Compartilhar

Awal Dendam

Autor: Aqilazahra
last update Última atualização: 2025-10-31 10:40:05

Suara tangis lirih Irisha, merobek lapisan kemarahan yang selama ini menutupi diri Revan.

Revan setengah berlari untuk sampai pada mereka, lalu ia jongkok di belakang Irisha yang masih memeluk ibunya berharap dunia bisa direkatkan kembali lewat pelukan itu.

“Risha?” panggil Revan.

Irisha memalingkan wajahnya, senyum getir merekah di bibirnya. “Om sudah puas melihat aku dan ibuku menderita? Apa salah ibuku?”

Revan meraih pergelangan ibunya, hendak meraba denyut nadi wanita tua itu. Namun, Irisha menepis tangan itu dengan gerakan kasar. “Jangan sentuh ibuku dengan tangan kotormu itu!” pekiknya, kata-katanya tajam.

Revan tak terpancing. Ia menahan napas, menunduk, dan suaranya tetap dingin. “Risha, kendalikan dirimu. Kalau kamu terus seperti ini, ibumu—” ia berhenti, matanya bertemu dengan mata Irisha, ada peringatan di sana, bukan ancaman yang kosong. “— kamu bisa kehilangan dia.”

Irisha terdiam. Ada ledakan emosi di dadanya, marah, takut, bersalah, semua bercampur menjadi sesuatu yang membuat tubuhnya gemetar. Ia tahu bahwa menolak bisa sama dengan menyerahkan segalanya.

Dengan napas berat, setelah memeriksa denyut nadi wanita tua itu, Revan segera mengangkat tubuhnya. Denyut nadinya terasa lemah di bawah ujung jarinya.

“Kita bawa ke rumah sakit,” katanya singkat, lebih perintah daripada saran.

Irisha membisu. Ia menatap wajah ibunya, garis halus, rambut yang mulai menipis dan sesuatu di dalamnya runtuh. Dengan tangan gemetar ia membantu mengangkat, tetapi matanya tidak pernah lepas dari Revan. Ada pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan, dan amarah yang ditelan sekarang berubah menjadi tekad yang dingin.

“Ayok?” ajak Revan agar Irisha naik ke dalam mobilnya.

Irisha tak menjawab, ia pun segera naik tanpa banyak kata atau bertanya. Saat pintu mobil ditutup, udara malam seakan menahan napas mereka berdua untuk saling bicara. Di kursi belakang, tubuh tua yang rapuh itu tergulung di dalam dekapan Irisha, dan antara dua orang yang sama-sama memilih untuk saling menyakiti.

Setibanya di rumah sakit milik Revan, langkah-langkahnya terdengar cepat saat membawa tubuh ibunya Irisha ke dalam, Revan bahkan berlari.

“Perawat! Segera ke sini!”

Beberapa perawat muncul terburu-buru. Dalam hitungan detik, tubuh ibu Irisha sudah terbaring di atas tandu.

“Siapkan ruang operasi sekarang juga!” perintah Revan dengan nada tegas, tajam.

“Baik, Dok!” sahut para perawat serempak, sebelum mendorong tandu itu ke ujung koridor.

Irisha mengikuti langkah-langkah mereka tanpa sadar, seperti tubuh tanpa arah. Sepatu flat-nya bergesekan dengan lantai, mengeluarkan bunyi lirih yang tenggelam oleh suara roda tandu.

“Bu, silakan tunggu di luar,” ujar salah satu perawat dengan sopan.

Irisha berhenti di depan pintu ruang operasi. Tatapannya kosong. Ia menoleh sekilas, lalu menunduk tanpa suara, seolah sebagian dirinya ikut dibawa masuk bersama ibunya.

Ia berjalan pelan ke kursi tunggu. Tubuhnya duduk, tapi jiwanya entah di mana. Kedua tangannya saling meremas, dingin, gemetar.

Dari balik kaca besar, Revan sudah berganti pakaian operasi. Masker dan sarung tangan menutupi hampir seluruh wajahnya, tapi matanya tetap menatap ke arah Irisha, diam, menyesal, sekaligus ragu untuk mendekat.

