LOGINMata Amanda memancarkan tatapan garang, wajahnya dipenuhi amarah.Penampilannya bagaikan sekuntum bunga yang cantik tapi berduri.Mario kesakitan.Namun, dia tidak mengernyit sedikit pun. Dia hanya tidak menyangka bahwa Amanda benar-benar menggigitnya sekeras itu.Baru setelah rasa amis darah menyebar di mulut mereka berdua, Amanda melepaskan gigitannya."Mario, mari kita berpisah baik-baik, jangan paksa aku membencimu."Amanda tampak sangat teguh pada keputusannya.Mario mencubit pipinya, memaksanya menatap matanya. Sepasang mata yang tenang itu menatap dengan penuh pertanyaan.Setelah menatapnya selama beberapa detik, dia mendengus, melepaskan tangannya, dan pergi.Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.Tatapan terakhirnya pada Amanda terasa dingin dan angkuh.Hati Amanda terkejut sejenak. Dia merasa seolah kali ini Mario pergi untuk selamanya.Memikirkan hal itu, jantungnya tiba-tiba terasa sesak.Sampai terdengar suara pintu tertutup, Amanda pun ambruk lemas di atas tempat tidur.
"Semua orang bilang, kalau diam-diaman sampai tiga hari itu otomatis putus. Kamu mencariku sekarang, pasti karena merasa orang sehebat dirimu kok ditinggalkan?"Amanda mengangkat dagunya. "Jadi, tinggal kamu bilang saja mau putus denganku, beres 'kan?"Sebersit bayangan gelap melintas di mata Mario. "Amanda!"Dia mengerutkan kening dengan bingung. "Kamu anggap aku apa?"Amanda tertawa. "Pria. Dulu pacarku, orang yang aku suka. Kalau sekarang ...."Amanda merasa geli mengingat perasaan Sandra saat dia menjawab telepon.Tanpa Mario, dia juga adalah orang yang dipuja-puja, dikejar-kejar, dan berusaha didapatkan dengan sekuat tenaga.Tak terhitung jumlah orang yang mengejarnya. Hanya saja, dia membangun tembok jarak agar mereka tidak bisa mendekat.Namun, di hadapan Mario, dia justru hidup seperti selir di istana kerajaan zaman dulu, seolah-olah sedang bersaing memperebutkan kasih sayang dan perhatian.Dia tidak mau!Ada banyak pria di dunia.Bahkan jika Mario lebih diminati daripada seora
"Hm? Nggak bicara lagi?"Mario semakin mendekat, menundukkan kepala, lalu mengangkat pandangannya untuk mengamati setiap gerak-gerik Amanda.Tangan besarnya sudah melingkari pinggangnya. Saat telapak tangan yang lebar dan hangat itu menutupi pinggangnya, tubuh Amanda tiba-tiba bergetar."Jangan dekat-dekat."Seolah tersengat listrik, dia tiba-tiba mendorong Mario menjauh.Namun, Mario malah menariknya, lalu menindihnya dengan mudah, napasnya mendekat."Amanda, aku sangat kenal tubuhmu."Mario mengembuskan napas hangat di telinganya, suaranya rendah dan menggoda. "Mulutmu memang menyuruhku pergi, tapi tubuhmu nggak berpikir begitu ...."Ciumannya mendarat di daun telinga Amanda.Tubuh Amanda selalu bereaksi dengan kuat.Aliran listrik melesat cepat di dalam tubuhnya, membuatnya merasa tidak karuan yang sulit dijelaskan.Dia menggigit bibirnya, menatap dengan marah."Mario, kamu gila!"Mario menggigit ringan, membuat Amanda meringis kesakitan.Namun, pria itu malah tertawa pelan. "Aku gi
Setelah beberapa kali memasukkan kode sandi yang salah, Mario akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah dengan menggunakan sidik jari Amanda.Wanita!Mario menunduk memandang wanita di pelukannya, matanya dipenuhi rasa yang terpendam. Kode sandinya diubah!Baru berapa hari?Hanya mengirim pesan putus, berarti putus begitu saja?Kenapa saat bersama harus ada persetujuan dari kedua belah pihak, sedangkan untuk putus cukup dengan satu pesan saja?Dada Mario terasa sesak, dan raut wajahnya semakin muram.Dia merasa kesal dan menggendong Amanda kembali ke tempat tidur. Saat hendak meletakkannya, gerakannya kembali menjadi lembut.Mendarat di atas tempat tidur yang empuk, tubuh Amanda meregang dengan nyaman. Dia membalikkan badan, lalu berbaring miring menghadap Mario.Pipinya merona merah, dan penampilannya yang tenang terlihat indah dan damai.Saat dia diam, dia tidak setajam dan sekeras biasanya.Namun, dia tampak sedikit tidak nyaman. Alisnya berkerut dalam, bahkan napasnya pun agak berat.
