LOGIN"Semua orang sepertinya sangat antusias dengan lelang ini."Friska mengerutkan kening, raut wajahnya serius.Mendengar topik ini, Nayla mengetuk pintu dan masuk.Begitu melihatnya masuk, ekspresi serius Friska langsung berubah menjadi senyum."Kukira kamu sudah meninggalkannya sendirian."Nayla mengenakan gaun bergaris polos, tampak lembut dan manis.Dia tersenyum pada Friska. "Kalau begitu, pikiranmu terlalu kejam. Simon terluka karena aku, masa iya aku nggak tahu terima kasih."Friska tertawa kecil. "Simon pernah bilang kamu itu setan kecil yang nggak punya hati. Suka buang muka begitu saja kalau sudah nggak butuh."Nayla menatap Simon dengan mata membelalak bingung."Kapan aku buang muka waktu sudah nggak butuh? Simon, jelaskan."Kilatan gelap muncul di mata Simon yang hitam pekat dan bibirnya tersenyum tipis."Nggak, aku cuma asal bercanda. Istriku bukan orang yang begitu.""Friska, mengadu domba itu nggak baik, apalagi suami-istri.""..."Friska memutar matanya."Oke, oke, aku sep
Amanda keluar ke koridor. Masih belum jauh dari bangsal, dia mendengar suara Nayla di belakangnya."Kenapa keluar sendirian? Cemburu?"Amanda tampak mengatupkan bibirnya, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Dia berbalik menghadap Nayla, buru-buru membantah. "Cemburu? Aku nggak mengerti kamu sedang bicara apa."Dia mengerti.Dia yang paling mengerti daripada siapa pun.Dia hanya pura-pura tidak mengerti.Nayla tidak mendesak lebih jauh. Dia memegang pegangan kursi rodanya dan membawanya ke lantai bawah untuk berjalan-jalan."Menurutku, Dokter Mario memang tampan dan sangat masuk tipemu. Dia lembut dan elegan. Tapi dia cocok untukmu atau nggak, baru bisa tahu kalau kamu sudah mengenalnya.""Kalau memang kamu suka, cepat dapatkan dia. Jangan tunggu diambil orang lain, nanti kamu sendiri yang menyesal."Amanda membanggakan diri telah mencoba 18 pacar, tapi itu semua omong kosong.Dia adalah wanita yang tidak percaya diri. Motivasi tunggalnya adalah mencari uang.Terutama ketika dia me
Dia khawatir Nayla mengalami trauma parah akibat kematian orang tuanya.Nayla tersenyum dan mengantar Amanda masuk ke bangsal Simon.Pukul sepuluh pagi. Simon baru saja selesai makan bubur dan minum obat.Dia mendengar percakapan mereka melalui pintu.Amanda menatap Simon dan bergumam pelan, "Pak Simon memang sangat cepat pulih. Wajahmu lebih berseri-seri daripada kemarin."Simon telah menerima diinfus dan diberi obat selama dua hari terakhir.Dokter mengatakan bahwa hal ini untuk memastikan tidak ada peradangan dan mempercepat proses pemulihan."Berkat doamu, aku memang mendingan."Bibir tipis Simon tersenyum kecil, tatapannya terkunci pada Nayla. Matanya sehitam malam, suaranya dipenuhi kekhawatiran."Sudah boleh pulang secepat itu? Kamu beneran sudah sehat? Nggak dirawat lebih lama lagi?""Nggak usah. Dokter memastikan nggak ada peradangan di paru-paruku, dan suhu tubuhku nggak naik lagi. Aku sudah sembuh habis dua hari minum obat."Nayla memperhatikan jarum infus di punggung tangan
Jika Nayla tidak memberi keringanan, ibunya kemungkinan besar akan dihukum mati.Dia rela melakukan apa saja demi harapan sekecil apa pun.Nayla tidak akan pernah setuju.Tapi, setelah mendengar kata-katanya, dia merasa penasaran ingin tahu apa yang direncanakan Hans."Tukar dengan apa?""Sebenarnya, ada sesuatu yang kusembunyikan darimu, tentang sepu ...."Suara Hans mendadak terhenti.Dia awalnya ingin mengatakan bahwa tentang siapa yang menyelamatkan Nayla sepuluh tahun yang lalu.Nayla menunggu beberapa detik. Ketika Hans tidak kunjung melanjutkan, dia mengerutkan kening."Kamu sebenarnya niat bicara atau nggak?"Di sisi Hans, asisten ibunya berbisik sesuatu di telinganya, membuat ekspresinya menjadi sangat serius.Selama bertahun-tahun, ibunya membuat rencana tanpa henti, semuanya demi merebut Grup Tanu dan Grup Jatmiko.Asisten itu baru saja menyampaikan pesan dari ibunya. Seolah tahu anaknya akan bertindak gegabah, Yuna secara khusus memperingatkannya untuk tidak menyebut perist
Nayla menggenggam tangan Simon dengan erat, menatapnya dalam diam selama beberapa saat. Senyuman lembut terlukis di sudut bibirnya, matanya lembut dan puas."Simon, kita jangan berpisah lagi ...."Jangan sampai saling kehilangan lagi.Hans berusaha menemui Yuna, tapi pengacara memberitahunya bahwa kunjungan dilarang selama masa interogasi.Tanpa pilihan lain, dia memohon kepada Kakek Markus.Tapi dia bahkan tidak bisa masuk gerbang rumah. Dia dihalangi di luar. Kakek menolak menemuinya.Karena tidak ada tempat lain yang bisa dituju, dia berlutut di depan pintu.Satpam pun terpaksa meminta instruksi kepada Kakek Markus.Sikap Kakek Markus masih tetap sama. "Biarkan dia berlutut kalau dia mau. Aku mau lihat berapa lama dia bisa bertahan!""Situasinya sudah begini, masih berani memohon untuk wanita itu? Apa yang terjadi dengan Keluarga Jatmiko? Sebagai putra kedua, apa dia nggak memikirkan konsekuensinya?""Anak itu sama saja dengan ibunya, nggak punya kehormatan Keluarga Jatmiko sedikit
Tapi, pesan ini sama seperti semua pesan sebelumnya. Seolah menghilang tanpa jejak.Amanda tidak tahu berapa lama Nayla dan Simon akan menghabiskan waktu bersama, jadi dia kembali ke bangsal Nayla untuk menunggunya.Saat masuk ke dalam lift, dia melihat seorang wanita berjas putih. Wanita yang lembut, cantik, dan memiliki pembawaan yang elegan.Meski rambutnya diikat santai, setiap gerakannya memancarkan kepercayaan diri dan ketenangan.Amanda sampai meliriknya dua kali sebelum meminta perawatnya mendorongnya masuk ke lift.Dokter Sandra sedang menuju ke ruang perawat.Saat pintu lift hampir tertutup, Amanda samar-samar mendengar suara berkata, "Dokter Sandra, kamu ke sini mau ketemu Dokter Mario?"Hati Amanda seperti dicengkeram dan tangannya refleks mencengkeram pegangan kursi roda.Perawatnya juga seorang pengamat yang berpengalaman, menambahkan dengan penuh makna, "Zaman sekarang, mau laki-laki atau perempuan, pasangan yang baik itu sulit dicari."Amanda pura-pura tidak mengerti da