Ia tahu gadis itu membencinya. Tapi ia juga tahu, malam ini bukan tentang kebencian. Malam ini tentang waktu yang berpacu dengan kematian.

Sesaat sebelum ia masuk ke ruang operasi, Revan sempat berbisik pada dirinya sendiri, “Maaf ….”

Dan untuk pertama kalinya, dokter Revan Dirgantara, yang dikenal dingin dan tak berperasaan itu merasa takut. Bukan takut gagal di meja operasi, tapi takut menatap mata Irisha setelah semuanya usai.

Operasi berlangsung berjam-jam. Jarum jam di dinding seolah berhenti berputar, menahan napas bersama Irisha yang menunggu di luar.

Di kursi tunggu, Irisha duduk membatu. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya kaku, matanya terpaku ke lantai. Ia tak menangis, tak berdoa, bahkan tak berkedip terlalu lama. Ia hanya diam, seperti patung yang siap menerima apa pun yang akan datang, entah keajaiban, atau kehilangan.

Sementara itu, di ruang operasi, Revan menunduk di bawah cahaya putih menyilaukan. Keringat bercucuran di pelipisnya meski suhu ruangan terasa dingin. Suara alat monitor berdetak pelan … lalu melemah … lalu—

Bipp ... bipp ...

“Tekanan darah turun drastis, Dok!” seru salah satu perawat panik.

“Naikkan dosis epinefrin! Cepat!” balas Revan sambil menekan dada pasien dengan ritme pasti.

Namun, setiap tekanan hanya memperdalam keheningan.

Gumpalan darah di otak wanita itu terlalu parah, jaringan vitalnya sudah tak merespons.

Detak jantung di monitor akhirnya berubah menjadi satu garis lurus panjang—

tiiiiiiiit …

Revan terdiam. Tangannya masih di dada pasien, tetapi jiwanya seperti runtuh di tempat. Ia menunduk dalam, lalu melepaskan masker operasi.

“Sus …?” panggilnya. “Catat waktu kematiannya.” Ia menatap wajah pucat wanita itu dengan sorot mata yang penuh penyesalan. “Biar saya yang memberitahukan kepada anaknya.”

Suster itu menelan ludah, lalu menjawab lirih, “Baik, Dok.”

Revan berdiri kaku di depan pintu, sementara di luar sana, Irisha masih duduk di kursi yang sama, belum tahu bahwa dunia yang tersisa untuknya baru saja berhenti berputar.

Ia pun memberanikan diri untuk keluar. Ketika pintu ruang operasi terbuka perlahan, suara engselnya terdengar nyaring di tengah keheningan. Revan berdiri di ambang pintu, tubuhnya masih terbalut pakaian operasi yang bernoda darah. Ia menarik napas berat, menatap sosok Irisha yang masih duduk di kursi tunggu dengan posisi yang sama seperti beberapa jam lalu, tak bergerak, tak bersuara, seolah waktu benar-benar berhenti di sana.

Langkah Revan terasa berat. Setiap hentakan sepatu di lantai koridor bergema seperti dentuman di dadanya sendiri. Saat tiba di hadapan Irisha, ia menunduk, lalu berjongkok perlahan.

“Risha?” panggilnya ragu.

Tak ada respons apa pun dari Irisha. Tatapan gadis itu masih terpaku pada pintu ruang operasi, seolah menunggu ibunya keluar sambil tersenyum, memeluknya, dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi pintu itu tetap diam tak ada siapa pun di sana.

Revan menelan ludah, menundukkan kepala sedikit. “Maafkan saya, Risha…,” katanya akhirnya, dengan suara yang pecah di ujung kalimat. “Saya sudah berusaha … tapi saya gagal menyelamatkan ibumu.”

Waktu berhenti seketika.

Irisha menarik napas panjang, sangat panjang, seperti berusaha menahan sesuatu yang hendak pecah di dalam dadanya. Napas itu tersendat, nyeri, dan akhirnya meluruh bersama air mata yang jatuh tanpa suara.

