berdiri.Tiba-tiba kedua lengannya digenggam erat, aroma parfum samar bercampur aroma tembakau merasuki hidungnya."Hati-hati, jangan buru-buru."Dengan nasihat itu, tubuh Sandra ditopang dengan kekuatan lengan Calvin yang kokoh, kembali duduk dengan nyaman di kursi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status