Simon menatap Nayla, matanya dipenuhi kekaguman."Sayang, kamu memang pintar seperti biasa. Apa pun yang aku lakukan, nggak ada yang lepas dari matamu."Nayla terdiam. "Kamu terlalu terang-terangan."Dia berhenti sejenak, tampak agak pasrah. "Kamu tahu hubungan mereka sedang ada masalah, 'kan?"Simon memang orang yang cerdas.Meskipun dia tidak terlalu memperhatikan hubungan dua orang itu, dia menyadari kelakuan Mario yang tidak seperti biasanya belakangan ini.Dia mengangkat alis dan tersenyum. "Masalah apa pun itu, perlu dibicarakan secara terbuka oleh pihak yang bersangkutan.""Kalau setelah memahami situasinya, Amanda masih nggak bisa menerima Mario, mereka berpisah atau tetap bersama itu pilihan mereka sendiri. Nggak akan ada penyesalan, ya 'kan?"Nayla merasa itu ada benarnya juga dan kembali teryakinkan olehnya. Dia mau tak mau mengakui kehebatannya.Dia tersenyum. "Oke, oke, Pak Simon memang Pak Simon. Bicara sedikit saja sudah bisa meyakinkanku.""Kamu benar, mereka memang per
Melihat Amanda marah, Nayla tersenyum dan menepuk pundaknya. "Ya sudah, karena kamu sudah bilang, aku pasti akan menghormati permintaanmu.""Beri tahu Ryan saja, suruh Sunny menjelaskan dengan jujur, liontin giok yang ada di dia itu sebenarnya punya siapa. Kalau dia mau jujur, kami bisa memaafkan uang yang sudah dia pakai, biar aku yang menggantinya."Nayla bertanya kepada Amanda, "Bagaimana? Begini sudah oke, 'kan?"Sangat oke!Amanda sangat terharu dan berjanji, "Aku pasti suruh Ryan menanyakannya. Semoga bisa membantu Pak Boby menemukan adiknya.""Oke."Wajah Nayla tampak lembut, senyumnya membuat alis dan matanya melengkung, dengan aura yang anggun dan berseri-seri.Setelah Amanda kembali ke ruang makan bersamanya, mereka melanjutkan makan dan mengobrol, bahkan Amanda ikut minum bersama.Setelah meneguk beberapa gelas anggur merah, pipinya merah merona, membuatnya tampak lembut dan menggemaskan."Aku ... masih bisa minum ...."Amanda berjalan keluar dengan ditopang Nayla. "Oke, oke
"Semua orang sepertinya sangat antusias dengan lelang ini."Friska mengerutkan kening, raut wajahnya serius.Mendengar topik ini, Nayla mengetuk pintu dan masuk.Begitu melihatnya masuk, ekspresi serius Friska langsung berubah menjadi senyum."Kukira kamu sudah meninggalkannya sendirian."Nayla meng
"Kamu serius?" Yuna langsung kehilangan ketenangan.Lima tahun lalu saat Nayla bersama Hans, Yuna tidak pernah puas. Namun, karena kerja sama dua keluarga, meski tidak suka kepribadian Nayla yang mencolok, dia terpaksa menerima.Selama ini pun, Yuna tidak pernah benar-benar menyukai Nayla. Namun, ka
Namun, belakangan ini, sepertinya dia mendapat satu perhatian lagi, yaitu dari Simon."Sudah cukup!"Suara Hans terdengar penuh amarah.Nayla melihat Hans sedang memeluk Karin erat-erat dan satu tangannya mencengkeram tas tangan Amanda. Mata merahnya menatap Amanda dengan marah."Amanda, aku sudah s
Jadi sedikit berharap.Dia tiba-tiba teringat saat dia tenggelam di usia sepuluh tahun. Ketika seorang remaja menyelamatkannya, dia mendengar suara remaja itu yang jernih dan bersih, "Jangan takut, kamu sudah aman."Hari itu, hanya dengan mendengar suaranya, hatinya bergetar.Setelah sadar, hal pert