“Terima kasih, Dok …,” ucapnya lirih, hampir tanpa emosi. “Izinkan saya membawa jenazah ibu saya pulang.”

Revan menatap wajah gadis itu, pucat, datar, tapi di balik ketenangan yang dibuat-buat itu, ada luka yang tak bisa disembunyikan. Tatapannya kosong, seperti jiwa yang baru saja kehilangan tempat pulang.

“Risha …” Ia ingin menahan, ingin menjelaskan sesuatu, entah apa, tapi kata-kata itu tak pernah keluar. Ia hanya bisa menatap mata gadis itu, yang kini seterang sekaligus segelap kehampaan.

Irisha berdiri, lalu berbalik masuk ke dalam ruangan ibunya. Di sana, mayat sang ibu terbaring dengan tubuh tertutup kain putih.

“Bu ... tunggu Risha, ya? Setelah dendam kita terbalas, Risha akan susul ibu,” bisiknya lirih.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Rencana lain

    Panggilan itu terputus. Tanpa jeda, Revan langsung membuka aplikasi pesan dan mengetik cepat pada seseorang. Ekspresinya berubah serius, dingin, penuh perhitungan. Irisha yang sedari tadi memperhatikannya tak bisa menahan rasa penasaran. “Om?” Revan mengangkat wajahnya. “Iya, Sayang. Ada apa?” “Sekarang Mbak Reni sudah tahu semuanya,” lanjut Irisha. “Lalu … rencanamu ke depan bagaimana?” Revan meletakkan ponselnya, menatap Irisha dalam-dalam. “Menurut kamu, om harus apa?” Irisha menyilangkan tangan di dada, senyumnya mengembang penuh makna. “Beri pasangan mesum itu pelajaran. Yang pantas.” Revan mengangguk pelan. “Tentu. Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita harus susun strategi dulu. Kamu tahu sendiri … Dita masih belum mengakui kalau Rieno bukan anakku.” Tatapan Irisha menggelap, senyum di bibirnya perlahan memudar. “Iya juga,” Irisha mengangguk pelan. “Mereka pasti akan mengelak.” “Betul,” sahut Revan tenang. “Kita tunggu saja hasil tes DNA Reino dan Yuda. Semoga …

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Membongkar Kebusukan Yuda dan Dita

    Setibanya di kediaman, Reni, wanita itu duduk dengan lesu di tepi sofa. Tatapannya menyapu foto pernikahannya dengan Yuda, pria yang selama dua puluh enam tahun menemani hidupnya, meski tak pernah ada satu pun anak yang lahir dari pernikahan itu. Bingkai foto itu terasa begitu berat untuk dipandang. Senyum mereka terpajang rapi, seolah menyimpan janji yang dulu diucapkan dengan keyakinan penuh. Reni menelan ludah, dadanya terasa sesak. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel lalu menekan nama Yuda. Nada sambung terdengar panjang, namun tak kunjung ada jawaban. Sekali. Dua kali. Hingga akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Reni menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Pandangannya kosong, pikirannya penuh oleh potongan-potongan kenangan yang kini terasa mencurigakan. “Apa benar Mas Yuda dan Mbak Dita …,” ucapnya bergetar, “… mereka selama ini mengkhianatiku?” Pertanyaan itu tak ada yang menjawab, namun perihnya terasa nyata. “Mas, angkat teleponnya jangan memb

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kebusukan kakak kandung

    Reni terbelalak. Tubuhnya seolah kehilangan tumpuan. “Apa … apa maksudnya, Mas?” ucapnya bergetar, “Mas Revan bercanda, kan?” Revan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya tetap dingin, seolah fakta itu sudah lama ia telan sendirian. “Saya berharap ini hanya bercanda. Tapi tidak, Ren.” Reni memundurkan tubuhnya. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja agar tidak jatuh. “Tidak mungkin … Reino itu anak Mas Revan dan Mbak Dita. Semua orang bahkan tahu—” “Semua orang tahu dari cerita yang dibangun,” potong Revan tenang, tapi nadanya menyimpan luka yang dalam. “Tes DNA tidak pernah berbohong.” Hening menggantung, berat dan mencekik. “Lalu … apa hubungannya dengan Mas Yuda?” bisik Reni, matanya berkaca-kaca. Ia takut pada jawaban yang bahkan belum terucap. Revan menarik napas panjang. “Saya tidak ingin menuduh sembarangan. Tapi waktunya, sikap mereka, dan hasil tes itu … semuanya saling mengikat.” Reni menggeleng cepat, air mata mulai luruh. “Tidak … Mbak Dit

