LOGINSetelah menelepon Reino berulang kali dan mengabarkan kematian ibunya Irisha. Revan hanya terpaku di tempat. Tatapannya sarat iba, tapi langkahnya seperti dipaku di lantai. Ia hanya bisa memandangi gadis yang tengah kehilangan separuh jiwanya itu, memeluk tubuh ibunya yang telah dingin.
Tiba-tiba— Brakk! Pintu ruangan terbuka keras. Reino muncul tergesa-gesa, wajahnya tampak cemas, napasnya memburu entah karena pergulatan pan-asnya yang belum selesai, dan itu larena Revan terus saja meneleponnya. “Pah ... di mana Irisha?” tanyanya setengah kesal. Revan hanya menatapnya sekilas, kemudian mengangguk lemah ke arah sudut ruangan. Reino mengikuti arah itu, dan tubuhnya langsung membeku, ia pikir ini semua hanya akal-akalan Irisha agar dia keluar dari kamar Vania. Irisha masih duduk sambil memeluk tubuh ibunya yang kaku. Wajahnya datar, tanpa air mata. Perlahan Reino melangkah mendekat. “Risha …?” panggilnya pelan, ragu. Irisha menoleh sekilas. Tatapannya kosong, namun ada bara yang menyala pelan di baliknya. Tanpa suara, ia kembali menunduk, jemarinya mengusap lembut pipi ibunya yang dingin. Reino menunduk, berusaha menyentuh bahu Irisha. “Sayang, aku—” “Lepas!” Suaranya meledak, menggema, memecah udara duka yang membeku. Reino tertegun. “Sha, aku cuma mau—” “Sudah cukup, Reino!” Irisha bangkit perlahan, sorot matanya kini semakin tajam.“Tugasmu menjagaku sudah selesai. Mulai sekarang, kita bukan siapa-siapa lagi.” “Risha, kamu kenapa bicara seperti itu?” Reino bingung, wajahnya pucat. Tapi pandangan Irisha justru jatuh pada leher Reino, sebuah tanda merah samar, masih segar. Sudut bibir Irisha terangkat getir. “Lucu, bahkan di hari ibuku pergi, kau masih sempat memuaskan diri dengan adik tirimu itu.” “Risha!” Reino terbelalak. “Aku nggak tahu apa yang kamu katakan.” “Jangan pura-pura bodoh, Ren!” Suara Irisha datar, tapi setiap katanya seperti belati. “Sudah cukup aktingmu itu, kita bukan siapa-siapa lagi.” “Sha …” Reino melangkah maju, wajahnya tegang. “Kau salah paham, aku dan Vania cuma—” “Saudara?” potong Irisha, sinis. “Saudara yang tidur satu ran-jang? Bahkan sampai hamil?” “Cukup!” bentak Reino, matanya mulai merah. “Jangan gila, Sha! Aku masih sabar karena aku sayang kamu.” Irisha menatapnya tajam. “Sayang? Kau bahkan tidak tahu arti kata itu.” Ia menoleh pada Revan yang masih berdiri kaku di belakang Reino. “Om Revan, selamat ya? Anak Anda akan menjadi seorang ayah dari bayi yang dikandung adik tirinya sendiri.” “Apa?!” Revan terkejut, wajahnya seketika menegang. “Reino, apa yang dia bicarakan?” “Pah, jangan dengarkan dia! Irisha lagi shock! Dia nggak sadar apa yang dia omongin!” Reino panik, suaranya meninggi. Irisha terkekeh lirih, getir. “Aku mungkin hancur, tapi aku tidak gila. Aku hanya kehilangan rasa cintaku padamu, Ren ... setelah kau berkhianat.” “Sha, jangan katakan itu. Bulan depan kita akan menikah, jangan coba-coba mempermalukan keluargaku.” Irisha kembali tertawa. “Tenang saja, aku tidak akan merusak kebahagiaanmu, atau mempermalukan keluargamu, Ren. Kita berdua memang akan menikah ... tapi dengan pasangan masing-masing.” Reino menatapnya tak percaya. “Apa maksudmu?” Irisha mendekat perlahan, hingga jarak mereka hanya sejengkal. Senyum tipis menghiasi wajahnya. “Kau akan tahu, saat waktunya tiba,” bisiknya dingin, lalu berjalan melewati Reino dan Revan tanpa menoleh. Revan menatap anaknya tajam. “Reino, ikut papa sekarang.” Nada suaranya bukan lagi sekadar perintah. Revan terus berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, wajahnya yang kaku membuat Reino yang mengikutinya dari belakang setengah mati ketakutan pada pria di depannya itu. “Pah … bisa kita bicarakan ini nanti?” pinta Reino lirih. Namun, Revan tidak menjawab. Pria itu terus berjalan menuju ruangan Vania, setibanya di depan pintu ruangan Vania, ia membuka pintu ruangan dengan kasar. “Masuk!” printahnya tegas. Vania yang