Masuk"Tentu saja aku datang. Mana mungkin aku nggak datang?"Nayla tersenyum, tapi tubuhnya memancarkan aura yang tidak bisa dianggap enteng.Terutama tatapan matanya, yang sangat dingin dan tajam.Liliana biasanya orang yang berwatak baik, tetapi dia sangat marah karena penderitaan putrinya, sehingga dia maju ke depan Nayla."Nyonya Nayla, kamu suruh orang menculik putriku, itu sangat keterlaluan. Kamu harus bertanggung jawab kepada kami."Nenek Ratna berkata dengan nada tegas, "Ya, walaupun kamu istri Simon, Keluarga Senja nggak akan pernah membiarkan begitu saja kamu menyiksa cucuku sekejam itu."Hanung tampak dipenuhi amarah. "Selama bertahun-tahun, Keluarga Senja, Keluarga Jatmiko, dan Keluarga Tanu selalu berhubungan baik. Tapi kamu malah bertindak kejam kepada putriku. Nayla, kalau kamu nggak bisa menunjukkan tanggung jawabmu, aku nggak akan pernah berhenti walaupun harus bermusuhan dengan kedua keluarga kalian."Meskipun orang-orang itu sangat garang dan menatapnya seolah-olah ingin
Melihat Mario melakukan kekerasan dengan mata kepala sendiri, mereka terkejut dan mempercepat langkah untuk menghampiri.Mario mendengar suara langkah kaki, lalu melihat mereka dari sudut matanya, dan berkata dengan dingin."Coba saja! Jika sampai terjadi apa-apa padanya, jangan harap kamu bisa bertahan sebagai pewaris."Begitu kata-katanya selesai.Nayla dan Simon tiba di belakangnya."Mario, kamu nggak biasanya gegabah begini."Simon menghampiri Mario, matanya dengan cepat melirik wajah Calvin.Rahang bawahnya bengkak dan memerah, terlihat menyedihkan.Sangat bertolak belakang dengan citra Calvin yang biasanya tampak tinggi dan tak tergapai."Pak Calvin, perlu bantuan?"Calvin sudah pulih, tapi sudut bibirnya tetap tersenyum lapang. "Nggak apa-apa, dia cuma nggak sengaja saja, masalah kecil."Senyum sinis meluncur dari bibir tipis Mario. Dia sudah terbiasa dengan sikap Calvin yang sok itu.Semua orang di luar sana menganggap Calvin sebagai sosok yang berbakti, sopan, tenang, rendah h
Nayla semakin mengerutkan kening. "Jangan khawatir dulu. Begini saja, aku dan Simon pergi ke sana sekarang. Tunggu kabar dariku.""Oke."Amanda percaya kepada Nayla sepenuhnya, menghela napas lega.Tidak ingin membuang waktu Nayla, dia segera menutup telepon.Saat Nayla meletakkan ponselnya, suara Simon terdengar dari samping. "Amanda sekhawatir itu soal Mario? Mereka sudah baikan?"Dari telepon Nayla, suara Amanda terdengar dari speaker. Dia mendengar isi percakapan mereka.Nayla mengangguk, lalu mendongak menatapnya."Tahan dulu gosipnya. Amanda sekarang sangat mengkhawatirkan Dokter Mario. Dia sedang di rumah sakit, kita sekalian mampir saja."Keluarga Senja telah melapor ke polisi, mengatakan bahwa hilangnya Melanie berkaitan dengan dirinya dan suaminya.Maka, wajar saja jika mereka pergi ke sana sekarang.Mereka juga bisa menuntut keadilan atas penculikan Amanda.Tangan Simon meluncur ke bawah, menyentuh telapak tangan Nayla, lalu jari-jarinya saling bertautan dengan jari-jari Nay
Begitu dia keluar, kebetulan Simon juga baru keluar dari ruang interogasi sebelah.Di samping Simon adalah Mirza, sang wali kota, dengan raut wajah serius. Sementara Fadli, petugas polisi yang bertanggung jawab atas penyelidikan kasus ini, menundukkan kepala sangat rendah, hampir tidak berani bernapas.Pak Mirza melempar tatapan menakutkan kepadanya, tapi raut wajahnya seketika berubah menjadi lembut saat memandang Simon."Pak Simon, mohon maaf. Bawahan saya terlalu ceroboh sampai menyita waktu berharga Anda. Saya pasti akan memperketat disiplin kepolisian di masa mendatang."Pak Mirza memakai kacamata itu, berpenampilan penuh wibawa dan tenang, serta permintaan maafnya tampak tulus.Perekonomian Hanka sebagian besar dikendalikan oleh Grup Jatmiko.Banyak proyek yang sangat terkait dengan pemerintahan, sehingga seseorang dengan status wali kota seperti dirinya pun tidak berani sembarangan menyinggungnya.Apalagi, ada yang lebih berkuasa di atas Grup Jatmiko.Simon melihat Nayla.Setela
Ekspresi Mario masih dingin, jelas ada sesuatu yang terjadi.Amanda dilanda rasa cemas di dalam hati, hingga akhirnya jakun pria itu tampak bergerak naik-turun, lalu bergumam pelan sebelum memutus telepon.Amanda langsung bertanya dengan tidak sabar, "Ada masalah? Aku dikabari Nayla, katanya dia dan Pak Simon dipanggil polisi."Mario melihat kekhawatiran di matanya dan sejenak mengulurkan tangan untuk menggandengnya erat."Jangan khawatir, mereka bisa mengatasi hal sepele begini."Dia berhenti sejenak. Wajah putihnya yang dingin dalam sorotan cahaya, tampak anggun dan tenang seperti angin sepoi-sepoi.Dia melanjutkan, "Melanie sudah dipulangkan. Aku mau mengantarmu pulang dulu, setelah itu langsung ke rumah sakit."Amanda mengerutkan kening, hatinya dipenuhi firasat buruk. "Yang telepon tadi kakakmu, 'kan? Dia tahu sesuatu?"Mario menenangkannya lagi dengan suara lembut. "Ini cuma masalah kecil, jangan terlalu khawatir. Aku antar kamu pulang dulu, kamu istirahat, ya?"Amanda menatap ma
Hati Sandra terasa hangat, matanya memancarkan rasa terima kasih. "Nyonya Ratna sangat baik padaku. Jadi, walaupun aku mungkin akan membuat Mario marah, aku tetap harus mengatakannya.""Waktu aku pergi belanja dengan Melanie, kami bertemu Amanda. Kami sedikit berselisih. Aku nggak tahu apa Amanda merasa dendam karena ini, jadi dia suruh orang untuk membalas dendam ...."Sandra sengaja mengabaikan fakta bahwa Melanie pernah menculik Amanda, tidak menceritakannya kepada Nenek Ratna."Tapi, itu cuma dugaanku saja. Bahkan kalau Amanda benar-benar ingin balas dendam, dia nggak mungkin punya kemampuan sebesar itu. Dan sekalipun punya, dia pasti segan kepada Mario dan nggak akan berani melakukannya."Nenek Ratna sangat terkejut mendengarnya.Setelah beberapa saat, matanya menyempit penuh amarah. "Dia memang nggak mungkin mampu, tapi Nayla dan Simon mampu. Jangan lupa, mereka juga yang memasukkan Michael ke penjara.""Keterlaluan!"Nenek Ratna semakin yakin dengan dugaannya. Dengan murka, dia