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Menemui Reni

    Revan hanya menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Ada rasa lega yang perlahan merayap di dadanya. Ia sama sekali tak berniat bertemu dengan Reino. Ia memilih jalur yang paling dingin dan rapi, mengutus pengacaranya untuk datang langsung ke penjara dan menarik tuntutan itu atas namanya. Sementara itu, Dita sudah tiba di penjara. Tangannya saling meremas, jemarinya gemetar menahan cemas. Matanya terus menatap lurus ke depan, menunggu satu sosok yang sejak tadi membuat dadanya sesak. “Revan … Irisha …,” gumamnya penuh dendam. “Kalian boleh merasa menang sekarang. Tapi percayalah, aku akan membuat kalian membayar semua ini.” Langkah kaki terdengar mendekat. Reino muncul dari balik pintu besi, berjalan tertatih. Kakinya pincang, wajahnya babak belur, lebam ungu menghiasi pelipis dan rahangnya. Seketika, Dita menjerit histeris. “Reino!” Ia berlari menghampiri. “Astaga … apa yang mereka lakukan padamu, Nak?” Reino duduk perlahan

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Surat perjanjian

    Keesokan harinya, Irisha selesai menyiapkan sarapan dengan bantuan Bi Inah. Pagi itu hatinya terasa sedikit lebih ringan, bahkan ada rasa puas yang sulit ia sembunyikan. Terlebih setelah kabar yang ia terima semalam, keberadaan Reino akhirnya ditemukan. Pria itu kini mendekam di penjara. Irisha melangkah ke meja makan dengan senyum tipis di bibirnya. “Pagi, Sayang,” sapanya lembut. Revan sudah duduk di sana. Wajahnya tampak lebih segar dari biasanya, sorot matanya pun tidak lagi setegang kemarin. “Pagi juga,” balasnya, suaranya hangat. Irisha menyodorkan segelas susu dan sepiring sandwich ke hadapan Revan. Tangannya bergerak tenang, seolah beban yang selama ini mengimpit dadanya sedikit demi sedikit terangkat. Revan menatapnya sekilas, lalu tersenyum samar, menangkap perubahan kecil pada raut wajah istrinya pagi itu. “Oh iya, Om? Apa kau akan mengunjungi Reino di penjara?” tanya Irisha, suaranya terdengar ragu. Revan mengangkat wajahnya. “Menurut kamu, aku pergi atau—”

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kebohongan demi Kebohongan akhirnya terkuak

    Irisha meraih kerah baju suaminya, menariknya sedikit agar Revan menatapnya lurus. “Kenapa diam? Apa Om sekarang sadar kalau mereka memang mirip?” sindirnya halus. “Risha, jangan bercanda!” Revan menggeleng cepat. “Dokter Yuda itu adik iparnya Dita. Mana mungkin mereka punya hubungan gelap?” Irisha mendengus kecil, senyum mengejek terbit di bibirnya. “Suamiku ini … ternyata polosnya kebangetan,” ledeknya ringan, namun sarat makna. Baik, aku lanjutkan dengan fokus pada Revan yang masih berpikir, ragu, dan mulai terusik—tanpa mengubah alur. Revan terdiam. Ucapan Irisha berputar-putar di kepalanya, menimbulkan kegelisahan yang perlahan merambat. Ia mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras, seolah sedang menimbang sesuatu yang selama ini tak pernah ia sentuh. “Benar, mereka hampir mirip,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia mencoba mengingat wajah Dokter Yuda, sorot mata itu, garis rahang yang tegas, cara pria itu menatap orang lain dengan dingin namun terukur. Lalu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status