baru saja memakai bajunya tiba-tiba terkejut, ia bahkan belum membersihkan jejak cintanya bersama Reino beberapa menit yang lalu. “O-om Revan?” ucapnya terkejut. Begitu melihat ayah kandung Reino, ia langsung menunduk lebih dalam. Revan melipat tangan di dada. “Papah hanya ingin mendengar kebenaran dari mulut kalian berdua,” ucapnya tenang, tapi sorot matanya tajam seperti pisau. “Jangan coba-coba berbohong. Kalian ingat, aku seorang dokter, tapi malam ini, aku juga seorang ayah yang muak jika terus kalian bodohi.” Reino menelan ludah. Ia melirik Vania yang tampak gemetar. “Pah, semuanya nggak seperti yang Irisha bilang. Aku dan Vania … kami cuma sebatas adik kakak. Dan Reino di sini lagi nemenin Vania berobat.” Revan tertawa pendek, dingin. “Kau pikir papah tidak bisa melihat tanda-tanda wanita hamil, Reino?” Ia menatap putranya lama. “Katakan, apa benar Vania hamil anakmu?” Vania terisak, menutupi wajahnya dengan tangan. “Om … saya minta maaf … semuanya terjadi begitu cepat, saya—saya dan Mas Reino khilaf.” “Jadi benar?” suara Revan melemah, ia sudah berpikir buruk kepada Irisha selama ini. “Ya Om, aku hamil anaknya Mas Reino,” ungkap Vania. “Vania?!” bentak Reino kesal. “Maafkan Vania, Mas ... tapi Vania nggak mau berbohong lagi. Tenang saja Om Revan, penikahan Mas Reino dan Mbak Irisha tetap terjadi, aku tidak akan menggangu mereka.” Reino menunduk, suaranya serak. “Maafkan Reino juga Pah. Aku tahu, aku memang salah, malam itu aku benar-benar khilaf. Tapi Papah tenang saja. Setelah aku dan Irisha menikah, anak Vania akan jadi anakku dan Irisha, anak itu akan ikut bersama kami.” Revan menggeleng keras, tak percaya dengan ucapan anak yang ia anggap baik selama ini. “Ya Tuhan ... apa yang aku lakukan pada Irisha,” batinnya lirih.Keributan kecil mulai terdengar. Semua mata tertuju pada mereka. Revan melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Reino, menatapnya dengan sorot tajam yang menekan. “Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya dingin, amarah terselip jelas di balik nadanya. “Menghancurkanmu!” jawab Reino tanpa ragu. Dita yang melihat emosi putranya semakin tak terkendali segera meraih tangan Reino dengan kuat. “Rei … Rei … tenang dulu,” ucapnya terburu-buru, berusaha menenangkan. “Ini pasti salah paham. Mamah yakin papahmu sedang keliru menilai kita.” “Salah paham?” Revan mengulang dengan nada sinis. Ia menatap Dita tanpa sisa kelembutan. “Dita, akhiri sandiwara ini. Katakan sekarang … siapa sebenarnya ayah kandung Reino.” “Mas, kau benar-benar sudah gila!” teriak Dita histeris. “Reino anak kandung kita! Kau justru percaya pada perempuan gila itu?” tudingnya kasar ke arah Irisha. Irisha tetap diam. Tatapannya lurus, tak gentar, seolah ia tahu, kebohongan yang dipertahankan Dita akan runtuh dengan
Sebelum kain penutup itu dibuka, Revan sempat menatapnya dengan rasa penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. Setahunya, hadiah untuk ayahnya hanya satu. Kejutan demi kejutan dari Irisha membuat dadanya terasa tak tenang. “Silakan buka!” perintah Irisha tegas. Kain penutup pertama disingkap perlahan. Seketika, kilau sebuah jam tangan mewah terpampang jelas, jam koleksi limited edition yang selama ini hanya menjadi impian sang mertua. Pria tua itu mendekat, matanya membesar tak percaya. “Irisha … Revan …” Suaranya bergetar. “Bukankah ini jam terbaru itu? Jam yang hanya ada tiga buah di dunia?” Irisha tersenyum kecil. “Benar, Pah. Irisha mencarinya cukup lama dan tidak mudah mendapatkannya,” balas Revan kali ini. Sang ayah terdiam beberapa detik, lalu wajahnya berubah haru. Ia melangkah mendekat dan memeluk Irisha erat. “Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus. “Papah benar-benar sangat menghargai ini.” “Sama-sama, Pah,” jawab Irisha hangat. “Ayo Om, pasangkan di tan
Setibanya di kamar, Irisha mengepalkan tangannya erat. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang bergemuruh. “Nyonya Dita … belum saatnya kau hancur,” bisiknya penuh dendam. “Tunggulah. Pembalasanku akan datang, dan aku akan membuat hidupmu hancur, sehancur-hancurnya.” Pintu kamar mandi terbuka. Revan yang baru saja selesai menatap wajah istrinya dengan sorot khawatir. “Kau menangis?” tanyanya pelan. Irisha segera menghapus sisa air mata di pipinya, lalu memaksakan senyum. “Tidak,” jawabnya cepat. “Ini … tangisan bahagia.” Revan menatapnya lekat, seakan ingin menembus kebohongan itu. “Kau yakin?” tanyanya lagi. Irisha mengangguk pelan, meski suaranya sedikit bergetar. “Ya … yakin.” Revan menariknya ke dalam pelukan hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Apa mereka mengganggumu lagi?” tanyanya penuh perhatian. Irisha menggeleng ringan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Tidak. Justru aku yang mengganggu mereka.” Revan terkekeh kecil, men
“Ouhh … Om, jangan keras-keras, sakit tahu!” Mata Reino membulat. Dadanya seolah diremas. Ia terpaku, tak percaya pada apa yang ia dengar dari balik telepon. “Irisha, papahku di mana?” tanyanya ketus, amarah mulai merayap di suaranya. “Siapa?” sahut Irisha ringan. “Maaf, nggak kedengeran. Aku lagi sibuk.” “Irisha!” Reino meninggikan suara. “Halo, kau dengar aku, kan?” “Ya, Rei … ada apa?” jawabnya seolah santai. “Halo, Rei … sinyalnya jelek. Ahhh ….” Desahan terakhir itu menjadi penutup panggilan. Telepon terputus, disusul tawa kecil Irisha yang terdengar puas. Reino menurunkan ponselnya perlahan, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding. Kulit tangannya memerah, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadanya. “Sialan!” bentaknya. “Kau benar-benar pelacur, Risha!” Dita yang mendengar teriakan itu segera mendekat, wajahnya dipenuhi kecemasan. “Rei, bagaimana?” tanyanya cepat. “Apa Revan sudah menjawab?” Reino menggeleng keras. “Belum, Mah.
Keesokan paginya, Irisha menggandeng Revan menuju sebuah studio foto ternama. Begitu tiba, matanya langsung menyapu ruangan, lalu jarinya menunjuk salah satu pelayan butik yang berdiri tak jauh dari sana. “Tolong bantu suami saya ganti pakaian,” pintanya singkat. Sementara itu, Irisha melangkah menuju ruangan lain. Senyum tipis terukir di bibirnya ada sesuatu yang sedang ia siapkan, sebuah kejutan yang hanya ia sendiri tahu. Revan kini berdiri di depan cermin besar. Tubuhnya terbalut jas rapi, lengkap dengan bunga kecil yang terselip di saku dada. Ia memandangi bayangannya sendiri cukup lama, seolah belum benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya. “Memang harus seperti ini?” tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar ragu. “Apa aku tidak terlihat … aneh dan berlebihan?” Pelayan butik itu tersenyum ramah. “Tenang saja, Pak. Anda terlihat sangat pantas. Percaya atau tidak, Bapak justru tampak jauh lebih muda.” Namun, kegugupan tetap terpancar jelas dari wajah Revan. Ia
Ada keraguan samar di mata Revan. Bagaimana bisa ia percaya pada wanita yang dulu justru ingin melihatnya hancur? Pertanyaan itu menggantung di udara, tapi Irisha lebih dulu menjawab tanpa ditanya. Ia mengangkat wajah Revan, kedua tangannya menahan dengan lembut. “Percayalah padaku, Om … aku tidak akan pernah mengkhianati kamu.” Butiran sisa air mata masih bertahan di sudut mata Revan. Ia mengangguk pelan. Pasrah atau mungkin mulai percaya. Irisha tersenyum kecil. “Nah, begitu. Ini baru suamiku. Tegas. Dingin. Bukan pecundang yang larut dalam penyesalan.” Sudut bibir Revan terangkat samar. Untuk pertama kalinya, hatinya terasa sedikit ringan. Irisha pun beranjak, mengambil kotak obat. “Sini. Aku obati dulu.” Belum sempat Revan bersiap, Irisha menyentuh lukanya dengan cairan antiseptik. “A-aduuh!” desis Revan, menahan nyeri. “Tahan,” kata Irisha tanpa merasa bersalah sama sekali. “Sebentar lagi juga selesai. Kau dokter, kan? Kalau kau obati pasien pasti kau tahu rasan







